(Two) Kisah di SMA

1944 Words
Dua tahun yang lalu. Motor besar dengan suara bising itu memasuki area parkiran sekolah. Semua gadis memekik histeris mengetahui siapa yang datang. Sebagian dari mereka menggigit jarinya melihat pahatan sempurna ciptaan dari Tuhan. "Doni gantengnya nggak kira-kira." "Sialan! Jantung gue deg-degan cuman cium wangi parfumnya dari jauh." "Aaaaa mau deh, jadi pacarnya Doni." Begitulah kira-kira suara curahan anak cewek di parkiran sana. Doni langsung menoleh ke gadis yang tadi mengajaknya pacaran. Ia lantas tersenyum tipis. "Sorry, tapi gue nggak mau pacaran. Buang waktu sama duit gue aja." balas Doni membuat gadis tadi refleks pingsan karena sudah di tolak belum berjuang apa-apa. Doni kemudian berjalan santai menuju kelasnya. Tangannya masuk ke saku celana. Satu tangan lagi menyugar rambutnya ke belakang. Membuat para gadis semakin kocar-kacir di tempatnya. Bukannya mau tebar pesona. Doni memang tahu kalau dia tampan kok. Senyum miring terbit di bibir Doni saat melihat dua orang di depan sana. Lantas Doni berjalan cepat menghampiri oramg itu. Lalu merangkul bahu gadis yang sibuk merapikan dasi cowoknya. "Wih, masih pagi nih, jangan pacaran lah!" celutuk Doni dengan wajah songong nya. Varo yang tadi memperhatikan wajah kekasihnya menghela bapas lelah. Ingin sekali ia memukul Doni kalau tidak mengingat cowok itu adalah sahabat nya. "Lepasin tangan lo!" ucap Varo dingin. Matanya menatap tidak suka ke arah tangan Doni yang dengan santai bertengger di bahu pacarnya. Doni menaikkan satu alisnya tinggi. Tanpa mau lepas tangannya dari sana, Doni pun membalas. "Santai bro, jangan cemburu. Keisha kan, sepupu gue." Setelah itu Doni tanpa takut malah mencium pipi sepupunya sekilas. "Anj," Varo spontan mengumpat dengan wajahnya yang sudah kentara kali terlihat marah. Sementara itu Keisha yang ada di tengah mereka menghembuskan napas kesal. Gadis itu memukul bahu Doni berulangkali hingga rangkulan cowok itu terlepas dari bahunya. "Udah di bilangin jangan cium-cium lagi! Kita itu udah gede bukan anak kecil," mata gadis itu melotot garang. Bukannya merasa takut Doni malah terkekeh karena wajah sepupunya itu terkesan menggemaskan sekali. "Gemes banget, sih." Tangan Doni mengacak rambut Keisha membuat sang empu memekik kaget. "Kan, rambut gue berantakan jadinya." Histeris Keisha karena sudah bersusah payah merapikan rambutnya sebelum berangkat sekolah tadi. "Lebay!" cibir Doni. Varo sedari tadi diam pun mengambil tindakan karena sudah terlanjur kesal sekali. "Pergi sana lo!" Pemuda itu mendorong tubuh Doni menjauh dari kekasihnya. Doni hanya terkekeh geli memandang Varo dan Keisha sudah berbelok menuju kelas gadis itu. Perlahan kekehan itu menghilang di ganti dengan raut datar. Doni berdehem sebentar. Sudah tahu akibat dari semua ini. Mencintai itu butuh pengorbanan dari satu orang. Dan Doni adalah korban di sini. *** Waktu istirahat kali ini. Doni memilih melangkah ke ruang musik yang ada di sebelah kanan sekolah. Biasanya dia akan menggangu acara pacaran Keisha dan Varo. Tapi kali ini dia sedikit malas untuk melakukan itu. Ada hal yang lebih menarik dari pada itu. Pintu ruang musik Doni buka karena tidak di kunci. Pantas saja tidak di kunci karena setelah bel masuk nanti anak kelas lain akan belajar di sini. Langkah kaki Doni masuk ke dalam sana. Ia berdiri tepat di depan biola yang di taruh rapi di antara alat musik lainnya. Senyum tipis terukir di bibir tipis Doni. Setelah itu ia menempatkan posisi biola tadi di antara lehernya dan dagu sebagai penyangga. Pelan tapi pasti tangan Doni pun bergerak untuk menggesekkan benda tipis itu ke senarnya. Ruangan sunyi tadi pun kini di penuhi dengan alunan musik nan lembut yang berhasil Doni ciptakan. Mata Doni ikut terpejam seiring alunan musik itu. Awalnya lambat namun perlahan berubah menjadi alunan yang cepat, tapi masih tetap enak di dengar. Menjadikan gadis yang berdiri di depan sana terpaku melihat cowok itu. Sedangkan Doni masih larut dalam permainan biolanya. Hanya di sekolah ini saja bisa bermain alat musik ini. Namun, kalau di rumah dia tidak berani menyentuh alat musik ini barang sedikitpun. Meski ia tahu kalau dia sangat menyukai ini. Seperti bundanya yang selalu bermain biola secara diam-diam. Dan Doni tidak sengaja melihatnya. Ya, kemahiran Doni memainkan biola ia dapat dari bundanya. Wanita itu sekarang menjadi ibu rumah tangga tidak Doni sangka semahir itu. Doni membuka matanya setelah merasa cukup memainkan biola itu. Ia langsung menoleh ke belakang saat mendengar tepukan tangan dari seseorang. Ia tersentak melihat gadis di depan sana yang berdiri menghalangi matahari sehingga Doni tidak melihat wajahnya dengan jelas. "Kamu jago banget mainin biolanya." seru gadis itu dengan nada senangnya. Doni gelagapan sendiri. Selama ini tidak ada seorangpun yang tahu kalau dia mahir dalam bermain biola selain Keisha, gadis yang ia percayai selama ini. "Siapa, lo?" tanya Doni. Mulai meletakkan biola tadi ke tempat semula. Gadis di depan sana meringsut mendekati Doni. Setelah dekat darinya Doni baru bisa melihat wajahnya. "Aku Selly." Gadis itu memperkenalkan diri dengan tangan terulur ke depan. Pandangan Doni jatuh ke tangan gadis itu. Setelah berdia diri seperkian detik. Akhirnya Doni menjabat tangan gadis tersebut. "Doni." Ia perlahan tersenyum. Gadis yang bernama Selly itu hendak membuka suara nya kembali. Tapi tidak jadi karena Doni tiba-tiba berlari ke arah jendela dan keluar melompat dari sana. Sehingga Selly memekik tertahan dan menoleh ke belakang karena guru musik yang akan mengajar ternyata sudah datang. Pantas saja cowok tadi langsung berlari terbirit-b***t. "Selly sudah datang kamu ternyata." ujar guru perempuan itu. Selly menganguk saja, teman-teman sekelas sudah masuk dan mengambil duduknya masih-masing. Selly sengaja mengambil tempat duduk yang berada di dekat jendela. Mata gadis itu menatap ke bawah. Mengulum bibirnya karena cowok tadi sudah tidak ada. Lain dari itu. Doni menghela napas setelah menjauh dari sana. Untung saja ia tidak ketahuan sama guru. Kalau sampai itu terjadi, Doni pasti jamin hal itu akan sampai ke telinga ayahnya. Mengatakan kalau dia masuk ke dalam ruang musik dan bermain biola. *** Setelah dari kantin mengisi perut mereka yang kosong. Alvaro langsung mengajak Keisha ke taman belakang sekolah. Pemuda itu langsung rebahan di pangkuan sang pacar. Menikmati ke cantikan Keisha dari bawah sana. Rasanya Varo sangat bersyukur sudah memiliki gadis ini. Ah, nanti setelah tamat sekolah ia akan langsung melamar gadis ini untuk dia jadikan istri. Takut dia ke dahulu sama orang nantinya. Varo yang sibuk mengamati cantik parasnya seorang Keisha berbeda dengan gadis itu. Kini malah sibuk mengusapi rambut pacarnya. "Kei!" "Hm?" "Kalo ... aku nyuruh kamu jangan deket-deket sama Doni lagi boleh nggak?" Gerakan tangan Keisha seketika terhenti namun kemudian dia kembali mengusap surai hitam nan lebat itu. Kepalanya menunduk melihat wajah pacarnya yang kini berada di pangkuannya. Gadis itu menghela napas sebentar. "Kamu kok bilang gitu?” Pemuda yang tadi berbaring di atas pangkuan pacarnya kini duduk. Menatap lekat wajah cantik gadisnya. "Ya ... aku nggak suka aja kamu kalo deket-deket sama dia, kemana-mana sama dia." Varo kemudian menjeda ucapannya. "Aku ngerasa kamu itu ... pacaran nya sama dia bukan sama aku." Keisha pun terdiam, meresapi usapan lembut tangan itu di kepalanya. "Tapi ... dia kan sepupu aku, Al. Bahkan dia sahabat kita, dari kecil kita selalu sama-sama kemanapun." balas Keisha meski dia sangat tidak menyangka kalau Varo sekarang berbeda dari Varo yang sebelumnya. Alvaro memejamkan matanya sebentar. Salah dia cemburu sama sahabatnya sendiri? "Walaupun kalian sepupu, tapi aku tetep nggak suka kalo kalian selalu deket." Varo memalingkan wajahnya. "Kamu kok tiba-tiba posesif gini sih, Al?" tanya Keisha sedikit kesal. Manik mata Varo langsung berubah tajam. "Turutin atau kita put—" "Fine! Aku bakal jauhin dia," Keisha langsung memotong ucapan Varo, tidak sanggup mendengar kata 'putus' dari pacarnya itu. Keisha hanyalah gadis polos. Yang masih belum mengerti kata cinta yang sebenarnya. Bagi gadis itu menjadi pacar Varo adalah hal yang menyenangkan. Meskipun ia sadar sudah melanggar peraturan Papanya yang melarang keras dirinya untuk berpacaran. Gadis itu memejamkan matanya sejenak kemudian menyandarkan kepalanya di d**a sang pacar. Selalu seperti ini, kalo dia membantah pasti ujung-ujungnya mengancam putus. Dia tidak mau, baginya Alvaro itu adalah segalanya. Lelaki kedua setelah Papanya yang mampu membuat dia bahagia juga tersenyum. Dia rela melakukan apapun, terutama berpacaran secara diam-diam dan itu semuanya demi seorang Alvaro. Gadis itu seperti sudah di butakan cinta. Sampai-sampai nasehat orangtuanya pun dia abaikan. Baiklah Keisha mungkin masih remaja belum bisa berpikir matang. *** Keisha melambaikan tangannya setelah melihat Alvaro sang pacar jauh dari pandangan nya. Gadis itu berjalan membuka pagar rumah. Saat melihat kendaraan yang ada di depan halaman rumahnya, dia langsung masuk. Berharap dalam hati cowok yang bertamu ke rumahnya itu tidak menyapanya. "Assalammualaikum." "Waalaikumsalam." Keisha langsung menyalim tangan bundanya kemudian berlari kearah tangga menuju kamarnya. Membuat sepasang mata itu menatap bingung. "Keisha kenapa, bun?" tanya Doni kini mengerjap polos. Melihat tingkah aneh Keisha. Kalau di pikir-pikir seharian ini dia tidak buat masalah deh, sama gadis itu. Ya, kecuali pagi tadi. Shayra — ibu sambung Keisha pun menggeleng tanda tidak tahu. "Aneh banget kakak, lo." Doni melemparkan kulit kacang kearah anak laki-laki yang ada duduk di seberang sana "Alah! Gitu-gitu sepupu abang juga." Sungut anak laki-laki tadi kemudian kembali melemparkan kulit kacang yang mengenai wajahnya tadi. Doni terkekeh pelan karena bisa menghindari serangan dari adik sepupunya itu. "Ahmad nggak sopan kamu, lempar-lempar ke abang!” tegur Shayra, membuat anak laki-laki menggerutu pelan. "Tapi kan bang Doni yang mulai, bun." bantahnya karena tidak terima. Shayra hanya menggeleng kemudian melanjutkan memasukkan adonan kue ke dalam cetakan. Suara decitan kursi membuat Doni mendongak. Pemuda itu tersenyum ke arah gadis yang baru saja duduk, tapi senyuman nya di balas wajah datar dari Keisha. Entahlah Doni tidak tau apa yang membuat sepupunya satu itu begitu dingin kepadanya, seperti menghindari nya. Pemuda itu lantas berdiri berpamitan ke adik ayahnya. Dia harus menemui seseorang. *** "Maksud lo apa, hah?!" Keadaan yang semula hangat kini berubah menjadi canggung. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu berdiri. Ketika melihat salah satu teman mereka menarik kerah baju dari pemimpin geng ini. Alvaro terkekeh kemudian melepaskan tangan sahabatnya itu dari kerah bajunya. "Nggak usah polos lo! Lo pasti tau alasannya, kan?" tanya Varo sarkas. Wajah Doni semakin merah padam. Pertanda amarahnya sudah di ubun-ubun sedangkan Alvaro masih santai. "Lo nyuruh dia jauhin gue karna lo takutkan?" Doni tersenyum remeh. Menatap wajah sahabatnya ralat mungkin akan jadi musuh itu dengan tajam. Alvaro lagi-lagi terkekeh. "Gue atau lo yang takut, nih?" Pertanyaan remeh itu membuat Doni mengepalkan kedua tangannya. Pemuda itu maju, kemudian melayangkan satu pukulan ke wajah Alvaro. Melupakan cowok yang di pukul nya tadi adalah pemimpin geng mereka. Alvaro terjatuh ke bawah karna pukulan yang tiba-tiba itu. Melihat itu Doni langsung berjongkok berbisik tepat di depan telinga Alvaro. "Kalo lo takut kehilangan, Kei karena gue ambil dari lo. Lo salah Al, kalo gue suka sama dia dari dulu gue udah rebut dia dari, lo." Doni tersenyum remeh melihat wajah pias Alvaro. Kemudian pemuda itu berdiri tanpa membantu Alvaro yang masih tergeletak di lantai. Doni menatap semua anggota yang di dalam ruangan tersebut. "Mulai detik ini gue keluar dari geng yang di pimpin si b******k ini!" Ujar Doni sambil menunjuk kearah Alvaro yang baru saja berdiri. Semua orang yang ada di sana terdiam. Tidak berani menantang atau bahkan melarang Doni keluar karena keputusan nya ada di tangan sang pemimpin geng mereka. "Keluar aja lo, bahkan gue bersyukur kalo lo keluar dari geng ini!" sahut Alvaro. Tangan Doni kembali terkepal berusaha agar tidak menonjok wajah cowok sialan itu. Doni langsung saja keluar. Bahkan dia tidak menyangka persahabatan mereka yang dibangun dari sejak kecil hancur lebur karna sebuah rasa. Doni meludah. Menjijikkan rasanya, karena satu cewek mereka begini yang sialnya cewek itu sepupu sekaligus gadis yang di sukainya. Selama ini Doni menahan rasanya untuk tidak menyukai sepupu nya itu, tapi rasa itu semakin membuncah apalagi mengetahui sahabat dan sepupunya berpacaran. Mencintai secara diam-diam, membohongi perasaannya sendiri. Karena dia berpikir kalo perasaan ini terungkap banyak yang akan terluka. Dia terkekeh sambil mengendari motornya. Bahkan perasaan itu belum terungkap sampai sekarang, tapi persahabatan mereka udah hancur begitu saja. Sialan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD