15. Sarpa Wijaya

1210 Words
Jika membicarakan sosok ular raksasa yang menyambut kedatangan Juwita dengan tatapan haus tersebut, akan membutuhkan banyak waktu. Mungkin Juwita akan mempersilakan pendengar ceritanya duduk, membikinkan dua cangkir minuman hangat, untuik berjaga-jaga akan diberikan pula satu teko teh untuk isi ulang, dan jangan lupa dengan makanan kecil sebagai pelengkap. Mungkin pisang goreng favoritnya dan kuaci yang membutuhkan banyak tenaga untuk membuka sekaligus menyemil. Juwita enggan mengingat-ingat cerita lama untuk saat ini. Ia memasang senyum paling manis, sedikit membungkuk memberikan tanda hormat, menegaskan lemak yang bergelantungan pada branya. “Aku bertanya-tanya kenapa kau datang terlambat. Rupa-rupanya kau berdandan sangat cantik untuk malam ini,” ucap Sarpa Wijaya sembari meliukkan tubuh menghampiri Juwita. Lidahnya bergerak-gerak ketika membuka mulut. Setiap pergerakan siluman tersebut tidak lagi menimbulkan ketakutan di mata Juwita sendiri, tetapi ada kalanya sang tuan memberikan hawa menyeramkan yang bisa membekukan siapa pun. Termasuk pula dengan Juwita. Maka ia harus berhati-hati dalam setiap langkah. Jangan sampai memancing kemarahan sang tuan. Sarpa Wijaya. “Tentu saja saya harus datang dengan penampilan terbaik untuk, Tuan.” Juwita kembali tersenyum. Tangannya terulur untuk mengelus wajah sang tuan. Jangan pernah membayangkan wujud ular tersebut akan berubah menjadi manusia rupawan. Karena itulah satu-satunya wujud yang dimiliki Sarpa Wijaya untuk saat ini dan ke depannya. Siluman ular tersebut tanpa perasaan ragu, meletakkan kepalanya yang besar pada telapak tangan Juwita. Seperti anak anjing yang tengah bermanja-manja dengan tuannya. Walaupun untuk kasus Juwita dan Sarpa Wijaya, posisi itu agak terbalik. “Ah, apa itu? Sepertinya aku melihat sesuatu yang rusak,” celetuk Sarpa Kencana sembari menurunkan kepalanya dari telapak tangan Juwita. Ia bergerak pelan menuju bagian jubah Juwita yang koyak. Tak memiliki tangan, siluman tersebut menyibak bagian robek tersebut dengan lidah. Membiarkan bagian betis ke atas Juwita tereskpos. “Tuan … Anda jangan mengkhawatirkan pakaian saya yang rusak.” “Tentu saja. Dengan merontokkan sisikku saja kau akan mendapatkan emas-emas berkualitas tinggi. Untuk apa merasa khawatir akan sesuatu yang sepele. Hanya saja, aku merasa sedikit terganggu karena suatu hal.” Sarpa Kencana bertatapan dengan Juwita sebentar sebelum melanjutkan, “Mau main tebak-tebakan denganku apa itu?” Juwita merinding. Ia memang berusaha keras agar sang tuan tidak marah atau terganggu karena suatu hal. Namun, selalu saja ada hal yang luput dari pehatian Juwita sendiri. Entah karena ia yang memang tidak terlalu peka atau karena sang tuan merasa kesal dan ingin melampiaskannya kepada Juwita. Ajakan sang tuan sering kali jadi cara memulai penghakiman akan kesalahan atau hal-hal yang secara tidak sengaja menjadikan kekesalan siluman tersebut. Juwita tidak bisa lari dari kondisi ini. “Te-tentu saja, Tuan. Apa pun untuk Anda.” Juwita berdeham sebentar sebelum memberikan jawaban ragu, “Apakah karena saya mengganti aroma sabun dan parfum yang biasanya? Ini adalah rekomendasi dari karyawan spa sehingga saya tid—“ “DASAR PEREMPUAN HINA!” Ekor Sarpa Wijaya melibas kaki Juwita, menjatuhkan sang dukun dalam satu kali percobaan. Tak hanya Juwita saja, tetapi pot-pot bunga hingga jatuh, pecah, dan berceceran. Walaupun menyadari bahwa sang tuan akan menyerang, Juwita sendiri tidak memiliki pilihan selain menerima penghakimannya. Punggungnya yang menghantam lantai, mungkin mengenai pecahan pot atau duri-duri bunga yang terlempar dari pot itu sendiri. Rasanya seperti jubah berbahan satin itu tertembus oleh sesuatu. Bukan hanya menembus kain, tetapi kulutnya pula. Bahkan di posisi menyakitkan karena tubuh bagian bawahnya terlilit tubuh sang tuan, Juwita sama sekali tidak berdaya. “Dia, dia, dia, dia! Sudah aku bilang supaya jangan terlalu dekat dengan asistenmu! Baunya ke mana-mana, menempel di tubuhmu! Dan itu membuatku mual!” Sang tuan berdesis tepat di depan wajah Juwita. Tetesan air liur dari moncongnya mengenai wajah dan kulit leher Juwita. “Ma-maafkan saya, Tuan. Ba-bagaimanapun juga, hanya dia yang bisa merawat tempat ini dan membiarkan saya bisa melakukan tugas dengan baik. Dia anak yang baik dan saya tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Anda juga tahu itu dengan baik,” sanggah Juwita. “Tapi kau juga tahu bahwa aku tidak pernah menyukai aroma dari pria lain menempel padamu. Aku bahkan mencium aroma pria lain di kulitmu. Oke, untuk yang satu ini aku bisa memberikan pengecualian karena dia adalah klien yang sangat kau nantikan. Aku tidak akan pernah memberikan pengecualian lagi jika itu asistenmu,” putus Sarpa Wijaya. Matanya yang berkilat marah bukanlah sebuah kebohongan. Dan dari sudut pandang mana pun, Juwita betul-betul terpojok dan tidak memiliki tempat untuk lari. Ia tetap mengulas senyum walaupun itu menyakitkan. “Te-tentu saja saya akan memberikan peringatan kepada Bis—“ “Aku tidak suruh kau menyebutkan namanya!” potong Sarpa Wijaya. “Saya akan berikan peringatan pada asisten saya agar tidak terlalu dekat. Tuan tentu tahu bahwa dia adalah anak penurut, maka dari itu ia pasti tidak akan membantah.” Juwita lantas membuka kedua lengannya, memberikan ajakan bagi sang tuan menikmati tubuhnya seperti biasa. Dengan fisik sang tuan yang seperti ini, melakukan hubungan sebagaimana manusia dengan manusia, tidak akan pernah terjadi. Dan lagi, Juwita bersumpah akan memberikan mahkotanya, kali pertamanya kepada sang tuan jika dendam sudah terbalaskan. Ular besar tersebut malah menjauhkan wajah dari Juwita. “Maaf, aku sedang sangat tidak sabaran. Ah … karena kau sebentar lagi akan menyelesaikan dendam dan pekerjaan itu, maka kau akan segera aku buahi. Melahirkan telur yang akan menjadi tubuh baruku nanti. Wujud manusia yang sudah beratus tahun tidak pernah aku miliki. Aku terlalu antusias untuk itu.” “Tidak apa-apa, Tuan. Bukan salah Anda. Saya juga seharusnya menjaga diri karena saya hanya milik Tuan.” Senyum Juwita merekah, berharap dengan senyuman cantiknya, sang tuan tidak akan marah lagi. Walaupun siluman ini sering melakukan kekerasan, tetapi ia juga tipe-tipe yang mudah luluh dan merasa bersalah pula. “Maafkan aku karena membuatmu jatuh seperti ini. Oh … lihatlah luka-luka itu. Biarkan aku merawat lukamu lebih dulu.” Sarpa Wijaya dengan telaten memeriksa setiap inchi tubuh Juwita, menunjukkan kepada perempuan itu bagian mana saja yang terluka dan betapa terlukanya ia karena telah meninggalkan goresan-goresan tersebut. Dan tentu saja sang tuan tidak sekadar menunjukkan luka dan rasa bersalah, tetapi cara lebih ekstrem dalam mengobatinya. “Aku akan melepaskan pakaianmu satu per satu. Kau tentu tidak keberatan bukan?” Itulah permulaan sang tuan meminta pelayanan malam bulan purnama ini, dengan ia yang bersikap lembut lebih dulu. Untuk seterusnya, sudah jelas ke mana semua ini akan melangkah. “Tentu saja, Tuan.” Lidah Sarpa Wijaya seperti siluman ular tersebut dalam wujud yang lebih kecil. Seolah memiliki nyawa, bergerak sendiri menemukan tempat-tempat yang dapat membuat Juwita memberikan respons beragam. Kesakitan, merasa nikmat, menjerit, melenguh, di mana pun itu. Di setiap lekuk tubuhnya. Di setiap bagian. Di setiap lipatan. Ia telah menghafal tempat-tempat tersebut. Juwita bermandikan saliva sang tuan. Kedua lengannya terbuka, meminta sang tuan jatuh dalam pelukannya sehingga ia bisa bersentuhan langsung dengan kulit sang tuan yang dingin sekaligus lembap. Apakah seperti ini rasa memeluk seorang pria? Pertanyaan seperti itu sering muncul dalam benak Juwita. Tentunya untuk konteks lebih dewasa. Jika hanya pelukan lembut kepada anak-anak, pelukan selamat kepada Bisma, pelukan kepada ibu dan ayah asuhnya, adik tirinya, ataupun keponakan-keponakan kecil, tidak cukup kuat untuk menggetarkan jantung. Untuk saat ini, hanya kepada sang tuan jantung itu bergetar seperti tabuhan genderang perang. Mereka saling berguling, berimpitan, dan saling membagi kalor tubuh. Walaupun sang tuan adalah perwujudan hewan berdarah dingin, bukan berarti tidak ada kehangatan dalam diri siluman tersebut. Dan Juwita sering kali merasa puas karena tenggelam dalam kehangatannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD