Estri kembali ke gubuk dengan langkah gontai, satu demi satu langkah. Salahnya sendiri karena terlalu naïf. Tidak bisa menilai seseorang dengan baik. Bagaimanapun juga, jangan pernah mempercayai kaum jantan. Bahkan jika mereka memberikan rayuan maut atau memuji semanis gulali, ujung-ujungnya bohonga belaka. Ia tidak berani menengok ke dalam gubuk. Hari telah sepenuhnya berganti malam. Kegelapan menyapa ketika ia menginjakkan kaki ke dalam. Satu hal yang Estri lakukan ketika mendapati Mbah Aji masih dalam posisi sama seperti terakhir kali ditinggalkan adalah menangis. Ia meraung, menumpahkan seluruh air mata hari ini. Di depan jasad Mbah Aji yang telah kaku, ia tidak berhenti menangis dan meraung. Ia berhasil menakuti hewan-hewan yang merasa mendapatkan makanan baru. Tikus-tikus yang selalu berlalu lalang di sekitar gubuk tak lagi terlihat.
Di malam dingin, di samping jasad Mbah Aji, Estri mengistirahatkan tubuhnya di dalam keranjang seperti biasa. Jika malam ini Sarpa Wijaya datang karena iseng atau bagaimana, Estri tidak akan melayani kedatangannya. Hari ini ia hanya ingin tidur. Setelah lelah seharian yang menyedot habis seluruh tenaganya, ingin sekali rasanya bisa tidur nyeyak selama satu pekan ke depan. Namun, pikirannya telah lebih dulu menahan anak perempuan itu tertidur. Ah … apa yang harus ia lakukan ke depannya. Bagaimana dengan Mbah Aji? Apa yang harus ia lakukan dengan jasadnya? Bagaimana jika jasad Mbah Aji dimakan tikus lagi? Beberapa jarinya telah hilang karena digigiti tikus. Kalau begitu, sebentar lagi wajahnya juga. Dengan begitu, tidak aka nada orang yang mengenalinya lagi, ‘kan? Ah, tunggu … apakah Mbah Aji memiliki seseorang yang merindukan kepergiannya nanti? Apakah itu Sarpa Wijaya? Tentu saja tidak
***
Apakah pagi telah datang? Mengapa di luar terdengar sangat berisik. Seolah pasar berpindah ke dalam hutan? Ah … Estri pernah mendengar dari Mbah Aji tentang keberadaan pasar gaib di gunung atau hutan. Padahal selama beberapa hari ke belakang, ia belum pernah menjumpai yang semacam itu, tetapi kenapa baru sekarang? Apa karena Mbah Aji telah meninggal? Oh, atau jangan-jangan ia sendiri juga sudah meninggal? Kalau begitu, ia tidak perlu lagi berhubungan dengan Sarpa Wijaya, ‘kan? Kalau begitu satu masalah hidupnya telah usai dan ia mungkin bisa bertemu lagi dengan ayah dan ibu di luar sana.
“Astagfirullah, ada orang yang sudah meninggal di sini! Pak Lurah! Pak Lurah! Sini, Pak!”
Estri tersentak. Ia membuka kain yang menutupi keranjang, lalu mendapati beberapa pria dewasa masuk ke dalam gubuk dengan tatapan ngeri sekaligus kasihan. Estri lantas menjadi pusat perhatian setelahnya. Dengan tatapan kosong, ia menatap satu per satu orang yang datang. Tidak satu pun dari mereka yang Estri kenali.
“Pak Lurah! Pak Lurah! Ada anak juga di sini. Kemari, Nduk … Cah Ayu ….” Salah satu dari kerumunan tersebut meraih Estri, lantas menggendongnya dengan lembut dan penuh kasih. “Kita bawa semuanya keluar dari sini, Pak. Kasihan.”
Estri yang berada dalam gendongan wanita paruh baya, yang sama sekali tidak ia ketahui itu, kembali terlelap. Pelukan seorang ibu, seperti inikah rasanya? Lembut dan hangat, Estri dibuat mengantuk karenanya. Digendong dengan perasaan penuh kasih sayang seperti ini rasanya lebih menenangkan daripada tidur di kasur mahal mana pun sekalipun.
***
Hari telah beranjak malam ketika Estri membuka mata. Lantunan ayat-ayat suci yang mengalun lembut, membangunkan anak perempuan tersebut. Orang-orang yang menemukan Mbah Aji tentunya tidak akan menangis sehabis menyolati dan memandikan jenazah bukan? Lantas, suara tangisan siapakah yang berada di depan? Estri terbangun, menyadari di berada di sebuah kamar asing, diselimuti dengan baik dan telah berganti pakaian. Ketika matanya memindai sekeliling, pintu yang memisahkan kamar tersebut dengan bagian luar terbuka. Wanita paruh baya yang menggendongnya dengan lembut tersenyum ketika mendapati Estri sudah bangun.
“Nduk sudah bangun? Di luar ada orang yang mau ketemu sama kamu. Sehabis tahlilan, nanti kamu ketemu sama mereka, ya? Lapar ndak? Biar Bude ambilkan makan.”
Estri dibawa ke dapur. Ibu-ibu yang tengah memasak di dapur menyambut kedatangannya dengan wajah paling ramah. Tidak henti-hentinya pula mereka menyebut Estri cantik. Padahal, jika mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Ardi, ia betul-betul buruk rupa seperti seekor anjing atau monyet. Sungguh, laki-laki mana pun yang ia temui selalu tergila-gila dengan perempuan berkulit putih dan bening seperti s**u.
“Ini, dimakan, ya, Nduk. Tapi … nama kamu siapa, Nduk? Bude enggak pernah lihat kamu sebelumnya. Soalnya enggak ada orang juga yang dekat-dekat ke hutan itu. Hutan itu angker, banyak yang hilang pas masuk ke sana. Apa kamu juga hilang di sana?” Bude tadi bertanya.
Estri yang tengah menikmati nasi osengnya menggeleng sebagai jawaban. Jika membuka identitas sebagai seorang Estri, bisa saja orang-orang suruhan Atmajaya akan menyadari keberadaannya. Anggap saja mereka mengetahui Estri masih hidup, pasti akan melakukan sesuatu untuk menutup mulutnya agar tidak mengatakan apa pun yang terjadi di malam kedua orang tuanya dihabisi secara keji.
“Kamu enggak tahu apa-apa? Kamu enggak ingat nama kamu siapa?” tanya Bude itu lagi iba.
Estri mengangguk pelan. Ibu-ibu yang berada di sana menatap Estri iba. Mereka tentu mengasihani nasib buruk seorang anak perempuan yang ditemukan di tengah hutan tanpa sanak saudara dan keluarga lagi. Dari ibu-ibu itu pula Estri mengetahui bahwa Adelia yang patut diberi ucapan terima kasih karena telah mengatakan kepada mereka keberadaan Estri dan Mbah Aji di dalam hutan. Lalu, orang yang ingin mereka pertemukan dengan Estri adalah anak-anak kandung Mbah Aji dan para menantunya. Mereka telah mencari-cari Mbah Aji selama bertahun-tahun, tetapi pertemuan mereka setelah sekian tahun adalah setelah Mbah Aji meninggal. Kabarnya mereka mendatangi desa ini ketika jasad Mbah Aji tengah dimandikan. Seperti mendapatkan mimpi, mereka mendatangi desa ini berbekal firasat. Ketika melintasi jalan utama, mobil mereka menabrak pohon ketika berusaha menghindari ular.
Penduduk desa yang ramah membantu mereka memperbaiki mobil, tetapi di saat yang sama pula, ketika penduduk desa juga membawa kembali jasad Mbah Aji, saat itulah mereka menemukan sosok ayah yang telah dicari selama bertahun-tahun. Pertemuan yang sia-sia karena Mbah Aji sudah tidak bernyawa. Ketika orang-orang menyebut ini sebagai kebetulan, maka Estri yakin bahwa Sarpa Wijaya ada hubungannya dengan semua ini. Mulai dari mimpi dan membuat keluarga Mbah Aji menemukan keberadaan jasad orang tuanya. Namun … kenapa?
“Nduk … ini tas kamu. Kayaknya dikasih sama Adelia yang cantik itu. Dia asalnya dari sini, tapi dibawa ibunya ke kota sehabis ini.” Bude tadi mengangsurkan tas Estri. Ketika tas tersebut terbuka, Estri cukup terkejut karena mendapati kitab yang sama sekali tidak ia masukkan ke dalam tas ternyata telah tersimpan rapi di tas bersama dengan barang-barang pemberian Adelia yang lain. Sudah jelas bahwa ada campur tangan Sarpa Wijaya di sini. Hanya saja, ia masih belum bisa memahami tindakan Sarpa Wijaya mempertemukannya dengan keluarga Mbah Aji yang telah lama terpisah.
Setelah acara tahlilan itu berakhir, Estri dibawa bertemu dengan anak-anak Mbah Aji. Mereka semua menyambut Estri dengan ramah kendati kesedihan masih menggelayut dan dihiasi banyak air mata. Salah satu dari mereka meminta Estri duduk di pangkuan. Ketika Estri kembali ditanyai tentang nama, perempuan kecil itu menggeleng. Jika memang Sarpa Wijaya menginginkan bergabung dengan keluarga ini, maka ia haruslah memiliki nama dan identitas baru.