“Kamu harus mandi terlebih dahulu sebelum kita memulai ritual pertama. Pemandu saya akan mengantarmu ke tempat mandi. Sementara kamu mandi saya akan menyembelih ayam-ayam ini dan membuat persiapan lain,” titah Mbok Ireng. Bisma mengangguk paham sementara Ardi di sampingnya antusias. Benar-benar seperti anak-anak.
“Ada hal yang tidak boleh kamu langgar ketika berada di padusan. Satu, jangan banyak bicara, terutama kata-kata kotor, mereka yang di sana tidak akan berbaik hati padamu. Mereka tidak tahu status keluargamu seperti yang selama ini kamu gembar-gemborkan. Kedua, jangan melakukan perbuatan tidak senonoh yang melibatkan itu … alat kelaminmu. Kalau sampai kau melakukan hal-hal menjijikkan dengan barang itu, jangan kaget kalau semisalnya benda itu hilang esok hari. Paham?” imbuh Mbok Ireng. Wejangan yang cukup bagus karena wajah antusias Ardi hilang entah ke mana.
“Pa-paham, Mbok. Akan saya laksanakan baik-baik,” balas Ardi sembari memberikan salam hormat seperti yang sering dilihat di film-film historikal lokal. Mbok Ireng cukup senang mempermaikan pria tersebut.
Sepeninggal keduanya, barulah ia sedikit bernapas lega. Perkara suara serak juga tidak ditanyakan penyebabnya. Ia juga bisa sejenak melepaskan tudung dan menarik napas cukup panjang. Setelah memastikan bahwa ayam-ayam bawaan Ardi setidaknya masih hidup, maka ia betul-betul akan menyembelih mereka. Darah ayam cemani memang jadi favorit para lelembut, maka sebelum lelembut lain mencoba merebut, ia harus bertindak duluan.
***
Perjalanan menuju padusan sungguh sunyi dan sepi. Seperti biasa, Bisma sama sekali enggan mengajak Ardi sekadar mengobrol ringan. Seperti ketika pertama kali memandu pria tersebut ke gubuk. Ia juga ingin menikmati bagaimana wajah takut dan cemas anak bos itu. Sebenarnya ada jalan pintasan yang bisa memudahkan mereka tiba, hanya saja Bisma lebih senang menyusahkan Ardi. Mereka menelusuri jalan memutar yang dipenuhi dengan semak belukar berduri dan batu-batu cadas. Kali ini pun Ardi sempat mengeluh, tetapi tidak sebanyak kali pertama. Ah … sedikit mengecewakan, padahal ingin sekali melihat reaksi terganggu si pria sombong.
Padusan itu adalah satu-satunya tempat yang memiliki air bersih. Dibangun dengan batuan sederhana yang telah ditumbuhi lumut, ada sebuah sumur kecil dan batuan kotak besar sebagai ganti bak mandi. Di sanalah Bisma menitahkan Ardi melepas pakaian dan mandi dengan bunga tujuh rupa yang telah disiapkan oleh Bisma. Ardi sempat terbengong sebentar karena tidak tahu harus mandi seperti apa. Maka, Bisma harus turun tangan. Sungguh, pria itu benar-benar melakukan apa yang dikatakan Mbok Ireng, termasuk jangan banyak bicara.
Karena hari telah perlahan berubah menjadi malam, hawa dingin perlahan menyelinap. Air yang digunakan untuk mandi ini dua kali lipat lebih dingin karena dialasi oleh batuan. Sebenarnya pas sekali untuk mandi jika suasana sedang panas-panasnya, jika ritual pertama nanti selesai, Bsima akan mandi di sini daripada di rumah. Kapan lagi bisa merasakan segarnya air langsung pegunungan kalau bukan urusan pekerjaan seperti ini?
Ardi tengah mengenakan kembali pakaiannya ketika Bisma berkata, “Ritual pertama ini bukan untuk memberikan teluh kepada orang yang kamu inginkan. Tapi ini adalah ritual pertama untuk meresmikan bahwa kamu akan menggunakan kekuatan Mbok Ireng untuk mewujudkan keinginan. Tentu saja ada konsekuensi besar yang harus kamu terima karena itu. Selagi masih di sini dan belum terlambat, kamu boleh pulang.”
Itu adalah perkataan yang sering kali ia katakan kepada orang-orang sebelum resmi melakukan ritual pertama. Tentu ada beberapa yang kabur setelah mandi ini. Tidak akan balasan buruk yang ia berikan kepada orang-orang itu. Namun tetap saja masih banyak yang mengatakan bahwa sepanjang perjalanan pulang mereka diserang oleh sesuatu tidak terlihat atau kalau tidak ditunjukkan sosok-sosok menyeramkan. Ya … itu semua tidak secara langsung terkait dengan Mbok Ireng atau Bisma. Hanya saja para lelembut di sini memang sering kali jail. Maka, banyak rumor berkembang bahwa gagal menggunakan jasa Mbok Ireng, orang-orang akan langsung mendapat hukuman.
“Saya sudah sejauh ini, menuruti syarat-syarat yang diberikan. Saya tidak akan lari karena saya punya hal yang harus diwujudkan. Walaupun konsekuensinya sangat besar, saya tidak bisa mundur,” jawab Ardi mantap. Tidak ada keraguan di matanya.
“Bahkan jika itu neraka?”
Ardi terkekeh. “Saya bukan orang religius, bisa dibilang juga saya tidak terlalu percaya pada agama. Bahkan keberadaan surga dan neraka pun tidak ada yang tahu apakah ada atau tidak. Tapi jika ditanya apakah saya percaya pada neraka? Iya, saya percaya. Semenjak lahir di dunia, ayah saya sudah menunjukkan neraka kepada saya.”
Itu adalah jawaban tidak terduga tentang konsep surga dan neraka. Bisma tahu betul mengapa Ardi berkata demikian. Atmajaya bukan orang yang ramah anak. Walaupun di luar tampak seperti pria berwibawa yang sayang anak, tetapi penampilan luar sering kali menipu bukan? Pria itu menjadikan kekerasan sebagai cara utama dalam menyelesaikan masalah. Termasuk pula kepada istri dan anak-anak. Ardi tentu tidak lepas dari parenting buruk sang ayah. Bahkan sampai sekarang pun, sisa-sisa dari didikan sang ayah masih bisa disaksikan melalui bekas-bekas luka di tubuh Ardi sendiri.
“Mbok Ireng suka dengan orang jujur seperti itu. Jadi, jangan pernah kecewakan dia.” Bisma mengembuskan napas sebelum mengajak Ardi kembali ke gubuk. Kali ini ia membimbing Ardi melalui jalan pintasan yang lebih aman dan tentunya dekat. Pria itu tidak lagi protes dengan perbuatan Bisma. Sepertinya ia sudah mulai memahami bagaimana cara kerja pria ini. Ke depannya, ia tidak akan mempercayai Bisma sepenuh hati.
***
Mbok Ireng telah menyembelih ayam-ayam tersebut, menjadikan darah mereka sebagai persembahan kepada dia yang telah memberikannya kekuatan. Mantra dirapal, ia menggerakkan tubuh seperti menari-nari. Memanggil kekuatan sosok tidak terlihat tersebut. Meminta izinnya untuk diberikan kepada satu lagi manusia serakah yang menghalalkan jalan pintas. Bisma lantas membimbing Ardi agar duduk bersimpuh di tengah-tengah ruangan. Pria itu menurut saja dan membiarkan Mbok Ireng mengelilingi tubuhnya. Pria itu ikut merapal mantra. Kedua telapak tangannya disatukan di depan wajah, ikut berdoa sebagaimana yang dilakukan Mbok Ireng. Ketika Mbok Ireng masih mengelilingi tubuhnya seperti menari, serbuan angin besar datang dari segala penjuru. Menggetarkan lilin dan obor yang menjadi satu-satunya penerang.
Untuk sesaat, api-api itu nyaris padam karena satu embusan final. Tepat di saat itulah, mereka merasakan kehadiran kekuatan besar datang ke dalam gubuk. Seolah-olah tepat berada di samping Ardi, sosok itu mengembuskan napas dan suara kencang yang nyaris menulikan telinga. Ketika cahaya lilin dan obor yang nyaris padam itu kembali, tersisalah ia sendirian di sana.
Wahai manusia … aku telah menerima pengorbanan kecil darimu.
Sesaat, ruangan tersebut kembali gelap gulita. Dan ketika cahaya kembali, didapatinya Mbok Ireng dan Bisma yang sempat hilang, kembali berada di sana.
“Ritual pertama sudah selesai,” cetus Mbok Ireng.
Senyum semringah muncul di wajah Ardi. Ucapan terima kasih tidak berhenti mengalir dari bibirnya. Pria itu bahkan mencium tangan dan kaki Mbok Ireng penuh pengabdian. Ia sungguh tidak menyadari bahwa Mbok Ireng alias Juwita, alias Estri lebih berterima kasih karena balas dendamnya akan segera terselesaikan.