PART 6

2035 Words
PART 6 “ANGIE!” aku berteriak keras, tidak memedulikan banyak pasang mata yang menoleh sebab kekuatan vokal aku yang sedang di ujung kekerasan. Aku melotot ke arah laki – laki yang sedang duduk di bawah pohon rindah sekolah, mengenakan head – set besar di dua telinga, buku catatan di pangkuan, dan cincin khas-nya mengkilat di bawah pantulan sinar ultraviolet. Kenapa dia harus terlihat tampan dengan usaha yang minimum? Angelo tentu saja tidak menoleh, tidak seperti murid – murid ingin tahu di sekitaran taman sekolah. Dia pasti terlalu tenggelam dalam euforia musik dan pikiran sendiri. Angelo menepuk – nepuk pensil ke buku, mengikuti apa pun irama yang meresonasi dari dalam alat pendengar suara itiu. Mengabaikan pandangan orang – orang, aku menderap ke arah laki – laki itu dengan kaki disentakkan ke tanah secara brutal. Rahangku mengatup keras ketika Angelo masih juga belum merasakan presensi aku. Ketika aku menutup lini pandang sinar mentari, baru laki – laki itu mendongak ke atas. Alisnya menyatu melihat aku yang berdiri di depannya. Aku meraih alat pendengar suara itu dan melepasnya dari telinga. Angelo merotasikan netra secara dramatik. Aku genggam head – set favoritnya di tangan. “Bisa – bisanya kau keluar dari tim basket?” Angelo terdiam. “Hey, aku sedang bicara!” Aku menyentakkan kaki lagi seperti anak kecil. “Sekarang sedang musim lomba dan kau keluar dari tim?” Angelo melengos. “Bukan urusanmu.” “Tentu saja urusanku!” Aku berseru keras. “Kenapa kau keluar?” “Aku tidak punya waktu,” ketusnya. “Untuk bermain basket?” tanyaku heran. “Untuk segala hal.” Aku berdecak. Dengan kesal, aku ikut bersimpuh di bawah pohon itu, melipat dua kaki di depannya yang bersandar pada pohon rindang. Dia menatap aku datar. “Angie, katakan padaku ada apa.” Aku mencoba untuk memelankan vokal yang frustasi. “Sudah aku bilang, aku tidak punya waktu.” “Kau suka basket,” ujarku lirih. “Ini salah satu hal yang membuatmu senang, Angie.” “Aku tidak suka basket sebesar itu,” Angelo mengecap lidah. Dia menarik alat pendengar suara dari tanganku dan memasangnya lagi di telinga. Tapi aku tahu suara musik sudah terhenti. “Omong kosong,” jawabku pelan sembari menatap ke samping. Aku menahan emosi. Dia dan aku tahu seberapa penting basket untuknya. Dia suka permainan ini. Dia terlihat hidup ketika bermain bersama tim-nya. Kenapa dia berhenti? Kenapa dia keluar dari tim yang kapabel membuatnya tersenyum bahkan hanya tipis? Angelo menarik dagu-ku agar menatapnya. Aku menaikkan satu alis. “Percaya padaku,” vokalnya yang berat dan serak menyentuh hati. “Aku memang tidak punya waktu lagi untuk basket.” “Apa yang kau lakukan sehingga tidak punya waktu untuk olahraga itu?” Angelo mengedikkan bahu. “Banyak hal.” Jawabnya ambigu. Aku hanya menatapnya lirih dan menyerah. Jika Angelo mengatakan dia tidak bisa melakukannya lagi, maka dia benar - benar tidak bisa. Lalu, satu sekon kemudian aku terpikirkan satu hal yang urgen. “Kalau aku?” tanyaku pelan. Giliran Angelo yang menaikkan alis. “Kau masih punya waktu untuk aku?” Kurva garis harsa yang terlukis di labium laki – laki itu tak akan pernah hilang di memori. “Never. I always got you.” *** Aku terbangun mendengar sentakan yang keras. Dentuman tapak kaki yang meresonasi dari bawah membuat aku terlonjak. Vokal berat yang saling berteriak – teriak nyaring memenuhi rungu. Secara otomatis aku terbangun dari posisi berbaring, seketika semua indera di dalam tubuh menginkres naik dan menjadi tajam. Alarm yang ada di dalam kepala terus menyala memberitahu kalau ada bahaya, kalau mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi. Semua insting di dalam tubuh berteriak padaku untuk lari dan pergi dari sini tapi aku tetap diam di tempat. Aku tahu jika aku bergerak dengan gegabah maka aku hanya akan melukai diri sendiri saja. Setelah berkali – kali mencoba meraih atensi Angelo agar bisa membuka pintu dan membiarkan aku pergi, akhinya rasa lelah melanda jiwaku dan tanpa basa – basi aku tertidur lelap. Bodoh memang. Bisa – bisanya aku tertidur dalam keadaan urgen seperti ini. Jika Angelo datang tiba – tiba bagaimana? Lebih parah lagi, jika anak – anak buahnya datang bagaimana? Jika Four masuk dan berpikir untuk menyelesaikan aksinya? Aku bodoh. Merasa telah menemukan kekuatan dan sadar seratus persen, aku segera berdiri dan melaju ke arah pintu, siap melempar tubuhku jika Angelo atau siapa pun akhirnya membuka pintu sialan ini. Mendengarkan suara teriakan dan bentakan dari luar, langkah kaki mereka juga semakin dekat. Aku mempersiapkan diri, menelengkan kepala aku ke kanan dan kiri, lalu membunyikan buku – buku jemari. Suara langkah kaki berhenti di depan pintu. Samar aku mendengar ketusan dari Angelo dengan vokal berat, “Jangan membuatnya takut.” Aku mengernyitkan dahi. Seseorang membalas, “Lo, aku yakin dia akan lebih takut padamu dari pada kita semua.” Semua? “Dengar, dia tidak sengaja berada dalam situasi ini. Four—ugh, laki – laki tidak tahu diri itu melanggar daftar jangan dilukai milik aku—“ Daftar jangan dilukai? “—dan aku tidak punya opsi lain. Aku mengatakan ini pada kalian agar kalian bisa memberi ide.” “Baiklah, Lo.” Suara yang lain ikut menyahut. “Buka saja pintunya.” Aku mendenagr Agelo menghela napas panjang sebelum akhirnya bunyi kunci diputar terdengar. Aku memasang kuda – kuda, bersiap untuk menerobos dinding pertahanan Angelo. Begitu pintu terbuka, aku tidak memikirkan hal lain. Segera aku melompat, menderap bagaikan banteng marah dan menerobos tubuh Angelo yang berdiri di depan pintu. Aku mendengar laki – laki itu bersumpah keras, mengaduh, dan aku seperti melayang, berlari begitu kuat hingga merasakan angin di wajah. Tapi . . . aku bahkan belum sampai ke tangga ketika dua tangan besar menyelinap di pinggang dan menarik tubuh aku keras ke belakang. Aku terkesiap, merasakan punggung aku menabrak sesuatu yang solid dan keras. Aku memekik ringan, mencium wangi familiar di hidung. Angelo melingkarkan tangannya di pinggangku, menarik aku ke dalam pelukannya sambil mendesis pelan, “Seharusnya aku tahu kau akan melakukan ini. I forgot how determined you can be.” “Well, aku harap kau sekarang ingat,” ujarku pelan. “Karena aku masih memiliki sifat yang sama.” Tanpa berpikir panjang aku menyikut Angelo. Pria itu mungkin terkejut, atau memang mendadak aku memiliki kekuatan besar, tapi satu sekon kemudian pegangannya meringan dan aku berhasil lepas. Aku segera berlari lagi, hanya untuk melihat dua orang laki – laki besar menghalangi jalanku ke tangga. Langkah kaki-ku terhenti secepat kilat. Aku menggeram. “Sudah kubilang kau tidak akan ke mana – mana, get over it.” Angelo mendesah. Aku mendelik ke arahnya, lalu mengobservasi jalan keluar dariku. Dua orang laki – laki itu begitu masif hingga aku tidak dapat melihat ujung tangga sedikit pun. “Aku lupa seberapa gigih-nya dia,” kata vokal yang terdengar familiar. Aku memutar tubuh dan mencari sumber suara. Samar, aku sempat bingung menatap paras laki – laki yang sedang bersandar di ambang pintu, dua tangan terlipat di depan d**a. Tapi ketika dia tersenyum simpul dan dua dimpel manis merekah di pipi, seketika aku teringat pada kenangan masa lalu. Marco. “Kau?” aku mengerutkan kening. “Tentu saja. Di mana ada Angelo, di sana ada Marco Bronze.” Dia menyalutkan dua jari padaku tanpa ada rasa bersalah. “Senang bertemu denganmu lagi, Muse.” “Aku harap aku bisa mengatakan hal yang sama.” Dua laki – laki di belakangku tertawa tipis. Aku melotot ke arah mereka. Kupandang semua orang yang secara tidak langsung mengelilingi aku, seperti menjaga agar aku tidak memiliki pintu eksit dari rumah. Ah, demi bumi dan langit. Mereka semua adalah Bronze bersaudara. “Jadi, apa kau akan mendengarkan aku sekarang?” Angelo bersungut sembari menarik lenganku. “Jika kau menurut, ini tidak perlu terjadi.” “Muse? Menurut? Bumi akan jatuh terlebih dahulu sebelum dia bisa mendengarkan orang lain,” Marco terkekeh. Aku melayangkan satu jari kasar yang membuat dia semakin tertawa. Angelo mendengkus dan hanya membawa aku kembali masuk ke dalam kamar. Dia menyuruh aku duduk, namun dengan sengaja aku tetap berdiri melawan apa yang dia katakan. Angelo menarik napas. “Duduk, Muse.” Aku tidak bergeming. Angelo menaikkan satu alis. “Atau kau ingin duduk di ruang bawah tanah tadi?” Aku duduk dengan rahang mengatup. Angelo mengangguk puas dan menari kursi kerja nya agar berhadapan denganku. Dua kaki-nya terbuka dan mengunci aku di dalam. Yang lain berdiri di sekitar kami, mata mengobservasi semua gerak – gerik yang aku buat. “Dengar—“ “Berhenti menyuruh aku mendengar,” Angelo menatap aku datar. “Dengar,” dia menekan kata itu. “Aku ingin kau tahu bahwa kami tidak bermaskud melukai-mu.” “Oh, begitu?” “Muse, aku mohon dengarkan kami—aku—tanpa sarkastik, bisa?” “Aku tidak janji,” jawabku singkat. Marco menahan tawa, sementara yang lain masih sibuk memerhatikan aku. Angelo mengelus surainya frustasi. “Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak bisa membiarkan kau pergi begitu saja. Dan nyatanya, itu bukan keputusan sendiri yang bisa aku buat. Itu keputusan yang harus dibuat bersama.” Aku melirik enam laki – laki yang berdiri di sekeliling kami. Mereka masih diam, sibuk dengan pikiran masing – masing. Marco yang menunjuk mereka satu per satu, “Lucky,” dia menunjuk seseorang dengan wajah tampan dan tinggi. “Vincent,” kali ini laki – laki tersebut memiliki paras yang awet muda dan labium tebal mengkilat. “Felix,” dia menunjuk seseorang yang paling pendek di antara mereka, namun dari tubuhnya yang terlihat gagah, aku tidak akan terkejut jika dia sama berototnya dengan yang lain. “Nicholas,” kali ini laki – laki yang ditunjuk adalah yang paling masif di antara mereka semua. “Dan Daniel.” Aku menoleh pada wajah yang juga sedikit familiar. Aku sering melihatnya berada di samping Angelo. Laki – laki itu melambaikan satu tangan sebagai percobaan menyedihkan untuk menyapa, tapi aku hanya melengos. “Dan aku harus peduli karena?” “Mereka saudaraku,” ujar Angelo. “Aku tahu.” Balasku ketus. “Semua orang tahu Bronze bersaudara.” Aku menekan kata Bronze dengan kuotasi udara. Angelo menahan apa pun itu yang akan dia katakan dan berubah menjadi, “Muse. Kau pasti sudah sadar tentang apa yang terjadi, ‘kan?” “Kalau kalian kriminal?” aku berseru tanpa filter. Beberapa dari wajah mereka meringis. Sementara Angelo hanya menatap aku keras. “Salah?” “Kita bukan orang jahat—“ “Lantas?” “Dengar, Muse—“ “Tidak,” aku menyelak. “Kau yang dengar, Angie. Entah apa yang kau lakukan sekarang, dan apa alasanmu menghilang selama bertahun – tahun. Tapi aku sudah selesai. Aku tidak ada urusan lagi denganmu. Aku berjanji tidak akan mengatakan ini pada siapa – siapa karena kau dari semua orang paling tahu seberapa aku menganggap hidup adalah sesuatu yang penting. Aku tidak akan menghabisi diriku sendiri hanya karena membeberkan rahasian kalian—“ “Kami tidak akan pernah menghabisimu—“ “—diam!” aku membentak. Sudah tidak tahan. “Aku juga tidak akan pernah merugikanmu. Kau pikir aku . . . aku bisa melihatmu masuk penjara?” Angelo mengatupkan rahang. “Setidaknya aku berharap kau tidak pernah membunuh orang,” kataku pelan. “Kau tidak pernah membunuh orang, ‘kan?” Seketika atmosfer menjadi hening. “Angelo.” Aku menyentaknya. “Apa yang terjadi dengan Four tadi?” Dia melengos. “Aku hanya ingin bilang, kalau mereka juga menjadi faktor alasan mengapa aku menyekapmu di sini. Aku harap kau mengerti.” Dia berdiri dan berjalan untuk pergi. Aku menegang. “Itu saja? Kau datang ke sini membawa pasukan hanya untuk mengatakan itu?” “Aku hanya tidak ingin kau membenciku, Muse.” Aku tertawa. Benar – benar tertawa. “I already hate you.” Angelo menutup netra sejemang dan membukanya. “Terserah. Itu lebih baik.” “Angelo!” Aku berseru dan berdiri, tapi tidak mencoba untuk kabur lagi. Untuk apa? Ada tujuh figur laki – laki masif yang bisa menghalangi aku. “Berapa lama aku harus di sini?” “Selama yang aku mau.” Dan pintu tertutup. Aku menatap pintu itu dengan miris. Selama yang aku mau. Hidupku sekarang sudah kembali dalam orbit Angelo Bronze.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD