[Mbok Ireng dan Asistennya]
Mobil sedan itu baru saja memasuki halaman rumah pukul tujuh lebih lima pagi hari. Seorang pria berpakaian serba hitam turun dari mobil lantas membukakan pintu belakang. Seorang perempuan bertubuh ramping dengan gaun hitam pula pun menyusul turun. Pagi ini akan menjadi sangat sempurna jika tidak ada panggilan-panggilan darurat lagi dari kantor penerbit. Mereka berdua bisa menjadi apa saja. Dukun ilmu hitam dan asisten gelapnya, atau penulis rahasia—orang-orang lebih sering menyebutnya ghost writer—dan asistennya juga yang lebih paham tata bahasa penulisan daripada sang penulisnya sendiri yang lebih sering membuat kesalahan daripada membuat susunan kalimat yang rapi.
“Mbak Juwita, Mas Bisma. Duh… ke mana aja, sih? Ini dari kemarin Simbok dapat telepon terus dari orang-orang di penerbit. Gentian-gantian gitu, tadi aja jam lima ada orang jogging mampir ke sini terus tanya, Mbak Juwitanya di mana ya? Kok udah lama enggak keliatan gitu, Mbak, Mas,” lapor Mbok Ismi, asisten rumah tangga yang sudah setia merawat rumah bertingkat tiga ini sejak sepuluh tahun yang lalu. Ya… pagi mereka tidak akan sempurna. Pasti sehabis ini akan ada utusan mereka datang dan juga penulis yang memesan nama langsung.
“Saya enggak mau mereka datang terus pagi-pagi kayak gini. Kalau ada orang kayak gitu lagi, suruh diusir sama satpam. Mereka seenaknya sendiri deh, suruh-suruh orang selesaikan tulisan berapa puluh ribu kata dalam seminggu! Emangnya saya ini robot!” balas sang perempuan kesal.
“Duh, duh, Mbak Juwita… jangan galak-galak gitu, dong. Nanti Mas-Mas editornya yang ganteng itu takut datang ke sini,” ledek Mbok Ismi.
Bukannya senang, Juwita malah melengos, “Ye… malah bagus kalau mereka enggak ke sini lagi. Saya mau mandi dulu, ya, Mbok. Kamu Bisma cepat ke studio, terus cek itu novel yang udah dua puluh lima bab, kurang tiga bab lagi kayaknya. Jadinya masih kurang sekitar empat ribu kata.”
“Siap, Mbak.”
Maka, kegiatan normal yang bukan dukun kembali dimulai. Perempuan itu sudah berusia tiga puluh enam dan sama sekali belum menunjukkan pertanda akan menikah. Padahal dengan wajah cantik, tubuh bagus, otak yang encer, dan kemampuan berbisnis yang tidak kalah dari kedua orang tuanya, ia bisa mendapatkan pria mana pun yang dimau. Ia hanya memang tidak membutuhkan hal-hal semacam itu. Punya pacar, lalu menikah, atau juga memiliki partner ranjang yang sama sekali tidak membutuhkan ikatan jelas. Ia bukan perempuan yang akan menyerahkan hidup pada pernikahan. Kenyaatannya, pernikahan bukanlah hal indah dan luar biasa sebagaimana dikatakan orang-orang.
Ia mengatakan hal itu bukan karena merasakan pernah menikah. Hanya saja, menikah memang tidak seluar biasa yang orang katakan. Jika orang-orang menjadikan pernikahan sebagai tujuan hidup dan penyelesaian dari segala problematika hidup, maka menganggap sebaliknya. Tujuan hidup tak hanya menikah lantas pernikahan itu sendiri justru mendatangkan banyak masalah lain. Ia sendiri berkaca dari anak Mbok Ismi sendiri yang baru berusia dua puluh lima tahun sudah menjadi janda tiga kali dan punya tiga anak tanpa ayah sekarang. Bukan tidak, tapi nyaris. Tampaknya kemarin Mbok Ismi sudah menyebutkan akan izin karena putrinya yang satu itu akan menikah lagi, untuk keempat kalinya. Hmm, mengapa orang-orang begitu mudah menikah sedangkan ada orang lain yang mempertahankan satu hubungan saja sudah setengah mati rasanya? Ia memilih untuk tidak peduli dengan hal itu. Pernikahan dan pasangan, apalagi anak bukanlah tujuan hidupnya.
Habis mandi, yang mana salah satu hal paling menyenangkan dalam hidupnya, Juwita menuruni tangga melingkar menuju lantai satu. Studio yang menjadi tempatnya banyak menghabiskan waktu jika tidak menjadi dukun adalah ruangan luas yang dipenuhi dengan rak buku dan meja-meja di berbagai sudut. Ia senang berpindah-pindah tempat ketika menulis. Terkadang ingin menulis sembari memandang jalanan, terkadang menulis sambil mengambil satu atau dua buku, atau terkadang ia hanya bosan dengan posisi-posisi lain sehingga memilih menulis di lantai. Bisma sudah berada di depan monitor besar, mengenakan kacamata dan ditemani secangkir kopi tubruk tanpa merek. Ia sering membeli kopi yang dijual bebas di jalanan.
“Jadi… kesalahanku kali ini gimana, banyak?” tanya Juwita yang lantas mengambil salah satu judul novel Haruki Murakami dari rak. Membaca-baca sedikitlah untuk menajamkan jiwa penulisnya yang tumpul setelah beberapa hari ke belakang berkutat dengan dunia hitam.
“Enggak, kok. Tumben aja nih enggak typo sama susunan kalimatnya rapi dan benar. Biasanya udah malas dibaca,” balas Bisma yang lantas melepaskan kacamatanya dan diletakkan saja di samping papan ketik.
Juwita terdiam sejenak lalu berpikir dan menebak-nebak mengapa tulisannya yang satu itu rapi dan nyaris bersih. “Uhm, mungkin karena aku lagi seneng aja. Kita udah menemukan target terakhir dari perjuangan balas dendamku. Wajar aja aku senang kan? Terus tulisanku jadi bagus.”
Bisma tentu tak menduga alasan itu akan keluar dari bibir Juwita. Adalah sebuah kisah panjang tentang bagaimana mereka bertemu dan latar belakang masing-masing. Jika diibaratkan dalam bab, mungkin memakan puluhan bab yang berat. Bukan sekadar prolog membosankan di novel remaja tentang cuaca yang indah lalu menabrak kakak senior tampang dan saling jatuh cinta—sungguh menggelikan imajinasi anak remaja sekarang.
“Aku enggak menduga Mbak Estri bakal bilang jawab kayak gini.”
“Kamu mau aku bohong apa jujur. Itu jawaban jujurku, loh. Kamu mau dibohongi?”
Bisma terkekeh lantas menggeleng. “Aku jadi ingat sama laki-laki tadi. Ardi yang gagal jadi penerus Atmajaya Group. Tahu enggak, tadi aku bohong soal penunggu di pohon sama aku yang gaptek dan enggak pernah tahu sama berita.”
“Haha, aku udah enggak sabar buat nyiksa dia.” Juwita sejenak termenung. Ia adalah Mbok Ireng, dukun paling dicari dan misterius. Ia juga adalah Juwita, putri angkat dari pasangan suami istri Sutarno yang memiliki restoran makanan Indonesia dengan banyak cabang. Ia juga adalah Estri, anak perempuan yang dikabarkan meninggal puluhan tahun lalu, yang membawa dendam pada mereka yang telah menghabisi nyawa kedua orang tua kandungnya.
“Mbak kebayang sama malam itu lagi?” tanya Bisma sendu. Pria ini, sudah berumur dua puluh empat. Padahal dulu ketika berjumpa dengannya, Bisma hanyalah anak dua belas tahun yang tidak sekolah, buta huruf, pengamen jalanan, dan candu dengan lem. Siapa yang menyangka ia akan tumbuh menjadi pria dewasa yang begitu tinggi dan tampan ini? Rasanya seperti membesarkan anak.
“Enggak ada satu malam tanpa aku lupa, Bis.” Sorot mata Juwita meredup. Saat ini ia adalah Estri yang berusaha tidak menangisi masa lalunya.
|Bersambung|