Cinta yang terlarang antara dua sahabat memang bersemi hari itu. Ya, meski mereka tidak saling mengetahui perasaannya masing-masing. Kenapa bisa begitu?
Karena mereka sendiri tidak saling jujur untuk perasaannya. Seperti Maria dengan ucapannya yang ketus menjadi tameng untuk menutupi perasaan sebenarnya pada Erik. Padahal dekat dengan Erik membuat Maria berdebar tanpa karuan, awalnya Maria menyangkal akan hal itu, namun setelah kejadian di Dufan kemarin membuatnya sangat yakin dengan perasaan yang sebenarnya.
Erik sendiri pun begitu, mengatasnamakan takut ketinggian, berbohong agar bisa bergandengan tangan. Maria tahu memang itu sebagai alasan saja, namun dia masih ragu akan perasaan Erik. Dia tidak mau menerka-nerka karena takut kecewa.
Maria dan Erik memang mengaku salah akan apa yang dilakukannya kemarin, karena telah mengkhianati pacar dan temannya. Dalam hati masing-masing, mereka berjanji hanya minta waktu sehari saja untuk menikmati rasa yang terlarang itu. Rasa yang terlarang itu sebatas bergandengan tangan saja ya, tidak lebih loh ya.
Setelah pulang dari Dufan, mereka pun kembali menjadi sahabat biasa saja tanpa bergandengan tangan seperti kemarin. Memang ada sedikit kecanggungan diantara mereka, namun hal itu tidak boleh mereka perlihatkan di depan sahabatnya yang lain.
Besok harinya, Erik tetap melakukan janjinya untuk tetap antar jemput Maria pergi ke kantor. Mereka berusaha biasa sebiasa mungkin, seperti tidak pernah ada yang terjadi. Mau gimana lagi, mereka harus menjaga perasaannya masing-masing.
Maria bertekad untuk melupakan perasannya pada Erik. Dia hanya terbawa suasana saja saat itu, pikirnya. Sekarang Maria harus fokus kepada Rey saja, karena dia adalah pacarnya. Mau bagaimana pun, Maria tetap menyayangi Rey.
Saat akhir bulan, di kantor suasananya sedikit sibuk, laporan produksi dan laporan penjualan pun siap untuk dikerjakan. Beberapa lebar laporan sudah berada di atas meja kerja Maria dan Nusa.
Dengan fokus Maria mengerjakan tugasnya, tidak terganggu apapun. Maria masih berkutat dengan komputernya untuk membuat data laporan produksi untuk yang sebentar lagi akan dikirimkan pada atasannya. Sedangkan Nusa hanya mondar-mandir di depan meja Maria, namun Maria tidak terganggu akan hal itu. Bodo amat, sikap itulah yang membuat Maria sedikit tidak peka pada siapa pun, termasuk pada Erik.
“Mar, berhenti dulu dong,” pinta Nusa memecah sepi ruangan tersebut.
“Apa sih?” tanya Maria tanpa menoleh, matanya masih menatap layar monitor.
“Please, help me! Urgent,” kata Nusa yang menghentikan Maria dari kegiatannya.
“Kenapa sih,lu?” tanya Maria yang sekarang sudah menatap tajam pada Nusa.
“Jadi gini, tadi gue input data penjualan. Terus kan harus di compare sama data penjualan bulan lalu. Nah, yang jadi masalah, data bulan lalu gue ilang, Mar. Gue udah cek email pun, ternyata gak ada datanya, gak ada attachmentnya. Please help me, bisa mati gue, si Bos udah nunggu laporan gue, ah kacau ini, ” ucap Nusa memberitahu pada Maria, sedikit ketakutan.
“Terus, gue harus apa? Memohon pada bos, lu? Ya edan kali gue. Lu cari lah lembar laporannya dong, terus lu bikin lagi aja datanya. Mudah, toh?” jawab Maria enteng.
“Yaelah, kalau ada sih gue gak akan minta tolong lu, Mar. Masalahnya itu lembar hard copy datanya entah kemana. Bingung gue, barangkali lu punya catatan data penjualan bulan lalu, bantuin gue, Mar. Atau lu minta data ke bagian lain dong, serah lu aja deh gimana, gue gak bisa mikir lagi. Gue akan kasih apa yang lu mau deh, janji gue, suerrr, ” dengan memelas Nusa minta bantuan Maria.
“Yakin lu sama janji yang lu ucapkan itu?” pekik Maria serius.
“Yakin gue, janji, asal lu mau bantu gue!” pinta Nusa menyepakati janjinya.
“Ok, deal,” jawab Maria menyodorkan tangannya untuk salaman, kode telah sepakat. Nusa pun menyambut tangan maria untuk bersalaman.
“Gue email sekarang datanya, jangan lupa janji manisnya Bapak Nusa,” ucap Maria santai, wajah tanpa dosa.
“Loh, kok bisa?” Nusa bertanya heran pada Maria.
“Apa sih yang gue kagak bisa, Bapak Nusa,” ucap Maria meledek Nusa.
“Anjrit, kampret lu! Lu tipu gue ya? Atau jangan-jangan lu yang curi laporan gue? Hayo, ngaku deh lu,” cecar Nusa kesal.
“Lu mau kagak datanya?” tanya Maria santai.
“Ya mau lah, udah ditungguin kok datanya, lu pikir gue lagi acting apa?!” jawab Nusa semakin kesal.
“Noh, udah gue send email,” ucap Maria.
Nusa pun berlari menghampiri komputernya untuk mengecek email dari Maria, dan benar adanya Maria mengirimkan data laporan bulan lalu. Merasa heran, Nusa kembali ke meja Maria untuk mengajukan beberapa pertanyaan.
“Mar, kok,” ucap Nusa yang terpotong.
“Nanti aja kalau lu mau wawancara gue, sekarang gue sibuk. Lu juga, bukannya harus kirim laporan segera, Bapak Nusa,” Maria mengingatkan. Nusa pun tanpa berkata lagi, kembali ke mejanya untuk mengerjakan laporannya.
Maria memang bagian produksi, namun pekerjaannya berhubungan dengan penjualan. Secara otomatis, produksi dan penjualan menjadi inti pekerjaannya. Selain itu, Maria sangat teliti dan detail masalah pekerjaan. Maria yang dijuluki Ratu Perfect, karena segala sesuatu yang berhubungan dengan data dan pekerjaan harus sempurna. Dia bisa ribut dengan orang lain apabila data laporan telat atau bahkan salah input, singa bar-barnya pasti keluar seketika.
Hari ini sudah menunjukkan pukul enam sore, Maria dan yang lain sedikit lembur untuk memenuhi laporannya. Maria yang sudah selesai, berdiri membereskan mejanya yang berantakan karena beberapa kertas tercecer. Hal itu sangat menggangu Nusa, karena ingin meminta penjelasannya terkait laporan penjualan bulan lalu.
“Mar, tungguin gue, bentar lagi kelar kok, gue punya hak untuk tahu semuanya,” pinta Nusa menatap tajam pada Maria.
“Iye, buruan, gue tunggu di parkiran ya, Sara udah nungguin, ” ucap Maria setuju, kemudian meninggalkan Nusa yang masih berkutat dengan komputer.
Sesampainya di parkiran, sudah ada Sara, Pongky dan Erik sedang berbincang. Maria pun berjalan menuju arah mereka.
“Lama amat sih lu,” protes Sara pada Maria yang terlambat datang sesuai perjanjian.
“Sorry, agak repot tadi, belum lagi tadi si Nusa rese,” jawab Maria mengundang pertanyaan untuk yang mendengarnya.
“Loh, kenapa lagi bocah itu?” tanya Sara, mewakili rasa penasaran Erik yang dari tadi mendengarkan.
“Biasa, kecerobohan data,” jawab Maria.
“Oalah, pantesan,” kata Sara memaklumi.
Terdengar langkah kaki tergesa, semua menoleh, ternyata Nusa berjalan agak cepat takut Maria meninggalkannya.
“Tuh bocahnya,” ucap Maria menunjuk ke arah Nusa.
“Heh, Lu Maria. Kok bisa ya lu tipu gue? Selama ini, datanya lu umpetin? atau emang sengaja bikin gue riweh ya?” cecar Nusa tanpa jeda pada Maria.
“Sabar bro,” samber Pongky, mencium bau keributan.
“Kagak usah ikut campur lu, ini urusan gue sama Maria,” seru Nusa dengan marah.
“Udah lu ngomelnya?” tanya Maria terpancing kesal, karena dituduh seenaknya oleh Nusa.
“Terus, maksud lu apa?” tanya Nusa semakin memanas.
“Santai cuy, selow,” pekik Erik yang sudah tidak tahan lagi mendengar Maria dicecar oleh Nusa.
“Rik, ini bukan urusan lu. Ini urusan gue sama Maria,” seru Nusa memperjelas.
“Ok, terserah lu aja, Tapi gue gak mau ada keributan disini,” pinta Erik agar Nusa tidak membuat keributan.
“Udah lah, ini urusan gue sama Nusa. Kalian diem aja,” seru Maria.
“Heh, asal lu tau aja ya, Bapak Nusa, bulan lalu itu lu cuti kagak masuk kantor. Semua kerjaan gue yang handle. Lu pasti gak akan nemuin data attachment di email terkirim, karena gue yang bikin laporannya dan gue juga yang kirim laporannya sama bos lu. Bukannya itu semua, lu yang minta ya waktu itu? Coba deh ingat-ingat, jangan pura-pura gila lu ya. Cukup kan penjelasan gue? Oiya, jangan asal nuduh orang sembarangan tanpa bukti yang kuat. Dah ah, gue capek, gue mau balik. Sar, hayu,” Maria menjelaskan di depan semua orang, tanpa bar-bar sih, cukup menjelaskan dengan tegas dan penuh penekanan.
Hari ini Maria sangat lelah, sehingga tenaganya terkuras habis tak bisa bar-bar. Maria pun pergi mengajak Sara untuk meninggalkan Nusa yang masih melongo tak percaya dengan penjelasan Maria.
“Apa gue bilang, santai aja bro,” pekik Pongky menepuk pundak Nusa, menyadarkannya.
“Minta maaf sana sama cewek gue, ehh salah ya, sama cewek orang,” pinta Erik membuyarkan suasana.
“Ngarep lu,” timpal Pongky yang menoyor kepala Erik.
“Bodo amat,” ucap Erik perih, meratapi nasibnya menyukai pacar orang lain.
“Terus gue harus gimana?” ratap Nusa yang mengaku salah pada Maria.
“Ya minta maaf, kampret!!” seru Erik dan Pongky.
“Sekarang?” tanya Nusa polos.
“Nanti aja, tahun depan. Sekarang lu pulang aja, tapi jangan harap besok lu dibukain pintu ruangan,” ucap Pongky apa adanya.
“Dah besok aja, kasian si Maria udah kelelahan. Gak akan kondusif cuy, yang ada lu diunyeng-unyeng sama dia, mau lu?” Erik memberikan saran.
“Ya udah deh, besok pagi sekalian gue jemput,” ucap Nusa melemah.
“Eits, jatah gue buat jemput doi,” samber Erik tidak terima.
“Busset dah Rik, lu rakus juga ya. Inget Dinda, oi,” seru Pongky mengingatkan.
“Lah, terus gue kapan minta maafnya dong? Keburu gue dikunci dari luar dong,” tanya Nusa dengan payah.
“Sekarang lu kirim pesan permohonan maaf yang tulus yang kece yang bikin dia luluh hatinya, terus besok lu bawain sesajen tanda permintaan maaf lu itu, gue yakin sih, dia bakal maafin lu,” saran Pongky yang lumayan bagus.
“Kok lu bisa yakin?” tanya Erik mengejek,
“Iya lah, gue bareng ama dia dah lama. Si Maria itu doyan makanan, camilan, apapun itu jenisnya selagi makanan dia mah doyan, apalagi berbau coklat. Dah pasti luluh lah dia,” Pongky membongkar kelemahan Maria.
Nusa dan Erik mematung mendengarkan penjelasan Pongky, ternyata dia lebih banyak tahu tentang Maria.
“Ok, baiklah. Besok gue bawa sesajen coklat yang banyak,” ucap Nusa bahagia mendapatkan secerca harapan. Lebay amat ya.
“Dah, pulang nyok,” ajak Pongky. Mereka pun menyalakan mesin sepeda motornya, bergegas menancap gas.
Sepanjang perjalanan pulang, Erik memikirkan apa yang dikatakan Pongky. Hatinya bertanya-tanya, kenapa Pongky bisa lebih tahu banyak tentang Maria. Sedangkan Erik, hanya tahu nasi goreng pedas makanan kesukaan Maria. Jangan-jangan Pongky mantan pacarnya, atau saudaranya, pikir Erik bertanya-tanya. Tidak mungkin hanya sebatas teman saja selama ini, Erik menaruh curiga pada Pongky.