PART 22

2515 Words
“KENAPA JUGA kau sangat jahat, sih?” seru aku keras saat aku bisa merasakan Angelo mulai membuka matanya lagi. Posisi kita saat ini saling menjauh di sandaran tubuh pohon yang rindah. Aku tahu, sekarang pohon ini sudah memiliki makna sendiri buat aku. Aku tidak mengerti awalnya, apa yang membuat Angelo sangat suka duduk di sini, tapi sekarang aku sendiri mulai merasa terikat dengan pohon yang tidak sepenuhnya menutup sinar terik dari matahari walau pohon dan daunnya rindang sekali. Aku menelan ludah saat tidak mendengar jawaban. Benar, kan? Angelo itu memang pria yang sangat tidak suka berbicara. Dia tidak pernah peduli jika orang lain sedang berbicara dengan dia atau tidak. Jika dia tidak mau buka mulut, ya dia tidak akan membuka mulut. Aku tunggu selama beberapa saat, tapi saat masih belum mendengar jawaban yang jelas, akhirnya aku melepaskan erangan kesal yang tinggi. Jika kita ada di dalam suatu ruangan, pasti erangan aku akan menggema ke atas. Namun hanya langit yang kelam dan abu – abu yang menyambut kekesalan aku. Biasanya, di sini kita bisa melihat awan yang putih sekali. Kumpulan kolosal kapas yang indah dan menarik. Lalu, dia akan ditemani oleh langit biru yang indah dan cantik. Biru yang cerah dan terang. Tapi saat ini, seperti bisa merasakan hati aku yang juga sedang kelam, langit tidak cerah dan biru, melainkan abu – abu dan mendung. Mendung, seperti hati aku yang sedang kesal karena satu orang secara partikular. Satu orang secara partikular itu masih belum menjawab pertanyaan aku. Bagus. Sekarang aku malah memikirkan pria yang tidak tahu aturan ini. Menolehkan kepala dari atas langit yang mendung, aku melirik Angelo ke belakang. Ya, kami berdua sedang duduk bersandar di dua sisi yang berbeda. Dramatis sekali, seperti orang yang sedang saling menghindar dan tidak mau bicara satu sama lain, tapi aku memang sedang kesal padanya. Aku lihat dia tidak berekspresi sama sekali. Masih menjadi Angelo yang dingin dan kaku. Aku memutar dua bola mata saat tahu – tahu Angelo juga melirik ke belakang dan kita berdua saling bertatapan. Jika dia merasa bersalah, maka pria itu tidak memperlihatkannya. Angelo hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh, seperti tidak melihat tatapan mata aku yang tajam dan membunuh. Sungguh, jika aku punya tatapan laser semacam Clark Kent si tokoh dari Superman itu, aku pasti sudah akan menghabisi Angelo. Dia pasti sudah akan menjadi pasir dan debu yang menyedihkan. Aku melengos dan mendengus kesal. Pada dasarnya, aku tahu ini keterlaluan. “Setidaknya, kau bisa terlihat sedikit merasa bersalah,” ketus aku keras. Dan tahu kalau Angelo adalah Angelo, aku tidak mengharapkan pria itu membalas. Anehnya, aku mendengar Angelo berdeham. “Aku tidak bisa merasa bersalah dan berpura – pura,” kata dia santai. Mata aku membulat dengan sendirinya. “Kau menolak ajakan kencan dari Sarah Low dengan sangat brutal di depan orang banyak!” seru aku keras. “Kau tahu aku berteman dengan dia dari semester awal. Kau seharusnya lebih baik lagi dalam bersikap. Apa kau tidak memikirkan dia?” “Siapa yang suruh dia mengajak aku kencan di tengah kafetaria?” Aku terdiam. Angelo memang benar. Dia selalu benar. “Tapi bukan berarti kau bisa bertindak seperti itu, Angelo.” Aku bersungut. “Kau harus merasa simpati lebih banyak ke orang lain.” Aku meringis memikirkan Sarah Low yang harus menahan malu. Gadis itu butuh diberikan penghargaan. Angelo hanya berkata datar, “Aku tidak punya waktu untuk merasakan simpati pada orang lain.” *** JIKA aku tidak bertindak impulsif dan segera melompat di antara posisi Ibu dan Angelo berdiri, mungkin aku akan menyaksikan pembunuhan pertamaku. Dan rumah ini akan dipenuhi polisi, serta tanda batas kuning yang sering ada di acara kriminal tersebut. Dengan insting yang kuat—dan belajar dari pengalaman—aku tahu ibu akan menyerang Angelo. Seratus persen yakin. Dan masalahnya, aku memang benci laki – laki ini, tapi aku tidak ingin ibu mendapat masalah dengannya. Kontras dengan apa yang aku katakan tadi, kalau Angelo itu tinggi dan masif dan bisa mengalahkan ibu kapan saja, wanita setengah baya ini keras kepalanya sama denganku. Dia tidak akan jatuh dan kalah begitu saja. Aku yakin jika semua usaha gagal, dia akan menggigit Angelo sampai dia mati, satu – satunya senjata yang dia punya. Aku bergidik. Ibu melotot ke arahku, ketika aku sudah berdiri di hadapannya membelakangi figur Angelo di depan pintu. Aku melihat tanda pengkhianatan di matanya, tapi aku hanya terdiam, tahu kalau ibu hanya bersikap seperti ratu drama seperti biasa. “Muse!” Ibu berseru keras. Dia memerah seperti akan meledak. “Laki – laki ini berhak mendapatkan apa yang akan ibu lakukan padanya!” “Dan apa yang akan ibu lakukan? Membunuhnya? Ibu mau jadi pembunuh?” aku tidak membiarkan rasa dingin di tengkuk tatkala merasakan tatapan tajam Angelo membuatku luluh. Aku tetap berdiri tegak di tempat “Well . . . aku tahu caranya membuat pembunuhan seperti kecelakaan.” “Kecelekaan apa di rumah sebesar ini?” tanyaku ingin tahu. “Kita bisa bilang aku tersandung, dan jatuh tepat di dadanya,” Ibu melirik ke belakangku, api membara di matanya. “Dengan pisau dapur paling besarku.” Jika Angelo merasa tersinggung, dia tidak memperlihatkannya. Yang ada, aku merasa dia maju satu langkah, suhu tubuhnya merasuki area pribadiku. Aku mematung. “Muse—“ “Jangan sebut namanya!” Ibu berteriak galak. Dia seperti mama beruang yang merasa anak – anaknya sedang dalam bahaya. Kalau aku tidak ingat seberapa kritisnya keadaan sekarang, aku akan tertawa. Angelo tidak menjawab lagi. Bagus. Dia tahu apa yang baik untuknya. He knows better, ujarku dalam hati. Ibu menatapku lagi. “Kenapa kau melakukan ini? Dia berbahaya, Muse.” “Iya, tapi aku tidak mau kau melakukan sesuatu yang drastis.” Kataku mencoba untuk tetap tenang. “Sekarang, kau janji padaku kalau kau tidak akan menyerangnya.” “Dia menyerangmu!” “Anak buahnya menyerangku.” Aku mengoreksi agar ibu setidaknya mundur satu langkah. “Aku tidak akan pernah melukai Muse—“ Oh, never mind. He does not know better. Ibu menggeram. “Diam kau!” wanita setengah baya itu membentak laki – laki yang katanya berbahaya tanpa senjata untuk membela diri sama sekali. I love her. Aku harap aku akan tumbuh menjadi wanita sepertinya. “Eomma . . .” Aku mengerjapkan mata padanya. Dia mendengkus, tapi secara perlahan mundur dari posisi akan menyerang. Setelah puas, aku akhirnya memberanikan diri untuk melakukan hal yang selanjutnya. Manuver aku begitu pelan, hingga aku bisa merasakan ketegangan membuat saraf dan otot membeku. Aku berputar, tidak ingin melihat wajah itu tapi harus. Ketika aku memandangnya, memori dan nostalgia menyerang seluruh sanubari. Aku termakan lagi oleh iras pucat dan ekspresi datar itu. Aku termakan lagi oleh sorot mata yang tajam dan mengkilat. Aku termakan lagi oleh semua dari dirinya hingga aku nyaris terhuyung payah. Aku menelan rasa itu dalam – dalam, merasakan kerongkongan kering dan hati berdegup begitu kencang aku pikir jantungku akan keluar dari rongganya. Dia tidak membuka mulut, hanya berdiri menatapku. “Angelo.” Aku menggeretakkan gigi. “Apa yang kau lakukan di sini?” “Aku ingin bicara—“ “—tidak ada yang perlu dibicarakan.” Potongku cepat. “Aku ingin kau pergi dari sini.” “Muse—“ “Tidak.” Aku mengangkat satu tangan. “Do not Muse me. Pergi, Angelo. Atau satu sekon lagi kau di sini, aku akan membiarkan ibu melakukan apa yang dia mau.” Entah sebab Angelo benar – benar takut pada Ibu, atau dia menghormati apa yang aku mau. Tapi dia mengatupkan rahang, bergerak dan mengeras. Aku menunggunya untuk membuka mulut lagi tapi nihil. Dia mengangguk, seperti robot yang rusak. Lalu figurnya berjalan mundur, tidak memotong korteks visual dan lini pandang kami. Dan dia menghilang. Lagi. *** Hujan terus melanda kota ini. Awalnya dimulai dengan gemuruh hujan, lalu mendadak ada kilatan petir yang menerangi langit mendung, tak lama, aku mendengar rintik hujan yang segera berubah menjadi badai besar. Aku membuang napas. Terjebak lagi di perpustakaan? Mataku melayang ke samping, melihat laki – laki yang tidak terganggu dengan bisingnya hujan menabrak atap sama sekali. Sejujurnya, tidak ada yang mengganggu Angelo sama sekali. Hampir tidak ada yang bisa membuatnya bereaksi. Wajahnya selalu datar, dan itu saja. Kecuali jika ada orang rendah yang ditindas. Satu – satunya ekspresi yang akan hadir di wajahnya adalah murka, dan itu juga diikuti dengan kekerasan lain. Hari ini adalah hari terakhir kami kerja kelompok. Hampir semuanya sudah rampung dan selesai di kerjakan, tinggal berlatih untuk presentasi saja. Aku dan Angelo mengerjakan ini selama beberapa minggu di perpustakaan, semakin hari semakin . . . dekat dengan satu sama lain. Aku tidak ingin percaya diri atau semacamnya, tapi aku rasa kita sudah menjadi teman dekat sekarang. Dia sibuk menulis bagian akhir miliknya, sementara aku sudah selesai sedari tadi. Esme tidak bergabung dengan kami hari ini, karena banyak pengunjung yang lumayan datang dan dia harus berjaga di bawah—siapa tahu ada yang jahil dan membawa buku tanpa izin darinya. “Baiklah . . . selesai.” Angelo bergumam. Dia menyodorkan bagian akhirnya padaku dan aku mengangguk puas. Setelah memeriksa dua kali agar tidak ada yang salah, aku merapihkan barang – barang kami hingga siap. Angelo melirik jendela kecil yang paling dekat dengan kami. “Sepertinya hujannya lumayan besar,” komentarnya pelan. “Anginnya juga keras.” “Hmh . . .” Aku mengumbang pelan. “Aku rasa kita harus menunggu hujannya reda.” “Mungkin sebentar lagi,” balas Angelo. Dia meregangkan tubuh dan aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari lengannya yang besar dan berotot. Aku berdeham canggung dan melengos. “Muse?” Angelo memanggil. “Iya?” “Never mind,” dia tidak meneruskan. Dengan cepat aku menoleh lagi padanya, tapi atensi laki – laki itu hanya tertuju pada jendela kecil tadi. Aku tidak menggubrisnya. Setelah menunggu cukup lama, diisi dengan suara hujan dan napas kami—iya, setelah itu Angelo tidak membuka mulut lagi—kami akhirnya turun begitu sadar kalau hujan sudah reda. Hanya rintik – rintik kecil yang turun ke bumi, diikuti sesekali bunyi halilintar yang menggetarkan bentala. Aku menelusuri tangga turun, sembari mengencangkan tas di punggung. Saat melihat sosok Esme di balik meja penjaga perpustakaan, aku melambai padanya. “Sampai berjumpa lagi, Esme.” Dia melambai balik. “Hati – hati di jalan pulang!” Aku mengangguk dan berjalan ke pintu depan. Sesampainya aku di luar, baru saja aku kana melangkah pulang, mendadak figur Angelo sudah berada di sampingku. Aku mengernyitkan dahi padanya. “Apa?” tanyaku heran. “Aku akan mengantarmu pulang,” katanya gampang, seperti tidak sedang mengatakan sesuatu yang mengagetkan. Angelo mengantar aku pulang? Untuk apa? Dia sepertinya melihat pertanyaan di wajahku, jadi laki – laki itu mengedikkan bahu. “Jalan sehabis hujan sedikit berbahaya. Lagi pula, ini sudah cukup malam. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian.” “Aku selalu pulang sendirian,” kilahku keras kepala. “Sekarang kau tidak perlu sendirian lagi.” Angelo berjalan lebih dulu, meninggalkan aku yang membelalakan mata sebab mendengar apa yang dia katakan. Kau tidak perlu sendirian lagi, entah karena aku sedang datang bulan atau memang aku sudah berubah menjadi gadis yang dramatis, aku nyaris menitikkan air mata mendengar perkataan itu saking terharunya. Aku segera menyusul laki – laki itu, dan tanpa basa – basi mengarahkan nya ke jalan pulang. Dia tidak banyak berkomentar, hanya sesekali mengumbang pelan dan menjawab pertanyaan bodoh yang aku lontarkan, seperti “Kenapa kau selalu datar, ‘sih? “Hmh . . .” “Apa kau tidak pernah merasa senang untuk sesuatu?” “Hmh . . .” “Rumahmu di mana?” “Hmh . . .” “Apa jangan – jangan kau punya rahasia gelap dan kelam dan dirumahmu ada ruang bawah tanah tempat menyekap orang?” Angelo terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan kata sialan itu lagi. “Hmh . . . “ Aku melempar tangan ke udara, frustasi. “Apa kau hanya akan terus melakukan itu keitka aku bertanya sesuatu?” “Hmh . . .” Aku mendengkus, dan tidak berkata apa – apa lagi. Tidak lama, kami akhirnya sampai di ruamh. Kepala sedikit basah kuyup, dan seragam sudah menyatu dengan kulit. Dia menunggu aku hingga pintu terbuka dan Ibu memberikan tatapan tidak setuju dengan pilihanku. “Hujan – hujanan?” dia berkacak pinggang, sepertinya masih tidak sadar kalau aku membawa seorang teman. “Hey . . . setidaknya aku sudah menunggu cukup lama agar hujannya reda.” Dia menggeleng, lalu akhirnya tersadar ada figur laki – laki yang tidak dikenal di belakangku. “Ini siapa?” tanya Ibu. “Angelo . . .” Jawabku pelan. Aku menyamping, memperlihatkan figur laki – laki itu. “Angelo, ini ibuku.” Dia membungkuk dengan sopan lalu mengulurkan tangan memperkenalkan diri. “Aku Angelo.” Ibu tersenyum sembari menjabat tangannya. “Oh, kalian basah!” ibu berseru. “Ayo, masuk dulu! Angelo, aku akan buatkan makan malam untukmu.” Dia terlihat ragu beberapa saat. Aku memberikannya tatapan jika kau tidak mau maka tidak apa – apa, kau harus segera kabur dari wanita ini berharap dia mengerti maksudku. Tapi dia mengedikkan bahu dan berkata, “Baiklah . . . aku memang lapar. *** “Menurutmu apa yang ingin dia katakan?” tanyaku akhirnya ketika kami berdua sudah kembali duduk di dapur. Ibu tidak menjawab. Dia sibuk memgeang erat garpu di tangannya hingga aku yakin besi itu akan bengkok tidak lama lagi. “Eomma . . .” Aku membuang napas panjang. Jika dia merasa ini semua adalah hal yang aneh dan mengungkit pihak yang berwajib lagi, aku akan benar - benar meledak saking stres-nya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Jika mendapat tekanan dari orang lain, aku bisa teriak keras. “Kau tidak mengerti, Muse. Kau tidak tahu betapa aku ingin menghabisinya karena sudah merebutmu dari aku.” Ibu mengerutkan kening dan menggeleng kesal. Aku terdiam. Lalu berdiri dan memeluk ibu dari belakang. Dia seketika meluluh, tubuhnya yang tegang kembali rileks, dan pegangan tangannya melemah di garpu tidak bersalah itu. Aku menaruh daguku di atas pucuk kepala ibu. “Aku mengerti. Dan aku juga sama bencinya karena dia sudah membuatmu tersiksa. Memisahkan kita. Apa kau tahu seberapa khawatirnya aku padamu?” aku mengelus lengannya. “Mari ktia coba lupakan semua ini. Yang penting, aku sudah bersamamu lagi.” Ibu mengangguk. “Kita sudah bersama lagi.” Aku tersenyum tipis. Ketika aku kembali duduk, bel rumah berbunyi lagi, diikuti suara pintu diketuk. Aku nyaris merotasikan bola mata. Baru saja ketenangan datang, perkara sudah kembali datang. Ibu mengerang. Jika ini kartun, pasti asap tebal akan keluar dari dua lubang hidungnya. Dia meletakkan garpu denagn bunyi nyaring dan menderap ke pintu depan. Aku berlari mengejarnya. “Ingat, pembunuhan akan memisahkan kita lagi.” Dia menyipitkan matanya padaku seperti berkata, nice try, but I’m still killing this guy. Aku menggeleng tak percaya dan membiarkan ibu membuka pintu dengan kesal. Tapi bukan Angelo yang berdiri di depan pintu. Figur yang ada di depan pintu adalah laki – laki besar yang mengenakan pakaian serba hitam, dan masker yang gelap. Aku berteriak. Ini bukan kisah gadis paranoid yang butuh terapi. Ini asli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD