PART 4

1621 Words
PART 4   ANGELO BRONZE suatu saat pernah menjadi fragmen hari demi hari masa sekolah yang sulit aku tafsirkan premis. Entah masa itu masuk dalam kategori bahagia atau menyedihkan. Harsa atau miris. Indah atau kelam. Yang jelas, memoar tersebut selalu melekat di dalam hati tanpa ada tanda hilang dalam waktu dekat. Bagaimana bisa?  Kenangan itu baru terjadi beberapa tahun yang lalu. Tidak basah, namun sudah jelas residu dari hal tersebut masih membekas laiknya sisa likuid bumi di pohon – pohon bentala. Aku tidak kapabel melakukan manuver apa pun, sebagian sebab terlalu terkesiap untuk mencerna premis, sebagian lagi sebab yah, aku terikat mati di kursi ini. Sosok itu tidak mengkhianati titel “Wajah Datar Sedunia” yang dia miliki dulu. Laki – laki yang berdiri tegak dan masif tersebut hanya melayangkan korteks visual pada anak buahnya satu per satu, melirik Four lebih lama dari yang dia harapkan. Napasku tercfekat tatkala dua penopang tubuhnya melangkah maju, akhirnya melewati partisi antara ruangan luar dan ruang bawah tanah ini. Presensinya memakan seluruh atmosfer ruangan dalam satu hentakan kaki. Seketika suhu menjadi turun di bawah rata – rata, mengirim rasa dingin yang menyentuh setiap insan. Es beku bahkan menjalar di darahku, mengalir dingin di arteri dan menambah tubuh menjadi lebih frigid. Eksistensi Angelo di ruangan ini seharusnya sudah cukup menjadi jawaban. Tapi, benak tidak menerima itu. Buah hati yang terasa seperti diremas oleh jemari invisibel mengeluarkan penyangkalan yang sejujurnya tidak rasional. Mungkin dia di sini untuk menyelematkan aku? Mungkin dia petugas yang berwajib? Mungkin dia juga salah satu visitor bank dan saat ini sedang disandera? Alasan terakhir membuat aku meringis di dalam hati. Fakta bahwa tiga orang laki – laki besar yang kewalahan dengan presensi dia sudah sangat jelas kalau Angelo tidak berada di bawah angin, melainkan jauh di atas melambung penuh otoritas. Sejemang, segalanya hening. Tapi tatkal visualnya jatuh padaku yang masih terikat dan duduk pasrah, ketenangan itu mencekam dan berlater menjadi teror. Teror yang menjelma menjadi Angelo Bronze. “Apa yang sedang terjadi?” Vokal itu. Berat dan serak. Merdu, dan ada residu keras di dalamnya. Inkuiri itu seharusnya terdengar simpel dan inosen, namun terlepas dari labium Angelo, inkuiri tidak bersalah itu berubah menjadi ancaman dan kematian. Eight tergagap. “D—dia—“ pria itu memandang aku. Lalu dia membuang napas. “Angelo, dengar—“ “Aku tidak ingin dengar,” Angelo mengatupkan rahang sembari mengobservasi aku dari atas kaki hingga ke ujung kepala. Amarah yang murni melesat dibalik netra yang menyalang kejam. “Apa yang terjadi?” “Saat misi tadi di bank—“ Eight menyumpah rendah. Dia melirik temannya yang sudah diambang kematian. Four menunduk dan mengatupkan rahang, dua tangan terkepal di sisi tubuh. Mungkin Eight sedang berpikir keras. Mengkhianati teman atau membunuh diri sendiri? Sejemang, pria itu hanya sanggup menatap lirih kompanyon tersebut, namun sedetik kemudian dia mengedikkan bahu. “Kami sudah mencoba memberitahu Four kalau gadis ini off-limits. Tapi dia tidak mendengar. Dia tidak sengaja melihat kami di bank. Dan Four merasa kalau dia harus dihabisi agar wajahnya tidak berakhir dalam daftar buronan.” Kami semua memfilter eksplanasi itu dalam – dalam, dan Four hanya bisa membiarkan dua netranya membulat sublim di bawah tatapan Angelo. “Kau—“ Four termegap. “Jangan percaya—“ “Bawa dia ke Ruangan Hitam.” Four meretaliasi ketika Eight dan satu orang lagi menarik lengannya. Pria itu mencoba mengelak, namun gagal. Usahanya nihil di depan figur Angelo. “Dengar, dengarkan aku! Angelo—aku sudah melakukan segalanya bagimu. Dan kau akan membiarkan ini terjadi padaku? Mana loyalitas yang sering kalian bicarakan itu? Mana persaudaraan yang kau elu – elukan? Lepaskan aku—“ Four berusaha melepas dua orang yang menyeretnya. “Angelo! Angelo dengar—Sial, lepaskan aku! Angelo, kau rela membunuh anak buahmu sendiri demi gadis tidak penting ini?” Sesuatu pecah di dalam figur tenang Angelo. Kali ini, dia menarik pelatuk di dalam benaknya dan membiarkan kematian itu menghampiri permukaan. Angelo bergerak sangat cepat. Satu sekon dia berdiri temaram, sekon kemudian dia memburu ke arah Four dan menahan dagunya. Aku menatap dengan histerik saat kepalan tangan Angelo masuk ke dalam labium Four, dan menyentak keluar menggunakan kekuatan brutal. Seluruh ragaku terperanjat. Darah mengalir dari dalam labium Four, di jemari Angelo, di lantai. Eight dan satu orang temannya hanya kapabel menghembuskan napas yang berat. Angelo baru saja mencabut gigi Four dengan paksa. Dan tidak hanya satu. “Dengar, Four.” Angelo mengucap namanya dengan jijik. “Gadis tidak penting ini adalah satu – satunya alasan kenapa aku tidak mati berdiri sekarang. Nyawamu masih tersimpan untuk beberapa jam ke depan, dan jika kau pintar, kau akan diam dan menikmati sisa hidupmu di dunia.” Four tidak bisa membalas. Tidak sebab dia sibuk tercekik kesakitan dan dilumuri darah. Aku terisak. Angelo menegang. Dia menelengkan kepala ke arah luar. “Enyahkan dia dari sini.” Mereka membawa tubuh lemas itu keluar dari ruangan tempat aku berada. Suara langkah kaki menderap dan tubuh yang diseret meresonasi dari luar. Aku menelan saliva, sangat sadar bahwa hanya ada kita berdua di dalam ruangan ini. Angelo membalikkan tubuh secara perlahan, dua bahunya masih tegang seperti akan menantang maut satu sekon lagi. Pandangannya kembali teralih pada luka yang membekas di wajahku, dan ikatan mati di seluruh tubuh. Angelo mendekat, dan secara refleks aku tersentak mencoba menjauh. Laki – laki itu terhenti seperti baru saja disambar petir. “A—aku—“ Angelo tergagap. “Kau pikir aku akan melukaimu?” Bagaimana tidak? Memori kita memang manis, kenangan itu memang indah, tapi akhir kita adalah sebuah katastrofe. Dan dia secara harafiah baru saja mencabut gigi orang dengan tangan kosong. Aku menatap jemari yang dilumuri darah itu. Jemari yang sering mengusap kening aku, atau mengelus surai dengan lembut. Jemari sama yang digunakan untuk melempar bola basket, dan memasukkan angka untuk aku. Jemari sama yang digunakan untuk menekan tuts piano dan menulis lirik. Angelo menyadari itu dan dengan percobaan yang menyedihkan, dia mengelap darah di celana yang dia gunakan. Itu hanya membuat aku semakin mual. “Muse—“ “Jangan. Sebut. Namaku.” Aku tidak bermaksud kasar, tapi aku memang ingin menamparnya keras saat ini. Angelo mengatupkan rahang. “Dengar—“ “Keluarkan aku dari sini.” Dia berdecak. “Aku—“ Angelo terdiam sebelum berkontinyu, “—aku tidak bisa melakukan itu.” Kepalaku seketika mendongak dan mencari obsidian familiar yang mengisi masa remaja-ku dengan berbagai macam rasa. Angelo tersentak ketika iris netra kami bertabrakan, tapi aku mengucinya. Menahan laki – laki ini agar tidak kabur. Lagi. “Dengar—aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Apa hubungan mereka denganmu, atau apa pun itu. Aku berjanji tidak akan pernah membeberkan ini pada siapa pun. Kau tahu itu, ‘kan? Kau tahu aku orang yang sangat mahir menjaga rahasia. Kau tahu itu.” Aku menekan nada bicara di frasa terakhir. “Jadi, lepaskan aku sekarang dan semua ini akan berakhir.” Angelo terlihat berpikir dan bergelut di dalam benak sebelum menggeleng. “Aku juga tahu kau impulsif, bodoh, dan tidak memikirkan diri sendiri dibandingkan orang lain.” “Itu tidak benar,” aku menyipitkan netra. “Oh, ya?” Angelo melipat dua tangan di depan d**a. “Lalu bagaimana bisa kau berakhir di sini? Biar aku tebak, kau pasti mencoba membantu orang lain dan berakhir menjadi target mereka, ‘kan?” “Siapa mereka?” aku membalas sengit. “Anak buahmu?” Angelo terdiam. “Scorpion?” Laki – laki itu meringis. Dia meringis. Dan itu saja sudah cukup menjadi jawaban bagiku. Pria ini—pria yang menghabiskan waktunya untuk mencuri waktu di ruang musik, pria yang menyeret piano tua di ujung jalan untuk dibawa pulang, pria yang membuat lirik lagu untuk aku—adalah Scorpion. Orang yang ditakuti setengah mati oleh perampok tadi. “Kau ketuanya?” “Aku—“ “Mereka melukai seorang Ibu dengan anak bayinya,” aku mendesis. “Mereka melempar Nenek tua dengan kasar. Nenek tua! Orang yang bahkan jalan pun sudah tak kuat—“ “Aku sudah menyuruh mereka untuk tidak menyentuh Ibu dan anak kecil dan lansia—“ “Well, they did not hear you!” “Dan aku akan membuat mereka membayar itu.” Angelo berjanji keras. “Dengan apa? Mencabut gigi mereka satu per satu?” “Orang itu mennghinamu, Muse.” Angelo menggeleng. “Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang akan berjalan bebas setelah m*****i nama-mu di bibir mereka.” Aku seharusnya merasa ngeri, ‘kan? Tapi hati-ku berdegup kencang seperti baru saja melakukan eksersi yang berat. “Jika kau pikir itu membuat aku merasa terima kasih, tidak.” Aku menuai kata palsu. Angelo hanya mengedikkan bahu. “Aku tidak meminta apresiasi.” “Kau sakit.” “Kau sakit,” Angelo berseru. Dia berkontinyu menghampiri aku dan secara perlahan membuka tali yang merekat di tubuh. “Apa mereka melukaimu . . . di lain?” “Tidak.” Terlintas di benak untuk berbohong dan melihat apa yang akan dia lakukan, namun aku hanya ingin pergi. Begitu tali lepas, aku mencoba untuk berdiri. Tapi saat dua penopang tubuh berpijak di bentala, aku terhuyung payah kewalahan. Angelo segera menahan tubuhku agar tidak tersungkur menyedihkan. “I got you,” Angelo berbisik. Proksimasi tubuh kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan hangat tubuhnya. “I always got you.” “Is that why?” aku menaikkan alis. “Kenapa kau menghilang?” Angelo menarik napas keras. “Aku tidak akan meninggalkanmu.” “Menghilang itu secara teknis meninggalkan aku,” jawabku dengan kekosongan di dalam hati. “Muse—“ “Kenapa, Angie?” aku bertanya lirih. “Kenapa kau pergi begitu saja dari hidupku?”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD