Episode 10 - Hati Masih Kusut

1704 Words
Awalnya takut untuk mengungkapkan perasaan hati kepadanya, namun pada akhirnya perasaan itu harus berlalu tanpa diungkapkan. Ada pepatah mengatakan, gugur sebelum berkembang. Seperti itulah perasaannya, sirna sebelum terungkap. --- Hari-hari telah berlalu, kehidupan Maria dan para sahabatnya seperti biasa. Pergi bekerja, kemudian pulang ke rumah kost, atau kadang-kadang pada ngumpul di tempat biasa. Tidak ada yang berubah setelah malam itu, malam pengakuan Maria telah dilamar. Rey, bagaimana dengan Rey sendiri? Aman, dia masih bisa bekerja dengan baik meski hatinya masih luluh lantah. Keyakinan dia akan cinta Maria, membuatnya masih bertahan akan hidup ini. Waktu yang diminta Maria masih belum tahu sampai kapan, Rey tidak akan membiarkannya terlalu lama, tetapi tidak juga memintanya terlalu cepat. Rey memberikan waktu hanya satu bulan saja untuk Maria, yang dia rasa mungkin cukup untuk memikirkan lamarannya. Cukup Rey saja yang tahu. Maria sendiri memang tidak tahu, berapa lama dia harus memikirkan hal itu. Dia hanya berharap, Rey memberikan waktu yang tidak tergesa-gesa memang. Banyak yang harus Maria pastikan akan hati dan cintanya karena dia tidak mau banyak orang yang tersakiti. Kemudian bagaimana dengan Erik? Sebenarnya dia baik-baik saja, tidak ada yang harus dikhawatirkan. Iya dong, karena dia sendiri sudah memiliki Dinda. Dia pun masih terlihat baik, bekerja datang tepat waktu. Mungkin pulangnya agak telat karena harus ada lembur beberapa hari ini. Tidak ada perubahan yang mencolok, seperti menandakan bahwa dia sedang patah hati. Kalau dilihat dari wajah dan sikapnya, dia masih seperti biasa kok. Happy selalu dong. Itu yang orang lihat, yang orang lain perhatikan dari wajah dan sikap luarnya saja. Tentunya, orang lain tidak dapat mengetahui isi hatinya. Erik memang hebat ternyata, dia mampu menyembunyikan rasa sakit di dalam hatinya dengan begitu rapi. Sudah seperti aktor film saja, pandai berakting. Rasa sakit di hatinya itu, dia tutupi dengan senyum manis setiap hari. Maria sendiri, bagaimana kabarnya? Maria yang sudah mengeluarkan unek-uneknya malam itu, merasa sudah plong dan tidak memikul beban berat lagi. Dia bekerja dengan bahagia penuh senyum, iya, senyum manis yang kadang menjadi senyum kecut. Namun, belakang ini dia belum bertemu dengan Erik. Alasannya, selalu ada lembur di kantornya. Hal yang wajar dan memang benar adanya menurut Maria, karena mereka bekerja satu perusahaan satu departemen. Maria pun minggu ini ada bekerja lembur beberapa kali, jadi ya sangat wajar Erik juga bekerja lembur. Selagi Maria di rumah kost, dia mendapat telepon dari Rey. Mereka masih baik-baik saja seperti biasa setelah kejadian itu. Kring.. "Halo, Rey. Tumben telpon jam segini? Udah kelar emang kerjaan lu?" sapa Maria, menerima telepon dari Rey. "Hai Mar, iya nih gue kangen ama lu. Kerjaan gue sih udah kelar. Lu lagi apa? Dah pulang ke rumah kost?" jawab Rey di telepon. "Pantesan dong, lu tumben telpon gue jam segini. Gue udah d rumah kost kok, cuman bentar lagi mau keluar sih. Aline ama Sara pada ngajak ke luar gitu. Jadi, sekarang gue lagi nunggu jemputan aja. Lu dah makan? Eh, lu dimana sih? Kantor apa dimana? Kok ribut amat itu di situ, " tanya Maria. "Oh gt, syukur deh. Gue lagi di luar juga sih, nih bareng ama temen kantor. Cuman pengen telpon lu dulu sih, lagi inget lu aja ini. Ya udah, lu baik-baik ya di sana. Jangan lama-lama loh mikirnya, entar gue sedih loh, " ucap Rey, sedikit mengingatkan akan jawaban dari lamaran itu. "Haha, baik bos. Lu juga ya, baik-baik di sana. Jangan pulang terlalu malem, ok! " pesan Maria. Aline tiba di rumah kost Maria untuk menjemput, tepat setelah menutup telepon dari Rey. Mereka pergi ke tempat tujuan, bukan tempat biasa, kali ini mereka pergi ke salon. Aline yang berencana untuk memotong rambut, juga dengan Sara yang ingin mengecat rambutnya, mengajak Maria untuk pergi bersama mereka. Meski Maria belum tahu apa yang akan dia lakukan di salon. Lebih tepatnya, Maria masih belum tahu mau ikut potong rambut atau mengecat rambut dan atau facial wajah. Alasan Aline dan Sara untuk mengajak Maria, agar dia tidak suntuk di rumah kost. Suntuk karena memikirkan jawaban lamaran itu yang sedang ditunggu oleh Rey, secepatnya. Setelah sampai di salon, Maria memutuskan untuk mencat rambutnya saja. Merah maroon adalah pilihan warnanya. Dengan warna rambut yang baru, dia berharap semua masalahnya berlalu. Ya semoga saja ya. Sambil menunggu selesainya proses pewarnaan rambut, dia membuka obrolan tentang Erik. Selama ini dia masih penasaran tentang perasaan Erik yang belum terjawab. "Lu berdua ada info tentang si Erik gak? Ya barangkali gitu, barangkali ya, dia cerita tentang gue ama kalian. Ada gak?" tanya Maria dengan sedikit malu hati. "Ama gue sih enggak ya, malah gue lihat dia lempeng-lempeng aja," jawab Sara. "Sama sih ama gue juga. Biasanya dia selalu nanyain lu, Mar, kalau ada apa-apa. Tapi kali ini dia gak ada tuh. Beberapa kali gue ketemu di kantin ama dia, gak pernah bahas gitu. Malah lebih menghindari loh, menurut gue itu ya. Lu coba cari tau ama yang lain coba, " sambung Aline. "Oh gt ya, ya gue pikir dia bakal penasaran atau nanya kabar gue gitu. Ogah gue, males lah kalau harus nanya yang lain. Entar disangka apa gitu gue, " ucap Maria. "Ah elah lu, yang lain juga udah pada tau kali. Jadi ya selow aja lah, " seru Aline. "Tetep aja cuy, harga diri gue mau ditaruh dimana emang? Malu lah. Kalau ama kalian kan, sesama wanita gitu loh, pasti mengerti akan perasaan masing-masing," pekik Maria. "Ah lu, seterah lu aja dah," ucap Aline. Perbincangan mereka tetap tidak membuahkan hasil tentang Erik. Alhasil, Maria pun sudah menyerah akan hal itu. Dia berniat untuk tidak mengharapkan Erik lagi. Dia sekarang hanya perlu memikirkan Rey. Mereka bertiga akhirnya selesai dari pewarnaan rambut dan potong rambutnya juga. Hasil dari salon itu sangat memuaskan mereka. Mereka pulang dengan sumringah. Besok harinya, Maria dan yang lain bekerja seperti biasa. Untuk mengabadikan rambutnya yang baru, Maria meminta Nusa yang kebetulan ada di ruangan, untuk memotretnya. Setelah mendapatkan hasil foto yang bagus, dia mengirimkannya pada Rey dengan caption yang manis. "Hay cowok, ini loh aku yang baru dengan merah maroon yang kece. Kapan kita berkencan lagi dong, sayang.” Tulisnya, diakhiri dengan gambar emoticon love. Gak lama kemudian, Rey membalasnya. "Wow, warna baru nih. Gebetan baru dong, " balasnya. "Ih apaan sih. Kok lu gt?" balas Maria kesal. "Gue becanda dong, sayang. Jangan sewot dong," balas Rey. "Becandanya gitu amat sih, gak lucu, tau! " sewot Maria beneran. "Iyaa, maaf dong. Lu tambah cantik rambut warna itu. Bagus kok. Nanti ya satu atau dua minggu lagi gue ke sana. Beresin dulu kerjaan seperti biasa. Biar lama di sananya," balas Rey kembali. "Iya deh iya. Gue tunggu ya. Sambil nanti gue kasih tahu jawabannya. Hehe, " pesannya Maria. "Waw, masa? Kenapa gak sekarang aja sayang jawabannya? " tanya Rey dengan semangat. “Nanti aja ya, biar lebih enak," jawab Maria. Seperti itu pesan Maria dan Rey di salah satu aplikasi chat telepon seluler. Terlihat seperti biasa saja memang. Maria yang masih di ruangan kerja, masih jam kerja memang, ya sedikit mencuri waktu untuk chatting lah ya, tak apa kali ya. Maria berniat mau melanjutkan pekerjaannya, namun terhenti ketika Nusa mengajaknya berbincang. "Mar, lu gimana ama si Rey? Dah lu jawab?" tanya Nusa penasaran. "Biasa aja sih gue, nih juga baru beres chatting ama dia. Belum gue jawab, nanti lah satu minggu lagi gue pengen ngomong langsung ama dia. Sambil memastikan sesuatu. Sesuatu yang gue sangat butuh banget jawabannya," jawab Maria panjang lebar. "Oh seperti itu, baiklah. Terserah lu aja sih ya. Tapi gue penasaran deh, lu mastiin apa lagi sih? Perasaan lu atau perasaan yang lain?” “Maksudnya gimana nih, mancing gue ini ceritanya?” “Bukan mancing, Mar. Gue hanya mau nanya aja kok,” “Ada lah, sesuatu yang gue harus pastikan. Cuman masih bingung juga sih gue, gimana caranya,” “Aneh deh, mau pastiin tapi lu sendiri belum tau? Gelo siah!” “Asem lu!!” “Oh iya, gue ada kabar mengejutkan dari si Erik. Gue mau kasih tahu aja gak ada maksud apa-apa ya, barangkali lu belum tahu. Si Erik katanya mau tunangan ama si Dinda, cuman belum tahu sih kapan waktunya. Baru dikasih tahu gitu aja sih gue, " "Hah, serius lu? Secepat itu? Kapan emang dia bilang ma lu?" tanya Maria jelas raut wajahnya kaget. "Kemarin malam sih dia bilang gitu ama gue, waktu gue nongkrong ama dia. Katanya dia mau tunangan ama si Dinda, dari pihak keluarganya minta keseriusan gitu lah, gak boleh lama-lama pacaran, pamali katanya," jawab Nusa tak enak hati. Namun, Maria harus tahu yang sebenarnya. "Serius cuy? Terus si Erik jawab apa katanya, pas disuruh serius begitu?" tanya lebih lanjut, Maria. "Ya dia bilang itu, dia bilang mau tunangan dulu aja ama si Dinda. Sebelum menikah, dia minta waktu dan minta tunangan dulu aja bukti dia serius. Gitu cuy. Makanya gue tanya, lu gimana ama si Rey. Nanti lu malah keduluan loh ama dia," ucap Nusa hati-hati, takut salah ngomong. “Oh, gak apa-apa sih kalau si Erik mau kawin duluan juga. Berarti dia udah menemukan jodohnya yang tepat. Gue sih masih santai lah, lihat nanti aja,” jawab Maria. Nusa pun tidak berani bicara apa-apa lagi, terlihat jelas muram durjana raut wajah Maria. Menyesal deh Nusa bilang sama Maria. Setelah mendengar kabar Erik dari Nusa, Maria hanya bisa tersenyum kecut. Terlebih hatinya juga sangat hancur berkeping-keping. Sadis memang hidup ini, eh cinta ini. Maria yang masih belum menjawab lamaran Rey, demi menunggu kepastian Erik. Pupus sudah harapan Maria. Ngeri cuy!! Bagaikan disambar petir di siang hari, Maria mendapatkan kabar yang mengejutkan dari Nusa, tentunya tentang Erik. Hatinya terasa perih seolah terkoyak dengan dahsyat. Memang, Maria dan Erik hanya bersahabat saja. Tetapi sejauh ini, dia merasa akan perasaan yang berbeda. Dia berpikir sangat jauh, bahwa selama ini Erik menaruh hati padanya. Namun, tidak ada yang tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kecewa sangat memang Maria, sekarang tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Mengenai Rey sendiri, Maria masih belum yakin sepenuhnya. Hari itu, Maria sangat sedih bahkan sangat kecewa. Apa yang telah dia pikirkan dan rasakan selama ini, ternyata hanya cinta semu yang tentunya masih bias, terhadap Erik. Hari itu, terlalu menyakitkan buat Maria. Dia izin bekerja setengah hari dengan alasan tidak enak badan. Nusa dan yang lainnya tidak mengetahui akan hal itu. Maria pun, setelah mendapat izin langsung meluncur pulang ke rumah kost.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD