Episode 9 - Jujur yang Pedih!

2145 Words
Nampaknya Maria sudah memiliki uang kembali, sehingga dia pun berangkat ke kantor menggunakan jasa abang ojek online. Jasa antar jemput gratis dari Erik sudah tidak berlaku. Maria juga punya malu, tidak selamanya harus minta gratisan dan bergantung pada orang lain. Ya memang, kecuali lagi kepepet saja. Namanya juga orang hidup, ya kan? Maria bekerja seperti biasa meski dengan wajah muram durjana, pucat pasi dan kusut belangsut. Wajah muram itu tidak bisa dia sembunyikan. "Pagi, Bapak Nusa," sapa Maria lesu dengan wajah muram durja. "Pagi juga, Bu Maria," jawabnya. Kemudian Nusa yang melihat wajah Maria begitu, langsung peka. Dia tidak berani banyak tanya. "Pasti ini mah, wanita bar-bar ini sedang dilanda masalah yang serius, " Batinnya. Selama Maria bekerja di dalam ruangannya, tidak terucap lagi sepatah kata pun dari mulutnya. Dia hanya fokus di depan komputer. Yang terlihat memang fokus ke layar monitor, tapi tidak ada yang tahu apa yang dia sedang kerjakan dan pikirkan. Nusa yang sesekali menoleh padanya, tidak berani untuk bertanya. Horor juga mungkin ya, takut bar-barnya kumat. Pikiran Maria melayang kemana-mana, banyak yang menjadi beban hatinya. Tidak sekali, dia mengacak-ngacak rambutnya sehingga menyembul dan kusut seperti rambut singa. Saat jam istirahat pun, Maria hanya bengong dan mengaduk makanannya. Rupanya sedang tidak selera untuk makan. Maklum dong, lagi galau gundah gulana. Setelah usai jam makan siang, Maria bergegas meninggalkan ruangannya. Ternyata hari ini adalah jadwalnya untuk pergi ke lapangan. Maria hanya memantau pekerjaan para karyawan produksi di lapangan. Sebagai asisten manajer, Maria harus mengetahui alur produksi tanpa pengecualian. Selain mengerjakan data, dia juga wajib mengetahui keadaan di lapangan. Selagi di lapangan itu, Maria bertemu dengan Ricard. "Hey, Cad. Apain lu di sini?" sapa Maria. "Oh, hey Ceu Mar. Biasalah gue. Cek dulu barang untuk packing nanti. Data gue selisih seperti biasa," jawab Ricard. "Loh, kenapa gak nyuruh anak buah aja sih lu. Heran gue, ampe lu sendiri yang dateng ke sini untuk ngecek. Jadi curiga gue, haha," goda Maria, menyiratkan keisengannya. "Apaan sih lu, serius gue. Anak buah gue lagi pada sibuk semua, cuy," tegas Ricard. "Ah masaaaaaaaa...... Gue pikir lu lagi ngecek supervisor produksi yang cantik itu," ucap Maria menggoda Ricard, sambil tangannya menunjukkan ke arah yang lain. Tepat sekali, supervisor cantik yang sedang bekerja di sana. "Anjrit lu ya, psssttttt!! Berisik tau, malu gue," pekik Ricard. "Hahaha, tuh kan bener gue. Ya kan, bener kan. Mau, gue samperin dia?" usil Maria. "Kagak usah, please jangan. Please gak usah bar-bar cuy. Ini jam kerja loh," pinta Ricard. "Ok kalau gitu, nanti pulang kerja gue samperin dia ah," ujar Maria penuh intrik, sambil ngeloyor pergi meninggalkan Ricard. Maria berjalan ke arah supervisor cantik tadi. Dengan senyum manis penuh kelicikan, serta acungan jempol dan kerlingan matanya, Maria teriak pada Ricard, "sip loh ini." Ucapnya penuh kemenangan. Ricard hanya bisa menggelengkan kepala, mengusap wajah garangnya menahan malu tanpa membalas teriakkan Maria. "Kampret memang lu, Mar! Kok bisa si Pongky kepincut cewek begini ya?!" Batinnya. Maria mendekati supervisor cantik itu, hanya untuk bertanya perihal pekerjaannya. Tidak sampai hati, Maria membuat malu sahabatnya itu yang super sibuk. Suasana hati Maria mulai membaik, wajah muram itu luntur perlahan. Keusilannya terhadap Ricard menjadi mood booster untuk bisa tertawa kembali. Maria memang sudah terkenal dengan wanita bar-bar, licik, iseng tetapi tidak julid. Licik di sini bukan licik yang jahat, hanya licik penuh intrik untuk mendapatkan gratisan. Bukan korupsi atau penjahat wanita ya. Bukan licik seperti koruptor yang korupsi atas dana bantuan sosial. Tidak juga seperti nona Cheon Seo Jin dalam drama Korea yang lagi viral itu. Di samping semua itu, Maria memang baik hati dan hambel. Semua orang bisa menjadi temannya, walau dia hanya seorang mamang parkir. Di matanya, semua manusia adalah sama. Tetap manusia, tanpa dan dengan jabatan apa pun, ya manusia. Ya kali menjadi goblin atau mahluk seperti di dunia anime Shinbi's House. Ngeri kali cuy. Kembali ke Maria yang sedang bekerja di lapangan. Dia masih fokus terhadap apa yang sedang dikerjakannya. Dia mengawasi jalannya produksi yang sedang berlangsung. Dia pergi dari sudut kanan ke sudut kiri, bahkan menenggak ke atas untuk memastikan mesin yang sedang bekerja itu aman. Pekerjaan dia selain memantau, terkadang dia membatu para karyawan produksi itu. Kadang dia bosan sendiri hanya untuk memantau pekerjaan produksi. Oleh karena itu, dia lebih sering membantu para karyawan. Bukan tugasnya memang, hanya sekadar membantu saja dan mengeluarkan energinya yang banyak tersimpan. Keresahan yang melanda Maria, hilang seketika saat bekerja di lapangan. Namun, tidak pernah tahu akan sampai kapan Maria merasakan kericuhan hatinya. Saat ini, pekerjaan adalah salah satu cara untuk membuatnya melupakan hal yang meresahkan. Sebaik-baiknya Maria menyembunyikan masalah perasaannya itu, Erik dan yang lainnya bisa mengetahui Maria sedang galau. Apalagi Nusa, yang paling sering bertemu dengannya, pasti dengan cepat mengetahuinya. Nusa mengajak Erik dan yang lainnya untuk pergi ke tempat biasa, dengan maksud untuk menghibur Maria. Bagaimana pun, Maria adalah tetap sahabat kesayangan mereka. Awalnya Maria ragu untuk ikut bersama mereka, namun dia tidak mungkin menyembunyikan itu semua terlalu lama. Hari itu Maria ikut bergabung dengan para sahabatnya untuk sekadar kumpul bersama. Ricard pun ikut kali ini. Formasi lengkap, kata Aris. Itu loh Aris, pemilik cafe tempat biasa mereka nongki. Antara terpaksa dan tidak enak hati apabila tidak ikut, beda tipis memang. Tapi mau gimana lagi, mereka juga lama-lama akan mengetahui apa yang sedang terjadi pada Maria. Mereka bertujuh sudah duduk manis di kursi, dengan meja yang sudah dipenuhi makanan. Mereka bercanda gurau bersama, sedangkan Maria hanya tersenyum tipis. Sontak, hal tersebut menjadi pertanyaan buat mereka. Diawali dengan tanya Aline. "Mar, lu murung banget sih akhir-akhir ini. Lu kenapa? Ada masalah kah? Kalau lu mau, cerita sama kita, kita dengan senang hati siap menjadi pendengar. Barangkali kita bisa bantu juga. Tapi kalau lu gak mau cerita pun, gak apa. Kita hanya pengen lu gak murung aja, ceria seperti biasa, dan usil seperti biasa. Gak baik loh Mar, buat kesehatan, " tanya Aline dengan hati-hati. "Hmm... Gue gak ada apa-apa sih. Cuman lagi galau aja," jawab Maria singkat, namun penuh tanya. “Galau gara-gara apa nih? Kerjaan? Keluarga? Atau... " tanya Aline terhenti, langsung menoleh ke arah Erik. "Apa lu? Kenapa nengok ama gue semua? " tanya Erik heran. "Ya kali, " sambung Aline. "Udah, bukan ama kalian kok. Hanya masalah pribadi gue aja," ucap Maria menenangkan mereka. "Rey?" samber Sara, dengan penasaran. "Iya," singkat Maria. Semua menjadi hening seketika. Aline pun tidak dapat bertanya lebih lanjut. Mereka mengerti akan posisinya, iya, hanya sebatas sahabat yang tidak ingin mencampuri urusan pribadi masing-masing. "Rey lamar gue saat weekend lalu, " jelas Maria memecah hening. "What?!" tanya mereka semua dengan kaget. Bingung sih, antara bertanya atau lebih seperti menjurus ke ‘Kok bisa?’. Ada pengecualian, Erik sih. Hanya mengernyitkan alis saja tanpa menatap Maria. Kaget juga dia. "Terus gimana? Lu terima? Lu jawab apa kemarin? " tanya Aline dengan gak sabar ingin tahu jawabannya. "Gue masih belum jawab ampe sekarang. Gue masih bingung. Takut salah gue, ya takut nyesel juga sih. Makanya sekarang gue sangat galau banget, super duper galau deh. Butuh waktu buat mikirin semuanya. Kalau gue jawab langsung iya, gue harus mikirin ke depannya dong gimana ama Rey. Tapi di satu sisi, gue takut kayak abang gue yang putus di tengah jalan padahal baru menikah beberapa tahun saja. Tapi kalau gue kemarin bilang enggak, pasti akan ngaruh sama hidup gue dan Rey. Dan gue yakin, kalau gue bilang enggak, dia pasti putusin gue saat itu juga. Makanya yah, gue tuh gegana. Gelisah galau merana plus gundah gulana yang sudah akut hinggal masuk ke sela-sela sel tubuh gue. Sumpah dah, bukan lagi ampe ubun-ubun ini mah," jelas Maria dengan super duper cepat mengalahkan rapper dan bus patas AC yang sedang ngebut di jalan tol. Semua hanya diam terkesima dengan penjelasan dan curhatan Maria yang sangat ngebut. "Napa lu semua malah pada diem? Bingung kan? Ya sama gue juga. Tapi gue lega sih sekarang, bisa meluapkan kegelisahan gue selama ini. Thanks ya gais, " sambungnya dengan penuh ceria. Kembali ceria seakan beban yang sedang dipikulnya sudah hilang. *** POV Maria Dalam hati Maria, dia menunggu respon Erik. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Erik yang hanya diam saja tanpa berkata-kata. Seolah dia tidak menyimak apa yang Maria jelaskan. Sekilas, Erik seolah tidak mau menanggapinya dan hanya sibuk main ponsel. Hancur sih, perasaan Maria saat itu. Ketika Erik hanya fokus pada ponsel, seakan tidak peduli apa yang sedang Maria alami. "Kok dia gitu ya, tidak menatap gue sekali pun. Hanya sibuk pada ponselnya saja. Apa dia emang gak peduli, gitu?" batinnya yang penuh tanya. *** POV Erik Pedahal nih ya, pedahal. Batin Erik menjerit. Tak kuasa menatap Maria yang telah dilamar oleh laki-laki lain selain dirinya. "Sumpah gue nyesel datang kali ini. Tahu gini mending gue tidur di rumah kost. Bisa-bisanya lu cerita begituan, Mar? Tega sih banget lu. Gue rela putus ama Dinda kalau lu emang mau kawin cepet. Gue rela lamar lu sekarang, Mar. Lu jahat Mar. Sumpah gue udah gak ngerti lagi sekarang. Kemarin waktu di Dufan itu kita seperti orang pacaran, lu seperti menyambut balik perasaan gue. Kenapa sekarang ada lamaran dari Rey???? Gue rasa gue kena PHP lu, Mar!!” Batinnya penuh tanya dicampur amarah. Amarah dengan kekecewaan yang sangat mendalam. Erik yang hanya sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak sadar apa yang Maria jelaskan. Tidak terdengar olehnya, karena kuping dan pikirannya menolak untuk mendengarkan ucapan Maria lebih lanjut. *** Udah nih kalau begini, salah arah ini mah. Begini nih, korban teman tapi mesra, eh sahabat tapi mesra. Salahnya sih, mereka berdua tidak jujur satu sama lain. Udah, tamat aja ini mah cerita Maria dan Erik. Lasut ini mah. Banyak nih yang ngalamin seperti ini, ya kan? Kembali ke mereka. "Iya sih, gue ngerti kok. Kalau gue jadi lu sih ya, sama sih. Kecuali emang dah mantap gak ada beban apapun lagi, gak perlu mikir apa-apa," ujar Aline. “Parah lu, Mar. Sakit hati pasti itu si Rey, tega nian dikau menggantungnya,” ucap Pongky yang sedari tadi menyimak dengan seksama. Sedangkan Ricard dan Nusa hanya mendengarkan saja. Kalau Erik, sudahlah. “Ehem, batuk,” goda Nusa. Seketika Maria melotot padanya, diurungkan niatnya untuk membahas permantanan kali ini. Sedangkan Pongky, cuek tak perduli. "Ya beda, dong. Tiap orang punya idealis dan persepsi sendiri untuk menikah cuy. Kalau gue, mungkin sama kayak Maria. Bakal banyak mikir, karena banyak yang harus dipikirkan," sambung Sara. "Yaaah, neng Sara kok gitu sih. Kalau gue lamar lu, pasti lu banyak mikir dong?" tanya Nusa yang menggugah hatinya untuk iseng. Iseng-iseng berhadiah buatnya. "Ya beda dong, gue bakal langsung jawab saat itu juga. TIDAK. puas lu," jawab Sara menyakitkan hati Nusa. "Duh neng, gitu amat, gue kan jadi sedih," ucap Nusa, sedih beneran dia. Yang lainnya hanya tertawa mendengar Nusa dan Sara. Yang satu kekeh mau, yang satu lagi kekeh ogah. Capek kan. Capek hati si Nusa. Haha Perbincangan tentang permasalahan Maria memang disudahi, mereka lanjut berbincang tentang pekerjaan. Erik gimana? Ya begitu, masih gak fokus, masih belum sadar total dari pikiran-pikiran kecewanya. Tidak terasa waktu sudah mau pukul sepuluh malam, mereka bergegas untuk pulang ke rumah kost masing-masing. Tidak biasanya, Aline menawarkan diri untuk mengantar Maria pulang. Karena Erik masih belum sadar, Maria pun mengiyakan ajakan Aline untuk pulang bersama. Aline sengaja menawarkan diri untuk mengantar Maria karena ada maksud dan tujuan lain. Sepanjang jalan Aline terus membahas lamaran itu, hingga akhirnya Aline memberanikan diri untuk menanyakan perihal Erik. Dengan penuh hati-hati, Aline bertanya. "Mar, sorry nih, sorry banget ya. Gue cuman mau tanya aja. Lu jawab jujur atau enggak, gue gak masalah. Lu sebenarnya ada perasaan lebih gak ama si Erik?" tanya Aline langsung. Maria hanya diam, terlalu kaget dengan pertanyaan Aline yang tiba-tiba tahu tentang perasaanya terhadap Erik. "Kenapa Mar, lu kok jadi diem? " sambung Aline. "Gimana ya, gue masih bingung dengan perasaan gue sendiri. Tapi kayaknya gue emang ada suka sama Erik. Kok lu bisa tau, Line? " "Semua orang juga tau kali, kelihatan kok. Kalian berdua emang selalu deket dan terlihat mesra," "Masa sih, Lin? Kentara banget emang? " "Iyeeeee, " "Terus gue harus gimana, Line?" "Gimana apanya, ceu Mar? Ya, lu mesti jujur pada diri lu sendiri, ama Erik juga. Menurut gue sih begitu ya. Tapi balik lagi sama lu, lu maunya gimana? Hati lu itu untuk siapa? Gitu loh, " "Entahlah, gue gak bisa mikir. Lu tau kan, Erik juga udah punya cewek. Gue sendiri gak bisa nebak atau menerka-nerka perasaan dia. Toh, selama ini dia gak pernah bilang atau nyatakan perasaannya ama gue. Kan gue juga jadi bingung. Sebenarnya dia satu server gak sih m gue? Lu pasti tau Line, ya kan?” "Ya sama sih Mar, gue juga gak bisa nebak gitu. Cuman yang gue lihat sih ya, ya satu server kali," "Ah, lu. Masih belum yakin juga dong, " Selama dalam perjalanan pulang itu, Aline dan Maria berbincang tentang Erik. Mereka masih belum bisa menerka dengan pasti, perasaan Erik yang sebenarnya. Aline hanya mau membantu keresahan Maria saja tanpa maksud lainnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD