Estri tidak berdaya ketika menyaksikan bagaimana nyawa sang ayah direnggut secara paksa. Ibunya sendiri kehilangan tenaga saat itu pula. Tubuh mereka berdua terjerembab ke tanah. Satu hal yang menyakiti Estri lebih dari apa pun. Bahwa sang ibu kembali pada ayahnya, dengan membawa Estri di gendongan walaupun berkali-kali terjatuh dan kehilangan keseimbangan. Bahkan ketika kaki-kakinya yang gemetar tidak sanggup lagi menopang tubuh, ia melepaskan Estri dan merangkak. Berusaha membangunkan sang suami. Perbuatan sia-sia itu membawa mereka pada kondisi lebih buruk ketika pria-pria misterius berpakaian hitam mengerubung.
“Ayah … Ayah … sadar, Yah. Bangun! Kita harus pergi dari sini.” Ibunya betul-betul kehilangan semangat hidup sementara Estri tidak dapat melakukan apa pun selain membeku. Baik itu suara, tubuh, maupun juga pikiran. Ia tidak bisa memikirkan apa pun saat ini. Matanya tidak lepas dari tubuh sang ayah yang kaku tidak bergerak. Darah menghulu dari bagian d**a yang berlubang. Ibu menangis sesenggukan. Lalu para pria yang menjadi tamu ayah waktu itu datang. Membuat celah bagi pria-pria berpakaian hitam itu agar membuka jalan.
Lalu, Atmajaya ada di antara mereka. Wajahnya yang arogan membuat Estri bergidik ngeri. Ia bergabung di sebelah ibunya. Walaupun mendekat ataupun tidak, sang ibu masih belum bisa melepaskan diri dari tubuh sang ayah.
“Kalau kalian bisa sedikit kooperatif, mungkin keadaan tidak sampai seburuk ini. Salah kalian sendiri karena memilih menempatkan diri ke dalam bahaya daripada bekerja sama,” ujar Atmajaya sembari mengeluarkan sebatang cerutu dari dalam saku. Pria lain yang dikenali sebagai Hendri Pamungkas menyalakan api menggunakan pemantik. Menyulut cerutu hingga berasap.
“Kalian semua adalah b*****h! Kalian pembunuh! Dari awal suamiku sudah tahu kalau kalian memang orang jahat!” Ibu berteriak, tak lupa melempari Atmajaya dengan sebuah batu. Yang ternyata tidak mengenai pria itu dan berakhir menggelinding entah ke mana.
Atmajaya menyeringai lalu terkekeh dingin. “Ha … bisa-bisanya di saat seperti ini kalian belum lepas dari masa lalu. Kalau sudah tahu kami berbahaya, kenapa tidak dari dulu kalian menyerah saja? Menyerahkan tanggung jawab pabrik kepadaku atau kabur saja ke daerah lain atau malah keluar negeri. Kalian lebih aman di sana. Sudah jelas juga siapa yang akan menang dalam permainan ini. Walaupun kalian disukai oleh ayahku yang terlalu suci seperti kyai, tetap saja kalian tidak ada apa-apanya jika mempertahakan sikap suci itu.”
Atmajaya lantas menunduk, mengamati jasad ayah. Ia kembali menyeringai lalu berkata, “Inilah yang didapatkan dari orang yang berusaha menjadi orang suci sampai akhir. Pada akhirnya, menjadi orang baik ataupun orang jahat, kematian tetap akan menjemput mereka. Tidak ada gunanya bersikap baik di dunia yang sudah gila ini.”
Ketika pria itu menoleh ke ibu, ia disambut dengan air ludah ibu. Estri sendiri makin membeku di tempatnya. Tindakan itu telah membangkitkan amarah singa. Dan benar saja, rambut ibu dijenggut kencang. Jeritan ibu menyakiti Estri. Tak cukup hanya menjambak rambut. Kepala ibu dihantamkan ke tanah dan diinjak berulang kali oleh Atmajaya. Pria itu kesetanan ketika melakukannya. Tak mempedulikan Estri yang berusaha menjegal kaki pria tersebut. Kilatan jahat di mata pria itu membangkitkan seluruh bulu halus di tubuh. Ketika sang gadis membeku karena tatapan itu, Atmajaya menendang tubuhnya hingga terpental cukup jauh. Jeritan sang ibu meledak tatkala menyadari sang putri diperlakukan dengan buruk juga.
“Aku tidak bisa mentolerir perempuan berisik sepertimu. Sepertinya kita harus bersenang-senang sedikit sebelum menghabisi mereka semua.” Setelah mengatakan hal tersebut, Atmajaya memanggil Sutimin mendekat. Anak buah Atmajaya yang satu itu memang dikenali pria yang tidak puas dengan satu wanita saja. Selain tiga istri, ia juga mempunyai beberapa simpanan lain. Baik yang diketahui istri resmi, maupun yang masih tersimpan dan belum tercium bau amisnya.
“Kamu pasti tidak akan membiarkan perempuan ini begitu saja tanpa menyentuhnya. Lakukan yang kamu mau selagi aku menikmati dari kejauhan.” Itu adalah undangan terbuka untuk semua pria yang ada. Namun, tentu saja Sutimin maju di garda terdepan. Mendengar kunci sabuk terlepas dan risleting diturunkan, ibu panik dan ketakutan. Hal pertama yang ia lakukan adalah berlari ke arah Estri, berusaha melindungi putrinya dari mereka. Orang-orang gila ini mungkin memiliki preferensi seksual yang lebih gila.
“Kalian semua gila! Orang-orang biadab! Jangan sentuh anakku!” Bahkan ketika ia dipukul dan diinjak-injak, ibu semakin mengeratkan pelukannya pada Estri. Tidak memberikan ruang bagi mereka menyentuh sang putri.
“Perempuan lacur ini enggak tahu kalau anaknya jelek! Makanya enggak mau dilepaskan. Padahal ibunya cantik begini, kenapa anaknya luar biasa jelek.” Sutimin menarik dagu ibu, memaksa mencuri sebuah ciuman.
Ketika ibu meludah lagi memberikan penolakan, Sutimin tanpa ragu memberikan satu pukulan kencang yang cukup untuk merobek sudut bibir ibu. Satu pukulan yang juga membuat pelukan eratnya pada Estri kendur. Tubuh bocah itu diseret menjauh. Ia hanya menjadi penghalang orang-orang tersebut melucuti satu per satu sandangan sang ibu. Estri tentu tidak membiarkan begitu saja perbuatan mereka kepada sang ibu. Namun ia terlalu kecil untuk melawan. Beberapa kali pula ia ditendang dan dilemparkan.
“Anak ini harus melihat bagaimana ibunya merasakan hal-hal indah sebelum mengalami hal terburuk.” Atmajaya menahan tubuh kecil Estri. Mengurungnya agar tak ke mana-mana dengan kedua lengan kekarnya. Ia lantas berbisik kepada perempuan kecil itu, “Nduk … lihatlah dengan cermat dari awal sampai akhir. Ini akan menjadi ingatan terakhirmu tentang ibumu. Kamu tidak akan melihatnya lagi. Jadi nikmatilah selagi ia masih hidup.”
Tubuh Estri bergetar ketika melihat Sutimin mulai menyentuh dan merusak tubuh ibunya perlahan-lahan. Tidak! Pria itu terburu-buru. Seperti singa beringas yang tengah memburu dan melumat mangsanya. Pria tua itu binatang lapar. Menggigit dan melumat ibunya tanpa ampun. Estri kembali menjadi sebongkah es yang airnya meleleh satu demi satu. Sutimin tidak hanya melakukan perbuatan itu sekali saja. Berkali-kali hingga cahaya kehidupan di mata ibunya meredup.
Hewan macam apa yang membuat seorang anak menyaksikan ibunya dirudapaksa? Mungkin itulah alasan mengapa mata sang ibu kosong. Rasa malu yang tidak terukur karena perilaku para binatang ini telah membunuh ibunya perlahan. Jejak-jejak air matanya mengering, tetapi kembali dilelehi lagi. Ketika Sutimin telah melepaskan tubuhnya dari ibu Estri, para pria lain mulai mengerubung. Dan itulah saat di mana Estri semakin tidak berdaya. Bisikan-bisikan menjijikan Atmajaya memperburuk suasana.
“Ayahmu sungguh kasihan karena tidak bisa mencegah orang-orang itu menggunakan tubuh ibumu sebagaimana ia melakukannya kepada ibumu. Wah … kamu masih sangat kecil tapi sudah melihat adegan porno senyata ini. Aku sungguh penasaran bagaimana perasaanmu saat ini, haha.”
“Aku yakin sekali jika ibumu sebenarnya berbakat untuk melayani banyak pria sekaligus. Lihatlah bagaimana ia begitu terampil dengan semua anggota tubuhnya, bahkan tanpa melakukan apa-apa.”
“Sungguh perempuan kotor yang tidak menolak ketika disentuh oleh pria lain. Ya … mau bagaimana lagi, ia seorang janda kesepian yang baru saja ditinggal mati suami. Tentu saja ia memiliki sesuatu yang harus disalurkan bukan?”
Bisikan-bisikan kotor itu, perlakuan binatang pria-pria itu kepada ibunya, isi perut Estri bergejolak, lalu isi perutnya keluar begitu saja. Atmajaya tertawa kencang.
“Haha, anak ini masih terlalu kecil untuk melihat semua ini. Lihat saja ia sampai muntah-muntah begini. Jadi kasihan rasanya. Kalau kalian sudah selesai, kita harus menghabisi mereka semua tanpa sisa. Aku harus mengganti sepatu. Haha, anak kotor ini sudah mengotori sepatuku. Aku juga harus menelepon seseorang. Jadi, lakukan dengan cepat.”
Selagi Atmajaya meninggalkan Estri kecil dan para pria itu sibuk dengan ibunya, seorang kakek tua mengawasi dari balik pohon. Tatapan kosong Estri beradu dengan pria tua tersebut. Sisa-sisa kehidupan pada sorot mata itu menarik iba sang kakek. Ketika tidak ada yang peduli pada Estri, sang kakek menggendong tubuh lemas gadis tersebut, meninggalkan mimpi buruk yang akan menghantui sang gadis kecil sepanjang hidup.
***
Sutimin dan Hendri Pamungkas cukup panik ketika mendapati Estri raib seolah dimakan malam. Tak ingin membuat masalah dengan Atmajaya, mereka yang tersisa memasukkan mayat Abdul ke dalam mobil bersamaan dengan tubuh kaku Sari setelah mendapatkan serangan jantung mendadak karena dijejali obat kuat. Mobil ringsek disiram dengan bensin, lalu pemantik api dilemparkan dari atas jurang. Itu adalah malam di mana sebuah insiden paling mengerikan terjadi. Namun, tidak ada Koran mana pun yang berani memuat berita tentangnya.