17. Perempuan yang Menduduki Bahunya

1165 Words
Kendati baru dua kali dipertemukan dengan identitas seorang Juwita, sisi Mbok Ireng dalam dirinya tahu betul bahwa Ardi ternyata mendapatkan gangguan dari makhluk halus. Dalam dunia bisnis, menggunakan makhluk halus untuk mengganggu kehidupan pesaing bukan lagi hal baru. Jika memang benar ada yang mengirimkan gangguan melalui arwah seperti ini, bisa jadi bukan kali pertama untuk Ardi yang memiliki nama besar Atmajaya. Tujuan makhluk kiriman tersebut tentu saja bukan untuk membunuh secara langsung. Namun, menyiksa secara perlahan. Seperti pusing, pegal-pegal, dan rasa lelah yang tidak berakhir kendati telah mendapatkan penanganan medis. Mungkin pria itu baru saja mendapatkan kiriman karena selama ritual pertama kemarin, ia belum sempat melihat sosok perempuan kurus yang menduduki bahu pria tersebut. Namun, apakah benar arwah perempuan tersebut adalah kiriman dukun? Entah dari mana asalnya, Juwita enggan ikut campur, tetapi arwah perempuan itu sudah telanjur mengenalinya sebagai seorang dukun pula. Kenapa kamu mengganggu orang yang sudah berkontrak sama saya dan tuan saya? Nyali perempuan tersebut tentu ciut. Menyadari perbedaan kekuatan besar di antara mereka. Tak kunjung menjawab, perempuan tersebut meringkik ketakutan tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya. Ardi yang tengah menikmati minuman dinginnya mengelus pundak, tubuh tembus pandangan perempuan itu tetap tidak bergerak sedikit pun. “Kenapa Mbak Juwita liat saya kayak gitu? Ada sesuatu di muka saya, ya?” tanya Ardi sembari memulas senyum jail. Juwita bermaksud membalas, tetapi pria itu sudah lebih dulu membalas pertanyaannya sendiri dengan lawakan garing. “Uhm, pasti ketampanan dan karisma. Iya, ‘kan?” Juwita menyesal telah bertanya. Bodo amat. Ia bisa menyingkirkan perempuan itu dengan mudah. Hanya saja, ia tetap penasaran kenapa ada seseorang yang berani mengirimkan arwah tersebut untuk mengusik Ardi. Padahal dengan ritual malam itu, seharusnya Ardi telah dikenali memiliki kontrak tak tertulis dengannya dan juga Sarpa Wijaya. Siapakah orang bernyali tinggi yang tetap mengirimkan perempuan menyedihkan itu? Bahkan dengan satu tangan pun, ia bisa menyingkirkan perempuan tersebut. “Enggak ada apa-apa, saya cuma enggak nyaman. Suasana ini enggak natural. Kalau misalnya Ibu sama Paklik dan Bulik saya enggak ngawasin, saya mau pulang.” Juwita betul-betul tidak menyukai suasana ini. Setelah sesi makan siang yang tidak enak itu, baik ibu asuh beserta bulik dan pakliknya izin keluar sebentar, tetapi mereka tidak kembali setelahnya. Ardi sempat keluar sebentar. Izin merokok katanya, tetapi balik-balik malah membawa perempuan itu bahu. Yang tentu saja pria itu sama sekali tidak menyadari adanya arwah tengah menjadikannya sebagai kursi berjalan. Kalau Mbak bisa lihat saya, setidaknya bantu saya buat balas dendam. Orang ini sudah membunuh saya. Bukan sekali dua kali Juwita mengalami skenario seperti ini. Arwah penasaran akan meminta bantuannya untuk balas dendam. Balas dendamnya sendiri belum terpenuhi, masa harus membantu balas dendam makhluk lain. Terutama setelah arwah mereka tenang, ia tidak akan mendapat apa-apa sebagai balas budi. Dan lagi, tuannya pasti juga tidak akan setuju jika Juwita menggunakan kekuatan untuk membantu arwah berbau orang mati, ujung-ujugnya menjadi hal yang tidak memiliki timbal balik. Ingat, Nduk.Bisnis tetaplah bisnis. Ada kalanya ia akan mendengar hal-hal seperti itu dari Ibu maupun Sarpa Wijaya sendiri. Saya enggak peduli kalau saya mati konyol mengenaskan tanpa ada yang tahu. Tapi pria ini menghabisi nyawa saya pas lagi hamil. Anak itu bahkan sudah mati sebelum ditiupkan roh. Saya bertahan demi jabang bayi saya yang belum lahir ke dunia. Juwita menaikkan satu alis. Oh, cerita perempuan itu akan sangat menarik. Hanya saja, dengan keberadaan Ardi di sana sedikit mengacaukan suasana. “Kenapa alis Mbak Juwita naik? Mau menggoda saya atau bagaimana?” Sembari memijat pundaknya, pria itu mencoba menebar kembali rayuan maut, yang di mata Juwita malah terlihat seperti rayuan amatir anak sekolah dasar. Juwita meringis. “Saya ada urusan penting. Mas tahu kalau saya punya bisnis sendiri. Kalau berlama-lama di sini klien saya bisa lari. Saya mau balik. Terserah kalau Mas mau di sini sendirian. Nungguin orang yang enggak bakal balik.” “Loh, saya bukannya enggak tahu kalau mereka enggak bakalan balik. Saya bertahan di sini karena senang bisa menghabiskan lebih banyak waktu berduaan sama Mbak Juwita sendiri. Jadi, Mbak jangan salah sangka, ya.” Ardi mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyuman ala-ala pria penebar pesona. Perempuan tiga puluh enam tahun itu benar-benar muak. Ia menyampirkan tas ke bahu, bersiap-siap pergi. “Saya enggak bisa berlama-lama sama orang yang kelihatan kayak orang tua di usianya yang masih sangat muda. Paling enggak, Mas Ardi harus ke spa atau tempat pijat mana dulu. Mas udah kelihatan kayak bapak-bapak yang abis gendong semen satu sak.” Ardi tidak membalas perkataan Juwita. Ia masih cukup syok dengan bagaimana perempuan tersebut memberikan balasan. Kesal, tentu saja, tapi ia tidak bisa membalas perempuan tersebut. Perempuan yang sejak awal sudah ia targetkan. Bersabar, di keadaan seperti ini, jangan sampai menambah musuh. Seluruh keluarga telah menjadi musuh, maka ia tidak bisa menambah lagi. Dan lagi, sedari kembali dari ruang rokok tadi, pundaknya pegal luar biasa. Betul-betul seperti habis menggendong semen satu sak sebagaimana yang dikatakan Juwita. Sialnya, pegal-pegal dan pusing yang ia derita telah berlangsung selama beberapa bulan ke belakang, mungkin ada pula satu tahunan. Ia sendiri tidak begitu sadar sejak kapan pegal-pegal dan pusing itu bermula. Dokter hanya menyarankan untuk mengurangi stres dan saran tersebut cukup membantu walaupun bisa kembali kapan saja ketika sedang banyak pikiran. Ah … kalau begini, hubungan buruk dengan keluarga patut dipersalahkan. Ia jadi begini karena mereka. Membayangkan kembali tentang kacaunya hubungan itu, ia jadi tidak mempedulikan kepergian Juwita, beserta perempuan tak kasatmata itu pula. *** “Mbak Juwita kenapa bawa-bawa lagi yang kayak gitu?” Bisma menunjuk pada arwah perempuan pemurung yang dibawa oleh nonanya ketika pulang dari pertemuan tadi. Tentu saja ia pertemuan untuk makan siang itu tidak seharfiah yang dibayangkan. Karena ada Ardi di sana, pastinya menjadi ajang perjodohan. Juwita menjatuhkan diri ke sofa lalu melirik arwah perempuan tersebut. Gaun kumal dan kusam, rambut berantakan, wajah pucat, lalu ada warna merah yang kentara pada bagian belakang gaunnya. Bagian di antara paha yang berbentuk lingkaran besar. Ya … setidaknya perempuan itu tidak berbohong jika Ardi menghabisi nyawanya beserta janin yang belum berusia empat bulan. Bercak merah besar itulah buktinya. “Dia bukan sembarang arwah. Dia perempuan yang udah dihabisi Ardi. Kalau ada dia, kita bisa memberikan banyak pelajaran buat pria itu. Gimana?” Bisma berdeham. “Mbak Juwita udah berusaha mengusir banyak penunggu dan arwah di sekitaran sini karena dia enggak suka sama bau mayat yang mereka bawa. Mengusir mereka capeknya minta ampun loh, Mbak. Tapi Mbak malah bawa langsung salah satunya ke sini. Apa enggak sia-sia perjuangan kita berdua usir mereka?” Juwita menggeleng. “Kita butuh perempuan ini buat tahu seburuk apa kelakukan pria busuk itu. Selama ini kita selalu mengira kalau Ardi memang pria berandal, tapi karena arwah yang satu ini, kita makin tahu kalau dia itu penjahat yang pantas buat dibumihanguskan. Dan aku akan bantu dia balas dendam.” Bisma sungguh tidak bisa memahami bagaimana sang nona terkadang bisa menjadi sangat naïf. Ia menatap bergantian antara Juwita dan perempuan tersebut lalu menghilang ke kamar dan kembali sembari membawa kursi dan alat-alat tulis. “Buat jaga-jaga kalau ceritanya kepanjangan dan butuh banyak catatan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD