Terbangun dengan perasaan paling buruk, bantalnya basah karena air mata dan keringat. Mimpi buruk semalam tak hanya membuka lagi kenangan buruk, tetapi juga perasaan tidak menyenangkan tak bisa bisa dijelaskan. Meninggalkan lubang besar dalam dirinya. Mengawali hari seperti ini, lebih baik berbaring di kasur sampai semua perasaan tidak menyenangkan itu menghilang. Kalau boleh, semoga dunia kiamat saat ini juga atau ia saja yang moksa dan menghilang. Maka semua kekhawatiran dan rasa sakit dalam hatinya lenyap. Itu lebih baik daripada ia menjadi egois dan mengharapkan dunia lenyap.
Menangis semalaman tanpa ada yang tahu, tenggorokannya ikut kering. Jadi … separah apa ia menangis semalam? Ketika melirik nakas, air putih yang biasa disediakan Bisma atau Mbok Ismi tidak ada di tempatnya. Mungkin mereka terlupa atau belum disiapkan. Ah … sungguh awal yang buruk untuk memulai hari. Lebih baik mandi daripada mengharapkan asteroid menghantam bumi dan semacamnya. Untuk hari ini pun, mari mengenakan topeng Juwita bersama-sama.
Ketika keluar dari kamar mandi, didapatinya Bisma baru saja meletakkan segelas air putih di meja. Pria itu cukup kaget karena Juwita di hadapannya tidak mengenakan apa pun selain selembar handuk yang menutupi badan. Rambutnya yang basah menjuntai, menutupi sebagian besar bagian bawah leher. Bisma cukup beruntung karena ia tidak melihat sesuatu yang lebih terbuka dari ini. Nona yang ia layani memang terkenal tidak memiliki rasa malu kalau mereka berdua dalam satu kesempatan.
“Ma-Maaf kalau airnya datang terlambat, Mbak. Saya juga baru aja bangun.” Bisma menundukkan pandangan dan itu malah berakibat buruk karena ia seolah sedang menatapi paha sang nona.
“Terlambat bangun, ya? Kamu pasti juga lemburnya sampai lupa waktu tidur. Bukan salahmu juga.” Balasan sang nona sedikit meniupkan kelegaan pada pria tersebut, tetapi ia buru-buru membalikkan badan ketika menyadari bahwa sang nona akan berganti baju di sana. Tepat di depan batang hidungnya. Perempuan itu lantas berkata lagi, “Hari ini aku mau pergi ke tempatnya Bapak sama Ibu. Mungkin pulang malam. Untuk sementara, kalau ada konsultasi apa pun, biar kamu yang ambil alih. Kalau editor juga menghubungi, bilang aja lagi ada keperluan mendadak. Paling baru bisa pegang naskah besok.”
“Iya, Mbak.”
Konsultasi yang dimaksud tentu saja seputar perdukunan. Selama ini pula Bisma yang memegang nomor penting telepon, sehingga banyak orang salah paham bahwa Mbok Ireng sebenarnya lelaki bermulai dari sana. Selagi menantikan sang nona selesai berpakaian, Bisma mengira-ngira. Sang nona akan mengenakan topeng Juwita. Itu berarti pula ketika pulang selalu saja kembali dengan curahan hati yang sama.
“Bis, maaf kalau aku baru ngabarin soal ini. Soalnya aku lupa banget serius.” Juwita menepuk pundah Bisma tanpa aba-aba, pria itu merinding karena sang nona menepuk pundaknya cukup keras dan terlebih lagi belum ada jaminan bahwa ia mengenakan pakaian lengkap. “Pokoknya hari ini jangan terlalu maksain diri. Jangan lupa juga pastikan perkembangan Ardi. Cuma dia satu-satunya klien yang kita ambil dan mungkin jadi klien terakhir. Benar-benar terakhir.”
Bisma menoleh, mendapati sang nona yang telah berpakaian lengkap. Kali ini pun harus memberikan imej sebagai perempuan mandiri tanpa bantuan pria. Setelan jas warna wine dan sepatu hak tinggi setinggi lima centi benar-benar memberikan kesan wanita karier. Tak lupa sebuah tas dari merek keluaran luar negeri. Bahkan hari ini pun tidak memakai riasan apa pun selain gincu merah. Heran, bahkan tanpa mengenakan riasan pun kulit sang nona selalu tampak memesona.
“Bisma….”
“I-Iya, Mbak. Siap. Kalau misalnya Mbak udah siap berhenti, saya tetap siap jadi pelayannya Mbak apa pun yang terjadi.”
Estri terkekeh karenanya. “Kamu udah berpikir sampai ke sana aja sementara aku baru mikir gimana caranya meladeni omongan Bapak sama Ibu soal jadi independent. Pokoknya hari ini jangan terlalu keras sama diri sendiri. Nanti pulang dari rumah mereka pun aku juga bakal mengurung diri aja di kamar. Pasti stresnya nambah berkali-kali lipat. Kalau ada apa-apa kita urus besok. Paham?”
Bisma kembali mengangguk. “Iya, Mbak.”
Dan itu adalah interaksi terakhir mereka sebelum Juwita meninggalkan hunian mewahnya mengendarai mobil sendiri. Betul-betul ingin menegaskan menjadi sosok perempuan mandiri yang selama ini digembar-gemborkan kepada orang tua asuhnya. Bisma mengantar kepergian sang nona dari jendela kamar, tidak pergi ke mana-mana. Ketika mobil sang nona benar-benar menghilang dari lingkup pandangannya, barulah Bisma mengambil kembali air putih di nakas. Ia bukannya tidak tahu bahwa sang nona menangis sepanjang malam tanpa suara. Ia ada di sana, menemani sang nona hingga perempuan tersebut kembali merasa tenang. Bagaimanapun juga, ia hanyalah seorang asisten, pelayan. Pelayan itu akan menjadi anjing yang tidak tahu malu jika mengharapkan lebih dari ini.
***
Sebagian besar dari keluarga asuhnya adalah pemilik bisnis kuliner. Ayah dan ibu asuhnya sendiri memiliki beberapa cabang restoran. Sementara yang lainnya bergerak di bidang lain yang lebih besar seperti makanan instan dan makanan beku. Beberapa menjadi importir makanan dan minuman populer di luar negeri, beberapa menjadi pengeskpor, dan Juwita menjadi satu-satunya di antara mereka yang datang sendirian tanpa membawa pasangan apa lagi anak. Pertemuan keluarga rutin ini menjelma menjadi mimpi buruk ketika mereka mulai bertanya-tanya. Mana pacarnya? Masa enggak mau nikah? Nikah itu enak lho. Ya … topik-topik semacam itu memang tidak akan teralihkan. Bahkan ketika momen lebaran sudah lama berlalu pun, suasananya masih membelenggu Juwita sendiri.
“Juwita, Nak … sini.” Ibunya melambaikan tangan, meminta kehadiran sang putri. Mereka masih sama seperti terakhir kali bertemu dua minggu yang lalu. Bapaknya tetap berperut buncit, ibunya juga masih sering mengomeli bapaknya karena alasan-alasan sepele, lalu adiknya, adik perempuan yang merupakan anak kandung orang tua asuhnya. Ia adalah adik perempuan paling manis dan pengertian. Hanya ia yang tidak pernah mengungkit status Juwita sebagai perempuan lajang dewasa satu-satunya di keluarga.
Namun, ketika seseorang bergabung dengan anggota keluarga kecilnya, Juwita mengurungkan langkah. Bagaimana bisa pria itu ada di sana, menyapa mereka dengan santai seolah sudah kenal untuk waktu yang lama. Mata pria itu bergulir ke arah Juwita, dan ia tidak segan-segan menunjukkan senyum paling manis. Yang bagi Juwita itu adalah senyum penuh perangkap untuk menjerat banyak wanita. Demi kaus kaki bau Bisma, kenapa pria itu ada di sini.
“Juwita, Sayang … kenapa kamu malah melamun di sini. Kaget, ya, liat orang seganteng ini. Kamu kalau rajin-rajin belajar bisnis, pasti bakal kenal sama wajahnya gantengnya.” Sang ibu menghampiri sembari membimbing pria tadi mendekat. Saat itu pula Juwita berharap agar pria itu tidak mengenali dirinya.
“Hai … saya Ardi, salam kenal.” Pria itu mengulurkan tangannya. Dan Juwita benar-benar berharap bahwa dunia saat ini lebih baik terbelah atau kejatuhan asteroid daripada bersalaman dengan pria ini. Pria yang mendatangi gubuknya untuk meminta bantuan membunuh sang ayah.