Pertemuan keluarga berkedok perjodohan itu berakhir ketika Ardi mendapatkan panggilan dari kantor. Pria itu buru-buru pergi setelah berpamitan. Juwita tidak cukup yakin, tapi mungkin saja itu bukan panggilan sebenarnya dari kantor. Ia sempat mendengar kata ayam dan jumlah yang pernah disebutkan sebagai syarat pada malam pertemuan pertama mereka. Eh, meskipun kelihatan tidak melakukan apa-apa, ternyata Ardi memanfaatkan orang lain untuk menemukan ayam cemani sesuai jumlah yang disebutkan. Sebenarnya akan jadi lebih menarik kalau waktu itu ia menambahkan syarat lainnya ayam cemani itu haruslah ditangkap sendiri. Tapi, ya sudahlah. Sudah telanjur pula.
Juwita sendiri enggan berlama-lama berada di sana. Mendengarkan omelan bapak dan ibunya sendiri saja sudah cukup menyebalkan, apalagi jika mendengarnya pula dari seluruh anggota keluarga yang lain. Bagian lebih buruknya adalah, karena tidak memiliki ikatan darah apa pun dengan mereka, tentu saja ia akan dianggap seperti alien. Bahkan orang tua angkatnya juga sesekali merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Juwita dari serangan yang lain. Bukan salah mereka berdua, keluarga merekalah yang terlalu busuk.
“Mbak Juwita, barusan saya dapat email dari penerbit. Ada revisi besar-besaran buat novel yang bulan lalu masuk meja editor.” Bisma tanpa melihat keadaan sang nona buru-buru menyodorkan ponsel. Juwita mendelik, enggan menerima benda pipih tersebut.
“Kamu bikin mood aku makin jelek aja.” Ia menghela napas, lalu melanjutkan cerita tak lama kemudian, “Ini udah kayak cerita-cerita klise di novel, tapi aku enggak mau nyebut ini genre-nya romance. Tapi tepat tadi pas di acara pertemuan keluarga, aku mendadak dijodohkan sama orang.”
Bisma bukannya mendengar hal seperti ini sekali dua kali. Nonanya memang sangat sering mendapatkan kencan buta mendadak, sesekali dipertemukan kedua belah pihak, atau di tingkat cukup ekstrem adalah lamaran yang tak kalah kilat. Padahal belum pernah bertemu. Ta’aruf katanya, padahal Juwita yakin betul bahwa pria yang pernah melamarnya di pagi-pagi sekali sebelum bekerja adalah p****************g yang pernah hampir dijadikan target santet. Yang tentu saja ditolak terang-terangan. Menyantet orang karena diputuskan sepihak. Alasan lain karena pria itu selingkuh. Lebih dari mendua, karena ada banyak cabangnya di mana-mana.
“Uhm … Mbak Juwita enggak dijodohkan sama artis yang katanya bakal di-blacklist sama KUA karena sering nikah dan cerai itu, ‘kan?” terka Bisma yang sebenarnya tidak berharap sang nona akan mengiakan pertanyaan konyol itu.
“Lebih buruk lagi, Bisma. Pria yang berusaha dijodohkan sama aku adalah Ardi, anak lelaki Atmajaya. Pria yang jadi target terakhir balas dendamku.”
Sungguh itu adalah kebetulan paling tidak masuk akal yang pernah Bisma dengar. Ia tercenung beberapa saat sebelum akhirnya membalas, “Mbak yakin dia orang yang sama? Dia mengenali Mbak enggak? Soalnya hari ini Mbak cuma pakai lipbalm berwarna sama bedak tipis aja. Suaranya juga, dia enggak sadar, ‘kan?”
Juwita menggeleng. “Orang yang bisanya cuma mikir bagian enak-enak aja enggak sadar kalau dukun yang dia temui di hutan sama perempuan yang dijodohkan dengannya adalah satu orang yang sama. Kadang aku bersyukur karena dia enggak terlalu pinter. Tapi masalahnya, aku bakal lebih sering ketemu sama dia. Karena … keluarga orang tua asuhku enggak bakal melepaskan kesempatan jadi besannya Atmajaya.”
Bisma yang masih tertegun melepaskan kacamata, keningnya bahkan berkerut saking takjubnya dengan kebetulan itu. “Saya kayaknya butuh tidur nyenyang buat kasih solusi. Soalnya ini bakal menyangkut hubungan Mbak sama keluarga orang tua asuh Mbak sendiri.”
Bisma memang mengetahui hubungan Juwita dengan keluarga orang tua asuhnya. Ia pun sudah bisa membayangkan bagaimana orang-orang yang semula tidak akrab itu berusaha mendekati sang nona untuk mempengaruhi ini dan itu. Menjalin hubungan dengan Ardi tentunya.
“Aku enggak sudi dijodohkan sama dia. Kamu pasti juga tahu itu kan, Bis? Kalau misalnya ada salah satu mereka yang datang, coba jodoh-jodohkan aku sama buaya air tawar itu, mending usir aja pas udah sampai di depan pagar.”
“Siap, Mbak. Kalau gitu pembicaraan ini udah selesai, ya? Bisa lanjut ke revisi novel? Soalnya pasti udah ditunggu editor revisiannya. Saya udah cek, enggak terlalu banyak. Jadi enggak sampai tengah malam mungkin udah selesai. Itu kalau Mbak fokus ngerjainnya, ya?” Sebuah senyum canggung tersemat di wajah Bisma. Sedangkan sang nona sendiri membalas dengan wajah kecut.
“Kamu kalau bilangnya enggak terlalu banyak, tetep aja yang keluar bakal banyak. Aku udah enggak bisa percaya lagi sama kata-katamu.” Juwita bangkit dari tempatnya, tapi dengan wajah lebih kecut lagi ia berkata, “Gimana pun juga, aku mau semuanya cepat selesai sebelum malam bulan purnama tiba. Tiga hari udah cukup buat selesaikan semuanya, ‘kan? Bakalan aku kebut selama tiga hari itu.”
Bisma tentu senang mendengarnya. “Nah, gitu dong, Mbak. Kerja harus rajin. Yuk, kita selesaikan. Saya juga enggak kuat kalau lama-lama di studio bareng si pocong sendirian.”
“Nah … itu juga yang bikin aku enggak bisa fokus di sana. Dia ngintilin terus ke mana pun kita pergi. Itu baru pocong loh, ya. Kadang pas aku sendirian yang nulis, ada kuntilanak yang terbang-terbangan di atas. Kalau berdua gini kan enggak bakal takut.”
Keduanya bergegas menuju studio. Menyelesaikan target yang ada.
***
“Ayam cemaninya dapat semua? Sesuai jumlah yang aku minta?” Ardi tanpa sempat menyapa orang-orangnya, buru-buru menuju halaman belakang di rumah. Di sanalah ayam cemani yang diminta oleh dukun itu berada. Sembilan ekor bukan jumlah yang sedikit. Termasuk pula uang yang harus digelontorkan untuk mendapatkan semuanya.
Ayam-ayam cemani ini istimewa. Mereka betul-betul berwarna hitam. Tidak seperti jenis yang sama tetapi dengan warna lebih pudar. Ayam-ayam yang dikumpulkan dalam tiga kandang ini memiliki warna hitam pekat. Sepadan dengan harga yang dikeluarkan pula. Telunjuknya bergerak menghitung satu per satu kepala, lalu terhenti pada satu ayam yang terlihat lebih kecil dan pendek daripada yang lainnya.
“Kenapa yang satu ini enggak sebesar yang lain? Kayaknya aku udah bilang buat beli ayam jantan dewasa semua,” protes Ardi kepada anak buahnya.
Pria yang lebih muda darinya beberapa tahun itu menundukkan kepala, tidak berani meluruskan pandangan. Namun, ia tetap harus menjawab, “Itu karena uangnya enggak cukup buat belisemua ayam dewasa. Yang satu ini masih remaja, jadi bisa menutup uang yang dikasih waktu itu.”
Ardi terkenal ringan tangan. Hal yang tidak cocok dengan keinginan berakhir dengan amarah. Anak-anak buahnya yang menjadi sasaran kemarahan. Namun, kali ini pun Ardi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia memang sedang kesulitan keuangan. Suntikan dana dari keluarga makin berkurang, begitu pula dengan dukungan mereka. Dan itu berpengaruh pula pengeluarannya. Perempuan-perempuan yang selalu meminta ini dan itu. Anak-anak yang harus dinafkahi. Jangan sampai ia kehilangan orang-orang ini karena amarah yang tidak seberapa.
“Aku bakal bilang kalau ayamnya emang segitu. Pokoknya ayam-ayam ini harus dalam keadaan baik sampai aku bawa pergi. Aku mau tidur dulu. Jangan ada yang ganggu,” titah Ardi. Meninggalkan halaman belakang rumah menuju kamarnya dingin setelah menghentikan panggilan-panggilan perempuan yang ia miliki.
Harusnya, ia mendapatkan waktu cukup untuk beristirahat, tetapi kepalanya malah dipenuhi dengan perempuan itu. Yang terang-terangan menolak dan memberikan lampu kuning bahkan sebelum hubungan di antara mereka dimulai. Perempuan misterius yang bahkan sampai sekarang pun tidak memiliki satu pun akun media sosial.
“Juwita … apa yang bikin dia seterang-terangan itu menolak? Tapi … dia emang menarik. Lebih daripada perempuan-perempuan murahan itu.”
Maka, sisa malam Ardi hanya dihabiskan dengan menyebut nama Juwita.