Setelah perdebatan dan bujukan yang sempat terjadi, akhirnya mereka memutuskan jadi menginap di rumah orang tua Doni. Keisha terlihat lega karena Doni akhirnya luluh dengan segala bujukan yang sudah dia berikan. Mereka di antar si Mamang ke rumah Ayah dan Bunda. Keisha masih melarang Doni untuk mengendarai motor apalagi malam-malam begini.
Doni dengan hoodie dan tas dipunggung karena di dalamnya ada beberapa pakaian bersih mereka berdua. Akhirnya mobil yang membawa mereka berhenti di perkarangan rumah orang tua Doni. Doni keluar dari mobil lebih dulu, menatap rumahnya dengan sendu. Sudah lama dia tidak pulang ke sini. Sangat rindu rasanya, tetapi saat ini dia sudah mempunyai keluarga sendiri. Maka itu, dia harus siap meninggalkan rumah ini untuk selamanya dan membangun rumah tangga yang sejahtera bersama Keisha nantinya.
"Assalamualaikum." Doni mengetuk pintu utama, Keisha sudah berdiri di sebelahnya.
"Waalaikumsalam," jawaban dari dalam rumah pun terdengar
Doni tersenyum lebar ketika bundanya yang membukakan pintu untuk mereka. "Bunda!" Doni menyalim tangan wanita iti dengan sopan. Kemudian memeluk Bunda dengan erat. "Bunda apa kabar?" tanya Doni seraya melepaskan pelukan.
"Alhamdulillah baik." Bunda Kiran beralih menatap Keisha. "Kalo menantu Bunda apa kabarnya?" tanya wanita itu.
Doni mendengkus kesal, dia yang sebagai anak kandung malah tidak di tanya kabarnya. Anak Bunda Kiran itu siapa sih? Dia atau Keisha?
"Baik juga, Bunda," balas Keisha, gadis itu juga menyalim tangan Bunda.
"Bund, kabar aku juga nggak ditanya?" ucap Doni. Ngomong-ngomong, tentang flu yang menyerang Doni sudah sedikit berkurang, hidungnya juga sudah tidak mampet lagi.
"Kamu baik-baik aja keliatannya, jadi Bunda nggak perlu nanya lagi," sahut Bunda.
Doni mengusap dadanya untuk bersabar. "Astaga Bunda. Kayak nggak tau aja kalo pas hujan-hujanan begini, Doni pasti terkena flu lho. Bunda nggak ingat?" tanya Doni, dia ke sini untuk membayar rasa rindunya dengan sang bunda sekaligus ingin diperhatikan seperti dulu kalau dia sedang sakit.
"Bunda tau, tapi Bunda lihat sekarang kamu baik-baik saja, kok." Bunda menarik sudut bibirnya. "Gimana, Kei. Kalo Doni lagi sakit, dia nggak nyusahin kamu kan?" tanya Bunda Kiran, wanita itu kembali menatap Keisha.
"Dikit manja, Bund. Keisha kadang kesal sendiri lihatnya," balas Keisha yang sepertinya berada di pihak Bunda untuk menyudutkan Doni.
"Kamu harus ekstra sabarnya, Kei hadapi tingkah Doni. Bunda aja turun tangan lihat tingkahnya selama ini," tutur Bunda lagi. "Ayo masuk, Nak. Jangan berdiri terus di sini." Bunda hanya mengajak Keisha masuk ke dalam rumah, sementara dirinya hanya ditinggalkan sendiri di depan rumah.
"Sabar, Don. Mereka itu Bunda sama istri lo," gumam Doni. Mengusap dadanya lagi, mencoba bersabar melihat sifat bundanya yang makin terlihat menyayangi Keisha sebagai putri sendiri. Sedang dirinya malah diacuhkan seperti saat ini, miris sekali.
Doni hanya tidak tahu. Rata-rata seorang mertua akan begitu pada menantunya. Hanya orang-orang beruntung yang mendapatkan mertua berbaik hati. Dan sebagian laginya, hanya bisa bersabar saat mendapati mertua yang super julit dan galak.
Doni melangkah masuk ke dalam rumah setelah menutup pintunya. Doni tersenyum kecil saat memperhatikan sekeliling rumahnya yang masih terlihat sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah, bahkan foto-foto yang dipajang masih sama. Foto-foto kebersamaan keluarga mereka.
Langkah Doni terhenti ketika melewati satu ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat. Dari celah pintu itu, Doni bisa mengintip dari luar. Di dalam sana ada ayahnya yang sibuk berkutat dengan semua kertas-kertas yang ada di atas meja. Ayahnya makin terlihat sangat serius ketika memakai kacamata seperti itu.
Doni menelan salivanya perlahan, mengetuk pintu ruang kerja sang ayah. Setelah ada seruan yang mempersilakan dirinya masuk. Barulah Doni berani masuk ke dalam sana.
"Ayah," sapa Doni. Dalam hati yang paling dalam, Doni ingin sekali dekat dengan ayahnya seperti waktu kecil dulu. Sebelum dirinya mulai berani memegang alat musik itu, dan setelahnya hubungan mereka sedikit merenggang karena beda pemikiran.
"Kapan kamu datang?" Pria itu bertanya, sedikit terkejut melihat kedatangan Doni ke rumahnya ini.
Doni tersenyum tipis. "Baru aja," sahutnya. Laki-laki itu menatap setiap sudut ruang kerja ini. Tidak ada yang berubah, bahkan foto yang terpajang di atas meja masih sama. Foto mereka bertiga, yaitu dia, Bunda serta Ayah tersenyum manis di foto itu. Foto yang di ambil saat Doni masih berusia 7 tahun.
"Ayah nggak istirahat? Udah malam begini," ujar Doni, mengusap lengannya yang tertutupi hoodie tebal.
Dimas menatap putranya sejenak kemudian kembali menatap dokumen-dokumen yang ada di depannya.
"Saya nggak bisa istirahat dengan tenang sebelum kamu lulus kuliah secepatnya," ujar pria itu.
Doni menelan ludahnya, mungkin tindakan masuk ke dalan ruangan ini sedikit salah. Ayahnya malah membicarakan kuliahnya.
"Nilai-nilai kamu cukup bagus untuk berapa bulan ini." Suara Dimas kembali terdengar membuat Doni menatapnya ayahnya itu. "Saya harap kamu bisa mempertahankan nilai-nilai kamu itu. Buat saya bangga dengan prestasi kamu. Saya bakal senang karena memiliki anak yang berguna," lanjut Dimas lagi.
Doni berusaha tersenyum meski hatinya sedikit tersentil mendengar ucapan ayahnya. Itu berarti, dia akan berguna ketika dapat prestasi, dan tidak akan berguna bila tetap mempertahankan hobinya yang suka bermain biola.
"Saya akan berusaha, Yah." Doni menunduk hormat. "Saya permisi dulu," pamitnya. Doni selalu merasa sesak saat lama-lama di dalam ruangan ini. Takut juga, kalau pembicaraan mereka akan berakar-akar nantinya. Yang bisa saja membuat hati Doni kembali sakit.
Ayah selalu berbicara seperti itu. Seakan menyadarkan kalau Doni tidak berguna selama ini karena sering membantai ucapan Dimas. Dan baru-baru ini selalu menurut, karena Doni jujur sekali selalu takut kalau sang ayah akan tega memisahkan dirinya dengan Keisha. Kalau dia tidak menuruti perkataan pria itu.
"Saya juga senang karena kamu menolak permintaan teman perempuan kamu itu. Pertahankan itu, jangan sampai kamu berani memegang alat musik itu tanpa sepengetahuan saya," tekan Dimas.
Doni yang baru hendak keluar dari ruangan itu mendadak berdiri kaku. Kemudian mengembuskan napas pelan, dia sudah menduga kalau semua pergerakannya selalu dipantau sang ayah. Maka itu, Doni tidak mau bermain-main lagi mulai sekarang.
Doni menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit ruangan itu dengan sendu. Dia selalu berdoa, agar apa yang dia lakukan sekarang adalah benar dan merupakan takdirnya. Meski dia harus menenggelamkan cita-citanya dari kecil, yaitu ingin menjadi musisi terhebat di kota ini atau bahkan di seluruh dunia.
***
Belasan tahun yang lalu.
Doni yang saat itu masih berumur 12 tahun. Belum bisa menentukan akan jadi apa ketika dia besar nanti. Doni tidak seperti teman-temannya yang sudah memiliki cita-cita untuk masa depan nanti.
Ketika ditanya oleh guru, apa cita-citanya. Maka Doni akan terpaksa menjawab seperti ini; "saya ingin menjadi seperti Ayah saya. Menjadi pemimpin perusahaan besar di kota ini."
Doni tahu kalau jawabannya itu amat terpaksa karena dia takut di tertawakan oleh semua teman-temannya kalau dia tidak kunjung menjawab pertanyaan Bu guru tentang cita-cita.
Doni hanya anak polos yang belum menemukan jalan untuk cita-citanya. Akan tetapi, kejadian malam itu membuat pola pikiran Doni berubah.
Langkah kakinya terhenti di dapur yang minim pencahayaan. Dia terbangun di tengah malam begini karena merasa haus, dan sialnya persediaan air di kamarnya malah habis. Maka dengan amat terpaksa Doni turun ke lantai bawah.
Doni mengucek matanya, menuangkan air dingin ke dalan gelas kemudian meminumnya hingga tandas. Awalnya Doni berniat hendak naik ke lantai atas lagi. Akan tetapi, niatnya itu dia urungkan karena mendengar sesuatu. Seperti alunan musik yang sangat enak untuk didengarkan. Doni terbuai dengan alunan musik itu.
Sehingga memutuskan untuk mencari dari mana asal suara itu. Doni melangkah dengan pelan, takut Bunda atau ayahnya akan terbangun dan memergokinya yang belum tidur di larut malam ini. Ayah pasti akan marah besar nantinya.
Doni terhenti di depan ruangan yang pintunya tertutup. Ruangan ini terdapat di belakang rumah mereka. Setahunya kalau ruangan ini merupakan gudang. Akan tetapi, kenapa asal suara alunan melodi tadi dari sini? Bahkan suaranya semakin terdengar jelas.
Tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi, Doni perlahan membuka pintu itu. Membukanya sedikit saja dan memberikan celah untuk dirinya melihat keadaan di dalam sana. Mulut Doni sontak terbuka, matanya bahkan terbelalak melihat orang di dalam sana yang sangat lihai memainkan alat musik biola itu.
Doni tertegun. Itu ... bundanya. Dia tidak tahu kalau selama ini bundanya memiliki bakat seperti ini. Doni semakin larut menonton aksi bundanya yang sangat mendalami memainkan alat musik itu.
Seakan memberikan pencerahan pada Doni. Sejak itu dia memutuskan belajar agar bisa memainkan biola, agar dirinya bisa seperti Bunda. Setiap jam pelajaran musik, Doni selalu memilih biola sebagai alatnya.
Dia bahkan memaksa gurunya agar mengajarkannya bisa memainkan alat musik tersebut. Hingga dalam jangka enam bulan, Doni cukup lihai memainkan alat tersebut karena setiap hari terus berlatih.
Setiap istirahat, Doni akan berlari masuk ke dalam ruang musik. Tidak mempedulikan teman-temannya yang malah berlari ke arah kantin. Dengan kerja kerasnya, Doni tersenyum puas dengan kemampuannya yang membuat semua orang terpukau.
Hingga di mana saat hari pertunjukan di sekolah. Doni memutuskan menampilkan kemampuan barunya di depan semua tamu bahkan orang tuanya. Dia pikir ayahnya akan senang melihat dirinya tampil memainkan alat musik itu.
Namun, dia salah. Ayah malah marah besar ketika mereka sampai di rumah. Ayah terus berteriak dan mengomeli Doni agar tidak lagi memainkan alat musik itu. Doni tentu tidak terima, setelah berlatih keras dia merasa bisa menemukan masa depannya nanti. Dia ingin menjadi musisi terhebat. Akan tetapi, mimpinya itu harus dia relakan ketika mengetahui kalau ayahnya tidak menyetujui hal itu.
Doni tidak tahu alasannya. Ketika bertanya dengan Bunda, Bunda hanya diam saja dan menggeleng pelan.
"Bunda juga sangat pandai memainkan biola, tapi kenapa nggak tahu apa alasan Ayah tidak menyukai Doni memegang alat itu?" tanya Doni, sangat menuntut.
Bunda terlihat terkejut mendengar ucapan Doni hari itu. "Dari mana kamu tahu, kalau Bunda bisa main biola?" Bunda malah balik bertanya.
Doni memalingkan wajahnya. "Aku nggak sengaja lihat Bunda di gudang pas malam itu," sahutnya. Setelah itu, Bunda malah pergi masuk ke kamar. Meninggalkan Doni yang penuh kebingungan, sekaligus sangat tidak terima dengan larangan yang dibuat ayahnya.