PART 7

1577 Words
PART 7 “KAU pikir dengan menolak makan akan membuat aku luluh?” Angelo menghela napas berat dari ambang pintu. Sejemang, dia hanya menatap aku lekat—yang tentu saja tidak aku tatap balik. Kemudian dia menutup pintu dan berjalan pelan ke samping tempat tidur. Aku duduk dengan kaki bersila dan dua tangan terlipat di depan d**a, bersandar pada divan tempat tidur dengan korteks visual tajam ke arah partisi ruangan. Cat abu yang gelap nyaris menyentuh tonase hitam merebut atensi aku tanpa ada celah. Aku bisa melihat strip retak di dinding, dan beberapa noda titik hitam yang menghiasi marbel, namun aku tetap tidak menoleh pada laki – laki yang berdiri dalam jarak proksimal itu. Sudah sekitar dua hari aku ditahan di kamar ini, setidaknya seperti itulah dugaan aku. Aku tidak memiliki konsep waktu di dalam sini kecuali sinar mentari yang menyelip dibalik tirai masif yang memberitahu bahwa hari berganti walau aku terjebak di kamar seorang Angelo Bronze. Selain meminum air—yang aku tegak dari keran wastafel di kamar mandi—tidak ada satu pun makanan atau minuman yang diberikan olehnya aku terima. Tidak walau pun abdomen sudah terasa sakit dan perih. Tidak ketika kerongkongan sudah kering dan kosong. Harga diriku tidak membiarkan aku menerima apa pun dari laki-laki tersebut, bahkan jika aku— “Kau mau mati konyol?” Angelo berseru. Dia meletakkan nampan makanan di atas pangkuanku. Wajahnya cemas, frustasi, dan emosi. Aku melengos sedetik ke arah makanan, mengambil nampannya—wajah Angelo berubah penuh harap—dan meletakkannya di lantai. Aku tidak akan menjadi ratu dramatik dengan membuang nampannya bak gadis tidak tahu diri. Iya, aku tahu sekarang ini aku sedang tidak tahu diri, tapi memangnya mereka sendiri tahu diri dengan menyekap aku di sin? Dan aku tidak akan pernah membuang makanan. Walau pun aku tidak tahu apa yang Angelo lakukan dengan makanan atau minuman yang aku tolak. Sebagian dari hati kecilku berharap kalau laki – laki itu tidak membuangnya sia – sia. “Muse,” Angelo berkata lirih. “Sudah dua hari kau tidak makan apa – apa. Kau bisa sakit.” Aku tidak menjawab. “Kau akan menolak berbicara juga?” Lagi – lagi aku keras kepala dan menahan fokus pada retakan halus di dinding. Angelo menghela napas lagi, begitu berat dan keras. Dari ujung netra aku bisa melihat dia membungkuk dan meraih nampan makanan, lalu terdiam di sampingku. “Kalau kau sakit, jangan salahkan aku.” Dia bergumam ketus dan berputar arah, berjalan ke pintu dengan bahu yang tegang. “Jangan salahkan kau?” aku mendengkus, tapi aku tetap tidak menatapnya. Sebagian dari diriku takut jika aku memandang obsidian tersebut, aku akan terhisap kembali dalam memori yang menenggelamkan. “Ini semua salahmu.” Hati aku mencelus. Sedih rasanya walau aku merasa seperti orang yang terjebak di sini, walau pria ini sudah pernah membuat hati aku sakit dalam waktu yang lama, tapi aku masih merasa hati ini pecah setiap kali aku mencoba untuk menyakiti dia. Aku tahu kalau aku akan luluh jika melihat dua obsidian yang sangat aku kagumi itu. Dan itu adalah fakta yang sangat menyakitkan. Angelo tidak berkata apa – apa. Dia hanya membeku selama beberapa saat dan pergi meninggalkan aku sendiri di dalam kamar. *** Setelah beberapa jam terlewat, aku mulai merasakan sakit di perut menginkres. Aku ingin menyumpah keras, tapi untuk apa? Kerasa kepalaku membawa pada kondisi ini. Lagi pula, aku memang tidak akan memakan pemberian orang yang secara tidak langsung menculik aku. Iya. Ini penculikan. Ini namanya penyekapan. Aku diculik oleh Angelo. Yah, memang bukan laki – laki itu yang benar – benar membawa aku ke tempat ini, tapi dia yang menahan kau di sini, walau pun dia memiliki wewenang untuk melepaskan aku. Percuma dia memberi tahu tentang saudara – saudaranya. Aku kenal Angelo. Dia tidak akan membiarkan orang lain menyelak opininya atau apa yang dia mau. Dia bisa saja mengeluarkan aku dari sini. Tanpa ada banyak protes dari yang lain. Angelo yang memilih agar aku tetap di sini. Aku meringis. Perutku seperti bergejolak, mengirimkan rasa perih dan ngilu. Aku meringkuk di tempat tidur, membiarkan benak berusaha untuk memikirkan hal – hal baik untuk mendistraksi rasa sakit. Namun, sakit itu tambah parah. Aku mengatupkan rahang. Beberapa sekon kemudian, aku mendengar kunci diputar. Aku segera berbalik badan, membelakangi pintu agar Angelo tidak melihat kondisi aku yang menyedihkan. Aku mendengar pintu terbuka dan ditutup kembali. Suara langkah kaki menderap ke kasur, dan belum sempat aku bereaksi, seseorang sudah memutar tubuhku dan menimpanya dari atas. Aku terkesiap. Dua iris netra itu tidak aku kenal. Dia mengenakan pakaian serba hitam dan masker yang gelap. Aku panik. Dengan percobaan yang menyedihkan, aku melawan, tapi nihil. Kekuatan laki – laki di atasku jauh lebih kuat. Aku terisak ketika dia menutup bibirku agar tidak berteriak. Dia melotot, dan aku membeku. “Jangan bergerak, melawan, atau melakukan sesuatu yang bodoh jika kau ingin hidup,” desisnya keras. Vokalnya terdengar familiar, tapi aku tidak dapat menebak. Dia meremas leherku. “Mengerti?” Tentu saja aku tidak kapabel menjawab sebab bibirku tertutup, lalu aku hanya mengangguk ragu. Dia menarik kerah bajuku hingga aku terbangun. Saat laki – laki itu akan beranjak dari posisinya, aku menggunakan kesempatan itu dengan menendangnya dengan lutut. Dia merintih, mencengkeram kasur. Satu tangannya terulur, mungkin untuk menangkap aku, namun dengan manuver cepat berlari dari atas kasur. Kaki-ku menderap ke arah pintu, tetapi belum juga jemariku meraih kenop, dua tangan sudah menarik aku ke belakang dengan kasar. Aku memekik rendah. Laki – laki itu melempar aku ke marbel lantai, meringis dan menggeram kesal. Aku menatapnya penuh teror. Sedetik kemudian, aku berteriak dan menjerit setengah mati, membiarkan vokal-ku mengeluarkan seluruh tenaganya dan membangunkan insan di dalam rumah ini. Horor menyelip dibalik pupil siapa pun orang yang sedang berusaha menyerang aku ini. Seketika dia bergerak cepat, berusaha meraih aku yang sedang memekik kuat. “ANGELO!” Aku tidak tahu kenapa aku menyebut namanya. Aku tidak tahu kenapa aku memilih untuk meminta pertolongan pada orang yang sudah membuat aku berakhir di sini. Tapi saat itu, yang aku tahu hanya Angelo. Angelo, Angelo, dan Angelo. Angelo yang tidak akan membiarkan apa pun terjadi padaku. “ANGE—“ Pria ini menangkap aku, membekap labium hingga tertutup. Lalu dia menjambak rambutku ke depan, dan menghempaskan kepalaku ke belakang hingga membentur marbel dinding. Aku meringis, namun tak kapabel berteriak kesakitan sebab labium-ku tertutup rapat. Visual aku menjadi terdistorsi. Aku melihat kunang – kunang, kabut, dan gelap menyelinap di balik obsidian. Rasanya berat dan ringan secara bersamaan. Mataku memaksa untuk menutup, tapi kau tahu jika aku menyerah pada rasa kantuk yang mendadak menelusup ke dalam netra itu, aku akan berada di bawah kontrol laki – laki ini. Jadi aku mengerjapkan netra, memaksa diri agar tidak sadarkan diri. Aku terus melawan. Berusaha memukul, menggigit, melukai pria ini. Namun dia dengan mudah menyeret aku. Aku tak paham apa yang dia inginkan. Adrenalin yang masih memompa darah membuat aku akhirnya menyerang lututnya. Dengan tenaga dua tangan, aku memukul tulang lututnya hingga dia terjatuh. Pria itu mengerang kesakitan. Saat kami sudah berada di level yang sama, aku paksa diriku untuk bergerak walau rasanya pusing setengah mati. Aku menarik masker wajahnya. Four. Laki – laki yang seharusnya akan dihabisi oleh Angelo Bronze. Kami berdua saling tatap. Dia mendesis, meludah ke samping, dan bergerak untuk menyerang aku lagi. Namun pintu kamar terbuka. Aku menengok ke samping, penuh harap. Di sana, di balik cahaya dari ruang luar, Angelo berdiri tegak. Dia menatap kami, dan tidak butuh waktu lama baginya agar menafsirkan premis. Sungguh, mimik wajah yang menghiasi seorang Angelo Bronze kapabel mengalahkan titel notorius seekor Scorpion. Aku nyaris kehilangan napas ketika dia menderap masuk, hanya dua langkah sebelum berhasil mendekat ke arah Four. Four, demi langit, pria itu sudah tahu hari akhirnya telah tiba. Angelo menarik kerahnya hingga dia terangkat berdiri seperti tidak berat sama sekali. “Seharusnya aku menghabisimu. Ini pembalasanmu untuk ampunan yang aku beri?” Dia bahkan tidak membiarkan Four menjawab. Tidak ketika Angelo sudah diambang emosi. Satu pukulan kapabel melemparnya ke belekang. Aku menatap kepalanya yang mendarat di kayu tempat tidur. Namun Angelo tentu saja tidak berhenti di situ. Dia terus menyiksa Four, membangunkannya, memukulnya hingga jatuh lagi, menginjak, menendang, terus – menerus hingga aku tidak lagi bisa merekognisi figur Four. Aku terisak. “Angelo—“ Dia tidak mendengarku. “Angelo!” Dia terus menghentakkan kepala Four ke dinding hingga darah menghiasi partisi tersebut. “ANGIE!” Pria itu berhenti. Aku merasakan atmosfer yang mencekam. Kudengar suara langkah kaki menderap ke arah kami, banyak langkah kaki. Di pintu, Bronze bersaudara sudah berkumpul. Dua orang dari mereka menyumpah rendah, Marco dan Daniel. Dengan sigap mereka membawa Angelo mundur, dan menarik Four dari hadapannya. Aku memandang tubuh itu diseret, sosok yang sudah tak lagi sanggup melakukan apa – apa. Lalu sentuhan Angelo di keningku membuat aku tersadar. Jemarinya menelungkup di kepala. Angelo mengeryitkan dahi, dan menarik tangannya. Darah berlumur di sana. “Sial,” Angelo mendesis. Dia memeriksa kepalaku. Aku merasa mual. Ingin muntah. Ingin menangis sejadi – jadinya. Aku menatap ke seluruh ruangan. Beberapa orang berteriak mengomando, yang lain menatapku cemas. Angelo sepertinya mengatakan sesuatu tapi aku tidak bisa menebaknya. Samar, aku merasa diangkat. Kepalaku rasanya akan pecah. “Muse, Muse, my Muse.” Angelo berbisik. “Hey, hey, dengarkan aku—“ Selalu saja menyuruh aku mendengar. “Jangan tutup matamu. Muse! Hey, tetap buka mata indah itu.” Aku tidak menurut. Kegelapan sangat presisten. Aku menutup mata dan hal terakhir yang aku lihat adalah wajah hancur Angelo Bronze.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD