Manis sore hari ini sedang mendung, awan biru berganti menjadi abu sendu. Angin sudah mulai bertiup kencang dimana sebentar lagi akan turun hujan, sehingga suhu pun semakin meningkat. Kalau orang tua bilang, pasti gerah bila akan turun hujan.
Di Manis, tidak turun hujan pun sudah gerah, apalagi saat mau turun hujan pasti sangat panas. Ditambah dengan padatnya kendaraan besar beroda empat dan enam yang berlalu-lalang, menghasilkan polusi udara dari kepulan asap hitam. Begitulah kondisi Manis yang merupakan kawasan industri di daerah Tangerang.
Maria dan para sahabatnya bekerja di sebuah indstri yang bergerak di bidang makanan dan minuman, di kawasan Manis tersebut. Perusahaan tempat mereka bekerja adalah salah satu perusahaan swasta yang berskala nasional. Kebetulan mereka ditempatkan di Manis, Tangerang. Sebenarnya kantor pusatnya berada di Jakarta Raya dan memiliki banyak cabang di berbagai kota besar di Indonesia.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Maria pun pulang tepat waktu, tenggo kalau dia bilang. Pas teng, langsung go. Nusa yang satu ruangan dengannya pun ikut pulang tepat waktu tanpa lembur. Maria dan Nusa langsung menuju ke tempat parkir. Di sepertiga jalan mereka bertemu Aline dan Sara.
"Ceu Mar, " panggil Aline dan Sara berbarengan.
Maria menoleh dengan sumringah karena bertemu dengan mereka. "Hai.. Duh kalian ya, tau aja gue kangen banget ma lu berdua ya, " sahut Maria.
"Lebay amat sih lu, baru juga dua hari kagak ketemu lu pada, " samber Nusa.
"Sirik aja lu! " sinis Maria menoleh pada Nusa.
"Lagian lu juga happy kali, ada si Sara," ucap Aline goda Nusa.
"Iya lah, gue seneng ada neng Sara, tapi gue kagak seneng ada lu berdua. Jadinya kan gue kagak bisa berduaan ya kan, Neng ya," ucap Nusa penuh harap. Wajah imut dengan mengerlingkan sebelah matanya.
"Ogah gue ama lu! " dengan tegas Sara menjawab. Maria dan Aline hanya bisa tertawa puas mendengar ucapan Sara.
“Cucian deh lu,” ledek Maria tertawa.
"Sial lu pada!!!" Nusa sudah mulai kesal, namun mukanya tetap berbinar karena ada Sara bersama mereka. Muka bahagianya yang tidak bisa berbohong. Pancar rona benih cinta yang merekah. Namun tetep saja, Nusa sang bucin yang tetap tertatih mendapatkan cinta Sara.
Mereka berempat melanjutkan langkahnya menuju parkiran kantor. Disana mereka sudah melihat Pongky dan Erik yang sudah tiba duluan. Sedangkan Ricard, tampaknya belum datang.
"Wih, lengkap nih. Cabut nyok ke tempat biasa, " ajak Nusa tanpa basa-basi.
"Hayu aja sih gue, tapi si Ricard belum nongol ini. Masa ditinggal? " ucap Maria mengingatkan.
"Dia lembur, tadi bilang ama gue. Ada big bos katanya, jadi gak bisa keluar cepet, " jawab Erik singkat.
"Ya udah kita aja, lu suruh si Ricard nyusul aja nanti," pinta Nusa pada Erik. Tanpa balasan dari Erik, menandakan Erik setuju untuk mengabari Ricard.
Akhirnya mereka pun pergi bersama ke tempat biasa. Ya, ke Citra Raya, tempat nongkrong anak muda pada jamannya. Di Citra Raya banyak tempat makan dan tempat nongkrong yang biasa orang datangi. Karena daerah paling dekat dari kawasan Manis dan tempat tinggal mereka. Bisa dibilang sangat strategis tempatnya.
Yoss. Mereka berhasil sampai tepat waktu ke tempat biasa, telat sedikit mereka pasti basah kuyup karena kehujanan. Tanpa basa-basi mereka langsung duduk dan pesan makanan seperti biasa, pemilik tempat biasa pun sudah sangat mengenal mereka bahkan sampai tahu betul makanan dan minuman kesukaan dari masing-masing.
"Ricard mana nih? Kurang lengkap," sapa Aris, pemilik cafe tempat biasa mereka nongkrong.
"Biasa bos, dia lembur," jawab Erik singkat, padat dan jelas.
Aris pun kembali ke belakang setelah memberikan buku menu pada mereka. Sebenarnya, mereka tidak membutuhkan buku menu tersebut, namun sebagai pemilik cafe Aris memberikan sesuai SOP.
Mereka mengambil posisi duduk masing-masing, namun ada yang aneh dengan Maria. Dia terlihat menghindari duduk di samping Erik dan lebih memilih duduk di samping Pongky. Keanehan Maria itu telah mengundang banyak tanya para sahabatnya.
"Cie, lu marahan Mar ma Erik? Ampe segitunya lu, duduk jauhan gitu," goda Aline.
"Iye, kagak biasanya lu jauhan gitu. Ah bener ini mah, lu marahan ya?" timpal Sara kepo.
"Pantesan nih, dia deket-deket gue mulu. Ampe minta jemput segala, ini toh alasannya, " tambah Pongky memancing keributan.
"Ribet amat sih hidup kalian, gue duduk dimana aja, harus ya, lu pada ribet gitu? " Maria jawab dengan kesal. Sedangkan Erik hanya senyum tipis aja.
"Ya udah deh, Ky lu pindah sana. Biar gue duduk di situ," pinta Erik pada Pongky untuk bertukar tempat.
"Ciee, gitu dong dari tadi. Jangan kayak di kantin tadi siang lu," goda Nusa sambil tertawa puas, menambah suasana untuk memancing keributan.
"Eh, emang ada apaan gitu? Gue ke deh, " tanya polos Sara.
"Kagak ada apa-apa kok, " samber Maria kesal.
“Cuy, lu mau pesan apa?” tanya Erik pada Maria, sontak membuat keributan diantara semuanya.
“Yang biasa aja,” jawab Maria singkat.
“Ciee, baikkan nih yee,” goda Pongky sambil memeluk mesra Erik.
“Kampret lu, lepasin gue!” pinta Erik melepaskan pelukan Pongky.
Mereka pun tertawa bersama, menikmati kebersamaan malam ini. Begitulah, namanya juga sahabat, pasti tidak senang bila ada temannya yang lagi saling marahan. Oleh karena itu, sebisa mungkin mereka pasti membantu untuk berbaikkan.
Pongky berdiri memanggil Aris, untuk menyerahkan daftar pesanan mereka. Dengan Cepat, Aris menghampirinya.
“Ok, tunggu sebentar ya, pesanannya nanti dianterin,” ucap Aris dengan ramah.
Mereka pun berbincang kembali selagi menunggu makanan datang. Maria malam ini mendapat ledekan dari para sahabatnya itu, tidak henti mereka menggodanya.
"Mar, nanti gue yang anter lu pulang ya," bisik Erik dengan senyum manisnya. Meleleh deh kalau Erik sudah mengeluarkan jurus jitu senyum manisnya. Bukan Maria saja yang luluh lantah dengan senyum manis Erik, bahkan wanita lain pun begitu. Nah loh, kok Maria?
"Iye," jawab Maria masih ketus.
Tidak lama, makanan datang dengan cepat. Tidak butuh waktu lama, tidak sampai sepuluh menit makanan sudah ludes dilahap. Maklum saja, para karyawan ini sudah sangat kelaparan setelah bekerja. Makan hanya sepuluh menit, nongkrongnya bisa dua jam lebih. Apalagi kalau ada free wifinya, bisa lupa waktu hanya untuk main game online atau download film. Begitulah mereka. Jangan ditiru ya!
Hujan yang sangat deras menjadi alasan mereka untuk tetap duduk di sana. Berteduh sambil berbincang. Aris, si pemilik cafe itu tidak pernah keberatan dengan keberadaan mereka yang kadang bikin huru-hara. Wajar saja, karena Aris adalah sepupunya Ricard. Ya wajar dong ya, namanya juga ama saudara.
Waktu tidak terasa sudah pukul delapan malam, hujan pun sudah reda tanpa ada sisa setetes pun. Sudah waktunya mereka untuk pulang, karena besok masih harus bekerja lagi.
Maria dan Erik sudah berbaikan dan kembali seperti biasanya, Maria pun pulang diantar oleh Erik.
"Cuy, sorry ya ama kelakuan gue tadi. Malu sih sebenernya. Tapi mau gimana lagi, kesel banget gue ama lu. Kenapa sih harus si Toni. Kayak gak ada orang lain lagi," Erik membuka pembicaraan. Mereka yang sedang berada di atas sepeda motor, perjalanan menuju pulang ke rumah kost Maria.
"Iyee, kagak apa-apa sih. Cuman gue kesel juga lama-lama, ampe segitunya. Kan lebay, " jawab Maria.
"Gue gak suka Mar, lu jalan ma si Toni, " sambung Erik.
"Loh gimana sih lu? Kan gue bilang itu masalah kerjaan, lu kenapa sih lebay amat? Cemburu apa?" tanya Maria polos. Bukan polos, lebih ke penasaran.
"Iyee sih, mungkin gue cemburu. Tapi di satu sisi gue gak boleh cemburu, tapi gak tau juga sih. Masih bingung juga. Entahlah, gue juga masih bias. Cuman gue gak suka lu jalan ama cowok lain selain mereka bertiga," ungkap Erik malu-malu.
"Lah, pacar gue gimana? Inget hey, gue punya si Rey, ngapain gue jalan gak penting ama si Toni?" ucap Maria mengingatkannya.
"Ya enggak Mar, maksud gue itu intinya gue gak suka lu jalan ama si Toni. Ya kalau lu ama si Rey ya beda, itu kan cowok lu. Ya gue biasa aja, mau gimana lagi," jelas Erik penuh kebingungan.
"Serah lu dah. Bingung gue ama lu, " kata Maria.
"Eh, lu katanya kehabisan duit ya? " Erik mulai mengalihkan pembicaraan. Bisa juga tuh cowok.
"Iye, biasalah. Ada yang pinjem dadakan dari sodara gue. Kagak bisa nolak gue, ya sudah akhirnya duit gue kritis, bentar lagi menuju koid," jawabnya memberitahu.
"Pantesan, baru juga tanggal berapa, dah abis aja duit lu, kebiasaan banget sih lu, " ucap Erik.
"Lu sekarang ada duitnya berapa? Mau gue pinjemin? " sambung Erik menawarkan bantuan.
"Ada sih, buat jaga-jaga aja. Cuman kagak banyak. Ya sekitar dua ratusan lagi. Makanya gue mesti irit ini. Tadi aja minta jemput si Pongky, sayang aja duitnya kalau buat ongkos, terus makan siang gue malak si Nusa," jawab Maria dengan jujur.
"Lu mau gue pinjemin? Butuh berapa lu?" Erik tetap menawarkan pinjaman.
"Sejauh ini masih aman Rik, nanti aja deh kalau gue butuh banget. Thanks ya," ucap Maria menolak bantuan Erik secara halus.
"Ya udah, kalau gitu gue antar jemput lu aja ya, kita bareng aja pergi dan pulang kantor. Gue kasian liat lu gak punya duit, nanti lu minta anter si Toni lagi, " ucap Erik yang kesal ditolak bantuannya sama Maria, kemudian balik lagi membahas Toni.
"Sialan lu, dikira gue apaan. Gue kagak perlu dikasihani Rik. Terus kenapa lagi, harus bawa si Toni. Lama-lama gue jadian ama dia loh. Sebel gue di hubungkan terus sama dia!" Maria bar-bar lagi, seperti biasa ngomel ala rapper.
"Ya jangan dong, masa lu jadian ama dia. Sorry deh sorry, jangan marah dong. Gue suka kalau lu senyum manis aja deh," rayu Erik memegang tangan Maria yang melingkar di perutnya.
"Apaan sih pegang-pegang lu, kesempatan lu ya. Inget lu ada si Dinda," oceh Maria melepaskan tangannya dari tangan Erik.
"Gue inget kok ama dia, tapi sekarang gue kan ama lu, " ucap Erik membuat hati Maria cenat-cenut.
Deg..
Jantung Maria langsung deg-degan setelah mendengar ucapan Erik, ditambah tangannya dipegang dengan sengaja. Jantungnya mulai berdenyut kencang. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Berbeda halnya dengan Erik, dia terlihat seperti bahagia, senyum manis penuh cinta.