Insiden yang melibatkannya dengan kemarahan Jesline beberapa jam lalu, masih menyisakan gelombang awan kelabu pada mood Kania. Ia kesal, marah, dan jijik. Oh, ya, kejadian itu pasti sangat memalukan di mata siapa pun yang menonton tiap adegannya. Maka wajar saja, jika Rin Sabina—si desainer itu langsung memutus kontrak kerjasama mereka. Meski bukan hanya Kania yang didepak, tapi begitu juga dengan si cewek super rese Jesline—tetap saja Kania dendam. Semua ini jelas gara-gara Jesline yang pendengki. Awas saja, lain kali bertemu lagi, Kania bersumpah akan membuat wanita itu malu sampai ke ubun-ubun. Dan entah dengan cara apa, akan dipikirkannya nanti. Yang jelas, Kania akan membalas—itu pasti. Lihat saja keambisiusannya dalam membenci orang!
“Sayang, kamu masih bete?”
Kania mendengus saat mendengar pertanyaan itu, yang terlontar dari seseorang yang kini tengah mengemudikan mobil untuknya. Lelaki ganteng yang sayangnya tak pernah menarik perhatiannya sedikit pun, kecuali untuk dimanfaatkan Kania agar bisa mendapatkan barang-barang mewah.
“Nggak usah panggil-panggil aku gitu, kan udah aku bilang kita nggak punya hubungan apa-apa,” Kania bisa jadi sangat ketus kala mengalami mood swing, “don’t call me with that word, ngerti?”
Setelah Kania dan Jesline berhasil dilerai, disidang, lalu Rin Sabina blacklist dari pemotretan produknya—lelaki yang sedang dekat dengan Kania datang menjemput usai ditelpon olehnya. Lelaki itu bernama Galen Wijaya. Anak dari seorang politikus kontroversial Indonesia. Tak perlu disebutkan siapa namanya, masyarakat Indonesia pasti sudah tahu jawaban dari pernyataannya tersebut. Sementara Galen, lelaki itu sedang mengembangkan bisnis video game. Meski masih baru di dunia bisnis, tapi kucuran dana dari keluarganya yang kaya membuat lelaki itu tak kurang uang untuk tetap berfoya-foya.
“Oke—oke, sorry,” Galen mengembuskan napasnya pelan. Sangat sulit rupanya mencoba mengerti bagaimana pola pikir Kania. Meski mereka sudah dekat selama kurang lebih enam bulan, tidak menjamin Galen mengenal Kania dengan baik, “aku nggak akan panggil “Sayang” lagi ke kamu.”
“Bagus,” tukas Kania judes.
“Sekarang jangan cemberut terus gitu, dong. Cantiknya jadi nggak kelihatan,” Galen melirik ke samping, raut wajah perempuan yang duduk di sisinya kian datar, “apalagi kita mau jalan-jalan ke tempat yang ramai, nanti mereka ngiranya kamu aku paksa pergi.”
Kania menyambar lagi dengan cepat, “Bodo amat. Aku nggak peduli sama omongan orang.”
Galen menyabarkan diri. Untung perempuan satu ini cantiknya bukan kepalang. Kalau tidak—barangkali sudah dia turunkan di pinggir jalan raya sejak tadi. Namun tepat ketika itu, ponsel Galen yang ada di atas dashboard mobilnya berdering cukup keras. Dalam sekejap, Galen mengangkatnya.
“Halo?” Galen mendengarkan seseorang yang bicara di ujung sana. Lalu beberapa detik kemudian, raut wajahnya pun tetiba berubah, “apa-apaan mereka itu bikin jadwal seenaknya sendiri? Aku udah nunggu mereka dari pagi. Sekarang aku ada urusan lain,” Galen diam, menunggu orang yang menelponnya menyelesaikan kata-kata, “what the f—ugh, oke—aku putar balik sekarang. Bilang pada mereka, tunggu.” Lalu sambungan telpon itu terputus—Galen Wijaya nampak kesal sekali atas apa yang baru saja disampaikan padanya.
“Kania—”
“Apa?” sepertinya, Kania sudah stand by setelah Galen selesai ditelpon orang yang entah siapa itu, “mau bilang kalau kita batal jalan-jalan?” kedua tangannya yang ramping itu pun kini menyidekap—seperti seorang interogator yang ulung.
Galen menenangkan, “Nggak. Kita jadi ngemall, kok.”
Diam sebentar saat mobilnya melewati sebuah belokan jalan, Galen kembali menyambung, “Tadi rekan kerjaku yang nelpon. Kamu tahu kan kalau dalam waktu dekat, aku bakal luncurin video game terbaru. Nah, sebetulnya sudah dari pagi aku nunggu tim yang bakal ngembangin teknologinya. Tapi mereka nggak datang. Dan tiba-tiba aja sekarang mereka udah ada di kantor. Sialan emang. Musingin,” sedangkan Kania kini hanya diam dengan pandangan lurus-lurus ke depan.
“Terus rekanku bilang, mereka mau ketemu sekarang sebelum balik ke Bandung, buat nyerahin dokumen langsung ke aku,” Galen nampak begitu menyesal. Padahal Galen bisa lebih lama menghabiskan waktu dengan Kania, kalau tak ada telpon sialan dan pertemuan yang super mendadak itu, “tapi aku janji ketemuannya bakal sebentar.”
Galen berdehem, “Jadi, gimana kalau kamu shopping sendiri dulu? Setelah urusanku selesai, aku nyusul,” Galen melirik Kania lagi demi menebak emosinya, “aku pasti susul kamu, Kania, ya? Aku nggak akan mungkin biarin kamu terlalu lama sendirian di sana.”
Setelah 20 detik cuma diam, akhirnya Kania mau buka suara, tapi hanya sekata saja dari mulutnya, “terserah.” Namun bagaimanapun juga, Galen bersyukur karena Kania masih mau bicara.
Maka, lelaki itu mengerahkan “jimat” terakhirnya. Hal pertama yang dilakukannya adalah berhenti tepat saat lampu merah menyala. Kemudian, Galen mengeluarkan dompet dari saku celana. Lalu tanpa pikir panjang, diambilnya sebuah kartu persegi yang berkilau—untuk disodorkannya pada Kania, yang masih bergeming. Ah, biasa, wanita selalu jinak-jinak merpati begitu. Sikap Kania inilah yang justru membuat banyak lelaki merasa tertantang untuk menaklukannya, dengan, dan ataupun tanpa kekuatan uang.
“Kamu bisa beli apa pun yang kamu mau,” itu adalah rayuan lelaki yang seharusnya paling mujarab, untuk membikin hati wanita luluh. Kita akan lihat sejauh mana Kania mampu bertahan dengan kecuekkannya itu, “aku lihat di Insta Storymu kemarin, kamu lagi ngincar tas barunya LV. Mau cepat-cepat punya, kan? Nanti keduluan ada yang beli, apalagi sama rival kamu itu,” Galen sedikit terkekeh—bercanda, tapi raut kesal gemasnya Kania menghentikan kekehannya.
“Ambil, dong,” Galen mengeluarkan suara yang mirip bisikan, supaya dapat perhatian Kania, “masa mau dianggurin aja, sih?”
Satu, dua, ti—
Kania mengambil kartu itu dalam satu sambaran, lalu bicara dengan penuh percaya diri, “Well, kalau kamu maksa—aku terima.”
Galen mengulum senyum, sebelum melajukan kembali mobilnya setelah lampu merah berganti. Damn, Kania selalu menarik dalam situasi apa pun. Karena itulah Galen merelakan kartu kreditnya dikuasai oleh perempuan itu. Persetan.
***
Setidaknya, belanja mampu membuat tekanan darah tinggi tiba-tibanya itu sedikit berkurang. Sekarang, Kania tak hanya akan cuci mata, tapi apa pun yang dilihat matanya bisa menjadi hak miliknya dalam waktu kurang dari 10 menit. Demi kesempatan emas ini, Kania takkan menyia-nyiakannya.
Wanita muda itu mengenakan kacamata fashion yang mahal untuk membiaskan kedua mata indahnya. Selagi kedua kaki-kakinya yang jenjang itu berjalan mengitari sebuah toko pakaian dalam bermerk. Tas LV terbaru sudah didapatkannya melalui harga yang masih tinggi. Sekarang waktunya dia untuk memanjakan bentuk tubuhnya—dengan memakaikan mereka pakaian-pakaian yang bagus.
“Cari yang model bagaimana, Mbak?” seorang pelayan toko menghampirinya dengan ramah, “kami punya beberapa rekomendasi pakaian dalam yang sedang tren untuk Mbak,” si pelayan meneliti Kania dari ujung kepala sampai kaki, “tapi saya rasa, Mbak akan cocok pakai apa saja dengan proporsi tubuh seperti ini.”
Well, pelayan ini punya selera yang bagus, Kania bergumam pada dirinya sendiri—setelah memberi senyum kecil. Memang siapa yang tidak akan terpesona dengan wajah dan tubuhnya?
“Coba pilihkan model baru dari Victoria’s Secret,” Kania meminta, dan si pelayan dengan cekatan membawa beberapa pasang model pakaian dalam terbaru ke hadapan Kania, yang juga tengah sibuk melihat-lihat brand lain, “oh, ya—kalau bisa model push-up bra gitu, deh. Biar seksi,” cara bicara Kania yang spontan membuat si pelayan geleng-geleng kepala. Ada-ada saja, orang sudah seksi begitu—katanya dalam hati.
Ada beberapa brand yang menarik perhatian Kania. Di sana ada Wacoal yang cute, Victoria’s Secret yang fierce, dan juga merk Pierre Cardin yang dibawa oleh si pelayan dengan macam model terbarunya. Tapi, salah satu pakaian dalam yang selalu terpilih oleh Kania adalah Victoria’s Secret—the world’s best bras brand dengan variasi branya yang stylish dan seksi. Kania lalu mengambil model Very Sexy Bomshell dengan warna pink yang mencolok. Bagi orang-orang warnanya mungkin norak, tetapi kalau sudah Kania yang pakai—tak ada yang tak cocok untuk tubuhnya. Lagi pula, si pelayan bilang bra ini punya tambahan padding dua cup lebih besar! Perfect, kan? Kelebihan di salah satu bagian tubuhnya bisa semakin ia tonjolkan. Selain itu, Kania juga mengambil model-model lain dari brand yang berbeda.
“Semua ini kuambil. Tolong kemasi,” Kania memberi gesture agar si pelayan cepat pergi dari hadapannya, “nanti aku menyusul ke meja kasir,” dengan hormat, si pelayan itu pun melenggang dengan pakaian-pakaian dalam yang dibeli Kania.
Sebelum meninggalkan toko ini, Kania masih sempat menegakkan cermin kecil yang ada di dekatnya itu—untuk memeriksa apakah penampilannya masih on point atau tidak di pantulan sana. Overall, rambutnya agak kusut tapi masih layak untuk dipuji betapa indahnya helaian itu. Ah, sialan. Semua ini gara-gara si model senior yang menjambak rambutnya. Untung saja Kania membalas dengan hal yang lebih kejam—dengan membuat Jesline malu karena hair extensionsnya tercerabut!
“It’s okay if you’re so messy, Queen Kania,” oke, anggap saja dia gila—tapi Kania benar-benar menikmati bicara yang hebat-hebat untuk the one and only herself. Dengan gaya yang super cool, like a gangsta woman, “kejadian tadi tentu nggak bisa melukai harga dirimu. Rambutmu kusut atau nggak, toh kamu tetap jadi pusat perhatian. Uhhh, damn—bener banget itu!”
Dan sebelum benar-benar meninggalkan cermin ajaibnya itu, Kania memberi sebuah kiss bye yang istimewa buat dirinya sendiri, “Bye, Queen. Keep gorgeous, tho.”
Sementara dari balik meja kasir, si pelayan yang tadi bantu Kania memilihkan model bra, speechless bukan kepalang kini. Ada ya, di dunia ini makhluk yang seperti Kania Salim?
Ketika Kania telah sampai di depan meja kasir, kedua perempuan muda yang ada di sana pun menyerahkan kantong belanjaan pada Kania. Yang tak nampak sedikit pun kerepotan ketika menangani belanjaan-belanjaannya. Tenang, Kania pro bahkan saat menatanya agar pas ditenteng tangan.
“Total belanjaannya jadi—”
Belum pula disebutkan jumlahnya, Kania menyerahkan kartu kredit tanpa batas milik gebetannya itu pada kasir. Seperti sedang bilang, “Nih, tinggal gesek!”. Untungnya, para pegawai toko itu ramah-ramah. Dan tepat saat itu, ponselnya berdering nyaring. Galen telpon. Kania mengangkat, dan bicara dengan suara yang malas-malasan—pura-pura capek sekaligus manja.
“Galennn, belanjaanku berat, nih. Kamu cepetan ke sini. Tolong bawain, ya?” rajuk Kania, tidak afdol kalau tidak memanfaatkan tenaga yang ada. Masa uangnya saja, sih?
Galen bertanya dengan maklum, “Kamu di mana? Aku udah di dalam ini.”
“Aku di toko pakaian dalam. Kamu pasti tahu, yang paling populer pokoknya,” jawab Kania, Galen mengiyakan usai bilang jangan pergi ke mana-mana. Karena Galen akan menyusul sebentar lagi.
Setelah berterimakasih pada para pelayan, Kania pun keluar toko dengan barang bawaan yang makin heboh. Belum ada tanda-tanda kedatangan Galen di luar. Duh, ke mana sih lelaki itu? Kan sudah jelas, Kania tidak suka menunggu walau hanya setengah menit. Dan ketika kedua kakinya beberapa kali mondar-mandir di samping toko itu, dengan menjengkelkan tubuhnya malah ditabrak oleh sesuatu yang terasa—keras dan membentur. Otomatis, kantong-kantong belanjaan jatuh dari genggaman tangan Kania yang tubuhnya oleng. f**k it!
“Aduh, kalau jalan itu lihat-lihat, dong. Dipake tuh dua matanya,” Kania jengkel sekali ketika mesti berjongkok untuk memunguti tas belanjaannya yang jatuh berantakan. Beruntung mereka semua tidak apa-apa. Kalau sampai tas belanjaannya lecet sedikit saja, Kania bisa lebih murka, “atau jangan-jangan nggak punya mata?” sengaknya.
“Maaf. Biar kubantu,” suara itu mengalun dengan jenis bariton yang—cukup menakjubkan. Tapi peduli setan dengan telinganya yang kurang ajar! Di saat-saat begini masih saja bisa salah fokus, “tadi aku jalan dengan terburu-buru, jadi nggak sengaja nabrak kamu.”
“Gak usah!” semprot Kania, ia menepis tangan yang mau membantu memunguti barangnya dengan kasar, “emang situ aja yang lagi buru-buru, ha?” setelah beres, Kania berdiri tegak, dengan tatapan mata yang kini bisa jelas memandang penabraknya. Begitu pula pria itu yang ikut menegakkan tubuh kembali. Tubuh yang amat menjulang. Dan holly s**t—
Untung Kania pakai kacamata. Jadi tak bakal ketahuan kalau dia kentara sedang memindai wajah pria itu yang—tipe ideal cewek-cewek banget. Boleh juga. Tapi sayangnya Kania sudah kadung kesal. Maka dia menunjukkan sikap angkuhnya.
“Lain kali, kalau jalan itu mata sama kaki disinkronin biar nggak nyenggol orang,” omelnya, yang ditanggapi dengan sikap yang begitu tenang oleh lawan bicaranya itu. Wah, kepala batu. Nih orang nggak ada rasa bersalahnya apa? Murka Kania.
“Honey, ada apa ini ribut-ribut?” tiba-tiba datanglah seorang wanita muda ke sisi pria itu. Dalam sekejap, wanita itu melempar pandangan pada Kania, dan langsung sengit saja.
“Aku nggak sengaja nabrak orang,” bisik si pria, yang sudah berinisiatif mengajak—siapa pun wanita itu—pergi dari sana sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Pria itu minta maaf sekali lagi pada Kania.
“Bentar, bentar,” si wanita justru bebal, ini dia yang suka buat Kania naik pitam. Maka Kania mendongakkan dagu tinggi-tinggi—menunggu apa pun yang bakal keluar dari mulut perempuan tersebut, “tadi aku dengar kamu maki-maki kayak orang kesetanan. Aku nggak terima, ya. Tunanganku toh sudah minta maaf, nggak perlulah marah-marah gitu!”
Kania impulsif melepas kacamatanya dengan sekali tarik. Jujur saja, dia sudah muak dengan segala pertengkaran sialan yang terjadi hari ini. Maka dari itu Kania memutuskan untuk sedikit melunak, namun dengan tak kalah kejam.
“Aku nggak ada urusan sama kamu,” Kania menunjuk muka perempuan itu menggunakan kacamatanya, “jadi jangan sok asik. Pacarmu emang salah—akui saja. Nggak usah banyak membela diri,” setelah mengatakan hal itu, Kania mengenakan kembali kacamatanya yang mahal. Lalu dengan sekali kibasan rambut, Kania melenggang pergi.
Si wanita nampak tak terima, tetapi tunangannya sigap mencegahnya bikin keonaran yang lebih besar. Selagi wanita di sisinya menghentakkan sepatu dengan kesal, pria itu justru lebih suka membidikkan tatapannya yang elang pada punggung perempuan tadi. Yang marah-marah dengan cara—
Oh, God.
Is that woman an Aphrodite?
***