PART 10

2111 Words
PART 10 “ANGELO.” Aku memanggil namanya untuk kesekian kali, namun entah jika laki – laki itu memang tidak mendengarku, atau dia memang memilih untuk tidak menggubris aku sama sekali. Yang terakhir terdengar lebih masuk akal melihat kalau jarak kami tidak terlalu jauh, dan dia jelas – jelas bereaksi tatkala namanya terlempar dari labium-ku yang berteriak keras. Memangnya dia tuli? Angelo jauh dari kata tuli. Yang ada, dia justru memiliki pendengaran yang cukup ajaib. Bayangkan, dia bisa mendengar langkah kaki orang dari lorong lain atau apa yang orang bicarakan saat sedang berbisik. Diam – diam aku merasa dia punya kekuatan super atau semacamnya. “Angelo!” kali ini aku lebih terdengar seperti gadis yang sedang menggeram kesal dari pada memanggil nama seseorang. Biarkan semua orang menoleh padaku yang frustasi sebab laki – laki keras kepala yang berjalan santai beberapa meter di depanku. Jujur, seberapa panjang langkah kaki-nya? Aku yang sudah berlari masih belum bisa menyamakan langkah. Setelah mencoba menerobos kumpulan murid – murid yang berjalan ke arah kafetaria, aku akhirnya terlepas dari gerombolan itu dan berlari di lorong dengan kuat. Angelo tidak menoleh begitu aku sudah berada di sebelahnya, terengah seperti baru saja melakukan maratorn. “Angelo.” Aku mengatupkan rahang. “Kau tidak mendengar aku yang memanggil namamu sedari tadi?” Angelo tidak menjawab, tidak juga mengedikkan bahu yang menjadi gaya khas laki – laki itu. Dia tetap berjalan, dua tangan di dalam saku, dan mata yang tidak fokus. Aku menghela napas. Tidak ada gunanya adu argumen dengan laki – laki ini. Satu minggu aku bersamanya, aku bisa menebak kalau dia laiknya dinding yang tidak bisa diterobos. Ada partisi yang menutupnya dari dunia luar, dan butuh upaya yang lebih dari menggali inti bumi untuk bisa membuatnya terbuka. Dan aku tidak begitu benar – benar ingin tahu apa isi hati seorang Angelo Bronze. “Kau dan aku ada di kelas histori yang sama,” jelasku dengan napas berat. Angelo masih tidak memberikan tanda akan menggubris perkataanku jadi aku hanya berkontinyu tanpa merasa terganggu sama sekali. “Karena aku anak baru, aku tidak punya pasangan grup dan Mr. Kim bilang kalau kita bisa—“ “Terserah.” “—menjadi pasangan grup karena kau juga belum punya partner.” Aku tidak memedulikan jawabannya yang singkat, jelas, dan padat. Seperti aku tidak ada pentingnya. Maksudku, yah memang, aku tidak ada pentingnya bagi Angelo Bronze, tapi memangnya dia harus bersikap seperti itu? Apa sakit baginya untuk bertindak ramah sedikit saja? Angelo terus berjalan tanpa ada arah yang pasti. “Apa kau akan menjawab?” “Aku bilang terserah,” Angelo bergumam. “Itu bukan jawaban,” aku menggerutu dengan kering mengerut. “Jangan harap aku akan mengerjakan ini semua sendirian. Aku sudah kewalahan mengikuti subjek ini sebagai anak baru, jangan membuatnya semakin rumit.” Angelo menaikkan satu alis. Sesaat aku pikir aku akan menjadi korbannya yang menyedihkan, tapi Angelo hanya mengumbang pelan. “Kita harus memilih tema presentasi,” kataku lagi. Kali ini lebih ringan sebab sejauh ini, Angelo masih belum memlemparkan omong kosong yang akan membuat presentasi ini hancur. “Terserah.” Apa hanya itu vokabulari di dalam otaknya? Dengan kepala yang besar itu, aku pikir otaknya akan sama masif, tapi rupanya serebrum-nya kecil dan mengesalkan. “Tidak bisa terserah, kau harus ikut andil, ingat?” Angelo mengedikkan bahu tak peduli. Aku menyipitkan mata padanya. Rumit sekali mengetahui apa yang dia pikirkan. Setelah beberapa lama berjalan, aku akhirnya menyadari bahwa Angelo sedang menuju ke taman sekolah. Kami jalan bersampingan, dengan Angelo yang datar dan dua tangan di dalam saku, sementara aku sibuk memikirkan dan menyusun kata – kata untuk konfrontasi dengannya tanpa berakhir sebagai korban Angelo Bronze. Belakangan, aku mengetahui kalau laki – laki ini tidak main – main. Kau tidak ingin macam – macam dengan Bronze bersaudara, atau begitulah kata Hyuni dari kelas Inggris. Menurutnya, Bronze bersaudara itu notorius. Mereka berbahaya, dan kecuali jika kau sudah bosan hidup, lebih baik berada jauh dari orbit mereka. Terutama yang bernama Angelo. Aku tidak menyebut fakta bahwa secara tidak langsung aku sudah berada di orbit Angelo semenjak hari pertama aku masuk sekolah ini pada Hyuni, takut jika dia akan menjauh dan memilih untuk tidak berteman denganku. Siapa tahu, saking tidak sukanya pada gerombolan Angelo dan saudara – saudaranya itu, Hyuni jadi tidak mau berasosiasi dengan aku lagi. Opini yang beredar, Angelo itu brutal. Sangat jarang orang yang mendengar suaranya, dan lebih jarang lagi melihatnya berekspresi. Senyum, riang, ramah, atau apa lah. Kata Hyuni, satu – satunya emosi yang kapabel dia perlihatkan adalah marah. Itu juga kalau dia sudah tidak bisa menahan. Biasanya wajahnya akan memerah, dan mendadak suasana menjadi hening. Aku ingin mengatakan kalau Hyuni itu hiperbola, melebih – lebihkan, tapi aku tidak ingin membuat teman pertama aku di sekolah ini tersinggung. Tapi katanya, asalkan kita bukan orang jahat dan tidak macam – macam dengan Bronze bersaudara itu, mereka tidak bahaya sama sekali. Rupanya, selama ini Angelo hanya brutal dan barbarik pada murid – murid yang pantas menerimanya saja, seperti tukang rundung. Angelo tdiak tahan melihat orang lemah ditindas. Entah itu sebuah pertanda baik atau tidak membantu fakta kalau dia tetap orang yang brutal sama sekali. Hyuni pasti akan mati berdiri melihat aku sedang berjalan bersama Angelo berdua saja seperti ini. “Jadi, ada ide tentang tema yang bisa kita ambil?” tanyaku setelah beberapa lama. Tentu saja, Angelo masih diam. Dia menelusuri jalan setapak di pavemen taman sekolah tanpa menjawab inkuiri dariku. Angelo hanya menghela napas, tanda bahwa dia mendengar aku, dan terus berjalan. Kaki-nya membawa dia ke depan sebuah pohon besar dan rindang. Tanpa aba – aba, dia duduk di sana, menyandarkan diri di tempat paling tertutup matahari. Aku berdiri di depannya, menatap sosok laki – laki eminen tersebut. Wajahnya yang pucat pasi terhalang bayangan ranting dan daun – daun, termasuk aku yang menghalangi jalan masuk sinar ultravolet. Angelo mendongak ke arahku dengan satu alis terangkat. “Jadi?” tanyaku lagi mencoba sabar. “Aku tidak tahu,” jawabnya singkat. Mencoba menahan sekuat tenaga, aku menolak untuk berdecak atau mendesah kesal. “Angelo—“ “Kau bisa memilihnya, Muse.” Begitu namaku terlepas dari labiumnya, rasanya aku ingin menari dan bernyanyi secara bersamaan. Aneh. Vokalnya selalu menimbulkan efek kupu – kupu yang beterbangan di abdomen. “Tapi aku butuh opini darimu juga,” balasku. “Aku sudah bilang, ini harus dikerjakan berdua. Jangan harap aku rela bekerja sendiri.” Angelo menutup matanya. “Aku tidak pernah mengatakan kau akan mengerjakannya sendiri.” “Tapi memilih tema saja kau tidak mau—“ “Aku tidak punya waktu untuk ini.” Aku menganga. “Oh, kau tidak punya waktu untuk ini?” seruku tak percaya. “Dan apa yang sekarang sedang kau lakukan? Menatap langit? Menghirup udara? Bermain bersama daun – daun yang berjatuhan? Mengadu nasib pada semesta?” Angelo membuka netranya. Dia menatapku tajam. Sejemang, aku keder, ingin mundur ribuan langkah dan menjauh darinya. Tapi aku tetap mematung di tempat, membiarkan obsidian tersebut menembus atmaku. “Mencoba bersabar agar gadis menyebalkan di depanku segera pergi,” kata Angelo sarkas. Aku mencibir. Iya, benar, aku mencibir di depan laki – laki yang Hyuni peringatkan adalah salah satu dari sekumpulan orang yang ditakutkan di sekolah ini. Tapi memangnya siapa yang peduli? Aku tidak akan menjadi anak pasrah yang rela mengerjakan tugasnya sendiri seperti kacung. “Gadis menyebalkan ini tidak akan pergi ke mana – mana sebelum kau setuju untuk membantuku mengerjakan tugas, dan yang lebih penting lagi, memilih tema.” Angelo membasuh muka. “Kau benar – benar luar biasa.” “Luar biasa?” “Bagaimana bisa hanya dalam satu minggu segalanya tentangmu mengganggu aku setiap detiknya?” Aku membeku di tempat, memfilter frasa dari Angelo. Aku? Memenuhi benaknya? “Saat pulang sekolah, kita bertemu di perpustakaan,” Angelo bergumam. “Kita akan menentukan tema saat itu.” “Baiklah,” jawabku lirih. Dan aku pergi meninggalkan Angelo, bersama kepala yang mengalami turbulensi memikirkan diktum darinya berulang – ulang lagi. Itu kalimat yang cukup manis. Benar, kan? Atau aku hanya kurang pengalaman? Apa mungkin itu hanya kalimat biasa saja dan aku sudah bertingkah berlebihan? Apa mungkin semua orang, atau gadis lain memang sering mendengar kalimat begitu? Lagi pula, itu pujian, atau dia kesal padaku, sih? Ah, aku tidak mengerti semua ini! “Bagaimana bisa hanya dalam satu minggu segalanya tentangmu mengganggu aku setiap detiknya?” Sial. Kenapa hatiku berdegup kencang? *** Aku kembali lagi di kamarnya yang semakin lama terasa semakin kecil. Setelah seseorang yang mengaku dokter pribadi Bronze bersaudara meyakinkan kalau aku baik – baik saja, Angelo membawa aku kembali. Harapanku untuk meminta pertolongan pada pria yang sudah menua itu nihil tatkala dia malah menitipkan aku pada Angelo dan memintanya untuk mengurus aku baik –baik. Aku ingin berteriak “dia lah alasan kenapa aku bisa berakhir seperti ini, dia lah alasan kenapa aku diserang oleh anak buahnya sendiri, dia lah alasan kenapa aku mengalami gegar otak ringan, dia lah alasan kenapa aku tidak sadarkan diri selama berhari – hari, bagaimana bisa kau sebagai seorang dokter mengirim aku kembali ke mulut buaya” tapi tentu saja aku diam. Siapa pun dokter ini—yang namanya baru aku ketahui adalah Dokter Kincaid—pasti orang yang loyal dan kepercayaan Bronze bersaudara. Dia mungkin tahu Angelo dan saudara – saudaranya itu terlibat dalam tindakan kriminalitas. “Makan.” Linda mengumumkan begitu pintu terbuka. Baki yang dia bawa mengirim wangi lezat dan menggugah selera, tapi aku hanya diam, duduk dengan kaki bersila di atas tempat tidur. “Muse?” Aku menoleh. “Tidak ada gunanya menolak makanan,” Linda tersenyum keibuan. “Yang ada kau hanya menyiksa dirimu sendiri. Angelo tidak suka itu.” “Aku tidak peduli apa yang Angelo pikirkan. Aku benci dia.” “Kalau kau membencinya, maka untuk apa kau menyiksa diri sendiri untuknya, ‘kan?” Linda menyodorkan baki makanan itu padaku. Aku menatap nampan berisikan varietas makanan di atas pangkuanku. “Gunakan kebencian itu untuk pulih. Buat apa lemah dan menyedihkan?” Linda ada benarnya. Tapi aku tidak mengakui hal tersebut. Wanita itu menyibukkan diri dengan masuk ke kamar mandi, berkutat entah melakukan apa, lalu keluar lagi. Dia berjalan ke arah lemari dan merenyuk. Baru aku tersadar kalau selama ini aku mengenakan kaus kebesaran Angelo dan celana training miliknya yang harus aku ikat agar muat. “Aku akan memastikan kau punya pakaian ganti,” ujarnya lembut. Aku nyaris menangis, mengingat Ibu. Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia panik? Apa dia baik – baik saja? Bagaimana jika dia kesepian? Ibu tidak akan pernah mengakuinya, tapi Ibu selalu merasa sendiri begitu Ayah sudah pergi. Apa dia melapor polisi? Linda memerhatikan aku yang masih menatap makanan dengan pupil kosong. Wanita itu mendekat ke arahku dan mengelus pucuk kepalaku halus. “Semua akan baik – baik saja, Muse. Kau tahu Angelo dan yang lain tidak akan melukaimu.” “Aku tahu itu,” jawabku lirih. Aku tahu Angelo tidak akan membiarkan apa pun terjadi padaku. Tapi tetap saja, ini tidak benar. Angelo tidak beanr. Linda hanya menatapku iba. “Cepat makan.” Aku tidak menjawab. Baru ketika Linda menghilang dibalik pintu, aku mencoba menyentuh makanan. Beberapa suap saja sudah bisa membuatku merasa mual. Dengan cepat aku meletakkan nampan tersebut ke lantai, lalu termangu dalam diam. Kutatap dinding yang menghimpit, dan memutuskan untuk berbaring dan masuk ke dalam selimut. Tidur adalah jalan pintas melalui semua ini. Tak lama, seseorang masuk lagi ke dalam. Kali ini Angelo, bukan Linda yang aku harapkan. Laki – laki itu tidak menoleh padaku sedikit pun. Dia hanya berjalan lurus langsung ke kamar mandi. Keningku mengerut. Dia berkutat cukup lama, keluar dengan wajah yang fresh dan baju yang baru. Kemudian tanpa aba – aba naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Aku memekik. “Apa yang kau lakukan?” Angelo tidak menjawab. Tentu saja dia tidak menjawab. “Angelo—“ “Kau tahu aku tidak bisa tidur jika bukan di tempat tidurku sendiri,” sialnya, aku memang tahu. “Sudah hampir satu minggu lebih aku kurang tidur. Diam lah dan tidur saja.” Aku mengatupkan rahang. Bersiap akan bangun dari posisi tersebut, mendadak tangan besar Angelo sudah melekat di pinggang dan menarik aku ke dalam dekapannya. Mataku membesar. Angelo menelungkupkan kepalanya di leher belakangku, dan memeluk aku erat. “Stay,” ujarnya. “Hanya untuk beberapa saat.” Aku melawan. “Angelo—“ “Please, Muse. Just stay like this for a while.” Mungkin sebab pengaruh obat, atau gegar otak, atau atmosfer yang membuat aku merasa tercekik saat sendirian di dalam kamar ini, tapi satu sekon kemudian aku membiarkan Angelo memeluk aku erat, seperti seluruh dunia bergantung pada hal itu. Angelo rileks. Dan aku . . . aku dilema.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD