PART 11

1629 Words
PART 11 “APA perang bersaudara adalah ide yang baik?” tanyaku saat Angelo melemparkan sebuah gagasan di perpustakaan. Gedung ini tidak begitu besar seperti yang aku bayangkan, namun cukup nyaman dan suasana yang berbeda dari biasanya. Mengikuti desain seperti gaya Victorian, perpustakaan kecil sekolah ini seperti gedung – gedung lama di jaman dahulu yang sering digunakan oleh orang Inggris. Kayu – kayu rak buku menjulang ke atas, berbentuk desain yang elok nan cantik. Warna di tempat ini di d******i oleh cokelat dan emas – emas yang mengkilat. Tangga berputar berada di pojok ruangan, menuju ke lantai dua yang hanya sebesar kotak kecil tempat kursi – kursi dan meja berjajar. Di sanalah aku dan Angelo sedang duduk saling berhadapan, jauh dari beberapa konversasi murid – murid di lantai bagian bawah, dan tersembunyi di atas dalam cahaya yang temaram. Angelo berpangku tangan sembari membaca buku secara malas. “Kenapa?” “Terlalu luas dan panjang,” jawabku mudah. Sejujurnya aku sudah membaca beberapa tema yang bisa kami angkat untuk presentasi kelas histori nanti, dan aku sudah punya ide apa yang bisa kita gunakan sebagai subjek, namun aku tetap ingin laki – laki ini kontribusi dan menyumbang ide apa pun itu. Sejauh ini, setidaknya dia sudah melontarkan dua gagasan tentang subjek, yang sebenarnya tidak buruk. “Lantas? Jika kau belum tahu Muse, semua sejarah itu luas dan panjang.” Angelo mendengkus. Aku menahan rasa panas saat dia menyebut namaku. Kenapa dia memiliki efek seperti itu? “Iya, tapi presentasi ini hanya lima belas menit sampai dua puluh menit maksimal. Kita harus mencari subjek yang bisa kita rangkum segalanya dalam waktu yang sedikit seperti itu.” Angelo tidak menjawab. Sudah biasa memang, laki – laki ini tidak pernah berbicara kecuali jika memang dibutuhkan, tapi tetap saja rasanya menyebalkan bukan main. Manusia berbicara untuk mendapat lawan bicara. Bukan di diamkan seperti berbicara dengan dinding atau kaca. “Kenapa rasanya kau sudah punya ide sendiri, ya?” Angelo menyahut lagi. Kali ini aku yang tidak menjawab. Dia menghela napas. “Baiklah, selesaikan saja ini. Apa idemu dan mari kita gunakan gagasan itu” Angelo menutup buku dan mendorongnya ke tengah meja. Dia menyandar dengan dua tangan dilipat di depan d**a. Selama beberapa menit ke depan, aku memberikan ide yang sudah tersusun rapih di otak, mengeluarkan segala gagasan dari subjek yang aku pilih. Angelo mendengarkan—atau setidaknya aku harap dia memang mendengarkan karena dia terlihat seperti itu—dan sesekali mengangguk. Baru ketika aku sudah selesai dia kembali menyondongkan tubuh, berpangku tangan lagi. “Ide yang bagus,” ujarnya pendek. Aku menyipitkan netra padanya. “Kau benar – benar berpikir begitu atau hanya karena tidak ingin ber – argumen denganku? Atau biar semua ini cepat selesai?” “Mengapa sulit sekali percaya kalau aku memang benar – benar suka dengan ide-mu?” “Oh.” “Iya . . . oh.” Angelo membasahi bibirnya. “Dengar, Muse. Aku akan membantu untuk projek ini, kau tidak perlu takut.” “Baiklah.” “Kau percaya padaku?” Sulit untuk merespon inkuirinya. Apa yang bisa aku katakan padanya? Percaya padanya atau tidak? Aku baru bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu, tidak lebih dari satu bulan. Dan menurut opini yang beredar, dia ini ber – bahaya. Dia dan saudara – saudara laki – laki nya yang disebut Bronze bersaudara. Tapi sejak kapan kau percaya rumor, Muse? Lagi pula, menurut Hyuni, mereka hanya ber – bahaya jika kau ketahuan olehnya merundung orang yang lemah atau berbuat jahat. Termasuk macam – macam dengan salah satu dari mereka. Dan aku jauh dari kategori itu semua. Untuk apa aku bermain dengan mereka dan mengancam nyawaku sendiri? Mereka tidak seperti murid – murid yang mencari keuntungan atau semacamnya. Setidaknya, aku tahu Angelo terlalu datar dan tidak peduli pada hal – hal rendah seperti membiarkan aku kerja sendiri dalam projek grup atau menindas aku di dalam perpustakaan gelap di lantai dua. Jadi aku menatapnya dan mengangguk. “Baiklah . . . aku percaya padamu.” Mungkin ini sudah saatnya aku membuka hati dan mulai melihat kalau dunia itu besar. Ada banyak orang di dunia ini, dan aku tidak hidup sendiri. Lagi pula, aku yakin tidak akan ada salahnya membuka hati dan percaya pada seseorang, kan? Angelo tidak pernah melakukukan hal yang membuat aku kecewa. Pada dasarnya, semua itu hanya runor. Benar, kan? *** “Jadi, apa yang terjadi pada laki – lak itu?” tanyaku setelah pagi datang, dan Angelo akhirnya beranjak dari tempat tidur. Aku menelan rasa kosong yang melanda tubuh dan hati secara mendadak, begitu presensi laki – laki tersebut menghilang dari sampingku. Dia sudah mengenakan pakaian bersih, celana panjag dan kemeja putih. Bagian tangannya dilipat ke atas beberapa inci, memperlihatkan lengan yang berotot dan garis urat di jemarinya. Jemari yang aku sukai. Jemari yang dulu sering mengelus suraiku halus. “Sudah aku urus.” Jawaban yang dia berikan selalu ambigu bila aku mengangkat topik Four, laki – laki yang berusaha menyerang aku beberapa hari yang lalu. Bukannya aku peduli padanya, tapi satu – satunya hal yang membuat aku terus bertanya adalah, aku takut Angelo “mengurusnya” dengan cara . . . yang tidak baik. “Kau terus mengatakan itu.” “Karena itu jawabannya.” “Angelo—“ “Kau tidak perlu tahu, Muse.” Angelo memandang proyeksi dirinya di refleksi cermin. Setelah puas, dia berputar dan menatapku. “Ada beberapa hal tentangku yang tidak perlu kau tahu.” “Itu tidak membuatku lebih baik,” gumamku dengan kerut mengernyit. Cara Angelo menjawab malah membuat aku semakin berpikiran yang aneh – aneh. Tidak mungkin Angelo melukai orang hingga mereka . . . hilang, ‘kan? “Tidak perlu khawatir dengan hal – hal seperti itu.” “Lantas, apa yang harus aku lakukan di sini?” tanyaku frustasi. “Apa yang harus aku lakukan di dalam kamar ini seharian dan sendiri, Angie? Tidak ada. Pikiranku melayang sendiri, membayangkan setiap skenario buruk, terlebih ketika aku diserang seperti kemarin—“ Angelo menutup jarak kami. Dia bersimpuh di samping tempat tidur dan menatap aku lekat. “Tidak akan ada yang—“ “—terjadi padaku?” aku mendengkus. “Sekedar informasi saja Angie, tapi itu sudah terjadi.” Dia menutup mata. “You can’t always make sure that I am okay, dua puluh empat jam, Angie.” Kataku mengirimkan fakta padanya. “Kau selalu di luar—yang ngomong – ngomong apa sebenarnya pekerjaanmu?” Angelo mengatupkan rahang. Postur tubuhnya menegang dan aku bisa lihat dari mimik wajahnya kalau dia bergelut dengan pikiran sendiri. “Apa yang kau pikirkan?” tanyaku pelan. Angelo menatapku dalam diam. “Baiklah, kau tidak perlu menjawab itu.” “Muse . . . aku—aku bukan Angelo yang dulu.” “Aku tahu.” Angelo menunggu aku untuk elaborasi. “Karena Angelo yang dulu tidak akan pernah melakukan ini padaku.” Lagi – lagi dia menutup matanya, seperti menyembunyikan emosi yang keluar saat itu juga. Aku menggeleng, merasa pasrah dengan tabiat buruknya yang seperti ini. Dia selalu manutup segalanya dari dunia, dan Angelo selalu merasa seperti sendiri. Bahkan ketika aku sudah berkali – kali mengatakan kalau aku ada di sini untuknya. Dia tidak sendiri. Aku rasa dia sekarang berpikir kalau aku sudah tidak bersamanya lagi. Tapi memangnya apa yang dia harapkan? Dia yang pergi meninggalkan aku sendiri. Bukan dia yang kesepian, tapi aku. Angelo membuka matanya, dan aku bisa melihat sisa likuid netra di kelopak. “Aku bukan Angelo yang dulu.” Dia mengulang perkataan itu. Seperti mengatakan itu padanya sendiri, bukan untuk aku. “Muse, aku ingin kau tahu.” Angelo meraih tanganku. Jemarinya terasa dingin. Aku biarkan dia melakukan itu. “Jika aku bisa, aku akan memulangkanmu sekarang juga.” “Kau bisa melakukan itu.” Dia menggeleng. “Seperti yang aku katakan, ini bukan keputusan aku saja.” “Katakan padaku apa yang bisa aku lakukan agar kau mau melepas aku, Angie.” “Ini rumit,” dia mendesah. “Kau saksi untuk segalanya.” “Aku sudah berjanji tidak akan mengatakan apa pun!” “Aku . . .” Angelo menelan ludah. “Kau tidak percaya padaku?” tanyaku dengan nada yang keras. Angelo tidak menjawab. Yang artinya, iya. Dia tidak percaya padaku. Tidak walau pun kita sudah melewati banyak hal bersama. Tidak bahkan ketika kita merupakan dua orang tak bisa dipisahkan dulu. Dia tidak percaya padaku. Aku melepas tanganku darinya. Seketika jemari itu terlihat hampa. “Aku mengerti.” “Muse, ini tidak seperti yang kau pikirkan—“ “Tidak, kau benar. Kau bukan Angelo yang dulu. Dan aku . . . aku bukan Muse yang dulu. Tidak ada alasan bagimu untuk percaya padaku.” Aku menggeleng. “Kita secara praktis adalah dua orang asing yang jatuh dalam kondisi yang sulit.” “Kita bukan orang asing,” Angelo mengatupkan rahang. “Aku tidak kenal siapa kau yang saat ini.” Angelo terdiam lagi. Kemudian dia berdiri dan berjalan keluar. “Karena kejadian kemarin, aku memutuskan kalau kau tidak bisa ditinggal sendiri.” “Maksudmu?” “Kau akan dijaga oleh dua orang saudaraku, Lucky dan Felix.” Aku ingin protes dan berteriak, namun Angelo sudah lebih dulu membuka pintu dan dua figur familiar masuk ke dalam. “Kau sendiri yang bertanya apa yang akan kau lakukan seharian dan sendiri di dalam kamar ini, ‘kan?” Angelo menunjuk dua laki – laki di sebelahnya. “Well, meet my brothers.” “Hai.” Sapa Felix, matanya membentuk bulan sabit yang manis. “Halo, Muse.” Lucky melambaikan satu tangan padaku. Aku tidak memberikan mereka balasan satu pun. Angelo terkekeh. Sebelum dia menghilang dibalik pintu, dia menatapku dengan senyum tertahan. “Jangan buat mereka kewalahan, Muse. Aku akan sangat sedih kehilangan dua adik.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD