Lucas dan aku

1068 Words
Dalam beberapa hari aku menjadi sedikit lebih dekat dengan Lucas, setidaknya dia tidak menghindariku lagi, tapi kami masih belum cukup dekat. Lalu saat ini aku sudah mempelajari para penghuni Mansion ini. Hebat sekali... Mansion ini memiliki tiga puluh enam Pelayan, dan Nyonya Heidi adalah Kepala Pelayan yang mengurus dan mengatur mereka semua, Karena Mansion ini sangat besar dan luas maka ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Tidak hanya Pelayan, Mansion ini juga memiliki beberapa orang Koki, yang bertugas menyiapkan makanan apapun, semua makanan yang ku minta mereka akan menyediakan nya. Aku mulai berfikir.. apakah ini yang dimaksud dengan surga dunia... Entah s**l atau justru beruntung aku terdampar ditempat ini.... Saat ini aku sedang berjalan di taman bunga, semua bunga-bunga disini terawat dengan baik, karena tidak hanya Pelayan, mereka pun memiliki banyak sekali Tukang Kebun yang bertugas merawat bunga-bunga ini. Bahkan mereka memiliki dan melatih Prajurit pribadi mereka, setiap pagi Lucas selalu pergi ke tempat pelatihan Prajurit yang berada di belakang Mansion. Karena itu aku tidak pernah melihatnya di pagi hari, dan setelah siang hari kami akan bertemu di Kelas Sejarah Kerajaan dan Kelas Musik. Aku memainkan Piano sedangkan Lucas bermain Biola, beruntungnya diriku yang memang bisa memainkan Piano di kehidupan lamaku, jadi aku tidak terlalu sulit bagiku untuk mengikuti pelajaran. Tempat ini sangat indah tapi juga sangat membosankan, tidak ada ponsel yang bisa menghiburku, dan tidak ada yang bisa kulakukan. Nyonya Heidi mengatur semua jadwal kelas, dan aku mempelajari semua pelajaran yang di ikuti oleh anak-anak perempuan bangsawan, seperti menyulam dan berdansa. Sepertinya hanya aku dan Lucas Tuan Rumah di tempat ini, karena semua orang dewasa disini adalah Pelayan, Koki ataupun Prajurit. Dan yang lebih mengbingungkan tidak adanya pembicaraan tentang masalah Adopsi aku maupun Lucas. Sepertinya kami akan tinggal di sini bersama. "Nona,, saat nya ke ruang musik, karena Miss Melody telah menunggu." Emilie mengingatkan tentang jadwalku. "Ayo,, kita pergi." kataku sambil berjalan di depan nya. ***** Saat akan berjalan ke ruang musik, aku melihat Lucas yang sedang berjalan menuju Ruang Musik juga, jarak kami sedikit jauh. Aku berlari menghampirinya. "Kau akan ke Ruang Musik?" Aku berjalan di sampingnya. "Ya." Lucas menjawab dengan singkat, "Aku akan pergi denganmu." Kataku sambil tersenyum kepada nya. "Terserah kau." Balasnya dengan acuh "Apakah kau masih membenciku?" Aku bertanya. "Tidak," balasnya. "Lalu mengapa kau, tidak mau bicara kepadaku? kau selalu menjawab dengan singkat semua pertanyaanku, dan kau seperti menjauhiku!" Aku memberinya banyak pertanyaan. Langkah Lucas terhenti, dia menatapku dengan wajah yang sulit di jelaskan "Kau berubah." Lucas. Aku cukup terkejut, aku berpikir apakah Lucas mencurigaiku? "Apa yang berubah?" Tanyaku ragu. "Entahlah,, aku tidak begitu mengerti, tetapi kau lebih banyak bicara," suara Lucas terdengar pelan. "Yahh,, kau tahu, aku hanya sendirian di tempat ini, dan ini cukup membosankan untukku, sepertinya aku sedikit kesepian." aku menjawab dengan jujur. "Kau kesepian ?" Lucas. " yahh.. benar." Cherina. Mendegar itu Lucas kembali terdiam, tapi kali ini espresi wajahnya sedikit aneh, sulit untuk menjelaskannya. Kami berjalan bersama ke Ruang Musik, aku langsung menuju ke pianoku, Tidak sulit memaikannya, karena aku cukup mahir bermain Piano, Hanya saja lagu-lagu di sini terdengar asing bagiku. *** aku berada di perpustakaan, mengingat tidak ada ponsel ditempat ini, jadi aku menghabiskan sebagian besar waktuku di perpustakaan, dan aku membaca beberapa buku tentang Sejarah Kerajaan ini. Buku diperpustakaan sangat banyak sekali, entah berapa banyak waktu yang akan di habiskan bila membaca semua buku ini. Ruang Perpustakaan adalah ruangan yang besar, dengan rak buku yang sangat tinggi dan menempel di dinding. Aku cukup tertarik dengan buku Sejarah Sihir di Kerajaan, Karena aku tidak pernah melihat Sihir secara langsung sebelumnya, tetapi di tempat ini sihir seperti hal yang biasa. di tempat asalku, orang yang bisa sihir pasti akan di sebut Dukun, Paranormal atau Orang Pintar. Dan berbeda dengan Sihir di tempat asalku, Sihir disini jauh lebih hebat dan juga kuat, seperti Teleportasi, kekuatan Mana pada tubuh, dan lain- lain. Aku berpikir apakah orang-orang di dunia ini bisa menggunakan sihir mereka untuk terbang? Wah... ini menarik.... Memikirkannya saja membuatku bersemangat, aku juga berpikir jika Sihir ada, lalu bagaimana dengan Peri, Naga dan Kurcaci, apakah mereka nyata juga? "Nona, anda akan menghabiskan waktu dengan membaca lagi?" Tiba-tiba Emilie bertanya kepadaku. "Ya.. aku menyukai buku ini." Menjawabku dengan singkat, mendengar itu tiba-tiba wajah Emilie terlihat aneh. "Ada apa?" Tanyaku penasaran. " emm.. tidak, hanya saja sedikit aneh, mengingat Nona menghabiskan waktu begitu lama untuk membaca, dan Nona bahkan membaca buku sihir!!" Emilie berkata dengan hati-hati. Sepertinya Cherina tidak menyukai membaca buku dan aku bahkan membaca buku rumit tentang sihir, Wahh.. ini gawat.. selama ini aku lupa bersikap seperti anak kecil, aku terlalu asik dengan ini semua, sehingga aku lupa kalau mereka akan mencurigaiku, yang bersikap tidak biasanya. "Aku hanya sedikit tertarik, yaa.. sebentar lagi, aku akan memulai pelajaran tentang Sejarah Sihir, jadi aku hanya mempelajarinya sedikit lebih awal." Aku membuat alasan. "Ahh.. ngomong-ngomong dimana Lucas?? Apakah dia sudah selesai berlatih?" Aku berusaha mengalihan pembicaraan ini. "Saat ini seharusnya Tuan Muda telah selesai latihan, tapi sepertinya dia masih di tempat latihan," Emilie "Ayo kita mencarinya." aku mejadi sedikit bersemangat. Sebenarnya aku sangat tertarik dengan buku itu, tetapi aku harus berakting didepan Emilie agar tidak menimbulkan kecurigaan. Aku akan menyimpan buku ini dan diam-diam membacanya. untuk saat ini, mari kita bermain dulu. Aku pergi ke tempat latihan bermaksud mencari Lucas, dan mengajaknya bermain. Jarak dari Mansion ke tempat pelatihan Prajurit sangat jauh, dan berjalan dengan kaki kecil ini membuatku sangat lelah, aku bahkan berlari kecil agar cepat sampai. Setelah sampai ke tempat pelatihan aku melihat Lucas yang sedang duduk di bawah pohon, angin yang bertiup membuat rambut gelapnya merambai-rambai. Menghampirinya, ternyata Lucas sedang tertidur, di bawah pohon, sambil memegang pedang di tangan kanannya, aku mengamati wajahnya ketika tidur, dia sangat tampan bila tertidur. melihat Lucas yang tertidur pulas aku berniat menunggu dan duduk di sampingnya. "Jangan duduk, tunggulah sebentar," tiba-tiba suara Lucas terdengar. Lucas bangkit dari posisinya dan berdiri, dia mengambil jubah besar berwarna hitam yang tergantung di dahan pohon. Lucas meletakkan jubah itu di bawah pohon. "Duduklah," katanya. Aku tersenyum kecil, kupikir bagaimana seorang anak kecil dapat bersikap se'Gentle ini. Aku duduk diatas jubah Lucas di bawah pohon, dan Lucas duduk di sampingku. "Ku pikir kau tertidur," kataku. "Awalnya benar aku tertidur, tapi tiba-tiba datang seekor babi yang membangunkanku" Lucas berkata sambil melihat lurus kearah padang rumput. Apa?? Babi katanya??? Kutarik kembali pikiranku yang mengatakan bahwa Lucas telihat Gentle. "Bocah sial." Gumanku, dengan suara kecil, entah Lucas mendengarnya atau tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD