Pernah sekali waktu, Juwita tidak tidur selama tiga hari berturut-turut. Dunianya seolah sedang jungkir balik. Dan ia yang kala itu masih berusia tujuh tahun tidak pernah membayangkan hari dan malam yang seburuk itu akan datang. Kali ini, ketika keadaan sudah menjadi lebih stabil pun, malam tanpa tidur itu kembali datang. Dengan hujan yang menerjang tanpa ampun, petir bersahutan di langit, dan jendelanya yang tiada henti diketuk angin. Alih-alih tidur, bahkan sebelum hujan angin datang, ia berdiri dengan kedua tangan tersilang di depan d**a, menatap hujan dari jendela besar. Ardi, pria itu telah mengusik hidupnya lebih dari apa pun. Ia cemas, kalau-kalau pria itu mengetahui bahwa dukun yang ditemui secara rahasia di hutan dan perempuan yang berusaha dijodohkan dengannya adalah satu orang sama.
“Tenang, Estri, tenang. Kita sudah sampai ke tujuan akhir. Jangan goyah. Jangan ragu. Kamu bisa menghabisi kedua orang biadab itu sekaligus. Dendam yang tidak pernah ada akhirnya itu akan berakhir di sini. Jangan takut, jangan takut, jangan takut.” Berkata pada diri sendiri berulang kali, Juwita masih menyimpan sisi tergelap di masa kecil. Ketika ia menjalani hari-hari terakhir sebagai seorang Estri di belantara hutan yang gelap.
Ia mengingat bagaimana kaki-kakinya digerayangi serangga-serangga yang bahkan tidak diketahui apakah berbisa atau tidak. Jika malam tiba, ia akan hidup dengan ketakutan dimakan harimau atau gubuk kecil itu diseruduk hewan-hewan liar. Kalau hujan datang, dinding kayunya tidak bisa menahan serbuan angin dan tetes-tetes air. Menjadikan ia menggigil sepanjang malam. Bahkan untuk makan sehari-hari pun, belum barang tentu bisa makan. Jangankan makan, minum pun ia masih kesulitan menemukan sumber air bersih.
Jika dibandingkan dengan malam-malam itu, siang yang juga terasa menakutkan, maka masa kini jauhlah lebih baik. Rumah kokoh yang tahan serbuan hujan dan angin. Tidak perlu khawatir diserang hewan liar. Ia bahkan tidak perlu memikirkan bagaimana membayar tagihan dan pajak karena semua telah diatur oleh Bisma. Hanya saja, rasa cemas itu tidak kunjung hilang walaupun ia telah menelan dua butir obat tidur.
Kamu tidak bisa tidur, Nduk? Aku tahu apa yang kamu khawatirkan, tapi kalau kamu berkenan membiarkanku masuk ke rumahmu, aku bisa memberikan sedikit pelipur lara untukmu.
Juwita selalu mendapatkan tawaran dari arwah-arwah penasaran di sekitar rumahnya, terkadang membiarkan mereka masuk. Dan ia selalu melakukannya secara acak dan tidak ada alasan tertentu. Hanya mau saja. Sebagaimana pula nenek tua tanpa kaki yang hinggap di balkon. Wanita itu seorang tukang jamu yang meninggal karena tabrak lari. Jasadnya baru ditemukan ketika hari telah menjadi siang. Mungkin jika seseorang lebih dulu menemukan wanita malang itu, mungkin ia tidak akan begini.
“Aku ingin membawamu masuk, tapi mereka yang berada di dalam rumahku sudah terlalu banyak. Dan ada yang tidak senang jika aku bergaul dengan kalian. Kalian … membuatku bau seperti orang mati. Dan dia tidak akan suka itu.” Juwita menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela. Seolah menghadang wanita tua itu masuk. Wanita tua itu sendiri juga sudah tahu bahwa penolakan Juwita bersifat absolut.
Nduk, kamu tidak mau hidup seperti ini terus, ‘kan?
Juwita menggelengkan kepala lemah. “Aku tidak tahu maksudmu yang mana. Hidup sebagai orang yang ditenggelamkan oleh dendam atau orang yang membuat kontrak dan menjual dirinya kepada jin. Kalau ditanya begitu, tentu saja aku tidak mau hidup seperti ini selamanya. Hanya saja, inilah jalan yang aku tempuh dan aku tidak bisa lari darinya.”
Wanita tua itu memulas senyum dalam. Nduk, ada satu atau dua hal dalam diriku yang menahan agar aku tetap di sini. Rasanya tidak seburuk jika kamu masuk ke dalam penjara mereka. Kamu tidak hanya akan masuk ke neraka suatu saat nanti, tapi kamu mungkin tidak akan memiliki siapa pun untuk membawamu keluar dari penjara mereka.
Juwita tahu itu. Bahwa para jin itu akan mengumpulkan roh para kontraktor mereka, menempatkannya di tempat paling buruk, menderita untuk waktu yang lama sampai tiba masanya mereka mendapatkan penghakiman menuju tempat yang sepatutnya.
“Aku pun tahu itu. Ini sudah jadi pilihanku. Biar aku yang mengatasinya dengan caraku sendiri. Mungkin kita masih bisa saling berkomunikasi, tapi kita sudah berbeda. Aku hanya tidak ingin membuat dia semakin marah karena membuatku tercium seperti … ya kalian tahu sendiri.”
Wanita tua itu terkekeh. Aku sebenarnya hanya ingin segera terlepas dari belenggu yang mengikatku dari tempat ini. Aku ingat betul tentang suasana ini. Ini adalah suasana sama ketika tubuh dan rohku terlepas dengan tidak menyenangkan. Hujan dini hari, jalanan sepi, ketika aku ingin menghindar dari genangan air, sebuah motor menabrakku dengan kecepatan tinggi. Kamu tahu, Nduk … hal paling menyedihkan adalah, pemuda itu sempat menghentikan sepeda motornya untuk melihat keadaanku. Tapi ia malah pergi, membiarkanku di sana lalu ya … kamu tahu sendiri.
“Kalau kau mau, aku bisa mengakhiri orang itu. Dengan cara yang tidak terlalu menyakitkan. Akhir-akhir ini serangan jantung sering kali jadi penyebab utama orang meninggal. Dokter-dokter itu hanya tidak tahu kalau serangan jantung mendadak itu bisa disebabkan oleh orang-orang sepertiku.”
Juwita mendapatkan penolakan. Biarkan ia apa adanya. Bagaimanapun juga, inilah takdir yang harus aku jalani. Mungkin jika suatu hari nanti hal yang telah mengikatku itu terlepas pula, aku bisa meninggalkan dunia ini tanpa ada penyesalan.
Maka di sinilah pembicaraan itu berakhir. Wanita yang bahkan namanya belum diketahui oleh Juwita sampai saat ini pun menghilang perlahan seperti embun yang memudar ketika matahari datang. Namun, Juwita tidak pergi ke mana-mana. Ia masih berada di sana, sesekali menengok ke belakang ketika mendengar kembali suara-suara penunggu yang mengusik di studio. Ah … ia harus mengusir mereka nanti. Dia semakin sering mengomel tentang aroma orang mati yang melekati setiap inchi tubuh Juwita jika penunggu-penunggu tanpa izin itu terus berada di sana.
“Meninggalan dunia ini tanpa penyesalan … apakah aku bisa meninggalkan dunia ini semudah dan seenteng itu?” Bermonolog lagi, Juwita mungkin tidak ada habisnya ketika berbicara dengan dirinya sendiri seperti ini. Mungkin menjadi salah satu caranya melewati hari-hari dengan kecemasan tanpa akhir ini.
Ia kembali mengulang-ulang apa yang dikatakan tadi untuk waktu lama. Untuk sesaat, jika dibandingkan dengan rumah kokoh tahan angin dan hujan serta terhindar dari serangan binatang buas, gubuk kecil ia menghabiskan malam-malam tanpa tidur mungkin bisa membuatnya lebih cepat tidur. Mengkhawatirkan tentang bisa makan atau tidak besok, tidak bertemu dengan hewan-hewan liar, bisa tidur nyenyak tanpa gangguan, ia lebih merindukan kekhawatiran tersebut daripada mengkhawatirkan menghabisi nyawa orang lain di tangannya sendiri.