32. Estri dan Ardi - V

1029 Words
"Ireng ... Ireng. Kayaknya kamu lebih cocok disebut anjing daripada anak monyet. Mana ada anak monyet yang menjilati kaki orang kayak gini. Haha, senang rasanya bisa ketemu mainan baru." Ardi lantas menjenggut rambut Estri, menjeda kegiatan perempuan tersebut. Menyaksikan ekspresi yang dibuat perempuan itu, seluruh tubuh Ardi serasa digerayangi semut. Terutama di bagian perutnya. Hawa dingin yang tiba-tiba menyergap tubuh, tetapi di saat yang sama juga meniupkan hawa panas. Sebuah sensasi asing tetapi juga entah kenapa membuatnya sangat bersemangat. "Apa kalau sudah begini saya akan dibantu? Saya butuh bantuan," ujar Estri lirih. "Aku akan lakukan apa pun yang kamu minta kalau kamu jadi anak baik." Jemari Ardi menarik wajah Estri mendekat. Ia yang semula berjongkok di bawah mengikuti pergerakan tangan Ardi. "Tolong bantu saya ... Mbah ... Mbah saya sakit. Di-dia sekarat." "Terus kamu minta apa? Dokter? Perawat? Obat? Katakan aja kamu mau minta apa." Harapan Estri makin melambung. Memang benar ia mencari anak lelaki ini walaupun harus mengalami sedikit drama. Dan harga dirinya yang terbanting berulang-ulang. Tawaran-tawaran yang disebutkan oleh Ardi dibalas dengan anggukan antusias. "Kalau gitu, sekarang kamu lepas semua baju kamu di sini." "A-apa? Lepas baju?" Harapan Estri seolah terjun lagi ke dasar lubang. Mengapa pula dengan syarat itu? "Apa? Kamu enggak mau? Kalau kamu enggak mau, aku juga enggak bisa kabulkan permisi tolongmu tadi." Senyum arogan Ardi yang menyebalkan menyulut bara amarah Estri. Amarah itu dijaga nya agar tidak tersulut lebih besar lagi. Estri mengangguk-angguk mengiakan dengan berat hati. Ketika tadi Adelia melucuti pakaian dan memandikannya, semua itu dilakukan di depan anak perempuan. Beda lagi dengan sekarang karena yang ada di hadapannya ini Ardi. Anak laki-laki. Lawan jenis yang kelihatan sangat bersemangat ketika kakinya dijilat anak perempuan lain. Mengingat kembali sudah menjilati kaki anak lelaki itu, Estri merasa ingin muntah. Isi perutnya sedang bergejolak. Estri hampir saja memelorotkan sandangan yang Ian kenakan, kalau saja sebuah panggilan yang ditujukan kepada Ardi menahan aksinya. Dan lagi ... panggilan tersebut berasal dari seseorang yang sangat ia benci. Atmajaya. Bagaimana bisa ia tidak melupakan suara pria biadab itu? "Ardi! Apa yang kamu lakukan di sini?! Adelia bilang kamu melakukan hal-hal aneh." Pria itu menghampiri Ardi dan menjatuhkan sebuah tamparan yang mengenai kepala. Ardi sama sekali tidak mengelak atau membela diri. Estri meringkuk, menutupi wajahnya dengan rambut yang masih basah. Seperti sebuah tirai. Keberadaan Estri disadari oleh Atmajaya. "Anak siapa yang kamu jadikan mainan? Kalau sampai ibumu tahu. Bisa dipukuli pantatmu sampai tepos!" "A-aku enggak tahu. Di-dia sendiri yang ngintilin aku ke mana-mana!" Ndasmu itu! Ardi sendiri yang menarik Estri dengan pesona dan rayuannya. Bisa-bisanya berbohong seperti itu demi menyelamatkan diri sendiri. Estri enggan membenarkan hal yang sebenarnya terjadi. Bagaimanapun juga, anak lelaki itu pastilah juga tidak jauh beda dengan ayahnya yang biadab. Semoga saja bokongnya memang habis ditepoki sang ibu sampai tepos. "Tetap saja kamu enggak bisa melakukan ini. Kalau sampai ibumu tahu, Ayah sama sekali enggak bisa melindungi kamu lagi. Ayo kita balik. Kamu juga harus menjelaskan sama orang tua Ben kenapa tangannya habis digigit orang." "Itu bukan digigit orang. Tapi digigit monyet." Estri melotot di antara tirai rambutnya. Bohong lagi, bohong lagi. Sudahlah, biarkan saja dia berbohong sampai akhir. Atmajaya melirik Estri lalu berkata, "Ayah yakin anak itu penyebabnya. Tapi kita enggak bisa bawa dia. Penampilannya yang kayak gitu benar-benar enggak meyakinkan. Ayah akan menjelaskan kalau kamu enggak bersalah. Selagi Ayah masih bisa berkata baik." Ardi tidak punya pilihan selain menurut. Ia melirik Estri sebentar. Seketika itu pula Estri menahan pergelangan tangan Ardi. "Kamu ada janji yang harus ditepati sama aku. Bantu Mbah Aji. Kamu udah janji!" seru Estri kencang di akhir kalimat. Ardi yang merasa terganggu karena perilaku tiba-tiba Estri tersebut secara sadar melayangkan sebuah tamparan keras. Tamparan yang cukup untuk menjatuhkan tubuh Estri. Namun, tidak ada yang lebih seram daripada perempuan menagih janji. Ardi kembali tertahan oleh Estri yang menggelayuti kakinya. "Kamu apa-apaan, sih?! Dasar monyet!" Ardi menendang Estri. Ia betul-betul tidak menahan diri. Ketika memberikan tendangan tersebut, Ardi sama sekali tidak mengurangi tenaga. "Kamu pikir aku mau menurut sama kamu! Jijik banget dekat-dekat kamu! Udah jelek, bau, bodoh, item lagi! Kamu kira aku serius?! Aku cuma mau mainin kamu aja. Dasar ireng! Sampai kapan pun enggak bakal ada lelaki yang mau dekat-dekat sama kamu. Menjijikkan!" Atmajaya mengurut pangkal hidung, tampak putus asa dengan kelakuan anak lelakinya. Tak ingin berlama-lama di sana, ia pun menarik paksa Ardi dengan sentakan kencang. Ardi sendiri yang masih tampak marah itu sama sekali tidak melawan. Malah merasa terbantu karena tidak perlu berhadapan dengan Estri lagi dan bagaimana cara memenuhi janji yang telah dibuatnya untuk perempuan itu. Ia hanya main-main. Tidak ada niatan mengabulkan permintaan tersebut. Tersisalah Estri sendirian di sana. Kebasahan. Tubuhnya memang basah karena dimandikan, tetapi matanya dibanjiri air mata penyesalan, amarah, malu, dan kepedihan tiada akhir. Seharusnya ia tidak mengikuti anak lelaki itu kalau ujung-ujungnya akan diabaikan begini. Ia tak hanya kebasahan, tetapi kedinginan juga di bawah terik matahari. "Hei ... kamu ...," panggil sebuah suara familier. Itu Adelia. Ia mendatangi Estri sembari membawakan sebuah tas kecil. "Aku ada pakaian baru, sandal, kukis kering, sama obat penurun panas. Hanya itu yang bisa aku berikan. Kalau kamu berharap sama Ardi, sama aja kayak meminta sama batu. Dia cuma besar di mulut aja." Estri geming. Pikirannya mungkin sedang kosong saat ini sehingga hanya terdiam. "Rumahmu di mana? Aku antar pulang, ya? Kalau di sini kedinginan kayak gini, kamu bisa sakit." Adelia mengeluarkan sandal dari dalam tas. Dipasangkannya sandal tersebut kepada Estri dengan hati-hati. "Aku enggak tahu kalau kamu bakal terluka banget karena sama sekali enggak dipedulikan sama Ardi. Tapi kalau ketemu sama dia, sama anak-anak yang lain kalau misalnya kita ke sini lagi, lebih baik kamu sembunyi. Dari luar mereka emang kelihatan kayak orang berpendidikan. Tapi kamu lihat sendiri kalau mereka enggak ada bedanya sama binatang." Adelia mengembuskan napas lelah. Mengajak bicara Estri seperti bermonolog. "Nah, aku sudah pakaikan kamu sandal. Habis ini kamu bisa balik ke rumah sendiri, 'kan? Kakimu enggak bakal lecet atau berdarah lagi sehabis ini." Adelia undur diri. Sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh sebentar ke arah Estri sebelum melanjutkan perjalanan. Tanpa Estri ketahui, Adelia sempat bertemu dengan orang-orang dari desa terdekat lalu mengabarkan keberadaan Estri. Maka dengan begitu mereka bisa membantu Estri nantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD