PART 5
“Kenapa kau pergi begitu saja dari hidupku?”
Sungguh, banyak hal yang ingin aku lontarkan, inkuiri yang rasanya akan meledak di dalam buah hati jika tidak segera dikeluarkan, beragam varietas k********r yang sekarat untuk diludahkan pada laki – laki yang sedang membopong tubuhku saat ini, tapi semua itu tertelah rasa letih dan sedih.
Aku hanya ingin pulang. Pulang dan tidak pernah kembali. Jika pagi ini seseorang akan memberitahu aku kalau di akhir hari aku akan bertemu lagi dengan malapetaka bernama Angelo Bronze, aku akan tertawa. Tidak mungkin. Laki – laki itu sudah pergi ditelan angin. Dia sudah meninggalkan aku sendiri, bertahun – tahun lalu, dan tanpa ada kabar sama sekali.
Dia menghilang dibalik kumpulan kolosal abu.
Dia dan wajah tampannya, obsidian cokelat yang sendu, dan jemari indah itu.
Tidak sulit bagiku untuk menengadah dan melirik sekeliling. Begitu Angelo menarik tubuhku ke dalam dekapannya—sebab aku nyaris terhuyung payah dan tidak kuat berjalan—dia segera membawa aku pergi dari ruang bawah tanah sialan itu.
Kami berdua menelusuri lorong, melewati beberapa pintu sebelum akhirnya naik ke atas melewati tangga kayu yang berderit. Begitu kami sampai di atas, aku langsung melihat panorama rumah modern dengan desain minimalis yang serba hitam. Sangat Angelo.
Permukaan yang mengkilat dan rata – rata terbuat dari marbel cukup mengatakan kalau dia lebih dari berada. Lampu kandelir besar di tengah ruangan, jendela kristal yang masif, lukisan – lukisan mahal. Sebelum aku bisa menelusuri lebih banyak, Angelo sudah membawa aku naik tangga lagi, kali ini tangganya besar dan sublim, melingkar dan meliuk – liuk ke atas bak tangga istana yang megah.
Ruangan di atas terdiri dari beberapa pintu—yang aku tebak adalah kamar – kamar. Terdapat ruangan famili lagi, ruang olahraga yang terlihat sebab di partisi dengan kaca besar saja, lalu balkoni besar dengan sofa yang nyaman.
Angelo memutar dan menaiki tangga lagi. Tiga lantai.
Begitu kami sampai, Angelo segera berjalan—ruangan di atas ini similar dengan lantai dua tadi. Dia menelusuri koridor yang temaram, lampu – lampu kecil menerangi lorong. Kami menyeberangi koridor rumah yang dibatasi dengan kaca lebar, dan aku melihat panorama pegunungan dan tebing yang membuat napasku tercekat.
Indah. Magnifisen.
Tapi itu artinya . . .
“Kita di mana?” tanyaku otomatis, merasakan kerongkongan kering.
“Tempatku.” Angelo hanya menjawab singkat sembari terus berjalan.
“Dan tempatmu ini apa punya nama? Kota? Alamat?” aku mendengkus dan terus menatap ke luar. Kaca besar itu akhirnya menghilang dari visual dan terganti oleh partisi tebal. Lorong semakin gelap, dan Angelo berbelok ke arah kanan.
“Kau tidak perlu tahu.”
“Tentu saja aku perlu tahu—“
“Aku sedang tidak ingin adu argumen, Muse.”
“Sudah aku bilang jangan sebut namaku,” ketusku tak suka. Aku mengatupkan rahang, berusaha agar tidak mengeluarkan kata – k********r yang tertanam di benak.
Angelo membuang napas berat. “Lantas? Lebih memilih aku panggil puteri? Sayang? Cinta?”
“Tidak perlu memanggil namaku,” jawabku. “Itu lebih baik.”
“Kau tahu itu tidak bisa.”
“Kenapa tidak?” aku mendongak ke atas, menatap dagu runcing di wajahnya dan epidermis yang putih. “Kau tidak memanggil aku selama bertahun – tahun.”
Pegangan Angelo di tubuhku mengeras. Hanya itu satu indikasi kalau dia mendengar apa yang aku katakan. Laki – laki itu tidak menjawab, melainkan berkontiyu menuju tempat yang aku tidak tahu. Begitu kami sampai di ujung lorong, sebuah pintu masif menjulang tinggi sudah menunggu. Angelo membuka pintu dengan mudah, menggunakan sikut dan tubuhnya yang besar. Aku mengerjapkan mata melihat kamar tidur yang rapih dan minimalis.
Sungguh minimalis.
Hanya ada satu tempat tidur raksasa yang sangat besar, menggunakan seprai serba hitam hingga selimut dan bantalnya. Di satu sisi, jendela kristal yang tinggi ditutup oleh tirai masif berwarna gelap pekat. Ada sebuah meja oak di ujung ruangan, bersama dengan gawai dan kertas – kertas yang tertata rapih. Di satu sisi terdapat dua pintu yang mengarah ke tempat tidur.
Itu saja.
Tidak ada duvet di samping kasur, gantungan, lukisan, foto, atau apa pun. Tidak ada teve, rak buku, ada segala macam hal yang memperlihatkan ada presensi orang di dalam kamar ini. Kalau ada manusia yang menggunakan kamar ini selain hanya tidur.
Tak lama Angelo membawa aku ke arah kasur dan meletakkan aku dengan posisi duduk di atasnya.
“Aku akan mencari baju ganti untukmu,” ujarnya.
Aku segera menahan lengan laki – laki itu. Begitu kami bersentuhan, sengatan listrik bervoltase tinggi yang sudah lama tidak aku rasakan kembali menghantui sanubari. Segera aku lepas seperti baru saja memegang hal yang dilarang. “Untuk apa ganti baju?”
“Kau ingin tidur dengan pakaian begitu?” tanya Angelo. Dia melirik aku yang masih menggunakan pakaian tadi pagi. Tapi baju yang sudah dilipat dan disetrika rapih oleh Ibu kini sudah kusut dan kotor, dan aku melihat bolong di bagian lengan yang mungkin ada sebab aku sempat melawan mereka tadi.
Aku merenyuk. “Aku tidak perlu tidur. Di sini. Aku ingin pulang.”
“Muse—“ Angelo menggeleng. “Dengar, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kau sudah melihat terlalu banyak.”
“Salah siapa itu?” tanyaku sengit. Angelo menarik napas lagi, gaya khas yang aku tahu jika dia sedang menahan frustasi atau rasa jengkel.
“Aku akan memperingatkan anak buahku—“
“Termasuk Four?”
“Terutama Four.” Angelo menatap aku tajam. “Kau atau bukan, mereka sudah salah membawa orang ke sini. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa se-bodoh itu. Dan mereka akan menerima ganjaran karena sudah melukai-mu.”
“Lantas kenapa aku masih di sini?”
“Kau tahu jawabannya,” Angelo menaikkan satu alis. “Seperti yang aku katakan, kau sudah melihat terlalu banyak.”
“Aku tidak akan mengatakan ini ada siapa – siapa,” pintaku pasrah. Aku memohon dengan dua tangan di depan laki – laki yang sudah merusak hatiku menjadi kepingan – kepingan menyedihkan.
Angelo berdecak. “Beri aku waktu untuk berpikir.”
“Apa lagi yang perlu dipikirkan?”
“Banyak, Muse.” Angelo memalingkan wajah. “Keputusan bukan hanya ditanganku.”
“Angie, apa kau akan menyekap aku di sini?” tanyaku lirih. Aku memang mengenalnya, aku tahu apa yang kapabel dia lakukan. Aku tahu Angelo orang seperti apa, apa yang dia sukai, apa yang dia benci. Aku tahu, sial, aku tahu dia tidak akan pernah menyakiti aku walau pun dia sudah melakukan hal itu secara tidak langsung. Tapi aku juga orang yang waras. Ini namanya disekap. Oleh Angelo atau bukan, aku tidak sudi ditahan seperti ini.
Seperti tahu apa yang aku pikirkan, Angelo berlutut di hadapanku, dua tangannya terulur ke ujung kasur dan mengunci aku di dalamnya. “Muse, you know me. Kau tahu aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu. Aku bukan menyekapmu di sini, aku hanya butuh waktu. Untuk sementera, kau harus tinggal di sini.”
Aku tertawa.
“Muse,” Angelo mendesah. “Aku mohon pengertiannya.”
“Pengertian?” aku berseru. “Untuk sementara, kau harus tinggal di sini . . . Apa kau mendengar dirimu sendiri? Kau dengar seberapa salahnya kata – kata itu? Kau sudah gila?”
“Aku tidak akan memperlakukanmu seperti tahanan—“
“Maka aku boleh pergi!” Aku mencoba untuk berdiri namun dua tangan tadi segera bertemu dengan bahuku dan mendorong aku terduduk lagi. Dengan kekuatan mudah.
“Jika aku biarkan kau pergi, maka segalanya akan lebih rumit. Aku melakukan ini untuk kebaikan-mu sendiri.”
“Angie, aku tidak ingin tinggal di sini!” Aku mendesis. “Bagaimana dengan Ibu? Apa yang akan dia pikirkan? Dia pasti menunggu aku, cemas setengah mati! Dia mengharapkan aku kembali sebelum sore.”
Angelo menelan ludah. “Kita akan pikirkan tentang itu.”
“Bagaimana jika aku melepas aku hingga kita tidak perlu memikirkan itu?”
“Muse, kau tahu jawabanku.”
“Ibu sendirian!” Aku berteriak. Angelo meiringis. Aku menggeleng dan mencoba kabur lagi, kali ini dengan mendorong tubuh bersarnya. Aku tidak bisa lari sejauh yang aku harapkan. Belum juga aku beberapa langkah dari kasur, dengan proksimasi pintu kamar yang terpantau lebar, dua tangan Angelo sudah melingkar di pinggang aku dan menarik aku ke belakang, terperangkap lagi di dalam dekapannya. Aku terkesiap. “Angelo!”
“I’m sorry, Muse.” Angelo berbisik di atas pucuk kepalaku. “Aku minta maaf.”
“Lepaskan!”
“Kau tahu jawabannya,” dia berbisik lirih.
Aku berhenti melawan. “Apa yang terjadi padamu, Angie?”
Dia membeku, namun dua tangannya masih melingkar sublim di pinggang. “Everything.”
“Kenapa kau menghilang?”
Angelo tidak menjawab.
“Kenapa kau pergi?”
“Muse, aku tidak bisa menjelaskan segalanya sekarang.” Angelo memutar tubuhku hingga kami saling terhempas. Satu tangannya menyibak surai yang terjatuh di depan wajahku ke belakang. “Aku janji segalanya akan masuk akal pada waktunya.”
“Angie,” aku menatanya lirih. Suaraku serak dan pasrah. “Lepaskan aku, aku mohon.”
Angelo menutup netranya keras. Dia menggeleng, menggeleng, dan menggeleng. “Sorry, baby. Aku tidak bisa.”
Dia melepas tangannya dan menderap ke arah pintu dengan cepat. Aku berusaha lari dan mengejarnya, namun laki – laki itu sudah lebih dulu menutup pintu keras. Suara kunci yang diputar, dan klik meresonasi di dalam kamar.
Darahku mendesir.
Tanpa berpikir panjang, aku meraih vas kecil di meja kerja berisi entah apa dan berniat untuk melemparnya ke pintu, tetapi seluruh tubuhku membeku. Kaktus hijau yang sudah lebih besar dari terakhir aku mengingatnya berdiri tegak di dalam vas putih itu.
“Apa ini?” tanya Angelo.
“Kaktus.”
“Aku bisa melihat itu,” dia mendengkus dan menginspeksi tanaman tersebut. “Untuk apa?”
“Hadiah dariku,” jawabku singkat.
“Dan kau memberikan kaktus?” Angelo menaikkan satu alis.
“Cocok, ‘kan?” aku tersenyum miring. “Datar, hambar, keras, dan tajam. Seperti kamu.”
Aku menangis. Kuremas vas bunga kecil itu dan meletakkannya kembali di meja kerja. Angelo Bronze. Kau datang laiknya badai di tengah samudera tenang, samudera yang sudah kau tinggalkan di tengah bumi.
Kau kembali lagi dan menghancurkan hidupku.