Episode 5 - Modus oh Modus

1560 Words
Sesuai dengan janjinya, setiap hari Erik berangkat dan pulang bekerja bersama Maria. Erik melakukannya karena kasihan pada Maria yang sedang krisis keuangan. Namun tidak terjadi hal-hal yang diinginkan diantara mereka. Sepanjang perjalanan pun hanya berbincang seputaran pekerjaan saja, layaknya sahabat seperti biasa. Perasaan yang meresahkan hati Maria pun sudah pudar seiring waktu, Erik sendiri tidak pernah membahas masalah itu. Jadi, Mereka bertemu dengan perasaan biasa saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Iya sih, memang tidak pernah terjadi hal yang diinginkan. Hingga tiba saat hari sabtu pagi, dimana Erik tiba-tiba mengajak Maria hari minggu untuk pergi ke Dufan, Dunia Fantasi di Ancol. Maria yang sangat senang mendapat ajakan ke Dufan, langsung mengajak Aline dan Sara untuk ikut tanpa izin Erik, bahkan tidak sampai di situ, ternyata Aline mengajak yang lainnya juga melalui pesan singkat di grup chat. “Guys, besok pagi Erik mengajak kita refreshing ke Dufan. Jam enam pagi sudah siap di gang rumah kost Maria. Bayar masing-masing. Thanks,” pesan Aline di grup. “Gass,” balas Nusa pertama. “Cuss ah,” balas Sara kemudian. “Cihuy,” Maria tanpa rasa bersalah membalas. “Orkes, lanjutkan,” balas pesan dari Ricard. “Loh, mana ini yang ngajak? Kok, belum komen, ” tanya Nusa mempertanyakan Erik. “Iye cuy, meluncur lah besok,” balas Erik lemas. Dalam hati mencak karena rencananya tidak sesuai dengan yang diinginkan. “Pongky, ganti, Ky. Lu aman besok?” tanya Aline memonitor. “Aman madam, meluncur,” jawaban dari pesan Pongky. Namun dia terlihat ragu, karena seingatnya hanya Erik dan Maria yang akan pergi ke Dufan. “Ok guys, besok jam enam pagi ye, Ciao,” pesan Aline mengakhiri grup chat. Dengan penasaran, Pongky pun mengirim pesan jalur pribadi pada Erik. “Cuy, kok jadi ramean gini perginya? Emang berubah ya rencananya?” isi pesan Pongky pada Erik. “Hadeuh, sial gue. Kagak tahu Ky kenapa bisa jadi begini, padahal tadi pagi gue hanya ajak Maria doang. Entahlah ini, kenapa bisa begini, sue cung,” balas Erik mengakhiri pesan dengan emoticon sedih. “Haha, memang sue lu cung, malang sekali nasibmu,wkwkwkw…” balas Pongky pada Erik. Dan pada akhirnya, mereka pergi ke Dufan ramai-ramai. Terlihat jelas pada raut wajah Erik yang menelan kekecewaan. Muram durja. Niat hati ingin mengajak Maria sendiri, tapi ya mau gimana lagi, sudah terlanjur Maria mengajak yang lain. Tidak sampai hati, Erik harus melarangnya atau bahkan membatalkannya. Pukul enam pagi besoknya, mereka sudah siap dan berkumpul di depan gang rumah kost Maria. Ada empat sepeda motor sudah siap untuk meluncur. Mereka berpasangan duduk di motor, kecuali Ricard, ya sama siapa dong kan cuman ada tujuh orang ya. Setelah tibanya di Dufan, Maria yang baru pertama kali ke sana sangat takjub dan tidak menghiraukan obrolan Erik dan yang lainnya. Benar-benar terpesona dengan wahana yang ada disana. "Lu ngapain malah ikut? " protes Erik, sambil bisik-bisik pada Pongky dan Nusa. Seperti bisik-bisik tetangga. "Lah, di grup diajak si Aline cuy. Ya gue ikut aja " jawab Nusa gak tahu menahu. "Kagak peka banget sih lu," ucap Erik memberikan kode. "Emang ini acara kencan kalian emang? Kenapa lu baru bilang?" tanya Nusa kebingungan. "Bukan sih, tapi ya gue pengen berdua aja ama dia. Udah lah, lagian udah terlanjur kan," ucap Erik kesal. “Bilang aja iya, apa susahnya cuy. Makanya nanti lu bilang juju raja ama dia, biar kagak berabe urusan,” kata Pongky member saran. "Ya sorry, gue kagak tau. Gini aja deh, lu pergi berdua ama dia. Biar kita berpencar aja. Gimana lu, setuju? " saran Nusa memberikan peluang pada Erik. "Oke, gue setuju. Lu pada menghilang yang jauh ya, lu atur deh gimana yang lain bisa menghilang juga, " pinta Erik merayu pada Nusa dan Pongky. "Asemmmn lu, kamfret, " ucap Nusa dan Pongky bersamaan. “Thanks, bro,” Erik berterima kasih pada mereka berdua. Maria yang masih terpesona, tidak menyadari para sahabatnya menghilang. Bukan menghilang sih tepatnya, berpencar. Namanya juga baru pertama kali, pasti heboh sendiri. Banyak wahana yang ingin Maria coba di sana. "Rik, naik wahana tornado yuk, " ajak Maria yang masih belum sadar sahabatnya menghilang. "Ayok, siapa takut," jawab Erik singkat. "Yang lain gimana? Loh Aline ama Sara mana? Loh kok, pada ngilang sih, " tanya Maria baru sadar. Mengedarkan pandangannya mencari sahabatnya yang lain. "Lah lu kemana aja, mereka tadi pamit berpencar. Makanya fokus dong, masa temen ilang kagak ngeuh sih lu, " jawab Erik, pedahal dalam hatinya sangat senang mereka semua berpencar. "Trus gue naik wahana tornado gimana?" tanya Maria lesu, karena awalnya berharap naik tornado barengan. "Ma gue aja kali, ya kali lu mau sendirian," ucap Erik menghibur Maria. Mau tidak mau, Maria pun sepakat naik tornado berdua dengan Erik saja. Mereka pun memesan tiket wahana tornado. Wahana yang pertama kali Maria naikin saat itu, setelah lama untuk memilih wahana mana yang akan dia coba lebih dulu. Jeng.. Jeng.. Selama dalam wahana tornado itu, Erik menggenggam tangan Maria. Berdalih takut ketinggian, Erik meminta Maria untuk tidak melepaskan tangannya. Mau tidak mau, Maria menurutinya, karena dia yang mengajak Erik naik wahana itu. Maria merasa bersalah dan tidak enak hati. Memang sih, setelah turun dari wahana itu, Erik terlihat sangat pucat. Berbeda dengan Maria yang sangat gembira. Ya, kesempatan dalam kesempitan lah ya. "Akhirnya gue naik wahana tornado juga," ucap Maria berbinar bahagia. "Lu yang seneng, gue yang puyeng. Tapi gak apa lah, demi lu apa sih yang enggak," kata Erik, sedikit gombal tapi serius dalam batinnya. "Ya udah, sekarang kita naik roller coaster yu Rik. Gak akan setakut naik yang tadi kok. Yakin ama gue deh. Yang lain pada ngilang, jadi gue gak ada temen. Gak seru naik sendiri, lagian repot sih harus cari dulu mereka, " ajak Maria dengan sedikit memelas, memasang wajah imut. "Iye, tapi gue pegang tangan lu lagi ya. Gue takut, " ucap Erik sedikit usil. "Kesempatan lu mah cuy, ogah ah," jawab Maria melengos. "Ya udah, gue kagak mau nemenin kalau gitu, " ucap Erik sedikit mengancam. "Yaaa ampun, gile, gitu amat sih lu. Ya udah sini mana tangan lu, gue jinjing sekalian lu," jawab Maria pasrah meraih tangan Erik. "Gitu amat sih, mesra dikit napa. Kan sekarang kita berdua, gak ada yang kenal lagi, kita kayak orang pacaran ya, cuy, " goda Erik menatap Maria sambil menggenggam tangannya. "Kampret lu, bisa-bisanya mikir gitu," ucap Maria kecut, menghempaskan tangannya dari genggaman Erik, dengan cepat Maria berjalan mendekati wahana tersebut. Erik mengejar Maria, kemudian menggenggam tangannya dengan erat, seolah memberikan kode untuk tidak melepaskannya.. Mereka pun bergandengan tangan menuju wahana selanjutnya. Tanpa curiga, Maria mengikuti keinginan Erik untuk tetap bergandengan tangan. Dalam hati, Erik sangat senang bisa bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara. "Duh, kalau lu pacar gue deh. Gue tambah seneng ini. Tapi gak apa deh, gini aja gue seneng, meski harus berbohong. Dinda maafin gue ya. " Ucapnya dalam batin. "Gue telat kenal ama lu, Mar. " sambungnya dalam batin, menatap Maria tulus. Doa Erik hanya satu, semoga hari ini tidak cepat usai. Apa yang Erik rasakan, sebenarnya Maria juga rasakan. Antara geer atau apapun itu, Maria merasa Erik sangat hangat kali ini. Baru hari ini dia merasa sangat dekat denganya, apalagi setelah bergandengan tangan. Memang mulutnya sangat ketus, namun hatinya sangat berbunga-bunga. "Kok gue ngerasa seneng gini sama Erik, berbeda rasanya kalau jalan sama Rey. Dosa gak yah gue begini, maafin gue Rey. Sekali ini aja gue begini, janji deh. Gue cuman mau menjadi diri sendiri aja. Maafin gue Tuhan, maafin gue Rey, maafin gue Dinda. Gue pinjem pacar lu dulu ya Din, sehari ini aja. Biarkan gue merasakan kehangatan hari ini aja, biarkan gue bahagia sehari ini aja. Gue tahu gue salah, gue tahu hati gue jadi ricuh begini. Please hari ini aja. " Maria mengoceh dalam hati sepanjang jalan. Maria masih belum mengetahui dengan pasti, bagaimana perasaan Erik yang sebenarnya. Tapi apapun perasaan Erik padanya dia tidak peduli. Dia hanya ingin memiliki Erik satu hari ini saja, dia hanya ingin bergandengan tangan sehari ini aja. Begitu juda sudah cukup untuk Maria. Hal yang selama ini dia yakini, Erik hanya sahabatnya. Namun keyakinan itu luluh lantah tepat hari ini. Mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi lagi untuk hari-hari selanjutnya, maka Maria pun sangat menikmati hari ini dengan bahagia. Nusa dan Pongky hanya bisa tersenyum melihat mereka dari kejauhan. Memalingkah wajah pura-pura tidak melihat, seolah tidak tahu apa yang terjadi pada mereka. Namun mereka pasti meminta penjelasan dari mereka suatu saat nanti. Bagaimana terkait dengan Rey dan Dinda, sebagai pacar dari masing-masing. Ditunggu saja nanti kelanjutannya. Memang benar, Maria dan Erik seperti dua insan yang sedang jatuh cinta. Bergandengan tangan dengan wajah berseri. Senyum bahagia terpancar dari rona wajah mereka. Ibarat kata, seperti bunga mawar merah yang sedang merekah. Sepertinya hari ini adalah hari yang tidak akan pernah mereka lupakan. Ya sepertinya, apabila dilihat dari status masing-masing yang sudah memiliki pacar. Benar kata Erik, mereka telat kenal. Coba saja mereka kenal lebih awal, mungkin mereka sekarang sudah menjadi pasangan kekasih. Mereka sudah nyaman satu sama lain tanpa drama dan menjadi diri sendiri. Tapi ya, namanya jodoh dan takdir, pasti akan ada jalannya sendiri untuk menemukan cinta yang sejati. Mereka berdua memang tidak mengetahui perasaannya masing-masing. Namun mereka sangat menikmati hari ini penuh cinta. Cinta yang terlarang antara sahabat yang sudah memiliki pasangan masing-masing. Tidak masalah karena belum menikah, tapi tetap saja telah menghianati hubungan nyata dengan pasangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD