18. Diah – I

1235 Words
Ada beberapa hal yang menjadikan Bisma benar-benar mencatat cerita arwah penasaran tersebut. Sejak dulu, ia memang tertarik mengangkat cerita seseorang dan bukan orang menjadi bentuk fiksi. Menjadikan cerita tersebut diketahui oleh orang banyak adalah kebahagiaan tidak terkira. Ketika mendapatkan bahan seperti ini, tentu saja momen tersebut harus dimanfaatkan dengan baik. Terkadang pula, Juwita dibuat ngeri dengan kebiasaan sang asisten. Khawatir saja kalau-kalau cerita semasa hidupnya dijadikan sebagai konsumsi publik. Juwita berdeham sebentar sebelum membuka percakapan. “Nama kamu siapa? Kamu pasti enggak tahu kalau Ardi sebenarnya udah ada kontrak antara saya sama tuan saya, makanya kamu berani banget mengintil dia ke mana pun pergi.” Jawaban dari perempuan tersebut selanjutnya sungguh tidak terduga. Saya Diah, waktu meninggal, umur saya delapan belas. Buat pertanyaan apakah saya tahu atau enggak kalau dia sudah terikat kontrak, saya sebenarnya sudah tahu. Karena saya tahu siapa yang udah mengikat kontrak sama dia, makanya saya memberanikan diri muncul di depan Mbak. Juwita tercenung sejenak sebelum memberikan pertanyaan lagi. “Kalau kamu mau terlihat dengan baik, harusnya muncul pas ritual. Tuan saya bakal tahu—“ Sa-saya bukannya mau Tuan Anda tahu, Mbak. Saya cuma mau minta bantuan dari Mbak saja. Saya enggak berani berurusan sama Tuan itu. Dan lagi … saya juga tahu kalau Mbak punya dendam sama Ardi, maka dari itu saya mendekat. Juwita sejenak berusaha mencerna. “Apakah karena kamu tahu kalau Tuan saya saat ini enggak punya kekuatan untuk balik menyerang kamu secara langsung, maka dari itu kamu berani sedikit menantang bahaya. Kalau yang kamu ganggu kontraktor lain dari siluman yang sudah besar dan kuat, kamu akan tamat untuk kedua kalinya. Kamu sadar itu, ‘kan?” Sa-saya tahu. Maaf karena saya lancang. Ta-tapi saya mohon banget supaya Mbak mau bantu saya. “Siapa yang bilang saya enggak akan bantu? Saya bakalan bantu, sebenarnya, kalau boleh bilang, saya masih agak terkejut sama keberanian sekaligus keberuntungan kamu. Maka dari itu, kamu seharusnya cerita apa yang terjadi kepada kami berdua. Semuanya … tanpa ada detail terlewat dan tanpa ada bagian yang ditambah-tambah atau dikurang-kurangi.” Diah menoleh ke Juwita dan Bisma bergantian sebelum memulai ceritanya. Saya emang lemah banget, keluarga Atmajaya sendiri dari dulu punya pelindung keluarga yang kuat. Awalnya saya emang enggak bisa masuk ke keluarga itu, tapi setelah tahu kalau dia mulai dimusuhi keluarga, pelindung itu makin lemah dari ke hari dan saya baru bisa masuk dan mengusik hidupnya selama beberapa bulan ke belakang. Cerita saya dimulai dari satu setengah tahun yang lalu ketika kami berdua berjumpa di sebuah acara sabung ayam orang-orang besar di desa. *** “Perempuan harus cantik, dengan begitu bisa memikat lelaki. Jangan terlalu pintar karena lelaki tidak suka perempuan pintar, apalagi yang lebih pintar dari mereka. Pokoknya, hal terpenting yang harus kamu lakukan adalah jadi cantik dan manis. Jadilah perempua penurut. Buat hati mereka besar lebih dulu, kalau sudah begitu, gampang sekali kamu memikat mereka.” Wejangan dari sang nenek terus hidup di dalam diri Diah. Ia yakin pula wejangan tersebut juga diberikan kepada ibunya yang saat ini entah di mana. Mungkin wejangan tersebut telah berhasil menjadi tuntunan ibunya mentas dari jurang kemiskinan. Namun, ada pula yang menyebut bahwa ibunya merana setelah dijadikan simpanan sebagai seorang pejabat. Membuatnya tidak bisa menyingkirkan istri sah yang bahkan sama-sama pula menjabat posisi penting di pemerintahan. Kalau begitu, ibunya kalah dari perempuan yang pintar dong? Seharusnya ibunya bersekolah saja supaya bisa mengamankan posisi. Diah sendiri pun juga ingin bersekolah lebih tinggi, tapi neneknya melarang. Mahal. Sebuah alasan klise. “Diah, nanti malam di tempat biasa sabung ayam bakal banyak bos-bos besar dari kota. Nanti kamu malam aja yang layanin, ya. Gantiin aku buat malam ini aja. Anak aku lagi panas dua hari, enggak bisa ditinggal.” Yuni secara langsung meminta Diah menggantikan tugasnya. Perempuan yang jadi rekan kerjanya selama tiga tahun ke belakang tersebut baru berusia dua puluh sebenarnya, tetapi sudah punya anak tiga. Dan kesemuanya berasal dari bapak yang berbeda-beda. Namun, satu alasan menyatukan mereka bertiga: kehidupan sebagai suami dan bapak yang penuh tanggung jawab tidak sesuai dengan kemampuan finansial. Pada akhirnya, Yuni sendiri harus menghidupi anak-anak dan orang tuanya sendirian. “Yuni itu beruntung, belum lulus SMP sudah dilamar banyak orang. Sekarang masih muda anaknya sudah banyak. Nanti pas tua enak. Anaknya banyak, banyak juga yang bakal rawat dan kasih dia uang di masa tua.” Diah kadang merasa heran, bahkan neneknya yang baru berusia lima puluhan itu punya banyak anak. Namun, tidak semua dari mereka memberi uang apalagi merawat. Ia masih pergi ke pasar, berjualan ini itu untuk memenuhi kebutuhan. Padahal di usia yang mulai merangkak senja itu, harusnya ia memiliki hal-hal yang selama ini diwejangkan pada Diah sendiri. Lelaki dan juga anak-anak penyayang orang tua. Nyatanya sang suami, alias kakek Diah telah berpisah dengan neneknya sejak anak keempat lahir. Pria itu minggat dengan istri barunya dan bahkan wajahnya sendiri saja Diah tidak tahu. Itu berlaku pula untuk bapak kandungnya sendiri. Hidup dengan mengandalkan orang lain sebenarnya tidak terlalu menyenangkan seperti yang dikatakan sang nenek. Namun mengapa neneknya tidak paham akan hal tersebut dan bahkan mendorong-dorongnya untuk melakukan hal sama? Dari keempat anak neneknya, hanya satu yang berada sekampung. Itu pun dengan ekonomi pas-pasan pula sehingga belum tentu memberikan uang. Ketiga yang lain, tidak jelas kabarnya. Bosan menjadi orang miskin, mereka merantau dan tidak pernah kembali. Begitu pula dengan ibunya. Sehingga sudah jelas bahwa sang nenek tidak memiliki siapa pun itu diandalkan, apalagi merawat. Lantas mengapa ia tidak pernah lelah membujuk Diah untuk segera menikah? Apakah neneknya bebal atau bagaimana? “Diah … dedek cantik, hari ini udah ketemu sama siapa aja? Kalau orangnya secantik ini, presiden pasti juga enggak bakalan lepasin kamu. Mas dibikinkan kopi panas dong, satu.” Pria di depannya ini adalah salah satu pria menyebalkan. Anak sudah dua, istri sedang hamil lagi, tapi tidak pernah berhenti menggoda perempuan. Kedua anaknya yang masih batita itu saja tampak kurus, istrinya juga tidak pernah terurus, tapi kalau urusan jajan di luar seperti ini tidak pernah absen. Kalau sudah menggoda Diah, dia akan bergabung dengan orang-orang menonton sabung ayam besar-besaran. Sungguh pria tidak tahu malu. Di desa mereka, sebuah lokasi sabung ayam besar dibangun. Orang-orang dari seluruh penjuru kabupaten, bahkan luar kota datang melihat pertandingan adu ayam yang sebenarnya tidak mengantongi izin. Jadilah tontonan ilegal tersebut bisa bubar sewaktu-waktu jika ada polisi atau tentara datang. Sebagai salah satu dari perempuan yang berjualan di sana, Diah tidak banyak berpikiran berat sebenarnya. Polisi atau tentara tidak akan mengusik para perempuan yang berdagang. Paling mereka akan mengejar siapa-siapa saja yang bermain sabung ayam, menangkap promotor acara, lalu melaporkan ke atasan. Itu kalau abdi negara yang itu betulan berbakti untuk negara. Kalau yang berbakti untuk uang, tentu saja akan ikut bermain dan memeriahkan acara, termasuk pula bertaruh. Mungkin itu sebabnya mengapa sabung ayam ini bertahan cukup lama. Mengesampingkan itu semua, ini adalah pekerjaan yang mudah tanpa banyak risiko. Ia tidak memerlukan ijazah dan kualifikasi khusus. Menjadi cantik adalah syarat utama dan ia memenuhinya di atas standar. Itulah mengapa warung ini selalu ramai dengan pengunjung. Karena ia cantik tentunya. Banyak kumbang akan mendatangi bunga yang cantik bukan? “Bisa dibuatkan kopi? Dua gelas saja.” Pria itu datang mengenakan topi. Wajahnya rupawan. Dan satu kali lihat saja, Diah tahu jika pria itu memiliki aura berbeda dengan pria lain yang tentunya aura terpancar darinya mencerminkan kesan mewah. “Bo-boleh.” Diah tersipu. Padahal sejak dulu ia bisa tahan terhadap godaan pria, tapi untuk pria yang satu ini … ia kalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD