Setelah Reza pergi, Sekar mulai membereskan barang-barangnya dengan tangan gemetar. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Hanya itu yang masuk akal sekarang. Dia harus pergi. Harga dirinya masih ada, meskipun hidupnya sudah porak-poranda. Meskipun dia sebatang kara dan nyaris tak punya apa-apa, dia bukan perempuan yang mau menyakiti perempuan lain. Sekar tahu betul bagaimana rasanya dikhianati. Dia tahu luka yang ditinggalkan akan selalu menganga, tak peduli seberapa keras seseorang berusaha untuk menutupinya. Apa yang terjadi malam ini membuatnya sadar, dia nyaris melangkah ke jurang yang lebih dalam. Kemarin, dia pikir dirinya cukup putus asa untuk bekerja di tempat Resti, melayani laki-laki hidung belang demi bertahan hidup. Tapi sekarang, dia sadar bahwa ada garis yang tak bisa dia lewat

