12. Malam Pertemuan – II

1290 Words
Hari dan tanggal yang telah ditentukan, jatuh pada hari ini. Satu hari sebelum bulan purnama. Juwita tidak ingin dikenali oleh Ardi. Tentu. Maka hari ini, tak hanya mengenakan riasan tebal, ia juga menambahkan sebuah tudung dari renda untuk menutupi wajah. Bisma cukup terkejut ketika melihat sang nona berpenampilan cukup ekspresif. Bukan hanya Bisma, karena pocong dan kuntilanak yang telah diusir dari studio pun sempat menggoda Juwita karena penampilan yang berbeda. Lebih total dan malah terlihat seperti artis dangdut. “Uh … aku enggak tahu apa bisa lihat pria itu tepat di matanya. Kalau ingat aku dan dia berusaha dijodoh-jodohkan, rasanya udah bikin perut mual,” keluh Juwita sembari memijat pangkal hidungnya yang mancung. Padahal ia dan Bisma baru saja tiba di gubuk sepuluh menit lalu. Bisma bahkan masih wara-wiri di sekitar gubuk menyiangi beberapa rumput dan kembali untuk mengambil keranjang ketika mendengar nona yang dilayani tengah salah tingkah. “Uhm … Mbak bisa, kok. Lupakan aja bagian dijodohkan. Mbak ingat-ingat aja aib buruknya. Pasti bisa.” Itu adalah dukungan yang sangat standar. Bisma sendiri bingung bagaimana memberikan dorongan kepada Juwita. Tak terduga pula kata-kata barusan meluncur begitu saja. Juwita mengembuskan napas lelah. Rasanya ingin sekali menangis karena malu, kesal, dan marah bercampur jadi satu. Pokoknya jangan menangis. Karena riasannya bisa rusak dan ia harus mulai lagi dari awal. Supaya suaranya juga tidak dikenali oleh Ardi, hari ini pun Juwita makan banyak gorengan dan es supaya suara lembutnya menjadi lebih serak. Dengan sedikit bantuan ilmu hitamnya pula, suara itu berubah menjadi makin serak. Cukup serak dan menyeramkan untuk menakuti anak-anak. “Aku udah enggak tahu lagi bakalan gimana. Mau ganti baju dulu, nanti juga bakal tidur sebentar. Bangunin kalau misalnya udah tanda-tanda dia datang. Persiapan kita malam ini juga bakal banyak. Besok juga. Ah … kenapa kerjaanku banyak banget?!” Bisma menepuk-nepuk kepala sang nona lembut. “Ya … namanya juga hidup, Mbak. Harus banyak kerja.” Selagi Bisma meninggalkan gubuk lagi karena harus menyiangi rumput, Juwita melepaskan kaus santai dan celana pendek yang dipakai. Digantikan dengan gaun modern gabungan batik, kebaya, dengan renda-renda kehitaman. Dengan kostum semewah ini, yang tentunya juga menyembunyikan bentuk tubuh, semoga saja Ardi tidak menyadari identitas asli Mbok Ireng alias Juwita alias juga Estri. Mengenakan gaun ini, ia seharusnya merasa cantik. Seharusnya. Namun, untuk kali ini, ia lebih banyak merasa cemas. Dengan banyak pikiran beberapa minggu ke belakang, bagaimana bisa ia tidak merasa terganggu? Selagi berganti pakaian, Juwita tidak menyadari bahwa Bisma yang berada di luar gubuk dapat melihat lekuk tubuhnya melalui celah-celah anyaman bambu. Sejak dulu, Juwita memang menjadi incaran di sekolah. Ia cantik, terlahir dengan otak encer, dan tubuh bagus. Tentu saja ia dengan cepat menjadi populer. Bisma sama sekali tidak mengetahui fakta tersebut awalnya. Sejak awal, ia sudah terpesona pada nona muda yang mengulurkan tangan padanya ketika ia berada di titik terendah hidup. Ia mungkin sedang berusaha menunjukkan apa itu balas budi dan kesetiaan ketika awal-awal tahun bersama. Namun, siapa yang menduga bahwa balas budi dan kesetiaan itu pun berkembang menjadi perasaan yang lebih kompleks. Sampai saat ini pun perasaan itu masih disimpan untuk diri sendiri. Ia hanya tidak ingin sang nona merasa terbebani dengan perasaan tersebut. Terlebih lagi dengan tekad kuat sang nona ketika memutuskan balas dendam. Aku enggak mau balas dendamku gagal dan dialihkan perasaan seperti cinta. Sebenarnya apa itu cinta? Cinta enggak sehebat itu. Kalau cinta emang sehebat itu, pastinya orang tuaku enggak bakal meninggal tragis. Aku juga akan mendedikasikan tubuhku yang pertama kali buat dia, jadi sampai sekarang pun enggak ada keinginan buat mengkhianati sumpah yang udah aku bikin untuk dia. Bisma kembali menahan diri. Bertahun-tahun melayani sang nona, ia sudah siap mental jika suatu hari nanti harus mendapatkan penolakan. Ya … itu pun kalau dia memiliki keberanian mengungkapkannya pula. Bagaimanapun juga, di mata sang nona, ia tidak lebih dari seorang asisten. Pembantu serba bisa yang dibayar dengan sepadan dan pantas. Maka, sebelum lamunannya menjadi meliar dan makin jauh, pria tersebut melepaskan kemeja, menyisakan kulit yang akan menjadi santapan mewah para nyamuk. *** Seumur-umur, Ardi tidak pernah melakukan hal merepotkan seperti ini. Kesembilan ekor ayam cemani dimasukkan ke dalam kandang kucing yang terbagi menjadi tiga kloter. Dan ia menggotong mereka dari mobil sendirian tanpa bantuan. Sebagaimana yang diperintahkan pemandu. Namun, membawa unggas-unggas berbulu hitam itu sendirian bukan masalah utama. Ada masalah dengan mereka secara pribadi. Ayam-ayam itu sejak dikeluarkan dari kandang utama dan dipindahkan ke kandang ini selalu saja menghujani Ardi dengan tatapan bengis. Seolah mereka sedang mengutuk karena diperlakukan dengan tidak hormat. Pria itu sendiri tidak peduli. Harus berhadapan dengan bau busuk kotoran dan suara bising mereka, ia tidak punya banyak solusi. Sebuah masker yang telah diolesi dengan minyak kayu putih memang bisa menahan aroma busuk kotoran-kotoran ayam itu masuk. Oke, satu kloter saja tidak masalah, ia masih bisa menempuh perjalanan sejauh lima lebih dari tiga kilometer menggotong kandang tersebut. Bahkan bisa membawa dua kandang di percobaan pertama, yang berarti pula bisa menghemat tiga perjalanan menjadi dua kali saja. Hanya saja ia lebih khawatir jika ayam-ayam itu akan mati di perjalanan. Kekhawatiran itu datang ketika suara berisik mereka tak lagi sebising ketika berada di kandang utama. Perjalanan bolak-balik dari tempat memarkirkan mobil hingga teras di gubuk, ia selalu saja dihantui dengan kekhawatiran yang sama. Ketika melewati pohon besar yang disebut-sebut penunggunya marah karena meludah, ketakutan lain merayap. Sungkem atau apa pun itu yang disebut pemandu bahkan belum dilakukan. Akan menjadi sangat gawat jika sebelum ritual pertama dengan Mbok Ireng dimulai, ia sudah mati konyol duluan karena menyepelekan si penunggu pohon besar. Sialnya, gubuk tersebut masih sepi. Seolah yang lain belum datang. Kalau tidak menyadari sisa-sisa rumput dan semak yang dipangkas serampangan, ia pasti meyakini bahwa hanya dirinyalah satu-satunya orang di sana. Entah ke mana si pemandu dan Mbok Ireng. Mereka pandai menyembunyikan diri. Bisa saja kan mereka berdua sedang menertawakan nasibnya yang wara-wiri membawa ayam berbau busuk sembari minum kopi dan bercengkrama dengan bahasa super kaku seperti waktu itu. Sebuah pertanyaan tiba-tiba saja muncul begitu. Apa mereka beneran bicara pakai bahasa baku kayak gitu sehari-hari? Tentu saja itu tidak benar. Setelah meletakkan kandang terakhir. Barulah Ardi bisa bernapas lebih lega, karena ia tidak perlu mengenakan masker lagi. Persetan dengan virus yang menyebar melalui udara, masker sekali pakainya telah berakhir bersama sisa-sisa pangkasan tanaman liar. Dan lagi vaksin secara lengkap pun sudah dilakukannya. Tidak ada kekhawatiran terjangkit virus. Pria itu sempat melongok ke arah gubuk beberapa kali, berusaha menemukan pergerakan atau tanda-tanda kehidupan lain. Sesekali pula menengok kanan kiri tetapi tidak menemukan apa pun. Apakah ia sedang dijaili atau bagaimana? Kenapa hanya dia yang ada di sini? “Mencari teman?” Bisma muncul ketika tengah membuka jalur semak-semak. Kemunculan dan suaranya yang seolah tidak terdeteksi tentu mengejutkan Ardi. Ardi menggeleng. “Sa-saya sudah siapkan ayam-ayam cemani seperti yang diperintahkan Mbok Ireng.” Seringai terulas di wajah Bisma. “Oh, sudah belajar tata krama, ya. Mbok Ireng pasti senang kalau kamu bersikap seperti ini seterusnya. Mbok Ireng juga akan memeriksa ayam-ayam itu, apakah sudah bisa lolos seleksi atau belum.” “Ada seleksinya? Enggak perlu, Mas. Ayam-ayam ini saya beli langsung dari peternaknya. Dijamin bagus-bagus semua,” sanggah Ardi. Namun, sanggahan itu mendapatkan balasan tidak diinginkan dari orang yang masih menyisakan ketakutan akan kejadian malam pertama mendatangi gubuk ini. “Memangnya siapa kamu? Menentukan kualitas mereka bukan hakmu. Kau seenak hati menyebut ayam-ayam ini bagus sebelum seseorang yang pantas itu menilai datang. Sungguh seorang pedagang.” Mbok Ireng menampakkan diri dari jendela gubuk yang terbuka. Jika di mata Ardi, perempuan itu terlihat dua kali lebih menyeramkan karena tambahan kain yang menutupi wajah, maka Juwita sendiri di balik topeng Mbok Ireng tengah grogi. Kalau-kalau nanti identitasnya ketahuan, bisa kacau semua rencana. Lalu di tengah-tengah mereka, Ardi menahan tawa dalam hati. Mengetahui situasi sebenarnya kedua orang tersebut, ia sedang menikmati sebuah ironi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD