Inara berlari sekuat tenaga. Ia berhasil lolos dari pengawasan, saat Theo lengah. Beruntung ia memakai celana yang membuatnya bisa bergerak bebas dan lincah, meskipun wajahnya telah dirias selayaknya pengantin wanita.
"Sial! Kenapa nasibku jadi begini? Andai waktu itu aku ikuti saran dari ayah," gerutu Inara. Ia menoleh sekilas ke belakang, melihat rumah sederhana tempat ia dirias, sembari tetap bersikap waspada. Untuk sesaat ia merasa lega karena tidak melihat seorang pun mengejarnya. Entah dimana Theo saat itu.
Inara tersenyum kecil. Ia lalu melanjutkan pelariannya. Namun ia terkejut ketika melihat beberapa pria kekar dengan setelan jas hitam berdiri tegap, menghadangnya. Sontak ia pun terkulai lemas. Ia tahu mereka adalah anak buah Kenzo.
"Kau pikir mudah untuk lepas dariku, hm?" gertak Kenzo. Pria itu muncul dari balik tubuh tegap para pengawalnya. Kedua matanya menatap nyalang pada Inara.
"Aku tidak mau menikah!" pekik Inara.
"Kau tidak punya pilihan lain," jawab Kenzo. "Nasib ayahmu ada di tanganmu sekarang," imbuhnya.
Inara mengusap kasar wajahnya. Ia telah melupakan ancaman itu. "Dasar licik!" desisnya kesal.
Kenzo tertawa. Ia lalu menunjukkan sesuatu pada ponselnya ke depan Inara, yang sontak membuat wajah gadis itu pucat pasi.
"Kau ..., apa yang akan kau lakukan pada ayahku?" tanya Inara. Ia begitu kalut saat melihat ayahnya terbaring lemah dengan luka di kepalanya.
"Kau akan mengerti, ketika kau tetap menolak untuk menikah dan melarikan diri dariku," jawab Kenzo.
"Penjahat keji!" maki Inara berang. Ia sangat tidak menyukai cara Kenzo untuk memaksanya.
"Semuanya tergantung padamu, Nona."
Inara mengusap tengkuknya dengan kesal. "Baiklah, aku akan memenuhi keinginanmu!" putusnya. Mau tidak mau ia harus mengikuti keinginan pria kejam itu, karena nyawa ayahnya menjadi taruhan.
"Pilihan yang tepat!"
Kenzo memberi kode pada semua anak buahnya untuk segera pergi. Tanpa banyak bicara lagi Inara pun patuh, ikut masuk kedalam mobil milik Kenzo.
Namun ketika mereka baru saja meninggalkan tempat itu, beberapa mobil hitam mewah terlihat berjajar di hadapan mereka, memblokade jalan dan menghentikan mereka dengan paksa. Kedua mata Kenzo membelalak lebar, saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya itu.
"Ayah!" gumam Kenzo, pelan. "Ada apa ini?"
Terlihat seorang pria paruh baya berwajah tegas, berpenampilan mewah dan elegan dengan setelan jas hitamnya, keluar dari dalam salah satu mobil, setelah seseorang membukakan pintunya. Terpaksa Kenzo ikut keluar dari mobilnya, menatap wajah sang ayah dengan penuh tanya.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Simon, ayah Kenzo, basa basi.
"Seperti yang kau lihat," jawab Kenzo, dingin.
Simon tersenyum tipis. "Kudengar kau akan menikah," ucapnya sembari melangkah mendekati Kenzo, diiringi dua orang pengawalnya.
Kenzo terperanjat. Sejak kapan ayahnya itu tahu tentang rencananya itu. Ia pun berpikir keras untuk menjawab sang ayah.
"Jangan termakan gosip," jawab Kenzo, sembari menahan diri agar tetap tenang.
Simon tertawa. Ia lalu menepuk bahu Kenzo sambil menganggukkan kepalanya. "Akhirnya kau menjilat ludahmu sendiri," sindirnya. "Aku sudah tahu semuanya, bahkan tentang siapa sebenarnya calon istrimu yang cantik itu."
Kenzo mengetatkan rahangnya. Seseorang pasti telah membocorkan rahasianya. Seseorang yang menyusup diantara anak buahnya.
"Semua hanyalah settingan," ucap Kenzo dengan suara beratnya. "Dan yang akan menikah bukan aku, tapi Theo, dia sudah menunggu, maka dari itu tolong pergilah Ayah, jangan menghalangi, karena aku akan menghantar pengantin."
Simon terdiam sesaat tetapi kemudian ia kembali tertawa. "Kau yang harus menikahinya, bukan Theo!"
"Ini urusanku, jangan ikut campur!" sahut Kenzo tidak suka.
"Begitu?" Simon mengambil ponselnya lalu menunjukkan rekaman video ke hadapan Kenzo, membuat wajah putranya itu seketika pias.
"A–Apa mau Ayah?"
Simon tersenyum lebar. "Pernikahanmu! Lakukan dengan benar dan berikan aku cucu, atau polisi akan menangkap mu, beserta barang bukti ini," ucapnya, memberi penekanan. "Kau tahu, kakekmu pasti akan menyambut kabar ini dengan sukacita, lalu semuanya akan menjadi milik kita."
Kenzo mengumpat di dalam hati. Ia sudah mengira semua akan jadi begini, tetapi ia benar-benar tidak menyangka jika ternyata ayahnya lah yang pertama mengetahuinya. Ia benar-benar kesal. Ini pasti ulah saksi mata yang berhasil melarikan diri itu.
Sementara kedua lelaki beda usia itu sedang bicara, Inara kembali beraksi di dalam mobil. Nyaris ia membuka pintu namun sayangnya sang driver mengetahui dan segera menguncinya secara otomatis. Mau tidak mau Inara pun terduduk diam sembari memperhatikan Kenzo dan ayahnya dengan hati dongkol.
Tak lama Kenzo pun masuk dan duduk di samping Inara sembari berteriak, memerintah driver untuk segera menjalankan mobilnya. Bersamaan dengan itu dua mobil penghadang pun mundur dan menepi, memberi jalan untuk Kenzo.
"Theo, baca pesanku, lakukan segera sebelum aku sampai di sana!" titah Kenzo melalui ponsel. Raut wajahnya terlihat kesal. Inara meliriknya sekilas, lalu membuang muka menatap jalanan. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi ia tahu pasti, semuanya akan berimbas buruk padanya. Diam-diam ia menghela napas panjang sembari memikirkan ayahnya. Tanpa terasa buliran air mata jatuh membasahi pipinya.
"Maafkan aku, ayah."
***
Inara tersenyum geli, sembari melirik Kenzo sekilas, saat keduanya keluar dari mobil.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Kenzo penasaran, saat melihat senyum Inara.
"Hukum karma terjadi dalam waktu singkat, kau mengancam ku agar mau menikah, dan ternyata kau pun diancam juga oleh ayahmu," jawab Inara sembari tersenyum sinis. "Semesta sedang bercanda rupanya."
"Diam kau!" bentak Kenzo. Inara hanya mengedikkan bahunya sembari mencebik. Ia lalu bergegas masuk ke dalam gedung tempat pernikahan akan dilangsungkan, untuk memperbaiki riasan dan pakaiannya.
Tak lama setelahnya, terdengar keributan kecil di kamar pengantin. Theo kebingungan karena Kenzo dengan seenaknya melepas setelan jas yang ia kenakan lalu memakainya sendiri seraya merapikan penampilannya di depan cermin.
"Apakah saya harus telanjang saat menikah nanti, Tuan?" tanya Theo, lugu. Ia menatap penampilannya sendiri di depan cermin, yang hanya memakai celana pendek dan singlet ketat, kesukaannya.
"Pakai yang seperti biasanya saja, yang ini buatku!" sahut Kenzo, acuh tak acuh.
"Cuma itu satu-satunya setelan jas yang dipakai untuk menikah, Tuan," ucap Theo, masih bingung.
Kenzo diam tidak menjawab. Ia hanya menoleh sekilas pada orang kepercayaannya itu, lalu melangkah pergi begitu saja, keluar dari kamar pengantin, meninggalkan Theo yang menatapnya tak percaya.
"Cepatlah, sudah saatnya mengucapkan janji nikah!" teriak Kenzo dari luar kamar. Theo segera menyambar setelan jas hitam miliknya, lalu berlari keluar menyusul Kenzo, sembari menggumam sendiri, menghafalkan kata-kata yang harus ia ucapkan pada saat pernikahan nanti, sesuai perintah Kenzo melalui pesan yang dikirim. Atasannya itu tiba-tiba saja memintanya untuk menjadi pengantin pria, menggantikan dirinya, tanpa alasan apapun.
Namun seketika ia diam membeku saat melihat Kenzo dan Inara saling mengucapkan janji pernikahan dan telah diresmikan, diiringi tepuk tangan meriah dari para undangan, yang sengaja didatangkan oleh Simon.
"Tiga puluh menit aku mempelajari dan menghafal semuanya dengan panik dan jantung yang nyaris copot, ternyata zonk, shibal!" gerutu Theo, kesal.
"Bos, ayah nyonya Inara hilang!" seru salah satu anak buah Theo, yang datang tiba-tiba dan melapor dengan wajah panik. Sontak wajah pria itu berubah serius.
"Ayah nyonya Inara?" tanya Theo, bingung.