bc

Scorpion's No Harm List

book_age16+
78
FOLLOW
1K
READ
murder
revenge
dark
possessive
dominant
badboy
bxg
mystery
enimies to lovers
first love
like
intro-logo
Blurb

Untuk saat ini, Muse Kim hanya bisa berharap untuk mendapatkan cukup uang dan membayar kuliah. Gadis mungil yang memiliki kesukaan terhadap segala sesuatu berbau lemon tersebut hanya tinggal berdua dengan Ibunya. Ayahnya sudah lama tiada, membuat mereka berdua harus menyambung hidup susah payah. Muse Kim hanya ingin menjadi anak yang baik, mengikuti kemauan Ibu, dan meneruskan hidup seperti kebanyakan orang.

Tapi takdir memang tidak pernah semudah itu. Saat Ibunya menyuruh gadis tersebut pergi ke bank untuk mengurus rekening, mendadak dunianya diputar balik menjadi berbagai macam adegan kriminal serta romansa seperti di buku. Muse Kim terjebak di tengah perampokan bank besar.

Hanya dengan kejadian itu, akhirnya hidup Muse kembali dipenuhi Angelo, lelaki yang sudah meninggalkannya dulu sekali, dan tidak pernah kembali. Muse terjebak dalam permainan mautnya, mendadak menjadi target para kriminal jahat yang siap melenyapkan Muse.

Muse Kim memang hanya gadis biasa. Tapi Muse Kim ada di dalam No Harm List milik Angelo Salvatore, si Scorpion dengan tatapan membunuh dari kelompok Mafia Le Salvion’ Garcons.

chap-preview
Free preview
PART 1
PART 1   “MUSE LEE!”  “MUSE HANA LEE—!” Tak pernah berhenti bahkan satu sekon saja panggilan namaku meresonasi ke seluruh penjuru rumah. Tapak kaki yang terdengar dari lantai bawah terasa menghantui sebab vokal Ibu begitu lantang dan menakutkan. Aku hampir saja kehilangan manuver tubuh begitu sosok Ibu yang masih terlihat cukup muda muncul dari balik pintu dengan tangan di pinggang. Aku menelan ludah sambil berusaha memakai jaket musim dingin. “Kau—“ “Iya, aku tahu Ibu.” “Tahu apa?” “Kalau aku salah. Kalau aku bukan anak gadis biasa. Mana ada anak gadis sepertimu? Berantakan, tak bisa mengurus diri, tidak tahu waktu, tidur pagi bangun siang, tak punya mimpi, pengangguran, sudahlah Ibu, jika aku terus melakukan impersonasi dirimu di sini, aku tidak akan pernah pergi.” Ibu melirik aku dengan sengit, netra tak memancarkan kebaikan seorang indung yang ramah. “Kau—“ “Aku tahu Ibu. Pergi ke bank, urus akun keluarga dan jangan berpikir untuk mampir di toko  buku. Jika tidak, kau tak akan memberikan aku uang saku lagi dan aku terpaksa melarat dan tidur di jalanan.” “Bagus kalau kau tahu.” Wanita tua itu melenggang pergi meninggalkan aku yang hanya bisa berdecak tak percaya. Memang bukan suatu kejanggalan lagi jika individu berdarah Korea asli tersebut berlaku sangat kejam. Dia mempunyai notoritas di sekitar sini sebagai salah satu Ibu Rumah Tangga yang tak mau kau cari masalah. Aku sebagai anak tak dapat berkomentar apa-apa. Yang ada, aku harus siap menerima setiap cerca karena, yah, seperti yang tadi kalian dengar, bisa jadi aku tidak diurus lagi dan harus tidur di jalanan. Muse Lee memang nama yang menarik, tapi tidak bagi hidupnya. Namaku memang unik, distingtif, dan tidak terdengar tipikal. Tetapi itu hanya karena Ayah yang dulu menyukai seni. Itu saja. Sekarang lelaki tua yang memberikan nama absurd padaku itu saja sudah tak ada. Hanya ada Ibu dan aku. Dan kucing oranye tua dengan tubuh gempal juga suasana hati buruk bernama Daegu. Sandyakala memang masih jauh. Waktu tutup bank di distrik kami juga terlampau lama. Namun Ibu memang tidak bisa sabar. Menurutnya, jika aku datang lebih pagi maka aku akan terhindar dari antrian panjang melelahkan di bank. Bagiku, jika aku datang tidak pagi-pagi begini maka tidak akan ada adegan terlambat serta skenario buruk. Notoritas Ibu terbukti sekali lagi begitu aku sampai di lantai bawah. Tatkala melihat meja makan, Ibu tak membiarkan aku duduk. Dengan iras datar dia menyodorkan roti berisi selai cokelat dan s**u kotak. “Makan ini di jalan.” Bingkai bibir otomatis menjadi surut dan paras berubah suram. Aku pikir problematika hanya akan sampai di sana. Namun ketika penopang tubuh baru beberapa langkah meninggalkan rumah, netra menatap dirgantara yang ikut muram berserta dersik angin yang gemuruh. Aku mengumpat dalam hati. Perjalanan menuju bank terdekat tak begitu rumit. Komplikasi yang aku rasakan hanya perut lapar lantaran satu roti dan kotak s**u tidak mengisi abdomen dengan penuh. Bus distrik kami melaju tanpa beban. Mapo-Gu mengintip dari balik awan kelam dan pagi yang murung. Aku berharap likuid bumi tak akan menyerang sebelum ragaku sudah selamat di dalam rumah. Beberapa orang pekerja sibuk naik-turun bis, mungkin menyambung ke distrik lain. Murid dan mahasiswa juga sibuk bepergian, mengingat Seodaemun adalah rumah bagi tempat edukasi di Korea. Sebut saja Universitas Yonsei. Universitas yang masih menjadi mimpi bagiku. Netra tak dapat membendung untuk melirik pilu ketika bus yang aku tumpangi melewati daerah kampus. Begitu banyak mahasiswa yang mengenakan jaket kebanggaan mereka. Labium tertutup rapat. Seketika buah hati terasa lebih suram dibanding dirgantara saat ini. Pengangguran yang seperti Ibu bilang, aku tidak memilih itu. Saat tahun pertama aku seharusnya menginjak tapak kaki pada jenjang perkuliahan, aku tidak diterima oleh perguruan tinggi yang aku harapkan. Saat tahun kedua, tuisi untuk aku sekolah terpakai sebagai biaya rumah sakit Ayah. Sekarang, aku pengangguran yang sangat putus asa untuk mendapat kerja agar bisa membayar tuisi sekolah. Bel berhenti berbunyi. Atensi menyedihkan itu buyar, seketika berganti menjadi panik sebab stasiun di mana aku seharusnya turun sudah terlewat. Buru-buru aku berteriak berhenti pada pengemudi. Lirikan tajam dari para pekerja Seoul dan mahasiswa Universitas tinggi tak meninggalkan fisik saat aku turun dari dalam bus. Aku mengucapkan terima kasih pada siapa pun yang mendengar. “Selamat pagi.” Sapa salah seorang pekerja di bank. Aku tersenyum ramah, mengembalikan satu itikad baik yang aku dapat pagi ini. Gadis yang tak jauh berbeda umurnya dariku menanyakan maksud kedatangan, yang langsung dia jawab dengan mengisi formulir di bilik dan menunggu giliran antri. Aku mengambil kertas dari balik mesin. 9A. Baiklah, tidak terlalu buruk. Layar kaca di atas menunjukkan angka dan huruf 4A. Bank di distrik Mapo ini terbilang besar. Salah satu cabang bank ternama di Korea Selatan. Aku hari ini ditugaskan mengurus rekening keluarga yang sudah lama tak dicetak dalam pembukuan paspor. Nyatanya, setelah Ayah meninggalkan kami, keadaan ekonomi keluarga memang semakin buruk. Langkah baik sebab hanya ada aku dan Ibu. Kami tak perlu memikirkan satu mulut lagi untuk diberikan makan. 5A. Semakin dekat. Aku mengisi formulir lebih cepat. Tatkala selesai, aku berburu kursi kosong di ruang tunggu. Langit gedung bukan alang kepalang. Dari struktur  bangunan, bank ini terlihat seperti bangunan Romani tua. Interiror dalam semua serba emas. Lampu gantung tinggi bergelimang berlian entah artifisial atau asli bergoyang pelan. Aku termakan ketenangan di tempat duduk. Sampingku seorang nenek tua sedang sibuk dengan ponsel yang sama kolot. Di depanku Bapak separuh baya dengan jas lengkap terkantuk lemas. Tak jauh dariku Ibu dan bayi sedang duduk sambil sibuk tertawa dengan seutas mainan kelinci kecil. Beberapa orang sibuk dilayani pada bilik pelayanan pelanggan. Penjaga bank siaga di setiap bagian. Di belakang, berjejer dari setiap gadis, pria, Ibu dan Bapak setengah baya, seorang pengunjung asing, dan tiga orang mahasiswa dengan jaket Yonsai. Pupil kembali memuai pivot atensi ke depan. Tak ada gunanya merasa dengki dan sirik. Cepat atau lambat, aku juga akan menempuh pendidikan tinggi. Baik itu di Yonsai atau pun bukan. 6A. Waktu yang bergulir membuat aku tak menyadari sekitar. Namun ketika nomor antrian berubah menjadi 7A, aku merasakan rasa dingin mencekam di tengkuk belakang. Labium tertutup rapat sementara kerongkongan menjadi kering. Aku tahu seharusnya aku mengeluarkan vokal, menderu kencang, memberi sinyal penuh arti. Tetapi ketika pelanggan nomor 8A berdiri dari salah satu bilik pelayanan pelanggan yang terisi, aku menjadi beku. Darah tak dapat mengalir dengan sempurna sebab lelaki yang mengenakan masker hitam dan topi menutup setengah bagian wajahnya tersebut berteriak penuh kengerian. “SEMUANYA BERLUTUT!” Teror menggerogoti lara. Seketika satu gedung menjadi turbulensi yang tak dapat terselamatkan. Suara isakan tangis bayi, nenek lanjut usia yang menjerit, seorang Bapak histeris bukan main, gadis-gadis berteriak minta tolong. Aku melirik penjaga bank yang tergeletak tak berdaya. Mendadak lebih banyak orang dengan pakaian similar seperti lelaki tadi berdatangan. Atensi hanya berpaut pada satu hal. Senjata api yang mereka pegang. Sial. Benar-benar sial. Semesta mengutuk aku ketika netra terbuka pagi ini. Aku terkutuk. Sebab saat ini, aku sedang terjebak dalam perampokan bank megah. Siapa di dunia yang bisa memasuki adegan klise seperti itu? Terjebak di tengah perampokan bank? Memangnya ini teve seri yang sedang viral itu? Apa namanya—La Casa de Papel? Itu, teve seri yang menceritakan beberapa kelompok orang masuk dan menyandera seluruh isi bank ternama di Spanyol, lalu diam selama beberapa hari untuk mencetak uang dan kabur. Aku menutup mata, mencoba membuat diri untuk menjadi tenang. Deru ekhalasiku mengudara, memberikan kesan terengah seperti aku baru saja berlari ratusan mil dan  sedikit lagi akan pingsan. Aku coba untuk memikirkan berbagai pikiran senang, seperti bunga lilium, anak kucing, anak anjing, anak kuda, anak kelinci, anak hewan apa pun yang menggemaskan, namun aku tidak bisa mengabaikan bunyi senjata api dikokang, teriakan banyak orang, serta tangisan anak bayi yang memekik lantang. Jantungku mengalami fluktuasi pendek. Aku hampir saja kehilangan kesadaran ketika salah satu dari mereka menyeret seorang wanita untuk menunduk. Aku hampir saja berteriak seperti wanita kesetanan ketika mendengar seorang lelaki dipukul kuat dengan bagian belakang senjata api. Aku hampir saja menangis menjerit ketika melihat seorang nenek dilempar paksa ke sebelahku. Mungkin ini balasan karena aku sering melawan Ibu. Mungkin semua balasan kenapa aku sering tidak mendengarkan dia. Tapi untuk saat ini, aku sangat merindukan omelan tidak berhujung darinya. Aku merindukan kerutan kening serta bibir memberengut darinya. Aku merindukan lekukan di pipi, tangan di pinggang, dan mata terbelalak lebar ketika dia memarahiku. Aku merindukan vokal lantang dan kencang darinya. Untuk saat ini, aku hanya ingin dimarahi habis-habisan olehnya. Dipukul dengan spatula panjang. Atau dilempar remote teve. Aku hanya ingin pulang. Pergi dari sini. Menjauh dari kenyataan bahwa aku terjebak dalam perampokan. Menjauh dari kenyataan kalau aku baru saja terlibat dengan kejahatan kriminal kelas atas. Menjauh dari kemungkinan bahwa aku bisa saja berakhir dengan luka parah, atau lebih buruk lagi, tidak selamat. Aku menggeleng. Tidak. Ini bukan akhir dari segalanya. Mereka akan memerintahkan kami untuk menunduk, diam seribu bahasa, tidak melawan. Kami akan menurut, patuh, dan tidak banyak pertanyaan. Kami akan diam, diam, dan diam. Dan mungkin, mereka akan melepaskan kami tanpa ada goresan sedikit pun. Aku mengangguk. Iya. Ini bukan sesuatu yang sangat buruk. Ini bukan akhir dari dunia. Ini bukan kiamat, Muse. Kau baik-baik saja. Dan aku yakin, setelah mereka berhasil untuk mencuri uang bank, mereka akan pergi. Mereka akan meninggalkan kami di sini, menangis, menjerit, bingung setengah mati atas apa yang sudah terjadi, dan kami akan baik-baik saja. Aku menutup mata lagi. Menutupnya terus. Menolak untuk melihat sekeliling. Menolak untuk melihat kengerian ini. Karena mungkin, mungkin, jika aku terus menutup mata dan mengabaikan kegaduhan yang terjadi di sekitarku, aku akan baik-baik saja. Semua ini akan berakhir saat aku membuka mata.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
40.9K
bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook