bc

Tawanan Cinta CEO Arogan

book_age18+
89
FOLLOW
1.4K
READ
revenge
contract marriage
family
HE
age gap
fated
opposites attract
friends to lovers
badboy
kickass heroine
mafia
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
kicking
bold
city
office/work place
enimies to lovers
lies
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Menikah dengan sosok pria arogan yang menjadi target utama penyelidikan, adalah satu hal yang tidak pernah Inara bayangkan sebelumnya, terlebih ia justru menjadi saksi mata sekaligus tawanan, atas tindakan kriminal yang dilakukan oleh Kenzo.

Pernikahan yang membuat rahasia besar hidup Inara terkuak tanpa sengaja, menimbulkan tanda tanya besar, saat hubungan kedua insan itu sedang sayang-sayangnya, menempatkan Inara dalam posisi yang sulit, menangkap Kenzo, ataukah justru dirinya yang menjadi tawanan sang CEO?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Tanda Tangan
"Apa saja yang kau lihat?" Inara tersenyum tipis. "Semuanya!" jawabnya singkat. "Semua hal yang bisa menjeratmu ke ranah hukum." "Jaga sikapmu, Nona!" tegur Theo, yang berdiri di sebelah Inara. Gadis itu justru tertawa pelan dan menatap Theo dengan sinis. Satu hal yang membuat Kenzo penasaran dengan keberanian gadis itu. "Karena kau sudah melihat semuanya, maka kau harus dilenyapkan!" gertak Kenzo. Kedua matanya menyorot tajam, menjajaki sampai sejauh mana keberanian gadis di hadapannya itu. Meski tak urung hatinya sedikit memuji, ketika melihat penampilan Inara, dari ujung kaki hingga kepala. Sangat cantik dan berani. Cukup membuat hati Kenzo yang selama ini membeku, sedikit bergetar. "Lakukan saja, asal jangan menyesal," jawab Inara sembari menyeringai. Kenzo semakin penasaran, tetapi ia justru tertawa geli mendengar jawaban Inara. "Kenapa aku harus menyesal?" pancing Kenzo, sedikit meremehkan. Sudut bibir Inara terangkat, begitu juga alis kirinya. "Karena aku tahu, masih ada orang lain yang juga melihat kejahatanmu, Tuan Jahat yang terhormat," jawabnya sinis. "Kau yakin tidak ingin menangkapnya juga?" Kedua mata Kenzo melebar. Gadis itu cukup pintar membuatnya harus berpikir berulang kali sebelum bertindak. Ia pun kini berpikir keras, sebelum semuanya terlambat dan saksi lain membuka rahasianya. "Jangan membual, di tempat itu hanya ada dirimu, selain kami." Inara terkekeh. "Dia pergi sesaat setelah kau melenyapkan lawanmu," ucapnya penuh keyakinan. "Sebaiknya kau harus berjaga-jaga dan bersiap, sebelum polisi menangkap mu, karena aku yakin kalau orang itu sudah mengabadikan semuanya melalui ponsel," imbuhnya. "Kau butuh aku, karena aku tahu siapa dia. Silakan saja kalau kau ingin melenyapkan ku." Kenzo dan Theo saling menatap dan terdiam kelu. Gadis itu menembak tepat pada sasaran. Kenzo membenarkan ucapan Inara karena melihat sendiri kepergian sosok itu, sementara Theo kini menatap kagum pada gadis cantik itu. "Kalau begitu, kau harus menikah denganku!" ucap Kenzo, memutuskan. Sontak Inara dan Theo sama-sama terkejut saat mendengarnya. "Itu tidak mungkin, aku tidak sudi menikah denganmu, penjahat!" tolak Inara. Kali ini ia terlihat sedikit gugup. "Bagaimana konsepnya tiba-tiba menikah, lelucon apa ini? Sama sekali tidak berhubungan dengan perbuatan kotor mu itu!" protesnya. Kenzo terkekeh. "Tidak ada yang tidak mungkin untuk seorang Kenzo Changaz, semua akan terjadi sesuai kemauannya!" tegasnya. "Aku lebih suka mati daripada harus menikah denganmu," desis Inara, yang lalu bergegas pergi, namun tangan Theo sigap mencekalnya. Inara berontak, namun apa daya, kekuatan Theo jauh lebih besar darinya. "Persiapkan dirimu, tiga hari lagi kita menikah!" tegas Kenzo yang lalu melangkah pergi begitu saja. "Theo, kurung dia, dan persiapkan juga semuanya!" "Siap, Tuan!" jawab Theo, yang lalu membawa paksa Inara masuk ke salah satu ruangan, di markas besar milik Kenzo. Inara terus berteriak dan meronta, mencoba melepaskan diri, tetapi sebuah sentuhan kuat ujung jari Theo dengan cepat membuatnya terkulai lemah tak berdaya. ** "Tanda tangani dengan cepat, sebelum kita ke pelaminan!" titah Kenzo, sembari menyodorkan lembaran kertas, berisikan tulisan panjang. "Apa ini?" Inara mengerutkan keningnya sembari memerhatikan lembaran kertas itu. "Perjanjian nikah," jawab Kenzo dingin. "Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu lagi, kita harus segera menikah setengah jam lagi!" bentaknya, tidak sabar. Kedua matanya menyorot tajam pada wajah cantik yang kini menunduk, membaca isi tulisan di dalam lembaran kertas itu. "Tunggu! Aku harus membacanya dulu sebelum tanda tangan, bukan?" Kenzo mendecak kesal. "Aku ini orang sibuk, asal kau tahu! Jadi, jangan buang-buang waktu!" protesnya, sembari melihat sekilas arloji mahal di tangan kirinya. "Kau yang ingin menikah! Kenapa harus aku yang repot?" sinis Inara. "Dan aku tidak mau tanda tangan, apa untungnya buatku? Dari awal pun aku sudah menolak menikah denganmu!" tandasnya. Tatapan Kenzo semakin dingin dan tajam. Ia tidak suka dibantah ataupun ditolak. "Theo, tunjukkan padanya!" titah Kenzo. Theo yang berdiri di belakangnya segera maju, mendekat pada Inara sembari menunjukkan sesuatu dari ponselnya. "Apa lagi ini?" tanya Inara, gusar. Namun tak urung ia pun melihat ponsel milik Theo. Dalam sekejap wajahnya berubah pias setelahnya. Ia pun menatap geram pada Kenzo. "Kau mengancam ku? Apa yang kau lakukan padanya, huh?" desis Inara. "Jangan sampai hal buruk terjadi pada ayahku!" Kenzo tersenyum sinis. "Kau cuma punya dua pilihan, tanda tangani perjanjian ini, atau kau tidak lagi melihat ayahmu!" tegasnya, tanpa berniat menjawab tanya Inara. "b******k! Dasar penjahat!" umpat Inara. Rahangnya mengeras, sorot matanya terlihat dingin dan mengerikan. Namun tidak membuat Kenzo melunak. Pria itu hanya mengedikkan bahu sembari mencebik. "Lima menit!" tegas Kenzo. "Tanda tangan, atau ayahmu celaka!" tandasnya. "Sial!" desis Inara. Ia begitu kalut dan sedih saat melihat rekaman video tentang ayahnya yang berwajah pucat saat ditodong senjata api, oleh orang suruhan Kenzo. Sungguh, kali ini ia begitu marah dan sakit hati pada Kenzo, yang telah menyekapnya sejak ia menjadi saksi tanpa sengaja, tiga hari lalu. Kalau saja ia tidak sedang bertugas, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Inara begitu menyesal. Inara membaca dan meneliti semua tulisan yang tertera, lalu tersenyum sinis. "Hanya begini saja?" tanyanya, meremehkan. "Masih ada lagi dibagian akhir, bacalah dulu!" Inara melanjutkan membaca lalu tertawa kecil. "Tiga bulan?"'tanyanya lagi. "Benar, tiga bulan saja, setelahnya kita akan bercerai dan kau boleh pergi," jawab Kenzo, dingin. "Kenapa, terlalu cepat? Kau ingin hidup lebih lama bersamaku?" Kenzo tertawa sinis. "Justru ini terlalu lama!" bantah Inara. "Kenapa harus tiga bulan, bukan tiga hari?" "Bukan urusanmu! Cepat tanda tangani, kau sudah membuang banyak waktu!" bentak Kenzo yang semakin tidak suka dengan sikap Inara yang terlalu berani padanya dan terkesan membangkang. Kenzo tidak suka jika keinginannya dibantah. Tanpa berpikir panjang lagi Inara membubuhkan tanda tangan di atas surat perjanjian nikah yang telah dibuat oleh Kenzo. Meskipun mungkin terlalu lama baginya, menghabiskan waktu tiga bulan masih bisa dilalui dengan banyak hal, dan ia bisa melakukan apapun sesuai keinginannya, asal tetap dalam pengawasan Kenzo. Satu hal lagi yang membuatnya cepat menyetujui isi perjanjian itu adalah karena tidak adanya hubungan suami istri sebagaimana layaknya, antara ia dan Kenzo. Pernikahan mereka hanyalah status, sampai saat Kenzo mendapatkan haknya dari sang ayah. Begitulah keterangan yang tertulis di bagian akhir surat perjanjian itu. Inara tersenyum ketika selesai menandatangani. Dalam benaknya terbayang wajah ayahnya tercinta yang pastinya bakal terlepas dari ancaman Kenzo. "Masih bisa tersenyum?" tegur Kenzo, sembari memberi kode pada Theo untuk menyimpan surat perjanjian nikah itu. "Kenapa tidak?" balas Inara, sengit. "Setidaknya aku masih bisa melihat ayahku setelah drama ini selesai!" ujarnya. Kenzo tertawa sumbang. "Yakin kau masih hidup?" sindirnya. "Bagaimana kalau ternyata kau justru mendahului ayahmu, pergi ke alam baka?" Inara terkekeh. "Itu tidak akan terjadi selama aku tidak memberitahumu tentang saksi kedua itu!" tegasnya, percaya diri, yang sontak membungkam Kenzo. Theo tersenyum tipis melihat kedua insan yang sama-sama keras kepala itu. Ya, hanya dengan melihat Inara, Theo bisa menyimpulkan jika Inara bukanlah orang sembarangan, gadis cantik itu memiliki sifat dan karakter yang mirip dengan Kenzo, atasannya. Dalam hatinya bertekad untuk menyelidiki lebih jauh tentang siapa sosok Inara yang sebenarnya. Theo, asisten sekaligus sekretaris pribadi Kenzo, adalah orang yang sangat terlatih dan begitu loyal. "Diam lah, kita berangkat ke gedung dan menikah sekarang!" bentak Kenzo, menutupi perasaan jengkelnya, karena Inara selalu saja bisa membantah dan membungkamnya. "Cih! Kau saja yang menikah!" Inara justru menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan kesal. Ia benar-benar tidak mau menikah dengan Kenzo. Kenzo mendecak kesal. "Theo, seret dia!" teriaknya, memerintah. Ia lalu bergegas pergi meninggalkan Inara bersama Theo yang sontak memegangi tangan Inara, mengajaknya untuk segera ke gedung, tempat pernikahan akan dilangsungkan. "Tidak, lepaskan aku!" Inara menepis tangan Theo dengan kuat, lalu beranjak dari duduknya dan berlari dengan kencang. Semula Theo membiarkannya, karena mengira jika Inara menyusul Kenzo, namun ternyata pergi ke arah lain. "Tunggu, Nona!" teriak Theo, panik.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook