Bisma mengganti pakaian santainya dengan pakaian serba hitam. Setelah memastikan penampilannya menjadi seburuk terakhir kali dilihat Ardi, pria itu mengambil kunci mobil. Juwita yang baru saja menyelesaikan revisi besar-besaran novelnya, melongok dari monitor komputer. Mendapati asistennya telah berganti pakaian seperti itu, ia lantas bertanya, “Mau cari Ardi? Kasih dia jam dan waktu yang tepat buat kasih syarat?”
Pria yang ditanya mengangguk saja. “Iya, Mbak. Kalau enggak salah, dia udah dapat semua syarat-syaratnya. Cuma ya … ada sedikit yang diakalin. Aku dapat informasi dari penunggu pohon beringin dekat rumahnya.”
“Yang penting semua syaratnya udah ada. Perkara ayam yang dibawa enggak memenuhi syarat, jangan dipikir. Toh kita cuma main-main sama dia. Syarat buat minta maaf ke pohon beringin itu juga paling enggak diturutin. Kamu tuh jago banget kalau bikin orang lain repot. Enggak sia-sia aku jadikan asisten.” Goda Juwita kemudian.
“Kalau gitu gajinya dinaikkan, Mbak. Habis ini selesai, mau liburan juga. Gimana?” Ada binar yang memercik di wajah pria lebih muda itu. Juwita tahu betul bahwa Bisma memang mengharapkan liburan dua orang yang lebih privat. Ia pun sudah menyadari bahwa tatapan Bisma kepada dirinya bukan tatapan kosong semata. Pun isi hati pria tersebut. Bagian dalam mulut Juwita terasa kecut, tetapi ia tidak mengecewakan satu-satunya asisten yang telah menemani selama bertahun-tahun tersebut.
“Naik gaji, bisa. Nanti didiskusikan. Liburan juga bisa. Suka-suka kamu aja, nanti bilang aja mau liburan di mana, kita bisa pikir bareng-bareng.”
Wajah Bisma berubah semringah. Bahkan mengenakan pakaian hitam-hitam seperti itu pun, ia jadi terlihat dua kali lebih manis. “Janji, loh, Mbak. Pokoknya cuma kita berdua liburannya.”
Juwita mengangguk-angguk. Bisma meninggalkan rumah dengan perasaan senang. Bahkan sempat bersenandung. Tak menyadari bahwa setelah kepergiannya, sebentuk wajah sedih Juwita dari lantai atas mengantar kepergi pria tersebut.
***
Ardi tidak pernah berhenti bertualang ke kelab malam kendati telah diwanti-wanti agar tidak menjalin hubungan dengan perempuan mana pun, setidaknya sebelum resmi memiliki hubungan serius dengan Juwita. Hubungan bisnis semata. Hanya saja, yang diwanti-wanti ini adalah pria yang tidak bisa hidup tanpa belaian perempuan. Bahkan setelah bertemu dengan Juwita, ia masih bisa menggaet beberapa perempuan tuna susila itu untuk menemaninya menikmati minuman beralkohol. Perempuan-perempuan di kiri kanannya ini hanya bekerja. Mereka tentu tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan anak lelaki Atmajaya. Yang penting bisa dapat tip setelah menemani pria itu minum-minum, maka urusan mereka selesai.
“Bisa-bisanya dia datang ke sini main-main sama kita padahal kartu kreditnya udah diblokir sama keluarganya. Heran, deh. Orang-orang kayak mereka dapat duit dari mana coba?” Salah satu perempuan itu mengomel. Ya … walaupun ia sendiri masih menerima uang tip dari pria yang bersangkutan kendati nominalnya tak sebanyak dulu ketika Ardi masih memiliki sokongan dari keluarga.
“Paling enggak, masih dapat duit kita. Biarin aja dia teler di sana sendiri. Yuk, cabut aja daripada nanti dia muntah. Kita juga yang repot.” Kawannya menggamit lengan perempuan itu lalu pergi meninggalkan meja.
Tanpa perempuan-perempuan itu ketahui, Ardi masih cukup sadar untuk mendengar semuanya. Walaupun ia sendiri lemas dan sedari tadi hanya menyandarkan kepala di sofa. Ia menegakkan kepala, lalu menenggak minuman langsung dari botolnya. Beberapa kata kotor lolos dari bibir. Tentu saja ditujukan untuk perempuan-perempuan tadi.
“Kalau bukan karena duit, mereka pasti udah pergi. Haha, dasar lon—“
“Masih cukup sadar untuk mencela orang lain dengan bibir Anda yang kotor itu, Tuan?” Sebuah suara menginterupsi. Cukup mengejutkan karena tidak tahu dari arah mana suara itu berasal. Ketika Ardi tersadar, pelakunya adalah pria yang jadi pemandu Mbok Ireng. Pria itu mengenakan pakaian hitam-hitam seperti terakhir kali mereka bertemu. Rambut gondrong selehernya diikat seadanya. Dan pria itu mengenakan kacamata hitam untuk menyempurnakan penampilan supaya terlihat sangat misterius. Yang di mata Ardi malah terlihat seperti orang melayat atau intel. Posisinya yang duduk di sofa belakang Ardi menjadi posisi terbaik untuk menguping tanpa terlihat mencurigakan.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” desis Ardi setengah marah.
Bisma terkekeh pelan sebelum menjawab, “Hanya datang untuk memberikan undangan saja. Anda pastinya sudah memenuhi semua syarat yang diajukan oleh Mbok Ireng, ‘kan? Saya datang untuk memberikan undangannya kepada Anda.”
Jawaban itu tentu saja menerbitkan kengerian di wajah Ardi. “Gi-gimana bisa kalian—“
“Bagaimana bisa kami tahu? Memangnya kami tidak tahu apa-apa saja yang sudah Anda lakukan? Mata-mata kami ada di mana pun. Jangan remehkan kemampuan dukun.” Setelah mengatakannya, Ardi lantas mengulurkan sebuah kertas. “Saya datang untuk menyampaikan itu. Untuk kali ini, saya tidak akan membimbing Anda. Anda datanglah sendiri dengan syarat-syarat itu sendiri. Saya jamin Mbok Ireng akan menyambut dan menjamu Anda dengan senang hati kali ini.”
“Tu-tunggu … jadi kamu menyuruhku datang ke hutan itu. Sendirian bawa ayam-ayam yang jumlahnya banyak?! Kalian gila, ya?!” Amukan Ardi tidak mendapatkan tanggapan apa pun dari Bisma. Pun dengan orang-orang yang asyik bergembira dengan musik khas kelab malam yang keras.
Bisma mengangkat bahunya seolah menantang lalu berkata, “Satu lagi syarat tambahan dari Mbok Ireng. Selain Anda harus membawa semuanya sendirian, Anda juga tidak boleh mengatakan kepada orang lain tentang bisnis ini. Ya … Anda mungkin bisa meminta bantuan orang mencari syarat-syarat itu. Tapi jika Anda membocorkan apa pun … bahkan secuil informasi saja, Anda akan dapat hukuman dari Mbok Ireng. Kami punya banyak informan lihai yang tidak kelihatan.”
“Ja-jadi kalian selama ini memata-matai aku pakai setan?!”
Lagi-lagi Bisma mengangkat bahunya sembari memasang wajah tidak mau tahu. “Itu risiko Anda ketika berurusan dengan dukun. Tapi meskipun Anda tahu betapa sulitnya syarat yang diberikan, Anda tidak akan pernah mundur, bukan? Karena Anda betul-betul membutuhkan jasa kami.”
Ardi tidak bisa menyangkal. Ia menelan kembali kata-kata kasar yang siap dilontarkan. “Oke, aku akan datang ke sana. Jadi bilang sama bosmu aku akan datang ke sana.”
“Nikmatilah malam Anda selagi bisa.” Bisma bangkit dari tempatnya dan pergi tanpa pamit. Ia tidak menoleh ke belakang. Melihat ekspresi sebal Ardi sebenarnya menyenangkan, akan tetapi tanpa menoleh ke belakang pun ia sudah tahu seburuk apa ekspresi pria tersebut. Ia masuk ke dalam mobil. Kacamata hitam setengah dilempar ke dasbor. Sejak dulu sampai sekarang pun ia masih membenci kelab malam. Selalu mengingatkan akan masa lalu. Tak ingin berlama-lama di tempat yang membuatnya mengenang hal-hal buruk, Bisma agak mengebut meninggalkan parkiran.
Bahkan tengah malam pun kota ini tidak tidur. Gedung-gedung pencakar langit yang berkelap-kelip, layar-layar besar menampilkan wajah seleb yang sedang naik daun. Beberapa orang tetap hidup di pinggiran jalan dengan membawa berbagai macam dagangan. Kendaraan tidak sebanyak di siang hari. Suasana ini membuat pria tersebut mengeluarkan tangannya dari jendela mobil. Menikmati angin yang mengelus lengan. Ah … bahkan di tengah malam yang tetap hidup ini, ia masih merasa tidak begitu hidup.