PART 18

2562 Words
PART 18 IBU menyambut aku dengan wajah yang tidak dapat aku jelaskan. Dia murung, tapi bingkai bibirnya membentuk garis kurva harsa, sangat ekstatik bisa bertemu denganku lagi. Dekapannya hangat, erat, seperti putus asa agar aku tidak melepaskannya lagi. Aku membalas pelukan itu sama eratnya, merindukan wanita setengah baya ini dengan segenap hatiku. Kami berdua menangis sendu, menangis penuh haru dan kesedihan yang mendalam. Menangisi hidup, menangisi ayah yang sudah tidak ada, menangisi hari – hari kemarin kami terpisahkan, dan tanpa ibu tahu, aku menangisi laki – laki yang bahkan tidak mengantar aku pulang lagi . . . Setelah berjam – jam berpelukan di ruang tamu, Ibu yang menangis akhirnya berhenti. Aku merasakan jari – jarinya mengelus surai aku lembut, penuh afeksi dan cinta. Aku membalasnya dengan genggaman yang kuat di lengan, takut jika aku melepasnya satu sekon saja ibu akan menghilang. Takut kalau ini semua hanya halusinasi dari rasa rindu yang sudah membludak. Takut kalau Angelo akan datang lagi, dan merebut aku dari pelukan ibu. Walau sebagian dari diriku merasa kalau aku ingin melihat lagi wajah dengan kulit pucat dan ekspresi datar itu . . . Ibu beranjak dari posisinya, membuat aku ikut terbangun. Dia menarik wajahku agar menghadapnya dan tersenyum tipis. Lagi, tidak ada rasa bahagia yang terpancarkan di matanya. Hanya kesedihan. Rindu. Dan rasa putus asa. Aku memeluknya lagi, begitu kuat hingga wanita paruh baya itu tertawa tipis. Tawa yang aku rindukan. Vokal ibu serak ketika dia membuka mulut. “Kau lapar?” Aku tidak lapar secara fisik. Aku hanya lapar sentuhan dari ibu. Lapar dengan segala sudut rumah ini. Aku lapar afeksi. Afeksi dari ayah, dari ibu tentu saja, dari Angelo . . . aku harus berhenti memikirkan laki – laki itu lagi. Tapi aku masih ingin bersama dengannya, jadi walau pun aku pikir aku tidak akan bisa mencerna makanan saat ini, aku tetap mengangguk. “Iya, lapar sekali.” Ibu mengatupkan rahang. Kelompak matanya bergelombang, dan aku tahu, dia sedang menahan tangis. “Tunggu di sini. Istirahat. Ibu akan membuatkanmu makanan.” Dia mengecup kening aku secara halus. Penuh afeksi. Ini ibu. Orang yang paling aku rindu. Orang yang membuat aku cemas dan khawatir. Orang yang membuat aku menangis, memikirkan bagaimana dia sendiri dan merasa kesepian. Orang yang membuat aku merasa iba dan takut, dan sedih setengah mati sebab dia harus mencari aku dan kehilangan arah. Ibu yang aku punya di dunia ini. Aku hanya mengangguk lagi. Kubiarkan ibu melepas pelukannya, otomatis aku merasa hampa. Tubuhku menjadi dingin. Hangat yang diberikan dari suhu tubuh ibu menghilang. Wanita itu menoleh ke belakang, seperti memastikan kalau aku benar – benar masih ada, dan akhirnya ditelan oleh belokan dapur. *** Wanita yang sangat aku sayangi itu membuatkan berbagai macam varietas makanan aku sampai kewalahan. Dan semuanya ada makanan favorit aku sendiri. Ada macam – macam masakan Korea Selatan, dari daging sampai sayur – sayuran. Aku bahkan melihat masakan ikan. Dan makanan laut. Aku menatap ramyeon yang entah dari mana, menjadi makanan tidak cocok dengan yang lain. Aku menahan tawa, melihat ramyeon dengan merek favorit aku. Lalu ada pasta. Berbagai macam pasta yang aku suka ibu buat. Bahkan ada mini pizza. Aku melirik ke samping dan mendapati steak. Steak? Oh, ibu benar – benar berlebihan. Aku menoleh padanya. “Aku harap kau juga makan, karena jika kau ber – eskpetasi aku akan menyelesaikan ini semua, well . . . kau akan sangat kecewa.” Dia tertawa. “Tentu saja aku ikut makan. Don’t be a pig, Muse.” Ibu menggeleng, kali ini senyumnya tulus. Aku mengambil sendok, memulai dengan makanan khas Korea terlebih dahulu tentu saja. Tidak lama ibu ikut, dan kami berdua tenggelam dalam euforia makan. Aku pikir aku tidak bisa mencerna apa – apa, tapi salah. Makanan ibu selalu ada tempat di abdomen. Walau pun aku sekarang sekali pun, aku tetap akan makan masakan ibu. Sesekali kami bercanda, berkata – kata aneh, menceritakan masa lalu, berteriak heboh ketika masakan yang dibuat ibu terasa sangat nikmat. Sejemang aku merasa seperti gadis normal. Gadis dengan orang tua yang utuh, gadis yang pergi kuliah, gadis yang tidak perlu memikirkan hari esok, gadis dengan hati yang tidak hancur berkeping – keping. Gadis yang tidak baru saja disekap oleh salah satu laki – laki yang sangat dia percayai . . . Dan ibu, sejemang dia berakting seperti anak gadisnya tidak baru saja ditahan di suatu tempat selama berhari – hari tanpa alasan. Aku menatapnya. Sisa – sisa agoni itu masih ada. Mata yang sembab dan hitam. Tubuh yang lebih kurus dari biasanya. Jari – jari yang lemah. Penampilan yang berantakan. She was living in hell. Aku tercekat. Mendadak napasku tidak beraturan. Ibu segera mengetahui itu. Dia menyodorkan aku segelas air penuh dan mengusap suraiku lembut. Dia tersenyum padaku. “You are okay, Muse. I’m here.” Ibu mengecup pucuk kepalaku. “I am here.” “Apa Angelo benar – benar ke sini?” tanyaku. Ibu membeku, lalu dia mengangguk naik dan turun. Aku menelan ludah. Begitu saja, semua euforia yang kami rasakan hilang. Hanya dengan satu nama saja, duniaku kembali runtuh. Apa namanya tidak akan pernah berubah menjadi hanya nama? Apa dia akan selalu menjadi katastrofe di hidup? “Apa yang kau ingin tahu?” “Segalanya,” jawabku. Dan ibu mengangguk. “But first, you need to get clean up.” Ibu menarik aku berdiri. “Anak gadisku tidak selemah ini.” Pada dasarnya, dia selalu membesarkan aku dengan cara ini. Tough love, kata dia suatu hari saat aku protes. Dia selalu yakin kalau aku adalah gadis kuat yang tidak mungkin bisa runtuh. In a way, aku merasa berterima kasih sebab karena dia, aku masih utuh saat ini. Aku masih menjadi Muse Lee yang tidak runtuh. *** Aku dan Esme menjadi teman yang akrab dalam jangka waktu pendek. Aku kerap mengunjunginya di gedung perpustakaan. Belakangan, aku tahu kalau dia usianya tidak jauh dari aku. Hanya beberapa tahun di atas saja. Dia kerja dengan maksud untuk mengumpulkan uang, mana tahu dia bisa kuliah tahun depan. Aku hanya mengangguk, mengerti dengan keadaan itu. Esme adalah gadis yang unik. Dia punya selera yang berbeda dari orang – orang banyak. Jika orang lain ingin merah muda, dia ingin hitam. Jika orang lain ingin balon, dia ingin badutnya. Jika orang lain ingin kue, dia ingin rokok. Jika orang lain ingin tidur, dia ingin berpesta hingga mati. Aku mengagumi Esme untuk hal itu. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Yang dia tahu, Esme adalah dia. Dia adalah manusia yang independen. Dia tidak butuh opini orang lain, dan lebih jelas lagi, dia tidak butuh orang lain untuk mengurus – urus hidupnya. Esmeralda itu seperti berlian di tengah emas banyak. Dan aku berharap pertemanan ini akan menjadi tali persahabatan yang selamanya. Berkat proyek kelompok aku dan Angelo, aku jadi semakin sering datang ke gedung perpustakaan. By the way, laki – laki itu menepati janjinya. Dia selalu datang dan tidak pernah absen ketika jadwal kita mengerjakan tugas di perpustakaan. Dan kontras dengan apa yang aku takutkan, Angelo justru banyak membantu. Sesekail bahkan dia memberikan ide, membuat aku sedikit puas dan senang. Esme hari itu ikut duduk di meja kami—meja yang terpencil dari semua orang dan sedikit gelap. Aku sudah pernah mencetuskan protes pada Angelo untuk perihal ini, tapi dia bahkan tidak menoleh padaku ketika menjawab, “Aku benci sinar matahari.” Yah, well . . . pantas saja dia super pucat dan datar. Tubuh itu kekurangan vitamin D dan dia sangat – sangat membutuhkan sinar ultraviolet. Oh . . . pantas saja dia sangat dingin. Kurang kehangatan dari cahaya mentari rupanya. “Apa yan kau lakukan di sini?” Angelo menggerutu. “Aku tidak ingin mengundang siapa – siapa ke sini.” Kalimat sinis itu untung saja tidak ditujukkan untuk aku. Tentu saja, sebab aku adalah anggota tetap kelompok ini. Aku menoleh ke samping, melihat ekspresi dari Esme. Jika gadis itu tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Angelo, dia tidak memperlihatkannya. Esme hanya mengedikkan bahu. “Aku tidak butuh ijin darimu untuk duduk di tempat kerjaku.” Angelo mengatupkan rahang. Sedangkan Esme tersenyum puas. Aku tidak mengerti kenapa mereka berdua tidak bisa akur. Maksudnya, dari awal aku sudah tahu kalau sepertinya Esme tidak suka dengan laki – laki ini. Tapi aku pikir itu hanya karena dia tidak suka dengan lelaki dingin dan datar seperti Angelo. Yah terkadang, aku harus mengakui kalau laki – laki ini memang br**gs*k. Aku sering dibuat kesal setengah mati. Dan dia terkadang tidak punya filter di bibirnya. Dan dari ekslamasi pertama mengenai Angelo yang berbuny seperti, “Kau berharap laki – laki itu datang untuk projek kelompok? Oh, sayang, lebih baik kau berharap hujan badai di tengah musim panas.” Aku sudah tahu dia tidak akan akrab dengan laki – laki itu. Tapi ini seperti ada sesuatu yang personal di antara mereka . . . Esme berdecak. “Muse tidak keberatan.” “Muse akan melihat kotoran kucing di sini dan dia tidak akan keberatan,” Angelo berkata datar. “Apa maksudnya itu?” aku berseru tersinggung, walau aku tidak tahu artinya dia apa. “Kau tidak pernah keberatan dengan apa pun,” Angelo menatapku. “Maksudnya, kau tidak bisa memberikan opini dan mengatakan apa yang ada di pikiranmu.” “Hmh . . . benar juga.” Aku melirik Esme penuh sangsi. Dia meringis melihatku. Dasar pengkhianat. “Aku bisa mengekspresikan opiniku!” Aku bersikeras. “Oh, ya?” Angelo menelengkan kepala. “Lalu apa menurutmu tentang baju Esme hari ini?” Aku menelan ludah. Aku memang berpikir Esme adalah gadis yang unik. Tapi dia butuh arahan dalam bidang gaya busana. Hari ini dia mengenakan switer merah, yang entah kenapa dilapisi oleh kaus hitam yang dimasukkan ke celana. Bawahannya jeans putih panjang, yang robek – robek di lutut. Sekilas, dia terlihat bodoh. Tapi dia Esme, dan Esme kabapel melakukan apa saja tanpa terlihat bodoh. Jadi aku mengatakan satu hal yang tidak akan terdengar seperti aku berbohong. “Dia terlihat cantik.” Esme menepuk bahuku puas, tersenyum lebar ke arah Angelo. Laki – laki itu melengos. “Kau tahu, Angelo?” Esme menyondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan laki – laki itu. “Sirik tanda tidak mampu.” Angelo terkekeh. “Aku tidak akan pernah sirik padamu.” Baiklah . . . aku merasa dikucilkan sekarang. Aku berdeham. “Mari kita selesaikan tugas ini tanpa ada perkelahian, OK?” Muse mengedikkan bahu—yah, dia bukan anggota kelompok ini, lebih tepatnya, dia bukan murid sekolah ini, jadi tentu saja dia tidak peduli dengan tugas menumpuk di meja. Angelo tidak menjawab, melainkan berkontinyu mengerjakan bagiannya. Selama sore itu, kami berkerja – sama dengan damai. Sesekali aku dibuat tertawa oleh Esme, dan dari bibir yang terangkat sesekali, aku tahu Angelo juga menikmati momen ini. Sampai akhirnya ketika malam sudah datang, kami semua memutuskan untuk pulang. “Aku akan mengantarmu,” ujar Angelo. Belum juga aku bisa menolak, laki – laki itu sudah lebih dulu berjalan melewati aku ke arah pintu depan. “Lebih baik kau menurut saja, tidak ada gunanya melawan.” Esme bergumam sembari membereskan barang – barangnya di meja depan. Lalu menggerutu tentang laki – laki yang bertata – krama baik tapi tidak tahu diri semua. Aku mengedikkan bahu. “Bagaimana denganmu?” tanyaku. “Aku akan baik – baik saja,” dia menjawab. “Lagi pula aku harus membereskan sebelum menutup perpustakaan.” Aku menngangguk dan melambaikan tangan padanya. Perjalanan dari sekolah ke rumah tidak lama. Hanya lima belas menit menggunakan bis, dan berjalan selama lima menit ke rumahku. Selama perjalanan Angelo sama sekali tidak berbicara. Aku menanyakan rumahnya di mana, dan dia hanya menunjuk ke belakang. Entah asal atau apa. Sesekali aku ingin menghantam kepalanya di jendela bis. Setelah kami sampai, dia ikut berjalan ke rumahku. Dua tangan dimasukkan ke saku. Dia menatap lurus ke depan. “Angelo, cukup sampai di sini,” kataku pelan.”Kau bisa pulang sekarang, hari sudah mulai malam.” “Aku akan mengantarmu sampai rumah, Muse.” “Tapi—“ “Aku tidak akan pulang sebelum melihatmu menghilang dari pintu masuk rumahmu.” Aku akan mengatakan baiklah, Bos . . . tapi aku mengurungkan niat itu. Selama lima menit kami berjalan berdampingan dalam diam. Hanya suara – suara angin, orang yang lewat, kendaraan dan klakson yang memenuhi ruang. Ketika sudah sampai, aku tersenyum padanya. “Terima kasih sudah mengantarku pulang.” Dia mengedikkan bahu. “Terima kasih sudah mengantarku pulang.” Ulangku bersikeras. Dia menggeleng. “Tidak masalah, Muse.” Aku menahan senyum. Baru aku mau menyuruhnya pulang, tapi mendadak seseorang keluar dari pintu depan. Aku melihat ibu menaikkan alis pada Angelo, jubah hitamnya melilit di pinggang. “Selamat malam,” Angelo menunduk hormat. Huh . . . laki – laki ini bisa sopan ternyata. “Selamat malam. Siapa ini?” tanya ibu padaku. “Angelo.” Jawabku singkat. Ibu mengerjapkan matanya padaku, tanda permintaan untuk meneruskan. “Dia teman kerja kelompok aku. Kita baru saja mengerjakan tugas di perputaskaan.” “Oh,” ibu tersenyum lebar. “Tampan.” “Ibu!” “What? Itu benar.” Dia memukul – mukul bahu Angelo. “Sering – sering main ke sini, ya.” Aku menutup wajah. Angelo balas dengan vokal yang halus. “I will.” *** Ibu menunggu aku di ruang tamu, wajahnya masih muram. Dia menepuk ruang kosong di sampignnya, lalu aku duduk di sofa. Dia menarik tubuhku hingga kami saling berpelukan lagi. Setelah bersih – bersih, aku merasa kepalaku lebih ringan. Aku menghabiskan waktu sekitar setengah jam sebelum akhirnya meninggalkan kamar—takut kalau aku akan berakhir di kamar yang berbeda lagi. Kamar dengan perabotan minim dan hanya ada meja kursi kerja saja. “Ibu harus mulai dari mana?” tanyanya. Dia terlihat begitu lesu. Dia terlihat seperti sudah menua begitu banyak selama aku pergi. Tidak, bukan pergi. Tapi dipaksa pergi. Aku diambil paksa dari sisinya. Wanita setengah baya ini terlihat seperti seseorang baru saja mengambil hal yang paling dia sayang. “Bagaimana jika aku yang memulai?” tanyaku pelan. Ibu menggeleng. “Oh, Muse . . . ibu tidak tahu apakah itu ide yang bagus. Ibu tidak ingin tahu . . . apa yang terjadi denganmu di sana.” “Mereka tidak melukaiku,” kataku tegas. Aku ingin dia tahu kalau Angelo tidak melayangkan bahkan satu jari saja padaku. Dia mengangguk. “Aku tahu. Aku yakin. Anak itu tidak mungkin melukaimu.” “Apa kau percaya padanya?” “Aku tidak percaya orang yang memisahkan aku dengan putriku sendiri,” dia menggeretakkan gigi. “Jadi, apa yang dia katakan padamu?” Ibu menarik napas panjang. “Muse, dia minta ijin untuk bersamamu lebih lama lagi.” “Apa?” “Iya. Dia bilang setidaknya sampai dia yakin kalau tidak akan ada yang berani melukaimu.” Ibu mengelus suraiku. “Aku tidak percaya padanya tentu saja. Aku memohon padanya untuk mengembalikanmu.” “Kenapa kau tidak lapor polisi?” tanyaku. “Aku lapor polisi.” Dia menggeleng. “Tidak ada yang percaya padaku kalau kau hilang. Mereka pikir kau hanya gadis yang kabur dari rumah. Bahkan aku sudah mengatakan untuk memeriksa CCTV bank, tapi tidak ada yang mau mendengarkan.” Aku mengatupkan rahang. Beginilah nasib menjadi warga rendah. “Ibu memintanya agar memulangkanmu.” “Lalu?” aku tidak sadar suaraku serak ketika bertanya padanya. “Dia bilang tidak bisa.” Ibu menatapku tajam. “Dia bilang dia mencintaimu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD