PART 20

2328 Words
“KENAPA TIDAK MAU melihat aku terluka?” tanya aku suatu hari saat aku merasa kalau keheningan di antara kita mulai terasa berat. Aku memicingkan mata pada Angelo yang sibuk memutar bola basket di salah satu jarinya. Aku melihat bola berwarna oranye itu berputar cepat dan keras, di ujung jari telunjuk yang panjang dan putih. Aku selalu merasa kagum dengan keahlian Angelo ini. Dia selalu membuat aku kagum. Titik. Dia bisa bernapas, dan aku akan mengatakan itu adalah hembusan napas paling indah di bumi. Sebut aku hiperbola, berlebihan, gila, tapi memang benar. Angelo yang duduk seperti ini saja, di bawah pohon rindah tempat favorit dia di sekolah, aku melihatnya seperti dia sedang duduk dan melakukan photoshoot. Aku berdecak saat dia tidak juga menjawab. “Apa kau tidak mendengar aku?” tanya aku lagi. Saat dia masih sibuk memutar bola di tangannya, aku menahan diri agar tidak melempar bola itu dari hadapan aku lagi. “Kau tidak bisa mendengar aku dengan jelas?” seru aku lagi. Aku merasa seperti gadis bodoh. Dengan kesal, aku menghembuskan napas yang panjang dan berat. Aku tatap daun di atas pohon yang bergoyang keras sebab angin yang menerpa mereka. Angelo masih memutar bola oranye di atas jari telunjuknya. Setelah beberap saat, pria itu menangkap bola yang akhirnya jatuh dan ikut menghela napas. Pria itu bersandar ke pohon yang besar dan menatap aku elusif. “Apa?” hanya itu yang keluar dari bibirnya. Aku merenyuk. “Aku sudah bertanya dua kali,” ketusku. Tapi mata aku tetap menatap jari telunjuknya. Jari itu terlihat sudah rusak. Kukunya pendek dan terlihat menyedihkan. Sering kali aku protes pada Angelo kalau dia selalu merusak jemari panjang dan bagus miliknya, tapi pria itu tidak peduli. Bukan hanya itu saja, tapi Angelo juga punya kebiasaan menggigit jarinya hingga kukunya copot dan berdarah. Aku sering memarahi dia karena hal itu. “Apa yang kau tanyakan?” dia menyibak surai ke atas. Pria itu bersungut saat aku memutar dua bola mataku. “Maaf, kau tahu aku sedang tidak fokus.” Dia memutar bola lagi, tapi hanya memainkannya di tangan, tanpa memutar bola itu seperti tadi. Aku berdecak. Memang benar. Angelo selalu melakukan gestur tadi untuk berpikir. Menurut dia, melihat bola yang berputar kencang di tangannya membuat dia akhirnya bisa berpikir jernih. Aku melipat dua tangan di depan. “Aku tanya, kenapa kau tidak mau melihat aku terluka?” Angelo mengerutkan kening. “Kenapa memangnya?” “Aku hanya bertanya.” “Pertanyaan bodoh,” Angelo mencibir. “Kenapa juga masih harus bertanya?” “Aku ingin tahu.” “Apa tidak mungkin aku tidak mau melihat kau terluka? Kau temanku.” Angelo menggeleng tak percaya. “Berhenti menanyakan hal bodoh.” Pria itu kembali bersandar dan memejamkan matanya. Aku menggigit bibir. “Oh.” Aku mengangguk kecil. “Kalau ada yang melukai aku, itu berarti kau akan menghentikannya, kan?” Dengan cepat sekali Angelo membuka matanya. “Apa ada yang melukaimu?” Aku menggeleng. “Bagus,” Angelo menutup matanya lagi. “Karena aku sedang tidak mood untuk menghabisi seseorang.” *** SATU minggu berlalu begitu saja tanpa aku ketahui. Berhari – hari aku hanya tidur di kamar, mengulang kegiatan lagi dan lagi. Rutinitas itu nyaris membuat aku nyaris gila, similar dengan kejadian selama aku terkurung di kamar Angelo. Satu, bangun. Setelah membuka mata, butuh waktu beberapa saat bagi aku untuk tersadar kalau aku tidak lagi berada di rumah besar yang entah berlokasi di mana itu. Aku harus meyakinkan diri kalau ini bukan mimpi, bukan halusinasi bodoh, bukan juga hanya sekedar bayangan, day dreaming kalau aku berada di rumah. Aku sudah benar – benar pulang. Dua, aku akan menatap langit – langit kamar. Sama seperti ketika aku berada di kamar Angelo. Bedanya, atap kamarku dihiasi oleh stiker bintang – bintang kecil dan besar, yang akan menyala saat gelap. Stiker glow in the dark itu aku pasang ketika Angelo mengajak aku melihat bintang di taman belakang sekolah. Saat itu kita menyelinap dari kegiatan sekolah yang mengharuskan menginap dua malam, dan tanpa bisa memungkiri, itu adalah malam terbaik yang pernah aku alami. Tiga, aku akan membuang napas, menariknya, dan mengulang manuver itu agar aku bisa tenang. Karena sesungguhnya, I am just trying to hide my panic one at a time. Empat, aku akan mencoba bangun. Dan ketika realita menampar aku di wajah, aku akan menahan tangis. Angelo sudah hilang lagi. Seperti ditelan oleh gumpalan kolosan kapas putih. Seperti menghilang ditelan oleh bentala. Seperti eksistensinya tidak pernah ada kecuali di dalam benak aku sendiri. Dia hilang lagi. Seperti beberapa tahun yang lalu. Ibu mungkin merasa aku akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa berikutnya jika aku tidak segera keluar dari rumah dan menjalani satu aksi normal untuk mengembalikan realita padaku. “Kita akan belanja kebutuhans sehari – hari,” kata Ibu ketika sedang sarapan. Kali ini sarapan barat. Panekuk dicampur sirup maple. Makanan favoritku. Wangi adonan panekuk dan manisnya sirup adalah hal – hal favorit aku di bumi ini. Aku menoleh padanya, masih sibuk mengunyah panekuk empuk. “Hari ini?” “Tentu saja hari ini,” Ibu menjawab. Aku tidak mengatakan apa – apa. “Kau tahu ‘kan cepat atau lambat, hal ini harus kita lewati?” Memang benar. Aku tahu itu. Tapi memangnya itu mudah? Berkata memang tidak serumit melakukan sesuatu. Jadi aku hanya mengangguk, padahal tidak yakin pada diri sendiri kalau aku bisa melakukan apa yang Ibu minta. Mengesampingkan fakta kalau aku kembali bertemu dengan cinta pertamaku dalam keadaan seperti ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rasanya seperti disambar petir, lalu diguyur hujan. Aku tidak tahu apakah rasa sakit kehilangan Angelo kali ini akan sama saat seperti dia meninggalkan aku dulu. “Aku tahu,” kataku pelan. Sekarang penekuk itu terlihat tidak lezat. Tapi aku memaksanya masuk agar tidak perlu berbicara lagi. “Memikirkannya tidak berguna. Belum tentu juga dia memikirkanmu,” lanjut Ibu. Sepertinya wanita itu tidak bisa membaca atmosfer ruangan. Atau mungkin aku semakin mahir menyembunyikan emosi dari wajah. Mungkin ini akibat terlalu lama berada di jarak dekat dengan Angelo yang wajahnya datar. “Aku tahu,” kataku lagi. “Benarkah?” “Mana mungkin dia memikirkan aku yang hanya seorang tahanan, ‘kan?” “Muse—“ “Walau pun dia bilang cinta segala.” Aku tahu aku menumpahkan emosi aku pada orang yang tidak bersalah, tapi aku tidak bisa diam lagi. “Cinta darinya tidak berarti apa – apa karena dia hilang lagi, ‘kan? Lagi pula, ini salah, ‘kan?” Ibu tidak menjawab. Lalu dia berdiri, mengambil piringnya, dan berhenti di belakang aku. Wanita itu mengecup pucuk kelapaku dan membelai surai aku lembut. Dia sangat membuat aku luluh. Wanita setengah baya ini selalu membuat aku aman dan merasa seperti gadis yang paling beruntung di dunia. “Cinta pertama memang yang paling rumit. Tapi seiring waktu, itu semua akan hilang, Muse. Biarkan waktu yang menjawab. Semua rasa sakitmu, akan terbayarkan di akhir.” *** “Aku rasa kita tidak butuh lima jenis sereal yang berbeda,” kataku sembari melirik Ibu yang mengambil kotak – kotak sereal dengan merek berbeda di lorong makanan. Aku menaikkan alis ketika Ibu meraih satu kotak Fruit Loops lagi. “Dan dua kotak Fruit Loops.” Ibu tidak menggubris, malah melirik kotak Captain Crunch di sebelah tumpukan Fruit Loops. Aku menahan pergelangan tangannya ketika dia mencoba meraih kotak itu. “Kau mau membuka restoran sereal?” tanyaku sarkas. Itu bukan pertanyaan, lebih seperti “Kau sudah gila, ya?” tapi aku tentu saja tidak akan mengatakan itu di depan muka Ibu. Dia mengedikkan bahu. “Makan adalah pelarian terbaik di dunia ini.” “Makan sereal?” “Jangan bertingkah seperti kau belum pernah makan sereal sebagai pengganti sarapan, makan siang, dan makan malam.” Ibu mengibaskan tangan. “Lagi pula, aku ingin mencoba segala rasa.” Aku teringat mimpiku dulu saat aku mengatakan kalau aku akan mencoba semua merek sereal yang ada di bumi ini. Dengan wajah curiga aku menatap Ibu. “Kau melihat daftar keinginan aku lagi di lemari, ya?” Dia tidak menjawab. Yang artinya benar. “Aku tidak perlu itu lagi,” kataku pelan. Tapi aku tidak bisa membiarkan rasa hangat menyelimut hati. Seperti ingin terbang, aku memeluk Ibu sekilas. “Tapi terima kasih.” “Aku hanya tersadar kalau kita harus melakukan apa yang kita inginkan karena hidup itu tidak lama.” Diktum dari bibir Ibu tidak menjelaskan apa – apa, tapi aku tahu apa yang dia maksud. Baru beberapa minggu yang lalu aku hilang dari hadapannya, pergi dari rumah dengan baik – baik dan tidak pulang lagi dalam waktu yang cukup lama. Aku meninggalkan dia sendiri, dan aku tahu rasanya itu. Ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi. Aku tahu maksud ibu apa. Dia ingin agar aku menikmati hidup. Karena situasi yang baru saja menimpa kami. Aku peluk lagi wanita setengah baya itu. “Aku tahu.” “Konversasi darimu hari ini hanya sekedar aku tahu, aku tahu saja?” Ibu menawarkan senyum tipis. “Oh,” dia berseru. Lalu berjalan ke arah tumpukan sereal lain. Aku menatap kotak yang bertuliskan sereal berjenis marshmallow. “Ini sepertinya enak, Muse!” Aku menggeleng. “Bayangkan seberapa banyak kadar gula di dalam sana!” “Oh, sudahlah!” Ibu mengibaskan tangan lagi. “Kau tidak akan diabetes di usia muda.” “Diabetes tidak mengenal usia, Eomma.” Aku menggerutu. “Iya, begitu juga kematian.” Dan dengan begitu saja, wanita setengah baya itu kapabel menghancurkan suasana hati dan atmosfer di super market. Aku mengerang tipis. Ibu menatap aku sembari menahan senyum, rupanya tidak menganggap ini adalah hal yang kritis. Dia menarik lenganku dan berjalan lagi. Kami berdua mendorong troli mengitari koridor super market. “Katakan padaku apa yang kau mau, Muse.” Ibu bergumam sembari mencari – cari merek permen yang dia suka. Aku menarik merek permen yang aku suka. “Hmh . . . ini?” aku menarik yang lain lagi. Ibu mengangguk setuju. “Cokelat?” Ibu bertanya. “Cokelat.” Aku mengangguk tanpa banyak berpikir. Tentu saja cokelat. Kami berdua kembali berjalan. Dua orang anak muda sedang sibuk memilih bir kaleng ketika kami lewat di bagian minuman. Seorang Ibu sedang memilih telur sembari menggendong anak laki – lakinya. Satu orang kakek yang sudah tua sedang meringkuk mencoba mengambil kaleng tuna di bawah. Lalu seorang ayah dengan tiga orang anak yang merengek minta dibelikan mainan. Melewati itu semua, kami sampai di tumpukan cokelat. Mumpung Ibu sedang dalam suasana hati untuk belanja, aku memanfaatkan keadaan itu. Dengan mudah aku meraih setiap paket cokelat yang aku mau. Mulai dari yang berbentu hati, bulat, segi tiga, panjang, dan dalam berbagai macam merek. Ibu tidak komplain. Tidak satu kali pun. Dia hanya memerhatikan, lalu ikut memilih cokelat yang dia mau. “Kau tidak perlu melakukan itu,” suara seorang laki – laki di belakang kami merebut atensi aku dari cokelat – cokelat menggiurkan itu. Ibu sedang berada tidak jauh dari kami, meraih makanan ringan berisikan bola – bola cokelat kecil. “Itu bukan urusanmu.” Seorang wanita menggeram kesal. “Tapi laki – laki itu terlihat mencurigakan. Pakaian serba hitam, kaca mata hitam, topi hitam, dan masker hitam? Sayang, itu sama saja dengan dia berteriak aku penculik anak berbahaya, menjauhlah dariku!” Tubuhku membeku. Bayanganku kembalii pada orang yang berdiam di dalam mobil yang terparkir di depan rumah. Tapi aku segera menghilangkan sisi paranoid itu. Ini hanya kebetulan. “Tetap saja, kau tidak perlu melaporkannya pada sekuriti.” Aku membuang napas. Jika dia memang orang berbahaya, setidaknya wanita itu sudah melaporkannya. “Ah, aku tidak peduli.” Lalu mereka berdua pergi. Aku menelan ludah, tidak lagi merasa senang dan tenang berada di dalam supermarket itu. Aku melambaikan tangan pada Ibu. Wanita itu mendatangi aku sembari memegang berbagai macam makanan ringan. “Ada apa?” “Pulang,” kataku cepat. “Aku sudah ingin pulang.” Mungkin ada sesuatu dari ekspresi wajahku, atau mungkin Ibu memang sudah berubah menjadi wanita yang penurut, atau dia iba dan berpikir aku sudah berubah menjadi gadis paranoid yang penuh trauma. Tapi dia tidak mengatakan apa – apa selain menggandeng tanganku dan pergi dari super market itu. *** Selama perjalanan pulang, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bersikap mencurigakan. Berkali – kali Ibu melirik aku dari posisi duduknya di taksi, bahkan bertanya apa aku baik – baik saja, tapi aku tidak menjawab. Aku mencoba memerhatikan setiap detil, dan mencari figur yang aku lihat, tapi nihil. Mungkin aku memang sudah berubah menjadi gadis paranoid yang penuh trauma. Sesampainya kami di rumah, aku segera mengecek jendela, menutupnya mereka dengan rapat, dan mengunci pintu. Jika Ibu heran, dia tidak memperlihatkannya. “Movie night?” tanya Ibu sembari memperlihatkan makanan ringan yang dia beli tadi. Aku mengangguk. “Tapi aku akan mandi dulu.” Ketika aku masuk ke kamar, aku segera memeriksa jendela. Tidak ada mobil hitam. Tidak ada laki – laki yang duduk di kursi mengemudi, mengenakan pakaian serba hitam. Tidak ada orang yang mencurigakan. Aku membuang napas. Aku butuh terapi. Setelah selesai mandi, aku segera keluar. Ibu sedang membereskan dapur ketika aku mendengar bunyi bel dari pintu luar. Aku mengerutkan kening. “Oh, Muse! Bisakah kau membuka pintu? Aku memesan pizza tadi! Uangnya ambil di dompetku,” Ibu berteriak dari dapur. Tanpa ada beban, aku meraih dompet yang dia katakan di dalam tas. Dengan cepat aku mengambil uang yang kira – kira dibutuhkan untuk membayar pizza itu. Aku membuka kunci, lalu membuka pintu. Entah kenapa aku merasa seperti ada yang menggelitik tengkuk. Rasa tak enak keluar dari aura pengantar pizza di depan rumahku itu. Dia tersenyum, tapi ada sesuatu yang aneh dari senyumnya. Seperti tertahan. Terpaksa. Dibuat – buat. Aku mengulurkan tangan memberikan dia uang. Dengan cepat aku meraih kotak pizza - nya. Dia membuka mulut, mungkin untuk mengatakan harga pizza - nya, tapi aku memotong laki – laki itu. “Ambil saja kembaliannya!” Dan aku menutup pintu di depan wajahnya. Aku kunci pintu itu. Dan aku berharap, ini hanya tingkah seorang gadis paranoid yang penuh trauma saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD