PART 3

1393 Words
PART 3   SEMUA TERESKALASI sangat cepat. Awalnya aku melihat teror menyelimuti mereka. Gerakan menjadi limit, napas tak beraturan, aku melihat deriji yang terbungkus kain hitam milik Four mengeluarkan vibrasi hebat. Satu per satu dari mereka mulai bergetar. k********r terlepas dari bingkai mulut dan rasa gelisah terpancarkan. Satu per satu dari mereka saling mondar-mandir, mengikuti irama jantung yang tidak bisa berhenti berdegup kencang. Jika aku bisa melihat wajah mereka, mungkin mereka semua akan terlihat merah saat ini. Merah karena takut, panik, serta marah. Marah. Itulah yang dirasakan individu yang masih memegangku. Dia mengumpat terus-menerus. Sederet sumpah serapah yang bahkan aku tak pernah dengar keluar dari bibir kasarnya. Aku hanya bisa diam. Mematung tidak bergerak sama sekali. Kepalaku menunduk, bersembunyi dari tatapan penuh sangsi yang diberikan oleh para perampok. Apa lagi salahku? Jika memang sesuatu terjadi akibat Four yang sudah menarik dan memukul aku, seharusnya dia yang mereka berikan tatapan benci, bukan? “Apa kau yakin?” tanya Four. “Tentu saja,” lelaki yang disebut One menggeleng. “Aku sangat yakin.” Dia membuang napas berat. “Aku selalu melihat daftar jangan dilukai milik mereka setiap kali kita diberikan tugas. Karena, tebak apa? Aku tidak ingin cari mati. Aku melakukan ini semua untuk menghindari maut. Untuk bebas dari kemiskinan. Bebas dari jalanan. Bebas dari kesusahan mencari uang. Aku melakukan ini karena mereka sudah mau menampungku. Dan aku tahu, jika aku membuat kesalahan maka aku akan tamat.” Four mengacak surai penuh gundah. Yang lain mengikuti gerakan itu. Masing-masing senjata api masih mengancam kami semua. Lalu Eight maju, mendekati aku dengan waspada. Dia mengantongi senjata api miliknya, mengangkat dua tangan seperti menyerah dan berkata pelan, “Siapa namamu?” “Untuk apa kau tahu?” suaraku lemah. Penuh takut dan ragu. Aku merasakan kerongkongan kering seperti dehidrasi. “Hanya ingin memastikan.” “Muse. Muse Kim.” Entah bagaimana bisa namun aku dapat merasakan wajah mereka memutih dan pucat pasi dari balik penutup muka. Aku mengernyitkan dahi, tak dapat menahan rasa bingung dibalik pancaran takut. Buah hati ingin melontarkan pertanyaan sebab situasi sekarang tidak dapat diberiakn eksplanasi jelas. Mengapa mereka yang takut padaku? Bukankah aku sandera? Bukankah mereka yang di atas angin? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa mereka butuh kepastian siapa diriku? Mengapa mendengar identitas dariku begitu menakutkan? “Jika Scorpion tahu, kalian harus berharap kematian datang lebih cepat dibandingkan itu.” Ujar salah satu pria yang paling jauh dariku. Setelah aku menerka, kurang lebih ada sepuluh orang yang sedang melakukan aksi kriminal ini. Masing-masing dari mereka menggunakan nama kode angka. Lalu siapa Scorpion? “Yang jelas, kita tidak memiliki banyak waktu. Sekarang, aku ingin kita cepat pergi dari sini.” “One, apa kau gila?” Four menyentak bahu temannya. “Gadis ini sudah mengenali wajahku!” “Gadis ini ada di dalam daftar NO HARM milik Scorpion. Kau tahu itu artinya apa? Kita tidak boleh menyakitinya! Dia pengecualian. Gadis ini imun terhadap setiap celaka. Jika ada sesuatu yang terjadi padanya, Scorpion akan memburumu hingga ke ujung neraka.” Four menyumpah lantang. Beberapa dari korban yang masih mencium lantai meringis. Aku ingin bertanya tetapi libium tak dapat membentuk frasa. “Tidak.” Four menggeleng. Lalu tanpa aba-aba, dia menarik aku pada kerah baju lagi dan menyeretku. “Dia ikut dengan kita.” “Four!” “Diam, Six!” Four membentak yang lain, senjata api melayang ke udara. “Dia adalah saksi. Dan saksi tidak bisa dibiarkan.” “Dengarkan aku, Four.” One mendesis pelan. “Kau takut dia membeberkan wajahmu pada polisi? Kau takut jika tertangkap? Kau takut masuk penjara?” One mencengkeram lehernya dengan intensitas tinggi. “Aku beritahu sekarang dan jangan bilang aku belum memperingatkanmu. Lebih baik kau membusuk di penjara dibandingkan apa yang Scorpion akan lakukan padamu ketika dia tahu kau sudah melukai gadis ini.” Four terdiam lama. Tubuhnya menjadi stagnan. Aku berdoa agar apa pun yang One katakan kapabel untuk memberikan ilham pada Four. Namun yang aku rasakan hanya fisik yang ditarik kasar. Mungkin siapa pun Scorpion sudah tidak menjadi malapetaka bagi Four. Mungkin Scorpion ini tidak lagi membuat Four takut. Mungkin, Four sudah sangat putus asa. Apa pun akan dia lakukan asalkan tidak berakhir di dalam penjara. Mungkin dia tidak lagi bisa berpikir jernih, otaknya ditutupi rasa panik, dikelabui oleh rasa takut, dan diracuni oleh kebodohan diri sendiri. “Aku akan mengambil resiko itu.” Dan mendadak semuanya menjadi gelap. Takjub memang tatkala kegelapan mengambil alih benak, tak ada yang dapat kau lakukan. Seketika segalanya kosong. Dan sebelum kau bisa menafsirkan premis tentang apa yang baru saja terjadi padamu, mendadak kau sudah terbangun, netra terbuka lebar, dan bias cahaya ruangan membutakan pupil. Aku meringis merasakan sakit di sekujur tubuh, terutama di bagian belakang kepala. Kerongkongan kering, begitu juga bingkai mulut. Aku menatap sekeliling. Ruangan kosong ini lembab, tak berpenghuni. Pintu besi yang sudah karatan tertutup, mengunci aku dari dunia luar. Butuh waktu beberapa sekon bagiku untuk menyadari bahwa aku sedang terikat di sebuah kursi kayu, tangan di belakang dan kaki menyentuh setiap penopang kursi. Panik mengambil alih. Napasku menjadi tak beraturan. Ingin rasanya aku berteriak namun vokal seperti sudah bersembunyi dibalik pita suara, menolak untuk keluar. Tahu-tahu bunyi kunci diputar terdengar. Aku menyiapkan diri akan apa yang menyambutku dari balik partisi tersebut. Seseorang dengan pakaian masih serba hitam masuk, ditemani oleh dua orang dengan pakaian similar. Aku bisa menebak mereka oknum perampokan bank tadi. Orang-orang yang sudah membawaku ke sini. Individu yang masuk lebih dulu aku kenali sebagai Four. “Apa kau sudah sadar?” tanya pria itu dengan alis terangkat. Aku tak menjawab, sebagian karena takut, sebagian lagi karena memang vokal tak bisa berfungsi baik. “Baiklah jika kau memilih bisu.” “Four, ini bukan ide yang baik.” Aku mendengar suara familiar. Eight. “Bisakah kau diam?” “Four,” kali ini aku mengenali vokal dari orang yang disebut One. “Kau bermain dengan api. Dan kau membakar kita semua.” “Tak apa jika kau bisa memiliki kontrol yang baik.” “Api merambat, Four. Cepat atau lambat kau akan kehilangan kendali.” Ujar One tegas. “Kau pikir Scorpion tidak akan menemukan dia di bawah sini?” “Tidak jika asap api tidak mencapai ke atas.” Four mengedikkan bahu tak acuh. “Lagi pula, Scorpion tidak pernah ke bawah sini.” “Aku tidak ikut campur.” Eight angkat tangan. “Kau bersihkan ini sendiri.” “Pengecut.” Four mencibir dengki. Eight mendadak naik pitam dan mendorong Four keras. “Aku bukan pengecut. Aku rasional. Penyintas. Kau pikir kau bisa lepas dari Scorpion? Dia Scorpion, Four. Kau bawahannya. Dia atasanmu. Dia bagian dari Les Brute Bronzes. Kau pikir kau bisa mempermainkan dia?” Eight mencibir, mengikuti perbuatan Four seperti mencemooh. “Kau bisa bermimpi jika itu membuatmu puas, namun jangan kembali dan menghantui kami ketika nyawamu sudah tak lagi menyatu dengan raga.” “Persetan denganmu, Eight!” bentak Four kencang ketika kawannya itu melangkah pergi. Tetapi dia tak benar-benar pergi. Tubuhnya terdiam di ambang pintu, membeku seperti tersihir di tempat. Seketika segalanya menjadi hening. Aku menelan ludah, mencoba menerka apa yang sedang terjadi. Eight membuang napas panjang, tercekat. Tubuhnya secara perlahan menyingkir dari depan pintu, dengan langkah pelan dan kaki yang gemetar. Four dan One hanya sanggup menatap sosok di ambang pintu dengan teror di tubuh mereka. Mereka berdua menyingkir dari depan pintu, manuver tubuhnya gagap dan robotik. Aku melihat bahu mereka menegang bukan main. Deru napas hampir tidak terdengar. Satu per satu dari mereka saling menelan ludah, adam apelnya naik turun tidak beraturan. Eight menyembunyikan dua tangan di belakang punggung, tidak memperlihatkan jemarinya yang bergetar hebat. One hanya bisa menunduk, menghindari tatapan mata siapa pun yang berada di ambang pintu. Sementara Four. Four terlihat sudah di ambang kematian. Aku menyipitkan mata, mencoba menaksirkan siapa individu di depan pintu yang membuat tiga orang perampok ini ngeri setengah mati. Yang pertama aku tangkap adalah ekspresi membunuh di wajah orang tersebut. Tangan dimasukkan ke dalam kantung, namun aku bisa melihat kepalan besar dibaliknya. Aku melihat tubuh proporsional dengan pakaian serba hitam, baju tangan panjang dan kerah menutupi leher. Aku melihat surai hitam yang tersibak ke atas, memperlihatkan kening halus dibalik bias lampu ruangan. Aku melihat netra itu. Iris netra yang mengisi hariku selama beberapa tahun. Aku melihat nayanika dibalik tatapan membunuh. Aku melihatnya. Lelaki itu. Dia yang menghantuiku hatiku hingga saat ini. “Angelo?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD