Di kota metropolitan ini—ada beberapa tempat yang cocok untuk nongkrong bagi Kania and the gang, salah satunya adalah Black Hole. Sebuah pub yang di dalamnya terdapat live music terbaik, sejauh yang pernah Kania kunjungi. Selain itu juga racikan minuman beralkoholnya paling enak dicecap oleh lidah. Maka Kania tidak ragu memilih pub ini sebagai tempat perayaan yang pas bagi keberhasilannya dalam menaklukan perusahaan sekaliber I-Line Skycraper. Sebentar lagi, karirnya pasti akan kian melejit. Wajahnya itu bakal semakin sering menghiasi majalah, surat kabar, televisi, dan media sosial. Jadi ia takkan rugi meski harus keluar uang banyak untuk foya-foya malam ini. Selagi bagi sebagian orang, mentraktir teman sama artinya dengan jatuh miskin dalam satu hari. Tapi buat Kania sih—tidak masalah!
Dan tepat di sekitar pukul 10 malam, Kania pun telah berkumpul bersama teman-temannya. Ada lima orang yang hadir termasuk dirinya. Mayang, Tania, Yasmine, Brisia, dan tentu saja sang pemilik hajatnya sendiri—Kania Salim, yang nampak cantik dan seksi mengenakan crochet tops. Malam itu agaknya Kania ingin bermain-main dengan style a la bohemian look, yang dipadukan dengan rok jeans dan sepatu boots warna hitam. Jangan lupakan pula necklace unik yang ikut menghiasi lehernya, menambah kesan artistik dalam diri Kania. Tak ayal lagi banyak pengunjung yang tersihir oleh penampilannya yang cukup berani itu. Minim, terbuka, dan bebas dari hal-hal yang mengekang.
Overall, mereka adalah list teman yang diajaknya. Lain kali Kania bisa membawa lebih banyak orang, yang pasti akan membuat suasana semakin menyenangkan. Mereka bisa main game yang seru jika datang bergerombol. Seperti yang sudah pernah dilakukan. Game gila TOD misalnya. Yang betulan mengharuskan mereka berbuat sesuatu sebagai hukuman jika memilih untuk tak jujur. Meski begitu, saat ini pun sebetulnya sih sudah terhitung ramai. Kania jadi tak kesepian lagi seperti ketika terkurung di dalam apartemennya sendirian.
Sekarang, mereka sudah duduk—melingkar nyaman di sebuah meja dengan sofa empuk sebagai pasangannya. Kania membiarkan teman-temannya pesan apa pun yang mereka mau itu, tanpa ada batasan sama sekali. Dan tak lama kemudian, di atas meja sudah tersaji cocktail yang dicampur dengan berbagai macam jenis buah-buahan. Juga ada long island ice tea, tequela sunrise, mojito, rum coke, sunset boom, blue lagoon, dan black russian.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menikmati minuman masing-masing. Tania lantas angkat bicara, “Kaget banget nggak sih tiba-tiba ditelpon dia?” Jelas saja merujuk pada Kania, yang dengan cepat disahuti oleh yang lain. “Aku kira dia kena masalah lagi. Eh, taunya malah ngajak hangout.”
“Makanya, lain kali kalian harus cepat-cepat angkat telpon aku.” Kania menyesap rum cokenya yang menyegarkan tenggorokan. “Nggak selamanya aku nelpon cuma buat ngasih berita buruk aja.” Para gadis dewasa itu pun tertawa dengar omelan Kania, yang dilontarkan secara sarkastik—terselubung.
“Sering-sering telpon aku, ya, kalau gitu.” Yasmine pun terkikik. “Anyway, selamat dapet project baru, Beb! Duh, bikin iri, deh.” Katanya, sambil mengajak yang lain bersulang.
“Akhirnya si Nona pembuat onar ini udah nggak jadi pengangguran lagi.” Mayang membuka keseruan di malam itu lewat candaannya—dia mengangkat gelas tinggi-tinggi seperti halnya Yasmine. Dan mereka pun bersulang untuk merayakan keberhasilan Kania. “Good luck buat Miss Salim yang usil!”
Kania tertawa, dan ia tidak mencoba menutupi rasa sombongnya yang hakiki itu. Apalagi usai Brisia melayangkan sebuah pertanyaan untuknya, “Kok bisa sih Beb kamu dapet kerjaan dari perusahaan besar gitu?”
Kania menjelaskan dengan gaya santai, “Awalnya ya coba-coba aja, siapa tahu kali ini aku lagi beruntung. Jadi aku masukin aja profile ke sana pas mereka lagi gencar nyari model baru.” Dengan elegan kedua kakinya mulai menyilang di antara satu sama lain, sambil tetap minum dengan cool. “Terus, Juwita tadi telpon. Ngasih tau kalau mereka akhirnya milih aku. Coba bayangin, dari sekian banyaknya model yang daftar—aku yang lolos.” Tak perlu dibayangkan, teman-temannya juga sudah iri kok dengan keberuntungan Kania.
Makanya Mayang nyeletuk, “Tapi nanti kalau kamu satu kerjaan lagi sama si Jesline gimana?” Mereka tertawa-tawa mendengar hal itu, bikin Kania jadi kesal. “Kan nggak tertutup kemungkinan perusahaan sportwear itu butuh back-up di brand lain yang mereka punya. Kalo sampe butuh model lagi dan si Jesline ikut kepilih—”
“Nggak, nggak.” Kania menyangkalnya. “Kalaupun itu sampe kejadian, jelas aku nggak bakal biarin dia masuk gitu aja ke I-Line Skycraper.”
“Kalau kamu udah usaha, terus tetep nggak bisa cegah gimana?” Pertanyaan lain datang dari Tania. “Mau berantem lagi? Iya?” Melihat dari betapa bermusuhannya mereka sih, ya nampaknya akan selalu berakhir seperti itu.
Huh, menyebalkan. Kania mengembuskan napasnya ke udara, “Aku bakal sekuat tenaga profesional. Aku udah janji sama Juwita.” Balasnya dengan singkat. Dan menggerutu pada semuanya kalau dia sedang tidak mau membahas hal apa pun tentang perempuan bernama Jesline—lalu ditertawai mereka.
Sepertinya, kisah perseteruan di antara Kania dan juga Jesline akan selalu dikenang sepanjang masa. Dan jadi bahan untuk mengolok-ngoloknya. Ugh. Sekali lagi Kania menenggak minumannya sampai habis segelas.
“Eh, tapi tau nggak? Aku pernah denger kabar tentang perusahaan ini, loh. Katanya dipegang sama jajaran pengusaha muda.” Ucapan Brisia membuat teman-teman Kania yang lain lebih mendekat karena tertarik. Maklum, kata pengusaha muda merupakan embel-embel yang sangat menjual bagi mereka.
“Coba cek Google.” Usul Tania, ketika Brisia sudah mulai mengeluarkan ponselnya. Mereka berkasak-kusuk, lalu tak lama kemudian saling menjerit. Barangkali hanya Kania seorang yang jaga imagenya dengan baik. “Ya ampun, ganteng banget sih!” Sejujurnya, Kania sama sekali tidak tertarik perihal siapa yang memiliki perusahaan ini atau perusahaan yang mana pun itu. Muda atau tua, ganteng apa jelek, yang penting Kania bisa dapat uang banyak dari sana dan pamornya melejit. “Sini bentar, Bep. Calon atasan kamu ini super ganteng, tau!”
Tapi Kania benar-benar tak mau ambil pusing tentang siapa calon bosnya itu. Apalagi sekarang ada yang terasa sangat mendesaknya. Kania ingin buang air kecil. Maka ia pun berdiri ketika Brisia hendak mempertontonkan apa yang ada di dalam layar ponsel pintarnya tersebut.
Yasmie menegur, “Bep, mau ke mana? Ini liat dulu.”
“Toilet.” Jawab Kania. Ia sudah tak tahan. Maka Kania pun agak setengah berlari agar bisa cepat sampai di sana.
***
Ada perbedaan yang mencolok antara pub dan diskotik malam. Di sini hanya ada live music yang tidak terlalu hingar bingar, dengan pencahayaan agak temaram, juga tanpa dance floor yang memusingkan kepala kalau ingin ada di suasana yang cukup tenang. Maka dari itu Segara dan kawan-kawannya lebih memilih mampir di sini, untuk minum-minum dan mengobrol ringan. Sekarang, Segara sedang minum black russiannya dengan kalem. Sementara yang lainnya sedang heboh membicarakan model baru untuk I-Line Skycraper, yang dipilih Segara. Tentu model wanitanya yang dibicarakan, kalau versi model laki-laki untuk sportwear mereka sih buat apa juga? Ya kali.
“Emang butuh mata yang mata keranjang biar bisa nemuin model sehot itu. Iya, gak, bro?” Keanu menyenggol lengan Segara yang duduk di sebelahnya, sementara yang lain tertawa-tawa—Segara membalasnya dengan dengusan. “Jadi kita semua bisa ngasih kerjaan itu ke Segara. Dijamin nggak bakal gagal!”
“Sialan, lu!” Segara menukas dengan gesit. “Nemuin cewek itu cuma sebuah kebetulan yang bakal menguntungkan perusahaan. Tipe model lama terlalu ngebosenin, jadi gua pilih karakter-karakter yang lebih—menantang.”
Orion menyembur gelak tawa, makin heboh, “Maksud lu—menantang birahi?” Semuanya terbahak-bahak. “Tapi gua setuju visualnya pasti bakal dapet atensi publik. Tipe-tipe yang bikin suatu produk kejual, dan Kania-manis.”
“Yang mana sih orangnya?” Galen kesal karena ia jadi satu-satunya yang tidak tahu wajah orang yang sedang mereka bicarakan. Ketinggalan berita itu memalukan! Sejak tadi dia hanya bisa diam. Ah, kalau tahu akan begini—lebih baik Galen mengajak ngedate gebetannya tersayang saja.
“Lo bakal tau kalo produknya udah launching.” Marvel si calon pengantin membalas. “Ini rahasia perusahaan, man.”
Galen yang semakin jengkel memanggil waitress untuk mendekat ke tempat nongkrong mereka. Namun insiden yang tak diinginkan terjadi. Si waitress yang masih membawa gelas minuman di atas bakinya, menjatuhkan gelas itu dan cairannya tumpah ke atas celana yang dikenakan Segara—yang duduknya tepat di sebelah kanan, di mana waitress itu berdiri. Perempuan muda itu dengan gugup spontan minta maaf berkali-kali. Ingin melakukan sesuatu, tapi tidak mungkin. Kurang ajar rasanya kalau dia tiba-tiba menyeka celana tamu.
“Gimana sih kalo kerja?!” Keanu menghardik.
Segara justru terlihat santai, pria itu menahan ledakan kekesalan temannya, “Udah—nggak apa-apa, gua bersihin di toilet aja.”
Kemudian, Segara beranjak dari sana—ia melenggang menuju toilet yang tersedia di pub Black Hole tersebut.
***
Dua tubuh yang berbeda ukuran itu bertabrakan di lorong yang nantinya akan menuju percabangan toilet. Toilet khusus untuk kaum perempuan, dan toilet khusus untuk kaum laki-laki. Segara yang berjalan cepat sembari menyeka cairan di celananya tidak mengaduh, tetapi seseorang yang datang dari arah depan—dan rasa-rasanya lebih dulu menubruk—justru mengeluarkan pekikan yang keras terdengar di telinga. Dan layaknya sebuah slow motion dari suatu film romcom yang super annoying, wajah mereka berdua sama-sama terangkat di waktu bersamaan—menciptakan atmosfir yang beku dirasa Segara.
Perempuan ini Kania Salim. Yang sepasang matanya itu menyipit padanya. Barangkali sedang memindai dan mengingat sesuatu. Tapi ayolah, paras Segara adalah jenis paras yang sulit orang lain lupakan saking istimewanya. Dan di lain sisi, Kania seperti hendak mengatakan sesuatu lewat mulutnya.
“Oh My God, you again?” Kania benar-benar tak habis pikir dengan—siapa pun yang merencanakan kebetulan begini konyol. Tuhan, Tuhan di atas sana sedang bikin lelucon yang garing, ya? Oh, come on. “Jalan nggak liat-liat dan nabrak orang itu udah jadi hobimu, ya? Heran, bahkan keledai berusaha buat nggak jatuh ke lubang yang sama.” Begitulah cara mulut Kania bocor, tanpa rem sekali kalau sudah dibiarkan bicara.
Mendengarnya, Segara nyaris tergelak. Tapi beruntung ia bisa menahan diri, “Sekadar informasi. Kali ini, kamu yang menabrakku lebih dulu.”
Kania diam. Berpikir, lalu mendadak merasa malu. Iya juga sih, ya? Jika dilihat dari posisi mereka, sekarang Kania yang menjadi terdakwanya. Ugh, kenapa pula mereka harus bertemu lagi? Tapi tetap dong, Kania pokoknya tidak boleh mau kalah begitu saja dari pria ini. Yang—dari atas ke bawah pakaiannya itu nampak mahal, tapi celananya kelihatan basah. Hayo, abis ngapain? Eh, Kania mengerjap. Kok pikirannya jadi korslet?
“Well, aku masih nunggu.” Segara kembali membuka suara. “Jadi kamu nggak ingin minta maaf?”
Kania menyidekapkan kedua tangannya tepat di bagian atas perut, membuat payudaranya makin terlihat ketat. Lalu bibirnya yang penuh itu bergerak kembali, “Aku rasa itu nggak penting. Kan—semuanya impas.” Hella, perempuan ini adalah api yang sesungguhnya, Segara berbisik dalam hati.
Maka dia mengambil satu langkah ke depan, “Jangan menyesal kalau nanti kita bertemu lagi, aku nggak akan kasih kamu maaf.” Itu adalah peringatan yang—penuh makna.
Idih, Kania mengeryitkan hidung, “Siapa yang bilang kalau aku mau ketemu cowok kayak kamu lagi?”
Segara tidak menjawab, pria itu mengulum senyum di balik bibirnya. Lantas, Kania meninggalkan Segara yang masih berdiri di lorong. Dan terjadi lagi—bahwa perpisahan kedua itu juga meninggalkan kesan yang tidak enak. Damn.
***