PART 9

2302 Words
PART 9 ANGELO itu sebuah epitome katastrofe di hidupku. Segalanya berawal dari saat kami masih remaja. Waktu itu musim panas berlalu, dan segalanya berjalan dengan indah. Sampai suatu saat ayah meminta kami untuk pindah ke Mapo-Gu sebab tuntutan pekerjaannya. Aku tidak bisa banyak melawan, adu argumen dengan ayah sama saja bohong. Lagi pula, apa yang bisa aku lakukan? Tinggal sendirian di sebuah kota dan sekolah secara bersamaan? Maka aku menjadi satu – satunya murid baru di semester baru, sekolah menengah atas pertama yang ayah temukan di Mapo-Gu tanpa perlu memilih – milih. Menurutnya, untuk apa banyak opsi, ‘toh semua sekolah sama saja. Aku juga tidak banyak adu argumen, lagi, tidak ada gunanya. Aku juga memiliki opini yang sama, mau sekolah di mana juga sama saja. Aku tetap akan menjadi anak baru yang menyedihkan. Lalu hari itu akhirnya datang. Hari pertama aku masuk di sekolah yang baru. Awalnya aku pikir semua akan baik – baik saja. Persetan dengan teman yang banyak, jika aku sendiri juga tidak masalah, yang penting aku bisa melewati masa sekolah ini dengan tenang. Tapi tentu saja itu tidak bisa terjadi. Seperti sebuah cerita klise di novel romansa, aku bak gadis cupu yang cocok menjadi target rundungan orang paling populer di sekolah. Itu mungkin sebuah skenario yang sangat klise, tapi itu nyata. Aku, dari semua orang yang ada di bumi ini, harus mengalami hal buruk macam itu. Siapa yang mengira kalau kau akan menjadi target rundungan? Tidak pernah ada yang mau dan mengira hal semacam itu. Jadi, tentu saja aku merasa sangat terkjut. Muse Lee tidak pernah ingin ada masalah di dalam hidupnya. And to become bullied at school? Itu sebuah masalah yang besar. Dan tentu saja, Angelo adalah pemeran utama eminen yang kapabel membuat satu sekolah mundur seribu langkah. *** Sekolah yang ayah pilih tidak terlalu buruk, kecuali satu fakta kalau isinya kebanyakan murid – murid pembuat onar. Mulai dari pelajar kaya yang tidak tahu diri, murid yang tidak peduli dengan nilai, kelakuan baik, dan apa pun itu, sampai murid buangan juga ada di sekolah ini. Dari desainnya dan gedung yang besar serta tinggi mencapai empat lantai, sekolah ini terlihat elit. Tapi sayang, isinya anak – anak berandalan semua. Aku menelusuri koridor sekolah dengan labium tertutup rapat. Indera merasakan tatapan penuh kuriositi dari murid – murid yang berkeliaran di lorong sekolah. Sesekali aku bahkan mendengar bisikan dair beberapa orang, mempertanyakan siapa aku, mengomentrari seragamku, bahkan ada yang secara direk membicarakan penampilan aku yang katanya “tidak sesuai dengan citera sekolah ini.” Tentu saja aku tidak menggubris itu semua. Membiarkan hal itu masuk ke dalam hati sama saja seperti melakukan hal yang bodoh. Buang – buang waktu. Jadi, aku biarkan desas – desus tersebut masuk ke rungu bagian kiri, dan terlempar dari rungu bagian kanan. Kuharap filter di dalam sana cukup agar tidak membuat hariku kacau. Aku berjalan ke arah ruangan administrasi seperti instruksi dari pihak sekolah sehari sebelum aku masuk. Menaiki tangga ke lantai dua, aku berbelok menuju ke lorong ruangan guru – guru, kepala sekolah, dan administrasi sekolah. Langkah kaki-ku membawa aku ke ujung lorong di lantai dua, sebuah tanda School Administration dipasang di atas pintu. Di sebelahnya, tanda TEACHER’S OFFICE menggantung besar. Dan di seberangnya, HEADMASTER OFFICE juga menggantung; pintunya tertutup rapat dan tidak ada jendela untuk melihat ke dalam. Aku mengintip setitik ke dalam ruang guru, melihat ada beberapa orang yang masih duduk dan sibuk dengan pekerjaan masing – masing. Bel masuk pelajaran pertama memang belum berbunyi, yang berarti sekarang masih jam kosong. Aku berkontinyu ke dalam kantor administrasi. Hal pertama yang aku rasakan adalah aromatik vanilla yang kental. Seorang wanita yang terlihat masih muda duduk dibalik meja lebar di depan ruangan. Di belakangnya, terdapat pintu yang mengarah ke dalam, dan dari jendela yang terbuka, aku bisa melihat beberapa karyawan sedang sibuk di mejanya masing – masing. Aku memaksakan senyum tipis yang semoga terlihat ramah. “Er . . . aku diminta untuk datang ke kantor administrasi saat hari pertama.” Wanita ayu itu membalas senyum dariku dengan tulus. Dia mengumbang pelan. “Hmh, Muse? Benar?” “Iya,” aku mengangguk. “Itu aku.” “Nama yang menarik.” “Terima kasih . . .” Balasku, terdengar lebih seperti pertanyaan dari pada pernyataan. Aku sering menerima komentar tentang namaku. Mulai dari rasa kagum, heran, sampai kritik yang bergaris keras hinaan sebab namaku terdengar sangat asing dan aneh. Tapi aku tetap tak pernah bisa biasa mendengar hal – hal begitu. Dan lebih parahnya, aku tidak tahu harus menjawab apa. “Jadi, Muse, bagaimana pendapatmu tentang sekolah ini?” Aku mencari respon yang baik. Entah itu sebuah pujian atau apa pun yang tidak terdengar menyedihkan seperti “Aku pikir sekolah ini hanya diisi oleh anak – anak arogan yang suka membicarakan orang dari awal melihat” atau “Buruk. Aku tidak suka sekolah ini. Rasanya seperti dikelilingi oleh manusia – manusia yang suka menghakimi” tapi tentu saja aku tidak bisa mengatakan itu semua. Jadi aku memilih jalan pintas dengan mengedikkan bahu. “Aku belum bisa mengatakan apa – apa. Secara harafiah aku baru di sini sekitar sepuluh menit, tidak lebih.” “Cukup adil,” wanita yang masih belum aku tahu namanya itu mengangguk. “Aku Jiah. Kau bisa panggil aku Jiah saja, tak perlu formal denganku.” Mendengar itu, wanita muda ini pasti tidak jauh usia-nya dari kita. Mungkin baru lulus kuliah atau sekitar dua puluhan akhir. “Baiklah . . . Jiah.” Aku bergumam. “Jadi, apa yang aku butuhkan?” “Oh, benar.” Jiah berdiri dan mencari – cari sesuatu di ujung meja. Setelah beberapa saat, dia menarik kertas dan menyodorkannya padaku. “Ini,” dia menunjuk namaku di atas. “Jadwalmu untuk semsester ini.” Aku meraihnya. “Oh.” “Dan apa saja yang kau butuhkan untuk bidang akademis.” Jiah kembali duduk. Dia mengetik sesuatu di komputer depannya. Sesuatu keluar dari mesin cetak di sebelahnya. Dia lalu memberikan itu lagi padaku. “Isi formulir ini agar aku bisa membuat kartu pelajarmu dengan cepat.” Aku melirik kertas formulir tersebut. Jiah menyodorkan pulpen merah dan tersenyum tipis. “Baiklah.” Selama beberapa saat aku sibuk mengisi formulir, sementara Jiah mengetik di komputer. Namun ketika aku sudah akan selesai, pintu di belakangku terbuka. Seseorang masuk dengan langkah yang berat, dan dari ekspresi Jiah, aku rasa dia mengenalnya. Aku menoleh ke samping, nyaris terhyung payah, sebab wajah yang ikut menengok begitu tampan laiknya malaikat di bumi. Aku kehilangan kata – kata menatapnya. Kulit pucatnya menghiasi iras yang datar dan keras. Segalanya begitu sempurna di wajahnya. Aku menelan saliva. Setelah ikut mengobservas aku, dia hanya melengos dan memfokuskan atensi pada Jiah. “Slip.” Vokalnya berat. Aku merasakan vokal itu menjalar ke seluruh tubuh. “Lagi?” Jiah menggeleng. Laki – laki di sampingku itu hanya mengedikkan bahu. Dia tidak mengenakan blazer, hanya kemeja sekolah yang tangannya dilipat ke atas. Kaki jenjangnya terekspos dibalut oleh celana seragam yang menempel ketat. Aku menggigit lidah. Jiah yang sepertinya sudah terbiasa dengan rutinitas apa pun ini menghela napas. Dia memutar kursi rodanya menghadap ke belakang lalu merobek secarik kertas berwarna merah muda dari sebuah nota panjang. Jiah mengisi kertas itu dan melirik laki – laki di sampingku dengan netra yang mendelik. “Apa lagi yang kau perbuat kali ini?” tanya Jiah tak percaya. “Tak perlu tahu,” jawabnya. Jiah merotasikan netra. “Aku perlu tahu untuk mengisi slip hukuman ini, Angelo.” Angelo. Nama yang cocok untuk wajah seperti itu. Angel. “Berkelahi.” Jiah menyipitkan mata. “Kalau begitu, mana yang lain? Kenapa hanya kau yang diberikan slip hukuman?” “Mereka tidak bisa mengikuti kelas hukuman di akhir jam sekolah.” Lagi – lagi dia menjawab datar. “Kenapa?” “Mungkin karena sibuk dibawa ke rumah sakit,” Angelo mengumbang pelan. Jiah menghela napas berat lagi, tapi dia tak melontarkan kata – kata berikutnya, seperti fakta kalau Angelo telah memukuli anak – anak sekolah ini adalah kebiasaan yang tak dapat dihindari. Tanpa sadar, aku menjaga jarak darinya. Wanita yang menjaga meja administrasi sekolah itu memberikan slip kertas merah muda tadi pada Angelo. “Aku tidak tahu berapa lama kau akan dihukum, jadi berikan ini untuk guru yang menjaga di kelas nanti,” jelasnya pada Angelo. Di momen itu, aku ikut memberikan formulir yang sudah aku isi. Jiah menerimanya kali ini dengan senyum paksa. Angelo tidak menjawab, dia hanya mengantongi kertas itu dan bersiap pergi. Namun Jiah memanggilnya, “Angelo.” Laki – laki itu menoleh. “Perkenalkan ini Muse,” Jiah menunjuk aku. Mataku sejemang membulat besar, tapi dengan ccepat aku mengatur komposur. Aku bingung antara mengulurkan tangan untuk dijabat atau tidak, berhubung laki – laki ini kelewat datar dan sepertinya biang masalah, aku hanya mematung seperti gadis bodoh. Tak disangka, dia mengangguk, walau hanya tipis dan nyaris tidak tertangkap visual. “Angelo,” panggil Jiah lagi. Wanita ini benar – benar tidak bisa membaca situasi. Apa dia tidak melihat Angelo sudah satu sekon lagi sebelum dia meledak dan mungkin mengantar aku ke rumah sakit berikutnya? “Aku ingin minta tolong.” “Apa?” tanyanya sembari menggerutu. Sudah jelas dia sangat ingin pergi dari sini sekarnag juga. “Tunjukkan Muse sekolah ini dan bawa dia ke kelas pertamanya,” Jiah menyuruh tegas. Aku kehilangan keseimbangan. Nyaris jatuh, aku segera menjaga stabilitas tubuh dan menoleh pada Jiah dengan cepat. “Tidak perlu,” ujarku buru – buru. “Aku bisa sendiri.” “Sekolah ini cukup besar,” Jiah membalas. “Lagi pula kau tidak ikut orientasi dan tidak ada pengenalan. Kau harus tahu isi sekolah. Dan Angelo bisa mengantarmu ke kelas pertama jika sudah.” “Jiah, sungguh, tidak perlu—“ “Cepat,” Angelo menggerutu. Aku menoleh padanya namun laki – laki itu sudah lebih dulu melengos dan menutup pintu kantor administrasi dengan bantingan pelan. Aku mengumpat di dalam hati. “Cepat sebelum kau ketinggalan. Angelo punya langkah yang besar.” Jiah berseru tanpa rasa bersalah. Sedetik aku sangat ingin melemparnya dengan mesin cetak di samping meja, berteriak mengapa dia harus melakukan ini, tapi aku hanya memberikan senyum pahit yang lebih mirip dengan meringis. Lalu aku ikut keluar untuk mengikuti Angelo. Memang benar, Angelo memiliki langkah yang besar. Begitu aku sudah berada di koridor luar, aku tidak melihat figur masif-nya di mana pun. Aku berjalan menelusuri lorong dan ketika sampai di pertigaan, menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku nyaris pingsan saat terkejut melihat Angelo bersandar di dinding, dua tangan di dalam saku celana, dan netranya tertutup dengan kepala mendongak ke atas. Aku mengunyah labium. Apa yang harus aku katakan padanya? Memanggil namanya? Mencoleknya agar dia tahu eksistensi-ku? Atau mungkin— “Namamu Muse?” tanya Angelo tanpa membuka matanya. Aku mengangguk, lalu tersadar kalau dia tidak bisa melihatku. “Iya, itu namaku.” “Aneh,” ujarnya pelan. Aku tidak merasakan kritik darinya. Lebih seperti . . . i don’t know, wonder? “Er . . . jika kau tidak mau memperlihatkan sekolah ini padaku, maka tidak perlu—“ “Sebelah sini,” sedetik kemudian netranya terbuka dan dia berdiri tegak. Kemudian tanpa aba – aba dia berjalan membelakangi aku. Sosoknya seperti memenuhi koridor sekolah dengan presensi yang masif. Aku terpaksa mengikutinya. Jika dia mau, maka tidak ada salahnya. “Kelas tiga.” Dia menunjuk lorong panjang di sebelah kanan kami. Pintu – pintu berjajar dengan tanda kelas yang menggantung di atas. Di kiri, panorama yang sama menyapaku. Lalu Angelo memutar tubuh hingga menghadap aku dan menunjuk ke belakang kami, “Ruang guru, administrasi sekolah, ruang kepala sekolah.” Dia berputar lagi dan berjalan menuju tangga. Aku mengikut dari belakang tanpa berkata apa – apa. “Di lantai dua kelas dua, kuran lebih sama. Gantinya, ada ruang janitor, kafetaria sekolah, dan ruang musik.” Angelo memberi eksplanasi sembari menaiki tangga. “Di lantai satu—“ “Kelas satu?” potongku sok pintar. Segitu juga aku bisa menebak. Angelo tidak menjawab hal itu. “Dan gantinya, ada air mancur kecil di ujung lorong, dua pintu yang menunju ke lapangan indoor dan outdoor, lalu beberapa taman tempat berkumpul. Di sisi lantai satu, kau akan melihatnya nanti, ada pintu dobel besar yang menyambung ke gedung sebelah, perpustakaan.” “Perpustakaan kita punya gedung sendiri?” tanyaku takjub. Angelo tidak menjawab lagi. Begitu kami sudah sampai di lantai tiga, dia menunjuk lorong yang sama. “Kelas tiga.” Lalu dia terus berjalan sembari menunjuk ruangan satu per satu. “Ruang olahraga. Ruang – ruang ekstrakurikuler.” Dia menunjuk sebuah pintu yang berada di ujung. “Ruang organisasi sekolah. Setiap lantai punya kamar mandi masing – masing. Aku rasa kau bisa menemukan mereka sendiri, ‘kan?” Angelo bertanya. Aku ingin menjawab, tapi aku tahu dia tidak begitu peduli. Lalu dia berjalan naik lagi, menelusuri tangga. Aku sempat kewalahan sebab laki – laki itu memanjat tangga dengan menaiki dua anak tangga sekaligus, tapi aku tidak mengatakan apa pun. Saat kami sampai di atas, Angelo mendorong sebuah pintu kaca di ujung tangga. Aku membelelakan netra, melihat kolam renang dalam ruangan yang menjulang panjang beserta tempat duduk audiens. Di ujung kolam terdapat pintu – pintu berjajar yang aku duga adalah tempat berganti baju. Angelo menoleh padaku. “Kolam renang.” Tentu saja bodoh. “OK . . .” Jawabku bingung. Dia menatapku lama, seperti mencoba membaca isi pikiranku, tapi segalanya berakhir saat bunyi bel pertama berbunyi. “Terima kasih,” aku berseru ketika dia sudah lebih dulu turun dari tangga. Angelo tidak menoleh, dan aku pikir dia tidak akan menjawab lagi. Tapi sedetik kemudian, dia merespon dengan sangat subtil aku nyaris tidak mendengarnya. “Dengan senang hati, Muse.” Semenjak saat itu, aku jatuh pada orbitnya. Angelo Bronze menjadi satu – satunya laki – laki yang kapabel memporak – porandakan duniaku. Dan aku tidak menyesalinya sama sekali. Tidak untuk satu sekon saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD