16. Makan Siang Menyebalkan

1136 Words
Hari di mana Juwita kembali setelah dari pekerjaan rutin bulan purnama adalah hari di mana roda kehidupan akan dibiarkan berjalan lambat. Sang dukun akan menghabiskan waktu dengan beristirahat penuh, sedangkan asistennya juga akan lebih banyak mengurung diri di kamar. Kali ini pun, Juwita sedang tengkurap sembari menonton film horor melalui proyektor yang menyorotkan film tersebut ke dinding kamar. Malas level maksimal, bahkan untuk memegang ponsel saja ia tidak mau. Punggungnya masih luar biasa nyeri saat ini. Subuh tadi, ia kembali dari rumah kaca dengan wajah paling sayu dan lelah. Tentu saja Bisma akan menyambut dengan lengan terbuka lebar lalu merawat luka sang nona. Juwita sebenarnya pun enggan terlalu memikirkan omelan sang tuan, agar jangan terlalu dekat dengan Bisma. Bagaimanapun juga, sang tuan kelihatannya lebih terganggu pada Bisma daripada klien-klien Juwita. Namun, di saat yang sama pula, ia akan berusaha tidak memancing kemarahan sang tuan lebih banyak. “Tolong nanti kamu obati lukaku dulu, ya. Habis itu aku mau nonton film sama drama di kamar. Marathon banyak, jadi jangan ganggu aku sampai semua tontonanku habis.” Itu peringatan Juwita, yang sebenarnya ia tidak punya terlalu banyak tontonan. Hanya mengambil drama atau film yang merajai peringkat pertama di aplikasi tersebut, memutarnya, lalu menjauhi Bisma untuk sementara waktu. Bisma tentu saja menghendaki agar setidaknya berobat ke klinik. Luka-luka di tubuh karena “pertarungan” semalam memang cukup banyak. Walaupun tidak sampai ke tahap tidak bisa melakukan apa-apa, apalagi sampai membahayakan nyawa. Hanya saja Juwita tetap bersikeras bahwa ia tidak perlu sampai ke klinik. Jika dibutuhkan, ia akan memanggil dokter saja ke rumah. Toh, mereka punya dokter pribadi yang telah paham semua t***k bengek Bisma dan Juwita yang dekat dengan hal-hal klenik. Awalnya Juwita ingin bersantai saja sembari menunggu kedatangan dokter tersebut, tetapi mendadak dapat panggilan bahwa dokter yang bersangkutan tidak bisa datang karena sedang kebanjiran pasien. Meninggalkan klinik hanya akan membuatnya berada dalam masalah. Kalau sudah begini, maka ia harus menahan sakit sampai tubuhnya pulih sepenuhnya. Untuk sementara jangan berbaring dulu karena punggungnya yang terkena banyak luka akan terasa makin sakit. Harusnya hari ini pun ia bersantai kalau saja panggilan dari sang ibu asuh datang mengacaukan hari. Juwita sangat menyayangi orang tua asuhnya, bukan karena yang menelepon ibu asuhnya lantas suasana hati perempuan itu memburuk. Namun karena kabar yang dibawanya. “Wit, Nduk. Ini ada Mas Ardi di resto, paklik sama bulik kamu yang ajak dia ke sini. Coba kamu datang ke sini aja, Nduk. Kalau enggak dituruti, nanti mereka malah ngamuk.” Awalnya, Juwita masih marah-marah karena menonton film tentang tumbal pertumbalan, mengomentari bahwa jalan ceritanya lemah. Karakter utama bisa lolos dari pertumbalan dengan mudah sebenarnya. Hanya saja, Juwita sendiri juga tumbal untuk keluarga orang tua asuhnya. Sebagai persembahan yang diberikan kepada Ardi sebagai bagian dari Atmajaya, Juwita sebenarnya bukan pilihan tepat untuk dijadikan tumbal. Hanya saja daripada anak-anak gadis mereka yang kena, bukankah Juwita yang merupakan orang asing di keluarga lebih pas untuk posisi tersebut? Sebagai tumbal. Si dukun telah mengganti pakaiannya menjadi lebih pantas untuk keluar. Mengesampingkan pegal dan nyeri di seluruh tubuh, ia harus tetap berangkat jika tidak ingin menyulut pertengkaran dengan keluarga besar yang luar biasa menyebalkan. Bisma baru saja kembali membawa air minum dan beberapa bungkus camilan ketika mereka berdua saling bertatapan. Menyadari bahwa sang nona akan pergi ketika kondisi tubuh belum terlalu pulih, tentu saja jiwa asistennya meronta. “Mbak mau pergi ke mana? Kan Mbak masih pegal-pegal dan sakit gara-gara yang semalam,” tegur pria tersebut. “Iya, aku tahu. Jangan terlalu dipertegas juga. Tapi aku tetap harus pergi. Ini ditelepon Ibu, harus datang ke resto. Ada tamu undangan paling diinginkan satu keluarga.” Juwita memasang wajah malas dan Bisma tahu benar siapa yang dimaksudkan. “Harus banget pergi, ya, Mbak. Bilang aja Mbak lagi sakit atau gimana.” “Gampang bilang gitu, Bis. Tapi kamu tahu sendiri paklikku sama bulikku bukan orang segampang itu. Kalau enggak pergi sekarang, pasti nanti Ibu sama Bapak yang bakal dapat masalah. Untuk sementara aku bakal ke sana. Kamu enggak usah ikut. Kalau misalnya nanti aku pulang malam, kamu enggak usah cari,” ujar Juwita panjang lebar yang lantas melambaikan tangan kepada asistennya. Pria itu menatap kepergian Juwita dengan tatapan penuh arti. Walaupun begitu, jika sang nona sudah membuat keputusan, ia pun tidak bisa melakukan apa-apa. Pada akhirnya, semua keputusan berada di tangan perempuan itu sendiri. *** Sudah diduga bahwa makan siang hari ini, ia akan mendapat perlakuan dan sambutan baik dari adik pihak bapak angkatnya tersebut. Mereka memang pandai berakting, seharusnya main sinetron saja. Biasanya tidak pernah mencoba beramah tamah dengannya. Kali ini ia disambut dengan hangat. Ha! Semua itu tentu saja karena keberadaan Ardi di sana. Pria menyebalkan itu sendiri wajahnya berseri-seri. Mungkin sedang senang karena suatu hal. Ketika Juwita hendak duduk di samping ibunya, buliknya dengan semangat berusaha melemparkan Juwita ke samping Ardi. Lalu ketika ia sudah duduk di samping pria itu, inilah yang terjadi. “Aduh, cocok banget kalian berdua. Bulik enggak pencitraan loh, ya. Kalian kalau duduk samping-sampingan gitu udah kayak tuan sama nyonya besar, loh. Cantik sama ganteng, cocok. Serasi banget, iya, ndak, Mbak?” Wanita yang lebih muda itu meminta dukungan dari ibu asuhnya Juwita. Tentu saja ia tampak tidak nyaman ketika disuruh mengatakan demikian. Memaksakan diri tersenyum, ia menatap Juwita dengan tatapan bersalah. “Iya, cocok. Anak Ibu yang cantik emang cocok banget sama Mas Ardi yang ganteng banget.” “Nah, kan. Cocok banget, sejak awal Paklik emang punya firasat kalau Juwita sama Mas Ardi ini bakalan jodoh. Sama-sama cantik dan ganteng, sama-sama pintar cari duit juga. Bagian mana yang enggak serasi pula? Udah cocok banget ini,” imbuh pakliknya. Jika Juwita betul-betul merasa tidak nyaman, maka Ardi kebalikannya. Suasana makan siang ini sangat sempurna. Ditambah lagi dengan kehadiran perempuan cantik itu di sampingnya. Ekor mata mereka saling bertemu untuk beberapa saat sebelum pria tersebut membuat pergerakan pertama dengan menggenggam tangan Juwita di atas meja. Oke, tatapan perempuan itu seperti mau menelan gajah, tetapi tidak melawan tentunya. Kondisi seperti ini, ia terpaksa menjadi lebih tenang. “Mbak Juwita kayak bunga yang menarik mata saya tentunya. Dan saya mau jadi stau-satunya kumbang yang datang dia.” Gombalan garing itu dibalas dengan antusias oleh paklik dan bulik Juwita. Sungguh menyebalkan. Ketika ibunya mati-matian menjaga perasaan anak gadisnya itu, mereka malah menjadikannya sebagai taruhan. Pembicaraan sepanjang acara makan yang semula hanya obrolan santai biasa, secara bertahap berubah menjadi pembicaraan bisnis. Juwita bukannya tidak memiliki ketertarikan membalas, hanya saja suasana hati yang buruk menghalangi semua. Dan lagi, bisa jadi komentar darinya tidak diharapkan dan diperlukan, seperti yang dulu-dulu.Sang ibu sendiri tampak tidak nyaman melihat Juwita seolah dijadikan alat transaksi. Ketika ia berusaha menarik perhatian Juwita dengan menyenggol kakinya, perempuan itu hanya tersenyum tipis. Meyakinkan bahwa ia masih bisa diajak duel satu atau dua jam lagi. Walaupun begitu, ia tetap berharap jika pertemuan menyebalkan ini akan segera berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD