Reza mengalihkan pandangannya dari Sekar, menatap keluar jendela kamar hotel yang mulai mengembun. Hujan masih turun deras di luar.
“Besok pagi kamu mau ke mana?” tanyanya akhirnya, mencoba menormalkan suasana.
Sekar menunduk, jemarinya mencengkeram ujung bajunya sendiri. “Nggak tahu, Mas…”
Reza menghela napas. Jawaban itu seperti pisau tajam yang menusuknya. Perempuan ini benar-benar nggak punya tempat lain.
“Kamu nggak ada saudara?”
Sekar menggeleng lemah. “Nggak ada…”
Reza meremas telapak tangannya sendiri. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mengatakan bahwa Sekar bisa ikut dengannya—tapi itu terlalu cepat, terlalu berisiko. Ia masih harus menahan diri.
Menciptakan situasi yang lebih tepat.
“Udah malam. Kamu istirahat aja,” kata Reza, sedikit berdeham untuk mengusir sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
Sekar mengangkat kepalanya, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Makasih, Mas… Saya nggak tahu harus bilang apa lagi.”
Tatapan itu… membuat napas Reza sedikit tersendat. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dan melangkah ke pintu. “Nggak usah dipikirin. Tidur yang nyenyak, ya.”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung keluar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Reza bersandar sebentar, menarik napas panjang.
Astaga… ini lebih sulit dari yang ia kira.
**
Reza membuka pintu rumahnya perlahan. Nyaris ia berpikir rumah akan kosong, tapi ternyata lampu ruang tengah masih menyala, dan di sana, duduk dengan tangan terlipat di d**a, adalah Aluna.
Istrinya baru pulang. Sama seperti dirinya.
Aluna memiringkan kepala, ekspresinya penuh selidik. “Kamu abis dari mana?”
Reza mendesah, berusaha terdengar santai. “Pos ronda. Terus kejebak hujan, ngobrol sama bapak-bapak sebentar.”
Aluna mengernyit, jelas tidak langsung percaya. “Ngobrol sampai selama itu?”
Reza tersenyum kecil, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. “Sendirian di rumah tuh nggak enak. Lagian kamu juga nggak ada.”
Aluna menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari sofa, berjalan ke arahnya. “Aku ngerti kamu bosan sendirian. Tapi ya jangan keluyuran sampai malam juga, Mas.”
Reza meneguk airnya dan meletakkan gelas di meja. Saat istrinya semakin mendekat, ia meraih pinggang Aluna dengan santai. “Takut aku macem-macem?” godanya, meski dalam hati ia sadar betul bahwa itu bukan sekadar guyonan.
Aluna mendecak, tapi tidak menepis tangannya. “Aku cuma nggak mau kamu sakit gara-gara hujan-hujanan.”
“Cie, perhatian.” Reza menempelkan dagunya di bahu Aluna, sengaja mengulur waktu sebelum istrinya menyingkir untuk mandi. Ia harus tetap jadi suami yang baik di mata Aluna.
Aluna mendesah pelan. “Aku capek. Besok aku ada meeting pagi.”
Reza mengangguk, melepasnya perlahan. “Ya udah, mandi sana.”
Aluna menghela napas sebelum beranjak ke kamar mandi. Saat suara gemericik air terdengar, Reza bersandar di sofa, pikirannya kembali ke Sekar.
Ia sebenarnya sudah menyewa hotel itu untuk tiga hari ke depan. Tapi ia tahu betul Sekar nggak akan nyaman di sana terlalu lama.
Sekarang, ia harus memikirkan langkah berikutnya.
Bagaimana caranya membuat Sekar tetap berada dalam jangkauannya… tanpa menimbulkan kecurigaan siapa pun?
Sepeninggal Reza, Sekar hanya bisa menatap langit-langit kamar hotel yang masih terasa asing baginya. Hujan sudah reda, tapi pikirannya masih bergemuruh.
Ia tidak bisa terus bergantung pada Reza.
Pria itu sudah terlalu banyak membantunya, dan walaupun Reza tampak tulus, ucapan Resti semalam masih terngiang-ngiang di benaknya: “Jangan pernah percaya bantuan orang lain itu tulus tanpa syarat. Apalagi kalau datangnya dari lawan jenis.”
Sekar menggigit bibirnya, perasaan dilema mengoyak batinnya. Reza memang baik, tapi… mungkinkah ada sesuatu di balik semua ini?
Ia memandang kedua anaknya yang tertidur pulas di ranjang, lalu menghela napas. Ia terlalu lelah untuk terus berpikir. Akhirnya, tanpa sadar, Sekar tertidur dengan kepala penuh pertanyaan.
**
Sekar baru saja selesai memandikan si kembar ketika suara ketukan terdengar di pintu. Jantungnya sedikit berdebar.
Siapa?
Dengan hati-hati, ia melangkah dan membuka pintu.
Dugaan Sekar benar.
Reza berdiri di depan pintu, masih dengan jaketnya yang sedikit basah oleh embun pagi. Tangannya membawa kantong plastik berisi sarapan.
Sekar menegang. “Mas…”
Reza menyodorkan kantong itu dengan santai. “Sarapan. Kamu pasti belum makan, kan?”
Sekar langsung merasa sungkan. “Mas nggak perlu repot-repot. Saya bisa cari sendiri nanti.”
Reza mengangkat bahunya, memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Udah telanjur beli. Daripada mubazir?”
Sekar terdiam. Ia tahu ini alasan yang dibuat-buat. Reza jelas datang untuk memastikan dia baik-baik saja.
“Sepagi ini Mas udah ke sini. Kalau ada yang lihat—”
“Gak ada yang bakal tahu,” potong Reza tenang.
Sekar menatapnya ragu-ragu, lalu akhirnya menerima kantong plastik itu. Tangannya sedikit gemetar. Ia tak bisa membiarkan dirinya terus menerima bantuan seperti ini… tapi di saat yang sama, ia juga tak punya pilihan.
Lalu, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Gimana kalau istri Mas tahu?” tanyanya hati-hati. “Keadaan bakal jadi makin kacau…”
Reza menatapnya lama. Kemudian, alih-alih menjawab, ia justru terkekeh kecil.
“Apa sekarang kamu mulai merasa seperti wanita simpanan?” tanyanya, separuh bercanda.
Sekar tersentak. Wajahnya memanas seketika.
“Mas!” serunya lirih, benar-benar tak menyangka Reza akan mengatakan hal seperti itu.
Tapi Reza hanya tersenyum samar, ekspresinya sulit ditebak. “Makan dulu sana. Kita ngobrol lagi nanti.”
Lalu, tanpa menunggu jawaban Sekar, ia berbalik dan pergi, meninggalkan perempuan itu dalam kebingungan yang semakin dalam.
Sekar menyuapkan sesendok nasi ke mulut, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Matanya sesekali melirik ke arah Reza, yang sedang asyik bermain dengan Naya. Pria itu tampak begitu akrab dengan si kembar, membuat d**a Sekar terasa sesak.
Dulu, Mas Aji juga seperti itu. Sayangnya, kebahagiaan mereka hanya bertahan sebentar. Sekar menunduk, menahan perasaan yang tiba-tiba menyeruak.
“Kenapa ngelamun?” suara Reza tiba-tiba menyentaknya.
Sekar buru-buru menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Reza tertawa kecil, lalu kembali memperhatikan Naya yang tertawa riang di pangkuannya. “Aku suka anak-anak. Pengen banget punya lagi, tapi ya… belum dikasih.”
Sekar menatapnya, menangkap kilasan perasaan yang tersembunyi di mata pria itu. “Belum dikasih?”
Reza mengangguk, lalu menurunkan nada suaranya. “Aluna pernah keguguran.”
Sekar tertegun. Matanya memanas, seolah bisa merasakan rasa kehilangan yang pernah dialaminya sendiri. “Maaf… aku nggak tahu.”
Reza hanya mengedikkan bahu, tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Aku cuma kepikiran aja, gimana kalau seharusnya aku udah punya anak seusia Naya.”
Suasana mendadak terasa canggung. Sekar mengalihkan pandangan, kembali menyuapi si kembar. Hening sesaat, sampai akhirnya Sekar membuka suara.
“Aku kepikiran buat balik kerja ke tempat Resti,” ujarnya pelan.
Reza yang tadi tampak tenang langsung menoleh, ekspresinya berubah tajam. “Apa?”
Sekar menghela napas. “Aku nggak punya pilihan lain. Lagi pula, orang-orang udah terlanjur berpikir yang nggak-nggak tentang aku. Kenapa nggak sekalian aja?”
Reza menggebrak meja, membuat Sekar tersentak. “Jangan ngomong bodoh!”
Sekar langsung terdiam, meremas ujung bajunya. Tatapan Reza yang biasanya tenang kini dipenuhi emosi yang sulit dibaca.
“Kamu tahu kan apa yang bakal terjadi kalau tetap di sana?” suara Reza terdengar lebih rendah, tapi tekanannya tak berkurang. “Akan ada lebih banyak lelaki yang goda kamu, yang bakal memanfaatkan keadaan kamu!”
Sekar menunduk. “Maaf…”
Hening sejenak. Sekar merasakan detak jantungnya sendiri yang tak beraturan. Kenapa Reza begitu marah? Kenapa dia peduli sampai segitunya?
Saat Sekar mengangkat wajah, ia mendapati Reza menatapnya dalam. Tapi kali ini, tatapan pria itu berbeda. Lebih dalam, lebih mengintimidasi.
Reza tersenyum miring, lalu bersandar di kursinya. “Kalau kamu memang nggak keberatan kerja di sana, siap menggoda dan digoda pelanggan, siap buat denger nyinyiran orang, kenapa nggak pilih resiko yang lebih besar sekalian?”
Sekar mengerutkan kening. “Maksudnya?”
Reza maju mendekat. Sekar tak sadar ia mundur, sampai punggungnya menyentuh dinding. Jantungnya berdegup semakin cepat.
“Aku,” bisik Reza, suaranya rendah dan dalam. “Kenapa nggak goda aku aja?”
Sekar membeku.
Reza menahan kedua sisi meja, mengurung Sekar di dalam ruang sempit di antara tubuh mereka. “Aku bisa menghidupi kamu seterusnya,” lanjutnya dengan nada santai, seolah ini hanya tawaran biasa. “Asal kamu mau jadi simpananku.”
Sekar menahan napas. Otaknya mencoba mencerna kata-kata itu, tapi tubuhnya sudah lebih dulu bereaksi.
“Mas R-Reza, kamu bercanda, kan?” tanyanya dengan suara bergetar.
Reza hanya terkekeh kecil, lalu menatapnya lekat-lekat. “Menurut kamu?”