PART 8

2019 Words
PART 8 GELAP. Untuk beberapa saat hanya itu yang kapabel aku rasakan. Rasanya seperti melayang, terlevasi tinggi ke atas tanpa ada jangkar yang mengembalikan aku ke bentala, berpijak pada bumi dan menyerah pada gravitasi. Aku merasa ringan, dan berat secara simultan. Sakit di kepala membuat segalanya menjadi nyata. Dan aku masih melayang di kegelapan. Butuh waktu yang lama bagiku untuk menafsirkan premis. Apa yang terjadi hingga aku berpendar di atas sini? Berada di antara alam bawah sadar dan dunia realita? Apa aku mati? Memori menyerang laiknya sapuan ombak di pesisir pantai. Angelo menculik aku. Well, bukan dia yang menculik aku, tapi secara tidak langsung dia sudah menyekap aku sesuka hati di kamarnya. Aku menolak makan, menolak minum, menolak berbicara. Hal terakhir yang aku ingat adalah rasa sakit di abdomen, diikuti dengan kerongkongan yang kosong. Lalu ada seseorang yang masuk ke dalam kamar. Benar. Laki – laki menggunakan masker. Dia menyerangku. Aku melawan. Kepalaku dihantam ke lantai. Aku meraih maskernya. Siapa namanya? Pria yang benci padaku sejak jiarah di Bank kemarin. Four. Benar. Four. Dia orang yang benar – benar membuat aku berakhir di sini. Dia menyerangku. Aku berteriak. Memekik keras . . . memanggil Angelo. Angelo. Di mana dia? Angelo! Kenapa tidak ada vokal yang keluar? Kenapa . . . labium ini tertutup rapat? Aku . . . merasa tak enak. ANGIE? Nihil. Tidak ada jawaban. Tapi Angelo selalu menjawab aku. Kapan pun, di mana pun. Tapi . . . dia sudah berhenti melakukan itu beberapa tahun lalu. Saat figurnya hilang ditelan bumi. Saat dia tidak lagi berada di sisiku. Saat dia pergi meninggalkan aku sendiri. Angelo? Aku ingin memanggil namanya keras. Menjerit. Entahlah. Yang jelas, aku ingin dia. Aku selalu ingin dia. Di mana pun aku berada, di posisi seperti apa, hati ini selalu mencari belahan hatinya yang pernah meninggalkan aku sendiri. Panggil aku payah. Gadis yang menyedihkan. Tapi itu fakta. Dan aku tidak pernah melebihkan segalanya. The heart always wants what it wants. Tidak ada yang bisa memungkiri itu. Tapi tidak ada. Angelo? Tidak ada. Nihil. Kenapa segalanya gelap? *** Aku masih melayang di kegelapan yang sama. Tapi kali ini aku bisa mendengar suara, tidak lagi tenggelam di dalam keheningan. Aku mendengar gesekan benda – benda, tarikan napas, seseorang yang bergumam, bunyi aliran elektrik, dersik angin? Aku ingin mencari cahaya agar bisa melihat sekeliling, tapi rasanya begitu berat. “Muse . . . “ Vokal itu. Aku benar. Angelo pasti akan menjawab aku. ANGIE! “Muse, buka matamu, baby.” Angelo? Aku di sini. AKU DI SINI! “Tolong buka matamu, untuk aku.” Kenapa dia selalu keras kepala? Kenapa dia tidak bisa mendengar aku? Aku menggeram. Laki – laki ini sangat keterlaluan. Bisa – bisanya dia berpretensi seperti tak mendengarku? Ini bukan permainan. Aku tidak bisa melihat ke mana – mana. Aku ingin keluar dari ruangan ini, kegelapan ini. “Muse, my muse.” Vokal itu. Suara yang selalu ada di dalam kepala aku. Selalu memenuhi benak walau vokal itu sudah tidak punya raga lagi. Walau vokal itu tidak punya wajah yang bisa aku lihat setiap harinya. Aku tahu aku mungkin sudah hilang akal, tapi aku tahu kalau vokal itu akan selalu menghantui aku sampai titik akhir. My muse. Berhenti berkata lirih dan tarik aku keluar! *** “Muse . . .” Aku merasa seperti ditarik, oleh apa? Aku tidak tahu. Tubuhku seperti terhisap medan magnetik yang masif, seperti kegelapan ini memiliki lingkaran hitam yang kapabel menelan semua orang. Aku tidak melawan. Aku biarkan ragaku terenggut. Aku lelah. “Muse . . . “ Aku biarkan itu semua terjadi sembari mendengar vokal merdu Angelo. Berat dan serak. “Muse?” Aku melihat cahaya. Putih. Segalanya putih. Visual terdistorsi tapi tidak lama aku bisa memusatkan fokus pada satu titik. Bohlam yang menyala terang membuat aku menyipitkan netra. Aku berusaha mengerjapkan mata, tapi manuver itu pelan dan lama. Seseorang membuang napas panjang dan berat. Aku ingin menoleh, tapi membuka mata saja rasanya sangat berat. “Muse, oh my God, kau sudah bangun. That’s my girl.” Angelo? Dengan segala kekuatan yang aku punya, aku menggerakkan kepala ke samping. Angelo duduk di sebelah tempat tidur, wajahnya kacau, bukan Angelo yang bisa aku rekognisi. Garis hitam besar melukis pelupuk netranya, bibir yang sembab, surai yang acak – acakan. Aku mengerutkan kening. Angelo tidak pernah terlihat seperti ini. “Muse, tidak apa, jangan mencoba berbicara. Aku di sini,” Angelo meraih jemariku dan mengelusnya pelan. “Aku di sini, Muse. Aku tidak akan pergi ke mana – mana.” Tapi kau sudah pergi, Angie. Kau sudah pergi meninggalkan aku sendiri. Saat aku membutuhkanmu, kau menghilang. Kau pergi, kau tidak di sini. Kau tidak ada di saat aku membutuhkan kau. Kau tidak ada di saat aku sangat butuh presensi kau di dalam hidup aku. Kau tidak ada. Pergi menghilang seperti ditelan oleh bumi tanpa melihat kembali ke belakang. Tanpa melihat hati yang sudah kau pecah belah menjadi fragmen yang tak tahu kapan akan sembuh. Aku ingin mengatakan itu semua. Tapi kerongkonganku kosong, labium tak kapabel membentuk vokabulari, dan segalnya menjadi kabur. Kabut kegelapan itu kembali melambaikan tangan padaku, memberikan invitasi. Dan hal terakhir yang aku lihat lagi – lagi wajah hancur Angelo Bronze. *** “Air?” tanya Angelo begitu aku sudah benar – benar sadar. Aku mengangguk, belum bisa mengeluarkan suara. Dia bergerak cepat, meraih segelas air dari meja di sebelah tempat tidur dan memberikannya padaku. Secara otomatis, aku merasakan dahaga terlepas, digantinkan likuid dingin dan menyegarkan di tenggorokan. Aku menegak satu gelas air mineral itu hingga titik terakhir. Angelo mengambil gelasnya begitu aku selesai dan kembali duduk di sampingku. Tak lama, aku tersadar kalau aku berada di ruangan semacam bangsal rumah sakit. Segalanya putih. Ada beberapa monitor yang tak aku paham, selang infus, tabung oksigen, dan lain – lain yang membuat aku mengerutkan kening. “Kita di rumah sakit?” tanyaku akhirnya. Suaraku terdengar seperti alien, serak dan kacau. Angelo menggeleng. “Kita masih di rumahku.” Oh? Jadi rumahnya ada rumah sakit pribadi?” “Muse, kau baik – baik saja?” tanya Angelo. “Itu pertanyaan yang bodoh, kau tahu itu ‘kan?” Angelo mengatupkan rahangnya. Dia menatapku lama sebelum menggeleng pelan, melawan apa pun itu yang akan dia katakan. “Dokter Kincaid bilang kau hanya mengalami gegar otak ringan—“ “Hanya?” “—dan kau akan baik – baik saja. Tapi tetap, dia meminta kau diobservasi, lihat jika ada indikasi yang lebih seperti mual, muntah – muntah, demam, rasa sakit yang luar biasa di kepala—“ “Kau sudah gila.” “—dan kemungkinan tremor.” “Tremor?” mataku melebar. “Angelo!” Dia mengedikkan bahu, wajah datarnya sudah kembali, tapi siapa yang mau dia bohongi? Aku masih bisa melihat jelas residu cemas dan kehancuran yang dia rasakan. Baguslah. Biarkan dia menderita. Ini semua karena dia. Angelo mengeluarkan ponsel dan berkutat selama beberapa sebelum kembali memberikan atensinya padaku. “Makan akan segera datang.” “Aku tidak mau—“ “Makan.” Tidak ada ruang untuk argumen di frasa Angelo. Dia membentak halus, tegas, dan aku tidak sanggup membalas. “Aku tahu kau keras kepala, Muse. Dan itu salah satu kenapa aku suka padamu. Tapi jika keras kepala itu membahayakan dirimu, aku tidak akan tinggal diam.” “Tapi—“ Tunggu dulu. “Kau suka padaku?” Angelo melengos. Dia memeriksa selang infus tanpa mengabaikan inkuri dariku. “Ada rasa sakit?” “Er . . . semuanya.” Aku menjawab jujur. “Angie, bagaimana dengan . . . laki – laki itu?” Angelo membeku. “Taken care of.” “Apa yang dia mau dariku?” “Entahlah,” Angelo mengepalkan tangan. “Tapi aku tidak peduli.” Dia mengekhalasi keras, menyibak surai. “Muse, aku minta maaf.” “Untuk apa?” “Segalanya,” Angelo menggeleng. “God, jika aku . . . jika aku ada di sana, ini semua tidak akan terjadi. Laki – laki tidak tahu diri itu tidak akan pernah melayangkan tangannya padamu, dan kau tidak akan terluka.” Pada momen itu, aku ingin memeluk tubuh besarnya. Aku ingin memberitahunya bahwa aku baik – baik saja. Tapi sebagian dari diriku ingin berteriak padanya, memaki dan memukulnya. Maka dari itu, sebab tabiatku yang buruk dan murahan, aku menelan segala afeksi yang keluar saat melihat wajah memelas Angelo, dan mengatakan yang sebaliknya. “Ini semua salahmu,” kataku datar. Angelo mendongak sangat cepat, seperti baru saja disambar halilintar yang besar. “Jika kau tidak mengurungku di rumah ini, jika kau membiarkan aku pulang, melepaskan aku, maka aku tidak akan terluka.” Rasa sakit terbesit di netranya. Dia terlihat akan membalas, tapi labium-nya tertutup rapat. Angelo seperti ditampar keras. “Kau tidak punya siapa – siapa selain dirimu sendiri untuk disalahkan,” aku berkontinyu cepat, tidak membiarkan diri mundur dari aksi ini. Aku tahu aku keterlaluan. Aku secara tidak langsung menghancurkan laki – laki di sampingku ini, tapi apa dia berpikir dua kali ketika menahan aku di sini? Apa dia berpikir dua kali sebelum menghilang tanpa kabar? Angelo adalah pria yang menabur gula, sekaligus garam di hatiku. “Muse—“ Dia tercekat, tak tahu harus berkata apa. “Tidak perlu repot – repot menjelaskan atau membela diri,” ujarku. “Aku membencimu.” Aku membencimu. Itu mungkin sebuah kesalahpahaman paling besar di dunia ini. Aku seorang hipokrit, dan aku tidak bangga. Angelo menutup mata keras. Saat dia membukanya, aku bersumpah aku melihat likuid bergumpal di kelopak beserta warna merah. “Aku tidak peduli.” “Me too,” jawabku singkat. Dia mengatupkan rahang. Saat tak ada lagi konversasi yang terlewat di antara kami, pintu terbuka. Seorang wanita cukup tua masuk ke dalam membawa nampan makanan. Dia tersenyum tipis melihatku dan berjalan ke arah kami. Dengan manuver yang sabar dan teliti, wanita itu menarik meja makanan di tempat tidur dan meletakkan variteas makanan menggiurkan di depanku. Angelo berdiri, dan berjalan ke pintu keluar dengan dua tangan masuk ke dalam saku. “Makan, Muse. Akan rumit bagiku jika kau mati kelaparan.” Aku menatap dia seperti dia baru saja tumbuh dua kepala. Hati aku mencelus mendengar kalimat itu. Apa aku tidak ada artinya lagi bagi pria ini? Bagaimana mungkin dia berkata begitu padaku? Setelah semua yang terjadi pada kita? Dan di momen itu, aku benar – benar benci padanya. *** Selama sekitar dua hari aku mendekap di dalam ruangan ini, b*********a bersama benak yang berputar entah ke mana. Dua hari juga tanpa ada tanda – tanda kedatangan Angelo. Bukannya aku menunggu kedatangan dia, tapi bukankah sudah tugasnya untuk memeriksa keadaan aku? Selama dua hari belakangan, hanya wanita itu yang kerap datang—yang ternyata bernama Linda. Linda bilang, sudah nyaris setengah hidupnya dia bekerja bersama dengan famili Bronze. Dari para saudara itu masih kecil. Aku tidak bisa membayangkan Angelo kecil. Aku rasa begitu dia keluar kepalanya sudah sebesar itu. Menurut wanita itu, Angelo sedang sibuk—sibuk apa entahlah. Bukannya aku juga mengharapkan kedatangan Angelo. Setelah hari berikutnya datang, baru aku melihat figur Angelo muncul di ambang pintu. Selama beberapa saat dia terlihat ragu, namun akhirnya melangkah mantap mendekati aku. Dengan pakaian serba hitam khas-nya, Angelo mengambil tempat di samping tempat tidur seperti biasa, bersender di kursi dengan dua tangan dilipat di depan d**a. “Lebih baik?” itu inkuiri pertama yang terlepas dari labiumnya. “Entahlah.” Angelo menarik napas mencoba bersabar. “Muse . . .” Aku menaikkan alis. Dia menggeleng. “Jika kau sudah bisa melawan, aku rasa kau sudah lebih baik.” “Jika aku sudah lebih baik, itu berarti aku sudah bisa pulang.” “Jangan membahas ini lagi, Muse.” Angelo menggeretakkan gigi. “Aku tidak paham kenapa kau bersikeras menahan aku disini,” ketusku penuh sangsi. “Aku sudah bersumpah tidak akan membeberkan kegiatan kalian—apa pun itu yang kalian lakukan! Dan aku juga bersumpah kalau ini terakhir kalinya kau akan melihatku.” “Itu yang aku takutkan,” Angelo bergumam pelan. “Apa?” Aku berseru sudah tak sabar. “Ini terakhir kalinya aku akan melihatmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD