Bab 4 : Hot and Heavy

2247 Words
Kalau bukan karena paksaan Olivia Shalom, yang tak lain ialah tunangannya sendiri—Segara jelas tak akan mau masuk ke dalam gedung bioskop, untuk nonton sebuah film remaja yang sok romantis. Demi Tuhan, di usianya yang sudah masuk 32 tahun. Namun meski begitu, Segara tetap duduk di sana sampai film habis diputar, dengan Olivia yang tak lelah memuji betapa indahnya jalan cerita tersebut. Dilihat dari sisi mana pun, selera mereka benar-benar tak cocok. Tapi untung saja, Segara punya 1001 macam cara agar dirinya selalu terlihat menawan di mata seorang wanita. Tanpa sedikit pun nampak tak sabaran—apalagi tempramental. Sekadar informasi, karena itulah prinsip hidup dari seorang perayu ulung seperti dirinya. “Kamu suka nggak sama filmnya?” Olivia bertanya saat mereka masih ada di seputaran bioskop, dengan semakin menggelayut di lengan Segara yang liat. “Kalau aku suka—suka banget. Jadi inget waktu masih sekolah, ya walaupun cinta pertama aku dulu bukan kamu.” Olivia terkekeh—mengenang masa-masa remajanya dulu. Jauh sebelum ia kenalan dengan pria seperti Segara—yang dilihat dari sisi manapun memiliki boyfriend material sekali. Segara nampak pura-pura berpikir, bikin gemas Olivia karena mesti menunggu. Tapi pria itu akhirnya menjawab juga pertanyaannya, “Jujur saja, film seperti itu sama sekali bukan seleraku. Tapi karena kamu suka—aku senang.” Olivia menatap Segara selagi mereka berjalan pelan di atas karpet lantai yang empuk. Lalu tawanya yang renyah itu pun terdengar. Spontan, Olivia menyandarkan kepalanya di sisi pundak Segara. Pria ini selalu saja tahu bagaimana cara terbaik untuk membuatnya bahagia. “Lega banget rasanya kamu bilang gitu.” Olivia sempat berpikir jika Segara sedang ada dalam mood yang tidak bagus hari ini. Maklum saja, beberapa waktu yang lalu wajah Segara kelihatan cukup “masam”. Olivia tidak mau jika ajakannya nonton bioskop menjadi alasan Segara makin bete. “Abisnya muka kamu tuh, kayak yang nggak semangat pergi sama aku.” Segara langsung membalas, “Itu perasaan kamu aja.” Olivia mengiyakan, lebih mengerti, “Jarang-jarang kita bisa jalan gini. Lakuin hal-hal normal kayak orang pacaran lainnya. You know what, like common people.” Olivia berbisik ke telinga Segara, suaranya terdengar menggoda. “Bisa have fun di keramaian—nggak melulu kayak di—” “Di mana, hm?” Segara merundukkan kepalanya ketika satu lengannya yang lain, makin merapatkan Olivia ke tubuh atletisnya. Lantas dengan kilat, Segara mengecup bibir yang sedang berusaha menuntaskan ucapannya itu. “Seperti yang sering kita lakukan di kamar hotel?” Olivia kaget, tapi senang, “Nakal ya kamu. Kalau ada orang yang liat gimana?” Dengan jari-jari yang coba menjawil perut Segara. Sayangnya, nihil. Seluruh tubuh yang jantan itu terlalu liat dan keras untuk dicubit. “Nggak ada yang lihat.” Sahut Segara—dengan suara sama berbisiknya, tipe-tipe perayu kelas berat. “Orang-orang sibuk sama urusannya sendiri.” Mana mungkin? Sementara sejak tadi, Segara mencuri perhatian banyak mata. Pria itu amat menonjol, dengan kaos putih polos yang mencetak otot-otot perutnya. Berpadu blazer abu-abu yang senada dengan celana. Auranya begitu kental memikat. Orang-orang jelas sibuk memerhatikannya. Apalagi mata wanita-wanita yang jelalatan. Beruntungnya Olivia adalah tipe wanita yang percaya diri. Hanya dia seorang pendamping paling cocok untuk Segara. Jadi, lirikan-lirikan mereka dengan mudah Olivia hempaskan. Toh, Segara juga pasti tak akan tertarik main mata dengan perempuan lain. Tidak ada yang sesempurna dirinya. Dengan kata lain, mereka adalah pasangan kekasih yang sepadan—sederajat, dalam segi apa pun. Dengan penuh penegasan, Olivia pun semakin jadi saat menunjukkan kepemilikannya atas Segara, agar dilihat pengunjung lain. “Habis ini kita mau ke mana lagi?” Olivia bertanya setelah mereka benar-benar keluar dari gedung bioskop. “Terserah kamu, aku ikut.” Jawab Segara. Kata-kata singkat dari mulutnya kadang terdengar tidak bernada, tetapi sikap gentleman seorang Segara selalu bisa dirasakan. “Kamu bilang mau belanja, aku temani sampai selesai.” Maka dari itu senyum terukir di bibirnya, dan Olivia mengelus lembut lengan Segara ketika bilang, “Kalau gitu kita cari makan aja dulu, ya? Setelah makan, nanti kita langsung ke tempat Mbak Rin, ambil jas kamu dan gaun punyaku buat ke nikahannya Marvel. Soalnya aku lagi nggak pengen beli barang apa pun.” Cuma cari alasan biar bisa jalan berdua sama kamu aja—senang Olivia dalam hati, tapi tak diungkapkannya hal itu. Segara mengiyakan. Lalu mereka memutuskan untuk mengunjungi Sushi Tei. Karena Olivia tahu Segara menyukai makanan Jepang, tempat makanan yang bersih, dan pelayanan restoran yang baik. Olivia tak mau pilihannya mengecewakan Segara. Dan setelah masuk ke dalam restoran, mereka duduk nyaman di salah satu spot terbaik—karena kebetulan restoran itu sedang tidak penuh. Tak butuh waktu lama juga, keduanya langsung memilih menu masing-masing. Dan pesanan mereka tiba untuk dihidangkan di atas meja 25 menit kemudian. “Honey.” Panggil Olivia, pada sela-sela waktu makan mereka yang tenang. Segara pun menjawabnya dengan gumam kecil. Kali itu, Olivia nampak berpikir sebentar sebelum mulai melanjutkan apa yang akan dikatakannya. “Soal Marvel—” “Kenapa?” Segara mengejar, setelah memasukkan satu buah sushi ke dalam mulutnya. “Nggak nyangka, dia bakal jadi orang pertama dalam lingkar pertemanan kamu yang nikah duluan.” Olivia turut mengunyah makanannya, dengan tatapan yang tak lepas dari paras Segara—yang sama sekali tak kelihatan bereaksi. Olivia jadi merasa gagal mencari tahu sesuatu tentang pria itu. “Kamu tau sendiri kan Marvel orangnya kayak gimana. Aku pikir dia nggak akan berani ambil komitmen.” Ada jeda sebentar di sana. Segara sangat tenang ketika menghadapi maksud tersirat Olivia. Pria itu pun akhirnya buka suara pada hitungan kesepuluh, “Who knows? Manusia memang nggak bisa ditebak.” Tanggapan Segara yang santai berhasil membuat Olivia terusik, ingin tahu—penasaran, “Kalau kamu, Honey—kamu bakal gimana? Apa kamu pernah berpikir sama kayak Marvel untuk serius sama pasangan kamu? Sama aku?” Pertanyaan yang tidak sederhana. Terlebih ditujukan pada seorang Segara yang teman-temannya tahulah dia seperti apa. Namun dalam sekejap, Segara menggerakkan tangannya untuk melingkupi punggung tangan Olivia yang ada di atas meja—lantas sedikit meremasnya dengan mesra, “Keputusan seperti itu nggak bisa diambil dalam waktu sehari-dua hari. Itu hal yang penting untuk semua orang.” Olivia mendengarkan setiap kata yang diucapkan Segara dengan teliti. Tidak ingin kelewatan satu huruf pun. “Untuk sekarang, aku rasa status kita sudah cukup. Aku tunangan kamu, dan sebaliknya. Kamu nggak bahagia memangnya dengan semua ini?” Sepasang mata Segara lurus-lurus menatap iris lawan bicaranya. Olivia mengerjap, tetapi kemudian bibirnya mengukir senyum yang terlampau rupawan, “Aku bahagia jadi tunangan kamu.” Wanita itu diam tiga detik, sebelum melanjutkan lagi ucapannya, “Kamu bener. Kita mesti mikirin langkah ke depan matang-matang. Nggak bisa gegabah ambil keputusan. Apalagi ini soal—komitmen. ” Segara menyetujui pemikirannya itu. Tapi mengapa—jauh di dalam hati, Olivia merasa sedikit kecewa? Sebuah rasa kecewa yang untuk saat ini tak bisa dilampiaskannya. Daripada mereka ribut lagi, seperti yang sudah-sudah. Nantinya, mereka pasti akan membicarakan “komitmen” kembali di waktu yang lebih tepat. Sekarang, Olivia hanya harus mengalah agar tidak terlihat terlalu menekan Segara. *** Mereka memutuskan untuk tidak lama-lama tinggal di restoran tersebut. Jadi, setelah makanan habis, mereka segera keluar dari sana, karena mengejar untuk pergi ke tempat yang lainnya. Namun sebelum turun ke lantai dasar, Olivia meminta sesuatu pada Segara. “Kamu tunggu di sini, ya. Aku mau ke toilet.” Olivia menyengir. “Nggak akan lama, kok.” Segara sama sekali tidak keberatan, “Oke.” Katanya sambil mengangguk. Dengan sepasang mata yang mengekori langkah kaki Olivia, sampai sosok itu lenyap dari jangkauan pandangannya—untuk pergi ke dalam toilet. Ketika Olivia tak berada di sampingnya, para wanita muda yang lewat di sekitarnya pasti penasaran mengapa ada pria ganteng seperti dirinya sendirian saja. Tapi tentu mereka tidak berani menegurnya. Sikap dan bahasa tubuh Segara yang kasual benar-benar mempengaruhi segalanya. Lihatlah, pria itu begitu percaya diri dengan pesonanya. Hingga akhirnya pesona itu dikalahkan oleh sesuatu yang tak sengaja Segara lihat—yang berhasil membuatnya tidak fokus lagi. Sikap tubuhnya terang saja berubah 180 derajat. Tanpa bisa dibantah, perhatian dari seorang Segara tercuri oleh wanita yang tak lama keluar dari sebuah toko pakaian dalam. Wanita itu terlihat mengedarkan pandangannya, seperti tengah mencari sesuatu. Dengan lekat, Segara memindainya dari ujung kepala sampai kaki. What the hell. Wanita itu punya bentuk tubuh yang erotis. Dan pakaian ketatnya benar-benar mendukung setiap kelebihan pada tubuhnya—seperti magnet yang menarik pria seperti Segara. Well, ada beberapa hal yang akan muncul di otak pria ketika mereka memandangi wanita seksi. Salah satu halnya—bagaimana rasanya jika Segara bersentuhan dengan tubuh yang sintal itu? Setidaknya untuk beberapa detik saja. Dan seakan telah dikuasai oleh Lucifer, Segara dengan berani melakukan pergerakan. Ini ide yang sangat gila, tapi Segara merasakan darah di tubuhnya memanas. Ada panggilan adrenaline yang cepat saja terpacu. Damn. Segara belum pernah sebegini terpengaruh oleh seorang wanita. Jadi, dia amat dibuat penasaran oleh panggilan tersebut. Maka kedua kaki Segara pun melangkah dengan pasti—mendekat pada keberadaan wanita meresahkan itu. Persetan dengan akal sehat. Dan pada detik itu juga— Segara sengaja menabrakkan dirinya pada wanita itu. Ini luar biasa gila—bahkan tubuhnya sungguh bereaksi ketika mereka beberapa detik lalu, bersentuhan dengan keras. “Aduh, kalau jalan itu lihat-lihat, dong. Dipake tuh dua matanya.” Terdengar umpatan jengkel dari mulut wanita yang telah ditabraknya itu. Come to him, Segara bahkan tidak peduli konsekuensi apa yang akan dia terima, atas tindakannya yang terlalu impulsif tersebut. “Atau jangan-jangan nggak punya mata?” Dan umpatan lainnya yang lebih berani dilemparkan untuknya. Segara mengerti, wanita ini pasti sangat kesal. But hey, hold on—Jesus, even her voice is something— “Maaf. Biar kubantu.” Segara dengan cepat berjongkok untuk membantu wanita itu menata kembali kantong-kantong belanjaannya yang berjatuhan. Lantas membuat alasan yang super klise di dalam telinganya sendiri. “Tadi aku jalan dengan terburu-buru, jadi nggak sengaja nabrak kamu.” “Gak usah!” Tangan yang halus itu menepis dengan kasar, tangannya yang hendak membantu. Oh, sial. Lihatlah ledakan emosinya yang berapi-api itu. Betapa menggairahkan untuk dilihat, membuat Segara semakin tertarik. “Emang situ aja yang lagi buru-buru, ha?” Setelah menyelesaikan kekacauan kantong-kantong belanjaannya—wanita itu kemudian berdiri tegak. Gerakan yang seperti bersamaan dengan dirinya. Dan inilah saat-saat yang begitu ditunggu Segara. Ketika sepasang mata mereka akhirnya berada dalam satu garis lurus. Meski sebuah kacamata menjadi penghalang di antara keduanya. Tapi justru itu yang membuat Segara kian intens ingin menerobos gelap di depan matanya. “Lain kali, kalau jalan itu mata sama kaki disinkronin biar nggak nyenggol orang.” Sindirannya terdengar angkuh di telinga—sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Segara masih menatap wajah itu, tepat pada di mana kacamatanya terletak—tetapi Segara pula tak melepaskan diri dari gerak bibir wanita itu yang— Sensual. Sialan memang. I couldn’t stop staring at her mouth when she spoke—ucap sebuah suara yang datang jauh dari dalam bagian kepalanya. Yang gila, yang pecinta keindahan wanita. Dalam sewaktu, Segara lihai melakukan dua pekerjaan sekaligus. “Honey, ada apa ini ribut-ribut?” Bukankah Olivia Shalom terlalu cepat datang di antara mereka? Mengapa toilet umum tidak bisa menjebaknya sedikit lebih lama lagi? Tahu-tahu saja, Olivia kini sudah berada di sisi tubuhnya. Dengan nada bicara yang sengit digunakan. Segara tahu ini saatnya dia harus pergi—menyeret Olivia Shalom agar segera menjauh dari sana. “Aku nggak sengaja nabrak orang.” Maka Segara pun berbisik dengan tenang. Dengan tangan yang sudah berada di lengan Olivia. Sebelum mereka akan benar-benar pergi dari sana, Segara masih menyempatkan diri meminta maaf satu kali lagi pada wanita—yang bahkan namanya tak diketahuinya itu. “Bentar, bentar.” Tetapi Olivia mendadak jadi sangat menyebalkan. Tak paham situasi. Karena siapa pun yang tengah melihat “lawannya” sudah mendongakkan dagu tinggi-tinggi—pasti akan cepat menyingkir dari sana. Sebab tidak perlu ada keributan yang akan terjadi. “Tadi aku dengar kamu maki-maki kayak orang kesetanan. Aku nggak terima, ya. Tunanganku toh sudah minta maaf, nggak perlulah marah-marah gitu!” Lantas, wanita di hadapan mereka impulsif melepas kacamatanya dengan sekali tarik—membuat kecantikannya itu benar-benar terekspose. Sepasang matanya yang coklat terang kini telanjang, seduktif pada Segara dengan cara yang paling lancang. Barangkali, jika tak dihalau oleh Olivia, Segara akan menunjukkan kekagumannya dengan blak-blakan; bahwa dua matamu begitu jahil—menggoda. “Aku nggak ada urusan sama kamu.” Wanita itu kini menunjuk ke wajah Olivia menggunakan kacamatanya. Lebih tepat, dengan gagang kacamata hitam yang kaku. Tingkah yang keterlaluan pemberani! “Jadi jangan sok asik. Pacarmu emang salah—akui saja. Nggak usah banyak membela diri.” Setelah mengatakan barangkali semua unek-uneknya, wanita itu pun mengenakan kembali kacamatanya. Lalu dengan sekali kibasan rambut, wanita itu melenggang pergi dari hadapannya. Dengan langkah kaki yang ringan tanpa beban. God damn it. Sosok itu benar-benar menjelma parasit yang begitu menarik di ingatan Segara—menarik dan merusak, at the same time. Olivia, yang terdengar mendengus kesal di sampingnya nampak tak terima. Tentu saja, oleh perlakukan wanita itu yang Olivia pasti anggap tidak sopan. Tetapi dengan cepat, Segara mencegah tunangannya itu untuk bikin keonaran yang lebih besar. Sudah, cukup. Tak boleh ada kegilaan lainnya lagi hari ini. Biarlah Segara seorang yang melakukannya. Olivia menghentakkan sepatunya di lantai, “Apaan sih kamu, lepas!” Segara tak peduli pada Olivia yang balik marah pada sikapnya. Ia justru lebih suka membidikkan tatapannya yang elang pada punggung wanita tadi. Yang marah-marah dengan cara— Oh, God. Is that woman an Aphrodite? Karena, ayolah—semua orang pasti setuju jika wanita itu seperti api yang meleleh. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD