PART 2

1871 Words
PART 2   BENAK TERASA HAMPA sebab tak ada yang dapat aku lakukan selain berlutut. Perintah mereka menjadi lebih eksesif. Mendadak kami semua diberikan instruksi untuk menunduk penuh dalam. Aku dan yang lain segera meringkuk penuh hingga napas kami terbentur dengan ubin bank berwarna emas tersebut. Kami semua diperintahkan untuk menutup mata dan terus menunduk hingga tak dapat melihat sekeliling sama sekali. Suara isakan tangis bayi tadi hanya satu-satunya pegangan pada realita saat ini. Semuanya terasa bagaikan mimpi. Bunga tidur yang menjelma menjadi mimpi buruk. Bayi itu tak berhenti terisak kencang, Ibu malang yang menggendongnya hanya bisa merenyuk panik. Manuver wanita tersebut belangsatan, tidak bisa menemukan titik tenang sama sekali. Aku memejamkan mata, mencoba menghalangi setiap teror yang mendekap tubuh. Pria yang tadi berteriak kini berkata dengan suara lantang, “Dengar semuanya! Kalian semua sedang berada dalam perampokan bank.” Itu pun aku bisa tahu. “Jika kalian ingin selamat, maka aku sarankan dengarkan perkataanku dengan baik. Tetap menunduk, dan jangan sampai aku bisa melihat wajah kalian bahkan satu inci pun.” Tidak ada yang menjawab. Entah mereka ingin respon atau tidak, namun tak ada jiwa yang berani membuka vokal dan membalas aba-aba itu. “Sekarang, aku ingin siapa pun yang memiliki wewenang paling tinggi maju ke depan!” Hening. Bahkan jika koin jatuh pun, bunyi akan membahana ke seluruh bangunan. Hanya ada deru napas, helaan panik, dan ocehan para perampok. Vibrasi dari jemariku semakin terlihat. Aku berharap tak ada yang melihat kenyataan tersebut. Pelik utama kali ini adalah bagaimana caranya bisa keluar dalam situasi sekarang. “AKU BILANG SIAPA YANG MEMILIKI WEWENANG PALING TINGGI KELUAR SEKARANG JUGA!” Setiap individu terkesiap. Begitu juga aku. Kami semua tersentak mendengar amarah tersebut. Terdengar dari suaranya, sepertinya masih pria tadi yang berbicara lantang. Terdengar suara langkah kaki yang diseret, dan erangan sakit dari vokal wanita. Dara tersebut berbicara dengan gagap, “A—aku.” “Baik, mari kita lakukan semua ini dengan rapih dan cepat. Bagaimana jika begitu?” Aku duga pertanyaan tersebut retorikal dan ditujukkan untuk individu tadi, namun gadis tersebut mengeluarkan bunyi setuju. “Sekarang,” vokal yang berbeda lagi. “Aku ingin kalian semua berlutut tetap sambil tunduk. Namun, siapa pun yang berada di luar jangkauan ruang tunggu merapat ke dalam.” Serentak kami semua mengikuti kemauan orang tersebut. Aku menghimpit tubuh dengan nenek lanjut usia di sampingku. Orang-orang berdatangan dengan menyeret lutut mereka pada lantai mewah bank ini, netra masih tunduk tak bernyali untuk mengangkat iras bahkan satu inci saja. Aku merasakan hangat tubuh individu lain semakin mendekat, mengunci aku di tengah mereka. Makin banyak yang berdatangan termasuk para karyawan bank yang malang. Terdengar bunyi pintu kunci gembok dibuka, suara kata sandi yang dimasukkan, serta pintu besi besar yang dilepaskan. Aku bisa menebak jika wanita tadi sudah menuntun para perampok ke lemari besi tempat penyimpanan uang. Sanubari seketika memohon agar semua ini cepat berakhir. Jika mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, maka kami semua bisa keluar dengan selamat. Baru saja bias harap yang menyapa dari balik serebrum membuat buah hati sedikit tenteram, nanar kembali menyerang lantaran salah satu dari mereka berteriak dan kegaduhan terjadi. Isak tangis bayi semakin menjadi dan vokal Ibu dari sang bayi merenyuk kami semua dalam histeria tak terbendung. “Aku mohon! Aku minta maaf! Aku tidak sengaja! Aku tidak bisa bergerak seperti itu dengan menggendong bayiku—aku minta maaf—aku—lepaskan aku!” Deriji bergetar semakin hebat. Aku menutup netra dalam-dalam. Alat pendengar mencoba menenggelamkan rintihan memohon sang Ibu agar tidak dipisahkan dengan bayi. Aku mengumpat di dalam hati sebab suara pukulan menggema ke seluruh gedung. Jeritan sakit wanita tadi seperti menusuk d**a. Aku mengepalkan tangan. Bayi tak kunjung berhenti merintih. “Dia melihat kita!” “Bukan salahnya jika kau membuka penutup wajah!” desis suara yang lain. “Dengar, Eight. Jika kau membiarkan wanita ini lepas, maka wajahku akan berakhir di seluruh kertas kabar dan televisi.” “Four,” individu yang dipanggil dengan sebutan Eight mendesis lagi. “Dia hanya seorang Ibu lemah.” “Ibu lemah yang bisa membawa jiwaku ke penjara!” Aku meringis saat suara Ibu itu kembali terdengar. Dia menjerit meminta bayinya yang entah sedang berada di mana saat ini. Perkelahian terjadi, kegaduhan semakin kuat saat kawan yang lain ikut beradu argumentasi. Jika didengar, mereka beraksi dengan nama kode angka. Rintihan sakit dan bunyi tamparan membuat aku kembali tersentak. Nenek renta di sebelahku sudah kehilangan kesadaran. Sadar bahwa tak ada yang akan turun tangan, aku semakin tak bisa tenang. “Four, turunkan senjatamu.” “Four, jangan konyol!” sentak suara yang lain. “Diam, Six!” vokal Four mulai bergetar. “Aku akan melakukan ini dengan bersih.” Setem senjata api dikokang meresonasi, dan aku seperti hilang akal. “Tunggu dulu!” kata-kata itu terlepas dari labium tanpa ada filter. Aku mendongak dengan dua tangan terangkat di udara seperti menyerah. Netra menutup tanpa celah, sehingga aku bahkan tidak tahu jika aku menghadap ke arah yang benar. Para perampok terdiam, tak ada kata-kata yang keluar dari bingkai mulut kecuali seseunggukan yang sesekali keluar dari wanita itu. Aku menelan ludah. “Dengar, wanita itu tidak akan pernah membocorkan wajahmu. Kau tahu mengapa? Karena dia memiliki bayi yang membutuhkan dia. Wanita itu tahu untuk tidak pernah macam-macam denganmu,” aku berharap sedang melihat wanita tersebut. “Benar, bukan?” Beruntung, dia bermain dengan api bersamaku. “Benar!” dia memohon. “Aku berjanji.” Lama, tak ada yang menjawab. Hening itu membakar kalbu. Nuraga pada wanita tadi semakin besar. Tetapi rasa menyesal menggerogoti buah hati. Apa aku melakukan hal yang benar? Apa aku tidak salah? Apa yang benar dan apa yang salah dalam situasi seperti ini? “Siapa kau?” “Aku bukan siapa-siapa.” Kataku pelan. “Lihat, mataku masih tertutup. Aku tidak tahu wajahmu.” Ucapku penuh keyakinan. Dari suara yang terdengar, rasanya mereka cukup jauh dariku, mungkin berada di dekat pelayanan pelanggan. “Lepaskan wanita itu, dia tidak mungkin melaporkanmu. Kau bisa saja kembali lagi dan mengancam hidup bayinya.” Wanita tadi merintih mendengar prospek tersebut, namun Four bergumam. “Benar juga.” “Maka dari itu, aku mohon lepaskan dia.” Four tidak menjawab, namun dari helaan napas wanita tersebut, serta bayi yang mendadak terdiam, aku bisa menebak pria tersebut sudah melepaskan sang Ibu dan bayinya kembali dalam dekapan indung. Aku membasahi bibir penuh teror. Baru saja aku akan kembali pada posisi yang diinginkan oleh mereka, dentuman senjata api terlepas dari balik lemari besi membuat semua individu berteriak dan semakin mencium lantai. Sementara aku, aku menoleh secara refleks, mencari kausa resonasi dentuman tersebut dengan netra yang terbuka lebar. Pupil terbelalak, melihat pintu ke arah lemari besi terbuka lebar. Dan dalam posisi tersebut, kepalaku melirik segerombolan pria berbaju hitam, beberapa mengenakan penutup wajah, sementara beberapa lagi memperlihatkan paras bebas. Aku bahkan belum sempat menyelesaikan kalimat sumpah serapahku ketika salah satu dari mereka sudah menjambak aku maju ke tempat mereka berkumpul. “Stupid!” “Four, calm down!” “Dia sengaja melakukan ini, Six!” “Dia tak sengaja membuka mata!” Eight berteriak. Aku hanya bisa merintih kesakitan sebab kepalan tangannya pada surai hitamku begitu kuat. “Tidak!” dia mendorong aku ke bawah dengan paksa, lalu tanpa aba-aba menjambak suraiku lagi dan menghantam bagian hidung wajahku dengan kepalan raksasa tangan kanannya. Aku bisa merasakan likuid merah mengalir tanpa henti dari dua lubang hidung. Napasku tercekat. Berbagai macam skenario buruk melintas dalam angan. Beberapa orang yang tadi masuk ke dalam lemari besi sudah keluar, samar aku melihat bercak kental berlumuran di tubuh mereka. Tak butuh seorang jenius untuk tahu apa bercak tersebut. Aku pasrah. Membiarkan Four menarik kerah bajuku setelah dia menendang aku pada bagian abdomen. “Mencoba menjadi pahlawan? Menyelamatkan Ibu tadi? Well, guess what, sekarang kau yang butuh diselamatkan.” Pandanganku kabur, tetapi alat pendengar tetap mencapai konversasi di sekitar. “Apa yang terjadi?” tanya suara baru. “Four menjadi gila.” “Siapa gadis ini?” “Dia tak sengaja membuka mata saat tersentak. Apa yang terjadi pada kalian?” “Gadis itu menekan tombol panik di dalam lemari besi. Kita tidak punya banyak waktu.” “Dan kau menembaknya?” “Aku tidak punya pilihan.” Dia mengecap lidah. “Refleks.” Tambahnya lagi. Mereka melukai orang seperti orang lain sampah yang tidak berharga. Sederet sumpah serapah. “Four, kita harus pergi!” “Tidak sebelum aku menghapus bukti wajahku.” Ucapnya sambil tersenyum miring padaku. Dia melepas cekalan tangannya pada kerah pakaian yang aku kenakan, lalu membiarkan aku berdiri menghadap senjata api terarah tepat di tengah kening. “Sorry not sorry. Kau yang melakukan ini pada dirimu sendiri. Jadi, jika nanti ada penyesalan, maka kau salahkan dirimu sendiri, OK?” dia tersenyum sok manis padaku. Aku hampir saja meludah di wajahnya. “Tunggu dulu!” teriak salah seorang yang sedari tadi berbicara tentang apa yang terjadi di dalam lemari besi. Aku segera meliriknya. Bercak darah tersebut mengganggu pikiran. Lelaki itu semakin dekat, menyipitkan mata seperti akan memburuku. Tubuhku otomatis mundur, mencoba menjauhinya. Namun aku tak menyangka jika teror yang akan terukir dari netra lelaki tersebut. Yang lain seketika menjadi waspada, melihat kawan mereka mendadak diselimuti takut ketika melihat aku. Satu per satu dari mereka mencoba melihat wajahku lebih seksama. Mereka memberikan ekspresi yang berbeda-beda. Mulai dari bingung, cemas, was-was, serta kehilangan arah. Aku menatap sekeliling seperti baru saja terjadi sesuatu yang aneh. Apa yang mereka lakukan? Kenapa lelaki itu terlihat takut saat melihatku? Kenapa dia kenal wajahku? “We’re dead.” Dia bergumam pelan. Dingin. Datar. Tidak ada emosi. Yang ada hanya setitik inklinasi jika mereka semua memang sudah mengacaukan suatu hal. “Apa maksudmu?” Four menghardik lelaki tersebut. Dia sudah akan menarik aku lagi sebelum lelaki tadi menahannya kasar. “One, apa yang kau lakukan?” “Apa kau yang memukulnya?” temannya yang dipanggil One mengatupkan rahang. “Apa kau sudah melayangkan tangan kotormu itu pada gadis ini?” “Tentu saja.” Dia memperlihatkan aku seperti aku ini trofi kemenangan. Seperti memukul seorang gadis yang tidak bersalah di tengah perampokan bank adalah sesuatu yang patut dibanggakan. Seperti melakukan semua ini bukanlah sebuah perbuatan kriminal. Aku hampir saja memutar kedua bola mataku. “Kau mati.” Four mencibir. “Aku sudah mati dari dulu. Dari saat aku memilih pekerjaan ini. Dari saat aku memilih untuk menjadi anak buah para berandalan tidak tahu diri itu. Dari saat aku memilih untuk melakukan pekerjaan kotor mereka. Aku ini sudah mati. Jadi, apa yang bisa lebih parah dari itu semua?” “Oh, percayalah.” Temannya menggeleng lesu. Dia berdecak lagi, membasahi bibir, lalu tertawa tipis tanpa rasa humor. “Kau akan lebih mati dari sebelumnya. Kali ini kau akan mati, mati, dan mati. Dan saat kau mati pun, kau tetap akan tersiksa. Karena, apa yang kau lakukan, dia akan tetap mengejarmu hingga ke alam baka.” “Maksudmu?” Temannya itu maju beberapa langkah, mendekat ke arah Four. Wajah mereka begitu dekat setipis kertas. Deru napas saling bertabrakan. Aku menelan ludah, menunggu dengan bingung serta teror menyerang seluruh tubuh. Temannya membuka mulut, dan vokal yang keluar dari bibirnya begitu dingin serta menakutkan. “She’s Muse Lee. She is on Scorpion’s No Harm List.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD