Menyambung dari kisah masa lalu Maria dan Pongky yang baru terungkap, membuat Nusa penasaran akan cerita cinta tersebut dan Erik yang kesal memendam cemburu. Kenapa harus cemburu coba ya, toh Maria juga bukan pacarnya. Ckckck….
Jam istirahat telah tiba, Maria yang sudah kelaparan mengajak Nusa ke kantin untuk mencari makan siang.
“Sa, kantin nyok,” ajak Maria.
“Let’s go,” sahut Nusa berdiri.
Mereka pun keluar ruangan berjalan menuju kantin.
“Cuy, lu berapa lama pacaran ama si Pongky?” tanya Nusa. Lagi-lagi bertanya lagi tentang hal itu.
“Gak lama sih, cuman beberapa bulan doang. Sekitar tiga bulan ada lah,” jawab Maria mengingat kembali.
“Buset, cepet amat sih,” protes Nusa.
“Lah, lu tadi denger sendiri pan, dia alay gitu,” ucap Maria membela diri.
“Bukan alay kali, lebih tepatnya salah paham, cuy,” terang Nusa.
“Ya begitulah kira-kira. Makanya dia nyesel kan, wkwkwk,” ucap Maria.
“Iya sih, kasian bener nasibnya. Terus kok bisa deket lagi, kayak gak pernah terjadi apa-apa gitu, gimana ceritanya?” tanya Nusa.
“Dulu tuh gue ketemu dia di Ancol, di kantor pusat. Ternyata dia juga bekerja di sini. Ya udah, kita ngobrol biasa, lama-lama enak juga temenan sama dia, dan kita pun berjanji gak akan bahas masa lalu, biar gak canggung lagi,” jelas Maria.
“Ya ampun, ampe segitunya lu berdua. Tapi bagus lah, mending menjadi kawan daripada lawan, ya gak?!” ujar Nusa so’ keren.
“Iye, kita sepakat untuk jadi kawan aja. Lagian seru juga sih, jadi sahabatnya dia. Bebas mau gimana pun, gak ada jaim lagi lah ya,” terang Maria.
“Terus lu ama si Erik gimana?” pancing Nusa.
“Ya sama aja, kayak lu ama gue,” jawab Maria berbohong. Padahal Maria merasa lebih dari itu. Gengsi oh gengsi.
Di Sana sudah ada Erik dan Ricard sedang makan sambil berbincang. Panjang umur Erik ya, baru juga diomongin, dah duduk manis aja di kantin.
“Oi, tumben lu ke kantin, Cad?” tanya Maria menyapa yang sudah duduk duluan.
“Senggang gue, Mar,” jawab singkat Ricard.
“Halo Bang Erik, cemberut mulu nih. Wajah gantengnya jadi jelek tuh,” ucap Nusa menggoda Erik yang memang cemberut melihat kedatangan mereka berdua.
“Asem, lu!” seru Erik.
“Lu kenapa sih, Rik? Tiba-tiba manyun gitu, tadi pagi biasa aja jemput gue,” sela Maria.
“Gak apa-apa kok,” ketus Erik.
“Buset dah, gitu amat jawabnya, ampe takut gue,” goda Nusa.
“Kenapa sih?” tanya Ricard.
“Entahlah, Bang Erik lagi ngambek, cemburu buta sama si Pongky,” jawab enteng Nusa.
“Apaan sih lu,” semprot Erik.
“Bener kan, lu cemburu gara-gara si Pongky mantannya doi,” jawab Nusa menyenggol bahu Maria.
“Masa? Sumpeh, lu??” Ricard kaget, terbelalak mendengar ucap Nusa.
“Iyaaa dong, masa kagak,” seru Nusa.
“Cukup ya, gak usah bahas masa lalu gue, please deh!” akhirnya Maria menjawab dengan kesal.
“Beneran toh, gila lu ya, bisa pacaran juga si Pongky,” pekik Ricard tak percaya.
“Beneran lah, gue yang jadi saksinya?” ucap Nusa memancing Erik.
“Saksi apaan?” tanya Maria, heran dengan ucapan Nusa.
“Menjadi saksi tadi lu ama si Pongky mengungkit masa lalu yang alay,” jawab Nusa menohok.
“Asem lu,” semprot Maria.
“Bang Erik, mau mendengarkan kisah cinta mereka, ndak?” goda Nusa.
“KAGAK!” pekik Erik semakin kesal digoda Nusa terus. Pedahal dalam hati sangat bergejolak ingin mengetahui tentang mereka. Erik ini mempunya gengsi yang besar juga, sama seperti Pongky. Jangan sampai deh, menyesal nantinya.
“HAHAHAH, santai Bang Bro, selow dong,” Nusa terus menggoda Erik, terlihat wajah kesal Erik yang menatap tajam padanya.
“Makan oi makan, ribut mulu,” ucapan Maria menyudahi aksi Nusa. Merasa tidak enak hati pada Erik.
Mereka pun makan dengan tenang, melupakan bahasan tentang kisah cinta Maria dan Pongky. Perbincangan pun dialihkan pada pekerjaan, untuk meredam keributan. Tidak ada yang tahu, Erik menahan rasa cemburu yang tidak tepat. Lah iya, ngapain coba cemburu sama pacar orang, ya kan?!
Hari-hari telah berlalu, kisah Maria dan Pongky sudah teredam dengan baik karena Maria mengancam Nusa untuk tidak dibahas lagi.
Hingga tiba saat dimana Rey datang ke Manis untuk menemui Maria. Pertemuan mereka pun berjalan dengan baik dan bahagia. Ada hal yang Maria rasakan berbeda, ya kali ini Rey bersikap sangat manis, lebih dari biasanya. Rey mengajak Maria menonton di bioskop, kemudian mengajaknya makan malam di tempat yang tidak biasa.
Tempat mewah dan romantis, banyak pasangan muda-mudi sedang berkencan. Cahaya lilin dan bunga mawar menghiasi dengan indahnya, serta diiringi lagu-lagu yang romantis. Makanan dan minuman sudah siap tertata dengan rapi di meja. Nampaknya Rey sudah menyiapkan hari ini dengan sempurna.
Rey berdalih ke toilet, padahal dia hanya ke lobi untuk mengambil barangnya. Maria yang sedang menikmati makanan tersebut, tidak sadar apa yang dilakukan Rey. Maria yang tidak berpikir aneh, menganggap kencan romantis ini untuk merayakan empat tahunnya mereka berpacaran. Anniversary, kalau orang bilang.
Saai itu Rey kembali dan membawa sebuket bunga mawar merah. Memberikannya kepada Maria dengan cara yang romantis, ya betul, Rey berlutut di hadapan Maria.
"Hey, lu yang sudah menjadi pacar gue selama empat tahun ini, gue lamar lu tepat hari ini. Tepat dimana gue nembak lu saat itu. Lu mau gak nikah sama gue?" ucap Rey sambil berlutut dengan romantis. Cincin pasangan yang masih tersimpan di kotaknya, dia buka perlahan diperlihatkan pada Maria.
"Cincin ini, sebagai tanda ikatan cinta yang tulus dari gue. Semoga lu suka sama cincin ini," sambungnya seraya memberikan cincin itu pada Maria.
Maria masih terdiam, kaget dengan apa yang terjadi di depannya. Dia masih tidak percaya, apa yang sudah Rey lakukan. Ya lamaran. Rey sedang melamarnya.
"Mar, gimana? Kok diem aja?" tanya Rey.
"Aduh, maaf Rey. Lu apa-apaan sih? Bangun dong, gue jadi malu ini," jawab Maria panik.
"Kenapa mesti malu, sekarang gue lagi lamar lu, Mar," ucap Rey tersipu malu.
"Ya tetep aja, gue yang malu. Lu berdiri dong," pinta Maria, kekeh memintanya untuk berdiri.
"Lu terima lamaran gue gak?" Rey pun masih tetap berlutut, menunggu jawaban.
"Maafin gue Rey, gue mohon lu duduk dulu," pinta Maria memohon.
Dengan kecewa, Rey bangkit dan mengambil kursi kemudian duduk di depan Maria. Kekecewaan itu terpancar jelas di wajahnya. Seolah tahu apa yang akan Maria jawab, Rey hanya bisa menghela nafas panjang.
"Rey, sumpah gue minta maaf. Gue masih bingung harus bilang apa. Gue gak tau harus gimana. Kenapa harus tiba-tiba begini, Rey?" tanya Maria dengan bingung.
"Loh, kenapa lu bingung? Ya gimana ya, gue ingin kasih kejutan buat lu. Gue pikir, lu bakal seneng atas lamaran ini, " jawabnya penuh kekecewaan. Kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Dia sudah berpikir jauh, dia pikir Maria akan senang dan langsung menerima lamarannya.
"Bukan gitu maksud gue, gue seneng, tapi gue rasa harus ada persiapan. Gak bisa dadakan seperti ini," ucap Maria membela diri.
"Gini loh, gue hanya lamar lu aja, bukan minta lu nikah besok. Kenapa harus ada persiapan segala? Lu tinggal jawab aja, lu terima atau enggak? Simple kan?" tanya Rey, mendesak Maria.
"Iya Rey, gue tau. Tapi jujur deh, gue bingung harus jawab apa sekarang," jawab Maria tidak enak hati.
"Lu kayaknya beneran deh, lu gak seneng ya? Atau, lu gak yakin sama gue? Gini loh Mar, kita itu udah pacaran selama empat tahun, tepat hari ini. Gue udah rencanakan ini dari jauh-jauh hari. Karena gue yakin, lu jodoh gue. Gue sayang sama lu, Mar," ucap Rey, meyakinkan Maria.
"Gue cuman minta jawaban, iya atau enggak. Dah cukup itu aja," sambungnya.
"Gak segampang itu Rey. Untuk sekarang banget, jujur gue gak bisa kasih jawaban iya atau bilang enggak. Please Rey, maafin gue. Gue minta waktu untuk menjawabnya. Gue masih kaget, gue masih gak percaya ini. Tapi jujur aja gue sangat seneng dapet kejutan lamaran seperti ini. Jujur gue seneng. Tapi hati gue belum siap untuk menjawabnya sekarang. Maaf banget. Makasih sangat Rey, lu udah persiapkan ini dengan sempurna dari jauh-jauh hari. Makasih udah dateng jauh-jauh ke sini. Makasih lu udah mau lamar gue hari ini," jawab Maria dengan serak, menahan tangis yang tidak ingin dia perlihatkan. Kebiasaan Maria yang suka ngomong ala rapper, dengan kondisi seperti ini pun, dia tidak menyadari hal itu. Dia berbicara dengan cepat, tanpa jeda.
Rey yang sangat baik hati, sudah pasrah dengan jawaban Maria. Jawaban yang masih belum terjawab. Namun, Rey menerima permintaan maaf Maria dengan lapang d**a. Rey sangat menyadari bahwa Maria memang belum siap, dan dia memakluminya.
Apapun alasan Maria, dia yakin bahwa Maria masih cinta padanya. Hanya saja waktu yang tidak tepat untuk melamarnya saat ini. Jawaban yang masih belum terjawab ini, bukan berarti mereka harus putus atau akan putus. Bukan seperti itu, Rey dan Maria meyakinkan satu sama lain bahwa mereka tetap saling mencintai dan tetap menjalani hubungan.
Bunga mawar merah itu Maria bawa pulang, sedangkan untuk cincinnya tetap dipegang Rey. Bagaimana pun, Rey sangat yakin bahwa Maria akan menjadi istrinya kelak. Semoga saja begitu, seperti doa dan harapannya.
Maria sendiri mempunyai impian untuk membahagiakan orang tuanya dahulu sebelum menikah, meski dia bukan tulang punggung keluarga. Impian itu masih belum bisa terlaksana, karena masih ada hal mengganjal yang menjadi hambatan.
Kejutan lamaran yang dilakukan Rey gagal sudah. Remuk hati memang menghampirinya, namun dia tidak putus asa. Dia masih yakin akan cintanya Maria. "Suatu saat, lu tetap akan menjadi istri gue, Mar." Batinnya berucap dengan yakin.
Berbeda hal dengan Maria, kejutan manis itu malah membuatnya menjadi bimbang. Bagaimana tidak, pasti bimbang lah ya. Hatinya sedang goyah karena mulai dirasuki oleh bayang-bayang Erik yang masih bias. Kebimbangan itu lah yang menjadi kericuhan hati Maria sekarang.
Tidak mudah baginya untuk langsung menerima lamaran itu, karena bagaimana pun dia tidak mau menyesal dikemudian hari. Rasa penyesalan yang akan membuat pernikahannya tidak nyaman. Dia sendiri tidak mau melukai hati Rey, sehingga tidak mau banyak hati yang akan tersakiti olehnya.
Maka dari itu, Maria masih belum bisa memberikan jawaban pasti atas lamaran tersebut. Butuh waktu untuk memikirkan semuanya.
Memang, Maria berhak untuk tidak menerima lamaran tersebut. Tetapi hal itu akan membuatnya merasa tidak nyaman. Mungkin saja akan menjadi tidak nyaman seumur hidupnya, karena telah menolak lamaran dari seorang laki-laki, yang mana adalah pacarnya sendiri. Akan banyak bisik-bisik tetangga yang nanti bakal menghantuinya.
Selain itu, banyak mitos yang mengatakan bahwa apabila seorang wanita menolak lamaran atau ajakan untuk menikah, nanti akan ada hal buruk yang menimpanya. Bukan seperti azab-azab yang ada di sinetron Indonesia loh ya. Bukan begitu loh. Sebagai contoh, dia akan menjadi wanita lajang seumur hidup. Catat ya, wanita lajang bukan wanita jalang.
Kebimbangan Maria dan kekecewaan Rey harus tetap dijalani masing-masing. Bagaimana pun hidup harus tetap berjalan dengan semestinya, walau ada perubahan suasana hati yang berbeda. Rey sendiri kembali ke kota asal tempat dia bekerja, begitu juga dengan Maria, harus tetap pergi bekerja.