14. Bulan Purnama dan Persiapannya

1110 Words
Seorang istri yang ditinggal suaminya bekerja untuk waktu lama dan nyaris tidak memiliki waktu bersama, akan melakukan apa pun untuk mengesankan sang suami ketika bertemu setelah terpisahkan sekian lama. Juwita, telah hidup dengan bayang-bayang tersebut selama belasan tahun. Sebutan istri saja sudah menegangkan seluruh bulu kuduknya. Walaupun memang betul bahwa hanya dia yang memiliki akses penuh atas tubuh Juwita, tetapi hubungan mereka tidak lebih dari bos dan karyawan. Dengan kontrak yang mengikat tentunya. Sebagai bentuk integritas terhadap pekerjaan tersebut, Juwita selalu memastikan bahwa pada malam bulan purnama itu ia telah cukup pantas berhadapan dengan sang bos. Dia yang telah memberikan kekuatan kepada Juwita menyukseskan balas dendam. Maka Juwita secara rutin akan mendatangi spa paling terkenal di kota, tak lupa pula membeli pakaian dalam dengan desain paling menarik mata, lalu bagian terpenting dari pelayanan sebagai karyawan pekerja keras itu, Juwita akan menyiapkan sendiri tempat pertemuan mereka. Bahkan Bisma akan diberikan satu hari khusus untuk istirahat. Karena jika malam bulan purnama tersebut tiba, Juwita akan bekerja sendirian. Rumah kaca yang terletak tak begitu jauh dari gubuk, adalah salah satu wujud integritas Juwita. Walaupun membangun rumah kaca di tengah hutan dengan bermacam banyak ini dan itunya menghabiskan banyak uang. Sebagaimana selera sang bos yang menyukai kediaman sederha, tetapi dekat dengan alam—tentu saja karena letaknya betulan di tengah hutan—rumah kaca tersebut adalah sebuah istana kecil berdinding transparan. Berbagai jenis tanaman dan bunga dari berbagai macam jenis dan harga, jangan lupa pula air mancur di tengah ruangan, ada kolam kecil tempat beberapa ikan hias dibesarkan. Kalau bosnya sedang lapar, mereka akan jadi camilan paling mudah dan enak. Juwita baru saja tiba dari spa panjang ketika matahari telah lengser ke barat. Bisma ikut turun membawa berbagai macam barang kebutuhan sang nona. Dalam diam, pria itu terpesona akan kecantikan sang nona yang bertambah beberapa kali lipat setelah mendatangi spa terbaik. Perawatan mahal rutin dan pakaian mahal telah menyempurnakan kecantikan alaminya. Walaupun sang nona pernah menceritakan bahwa sejak kecil di-bully karena memiliki kulit gelap, tapi ia yakin bahwa sang nona tetap cantik dengan warna kulit apa pun. “Ardi sudah kamu kabari ritual pertama kita, ‘kan?” tanya Juwita tiba-tiba ketika mengeluarkan beberapa pakaian dalamnya yang dikemas rapi dan manis di dalam boks berhiaskan pita besar. “Sudah, Mbak. Saya juga udah pastikan kalau undangan-undangan lain yang ada hubungannya sama keluarga Mbak juga udah dikembalikan. Dari kemarin ada beberapa orang yang telepon soal acara makan bersama atau volunteer di luar kota. Saya yakin kalau mereka bermaksud mempertemukan Mbak lagi sama Ardi karena undangan-undangan itu sama dengan jadwal-jadwal Ardi,” lapor Bisma. Senyum terpulas di wajah perempuan tiga puluh enam tahun tersebut. “Ya … kamu emang terbaik kalau soal urus orang-orang itu. Heran aja. Pas dulu aku pertama kali datang ke keluarga mereka, melirik sama bersikap ramah aja enggak. Semua pencapaianku waktu itu juga sama sekali enggak dianggap. Bahkan Bapak sama Ibu juga dapat hujatan, heran banget, deh. Kalau udah kayak gini, mereka baru mau dekat-dekat. Haha, yang namanya ular di mana-mana emang licik.” Bisma sedikit khawatir ketika sang nona mengatakan kalimat terakhir. Namun Juwita buru-buru menimpali, “Maksudnya sikap mereka kayak orang. Bukan dia yang lagi kita bicarakan. Yah … walaupun emang benar kalau dia emang licik, tapi karena aku juga pintar tawar menawar, jadinya kami berdua impas, ‘kan?” “Mbak emang ada bakat jadi pedagang licik atau pejabat negara, deh,” ledek Bisma. “Haha, aku bakal anggap itu pujian. Rasanya pingin jadi politikus aja.” Tentu saja itu hanya candaan. Garing malah karena sudah berkali-kali Juwita melontarkannya. Bisma sendiri pun meringis saja menanggapi. Itu memang lawakan yang sampai bosan didengar, Juwita sendiri merasa geli karenanya. “Kayaknya Mbak buruan ganti baju aja dulu, deh. Saya mau beres-beres sisa ritual pertama kemarin. Masih ada yang harus dibersihkan. Tenang aja, Mbak. Habis ini saya langsung balik ke mobil, jadi Mbak enggak perlu khawatir bakal diintip,”seloroh Bisma yang mendadak merasa bersalah karena sebenarnya pernah beberapa kali menikmati bagaimana sang nona berganti dan melepas pakaian, walaupun terhalang dinding anyaman bambu atau tirai yang samar. Juwita malah terkekeh. “Diintip atau enggak sama manusia, sejak dulu kita udah hidup sama makhluk-makhluk tak terlihat yang bisa seenaknya sendiri lihat kita enggak pakai baju. Jadi … aku udah enggak peduli lagi mau diintip manusia, jin, setan, lelembut atau apa pun itu. Ya, sudah, sana lanjutkan pekerjaanmu. Aku juga mau leha-leha sebentar sebelum pergi ke rumah kaca.” Maka dengan begitu, Bisma meninggalkan sang nona. Sang nona akhirnya bisa menikmati waktu untuk diri sendiri. Tidak memedulikan pakaian terbuka yang dikenakan, ia buru-buru merebahkan diri di lantai. Juwita sendiri cukup lelah beberapa hari ini. Jika tugas malam bulan purnama ini sudah berakhir, ia akan pergi pijat dan beristirahat selama seminggu penuh. Bodo amat jika didatangi saudara-saudara sang ibu yang mendadak ingin dekat karena motif tertentu. Ia hanya ingin beristirahat sehabis ini. Setelah memaksakan diri bangun dan berganti pakaian. Ia keluar dari gubuk mengenakan sebuah jubah tidur. Udara yang cukup dingin memang memaksanya mengenakan pakaian tambahan dan lagi jika menuju rumah kaca hanya dengan pakaian dalam berenda, sudah barang tentu kulitnya akan tergores tanaman liar di sana-sini. Perjalanan menuju rumah kaca bukannya singkat hanya lima langkah, butuh beberapa menit dan selama perjalanan tersebut sering kali ia mendapatkan gangguan dari lelembut yang mendiami hutan. Mereka mungkin senang karena mendapatkan seseorang untuk digoda. Siapa pula yang tidak mengenalinya setelah bertahun-tahun membangun rumah kaca dan memiliki kontrak dengan salah satu siluman paling terkenal di masanya dulu. Daripada mengkhawatirkan lelembut yang matanya selalu jelalatan setiap waktu, ia lebih khawatir jika berjumpa dengan hewan-hewan liar. Terkadang mereka bisa menyerang dari sudut mana pun tanpa pandang bulu. Hanya setelah berhadapan dengan Juwita secara langsung mereka menyadari bahwa perempuan tersebut tidak seharusnya dijadikan lawan. Bagaimanapun juga, Juwita tetap memiliki aura makhluk buas dari si bos. Hewan-hewan itu akan tunggang langgang jika mengetahui sudah salah memilih lawan. Namun tetap saja kan, mau dibagaimanapun juga, serangan pertama itu sering kali terjadi tanpa diduga. Untungnya, tidak ada hewan liar malam itu. Ketika sampai di rumah kaca, Juwita harus menelan kekecewaan karena jubah tidur mahal yang baru saja dibelinya sobek di beberapa bagian. Mungkin tersangkut semak belukar. Walaupun si bos tidak akan memusingkan tentang sandangan yang Juwita kenakan, tentu dalam diri perempuan tersebut selalu ada dorongan untuk tampil sempurna di depan dia. Selain itu, dengan harga satu set pakaian yang mahal, rasanya sangat disayangkan jika rusak ketika satu kali pemakaian. Meskipun begitu, mau bagaimana lagi? “Kamu sudah datang?” Sebuah suara yang dalam menyambut kedatangan sang dukun perempuan. Tersentuh oleh cahaya bulan purnama, sosok yang harus dihormati Juwita tengah bergelung di tengah-tengah. Perempuan tersebut memulas senyum sebelum membalas, “Iya, Kanjeng Sarpa Wijaya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD