Begitu jam kuliah pertamanya berakhir, Doni langsung keluar dari kelas. Ferdy hanya menatapnya dengan gelengan kepala, tahu apa yang dilakukan oleh temannya itu. Balik lagi ke Doni, laki-laki itu untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya ke fakultas sebelah, dia tidak tahu ada di mana ruang kelas Selly. Sehingga memutuskan menanyakan keberadaan gadis itu kepada mahasiswa yang kebetulan melewatinya.
"Eungh, permisi." Doni mengulum bibirnya, sungguh canggung bertanya dengan orang asing seperti ini.
"Iya, ada apa?"
"Lo kenal yang namanya Selly nggak?" tanya Doni to the point saja. Sayangnya gadis tadi malah menggeleng pelan.
"Enggak kenal, mungkin dia anak kelas sebelah. Tanya aja sama anak-anak lain, saya permisi dulu." Gadis tadi berpamitan, maka itu Doni langsung melangkah lagi ke beberapa mahasiswa dan menanyakan hal yang sama.
Hingga ada lima orang dia tanya, Doni akhirnya bisa sedikit lega karena gadis yang ditanyai mengenal Selly.
"Kebetulan kita satu kelas, Kak. Tapi gue sama Selly nggak dekat, terus tadi dia juga nggak masuk kelas. Bolos kayaknya soalnya pas di mata kuliah pertama dia masuk," jelas sang gadis.
Doni kembali mengulum bibirnya. "Gitu, ya." Doni mendadak bingung untuk mencari keberadaan Selly lagi. Dia ingin menjelaskan semuanya kepada gadis itu, kalau semua ini memang salahnya yang tidak jujur di awal.
"Tapi, Kak. Gue sering lihat dia ada di ruang latihan, biasanya dia sering ngurung diri di sana." Gadis itu kembali membuka suara.
Kembali Doni merasakan ada secercah harapan untuk menemui Selly. "Lo boleh tunjukin jalannya atau anterin gue ke sana?" tanyanya.
Gadis tersebut mengangguk pelan. "Aku tunjukkan jalannya aja ya, Kak. Soalnya gue buru-buru ini."
"Iya nggak apa-apa."
"Dari sini nanti Kakak terus aja, nah nanti Kakak belok kiri aja, nanti Kakak dapat ruang musik yang ada di dekat ujung," jelasnya.
Doni langsung mengangguk paham, memberikan senyuman tipis kepada gadis itu. "Makasihnya, gue ke bantu banget sama lo," ujarnya.
"Sama-sama, Kak. Saya duluan kalo gitu," pamitnya.
Doni mengiyakan, setelah gadis tadi pergi dari hadapannya, barulah Doni melanjutkan langkahnya lagi. Sedikit tergesa, Doni mencari letak ruang musik itu. Koridor cukup sepi, mungkin anak-anak fakultas di sini sudah pulang semuanya karena mata kuliah sudah selesai.
Doni berbelok kiri seperti dikatakan si penunjuk jalannya tadi. Tidak sampai ke ujung koridor, dia sudah mendapati ruang musik. Doni mengembuskan napas pelan, kemudian menjulurkan tangannya hendak membuka pintu itu. Akan tetapi, gerakkannya tertahan karena mendengar seseorang memainkan biola. Alunan melodi itu membuat Doni sedikit terkena, tetapi tidak berapa lama Doni memutuskan membuka pintu itu dengan pelan. Berusaha tidak mau mengganggu Selly yang ada di dalam sana.
Laki-laki itu menarik sudut bibirnya sedikit. Menatap gadis yang mengenakan rok di bawah lutut itu serta atasannya rajut berwarna abu-abu muda. Selly terlihat serius ketika tangannya menggesekkan bow ke senar biola sehingga menghasilkan berbagai nada.
Doni memejamkan matanya sepanjang alunan nada itu belum terhenti, sehingga nada itu sudah tidak terdengar lagi barulah Doni membuka matanya.
"Ngapain lo ke sini?" suara dingin dari Selly membuat Doni sedikit tersentak.
Doni tetap berdiri di tempatnya, dia juga tahu kalau Selly sudah menyadari kedatangannya tadi.
"Gue mau jelasin semuanya," kata Doni. Menatap Selly yang sibhk memasukkan biola ke dalam tas khusus, gadis itu seakan tidak mau mendengar apa yang dia katakan.
"Nggak ada yang perlu dijelasin, kita juga nggak ada hubungan apa-apa. Gue kesannya kayak seorang pacar sedang marah sama cowok ya," jelas Selly, gadia itu tertawa pelan.
"Gue mau jelasin semuanya, bukan karena itu." Doni mengembuskan napasnya lagi. "Gue dari dulu udah anggap lo sebagai adik sendiri, Sel. Meski gue tau lo ada perasaan lebih sama gue, tapi gue diam aja karena nggak mau buat lo sakit hati. Apalagi mendengar gue yang udah nikah," jelas Doni.
Selly akhirnya menatapnya dengan tangan yang sudah memegang tas berisi biola tadi. "Gue yang salah di sini, Don. Dari dulu sampai sekarang, gue harusnya sadar kalau kita nggak akan pernah bersatu sampai kapanpun. Baik gue dan lo, enggak akan bisa menjadi sepasang kekasih. Kita beda," tutur gadis itu.
Doni tahu itu. "Meski kita beda, bagi gue lo itu adalah adik di mata gue." Doni mengembangkan senyumnya tipisnya. Menatap Selly yang kini memasang wajah datar.
"Lo nggak mau tau gue nikah sama siapa?" tanya Doni, tahu kalau sebenarnya hal ini akan membuat hati Selly semakin sakit.
"Enggak mau tau." Selly memalingkan wajahnya ke arah lain. "Gue mau move on dari lo, tolong kerja samanya untuk nggak temui gue lagi," ucap Selly dengan nada yang terselip memohon.
Doni mengulum bibirnya. "Gitu, yah." Laki-laki itu mengangguk pelan. "Berarti gue udah kehilangan sosok adik di kehidupan gue," lirihnya.
"Kan lo udah ada istri, buat apa butuh adik yang kayak gue lagi?" sarkas Selly.
Doni menunduk sebentar, kemudian menatap Selly lagi. "Enggak apa-apa kalo lo mau gue jauh dari lo. Tapi sekali lagi gue minta maaf, maaf karena dari awal nggak jujur sama lo. Sehingga lo berharap lebih dengan gue lagi."
"Nggak apa-apa. Mungkin ini udah takdir gue." Selly tersenyum kecut. "Bukan karena lo udah nikah, misalnya pun lo nggak nikah. Gue mana bisa bersatu sama lo, kita beda Tuhan," ucapnya seraya tertawa miris.
Selly menatapnya dengan saksama. "Gue kadang bingung, Don. Kalo kita ini memang beda, kenapa Tuhan seakan jahat memberikan rasa ini sama gue?" tanya Selly.
"Gue juga nggak tahu." Doni menggeleng pelan. "Tapi katanya, cinta itu adalah fitrah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Sehingga kita nggak bisa mengelak karena sudah di kasih rasa cinta, misalnya kayak lo ke gue. Dan gue ke Keisha," jelas Doni.
Hening pun terjadi setelah itu, baik Selly dan Doni sama-sama terdiam. Dini sesekali menatap Selly yang raut wajahnya tersirat kesedihan. Sementara Selly tidak menatap ke arahnya sama sekali.
"Lo masih ada rasa sama Kak Keisha?" tanya Selly setelah berapa menit terdiam.
Alis Doni langsung terangkat satu, menatap gadis itu dengan kernyitan. "Iya," balas Doni tanoa beban.
Kemudian setelahnya, raut wajah Selly tampak berubah. "Meski lo udah ada istri, lo tetap suka sama gadis lain?" tanya Selly lagi yang seakan tidak habis pikir.
Doni menggaruk kepalanya, sedikit bingung di sini karena sebenarnya Selly belum tahu kalau istrinya itu siapa.
"Enggak ada salahnya kan, Sel? Gue cinta sama istri sendiri?" Doni balik bertanya.
"H-hah? Maksudnya?" Gadis itu mendadak loading. Doni jadi mengulum bibirnya.
"Ceritanya panjang, Sel. Tapi yang jelas gue udah jadi suami sah Keisha sekarang," ujar Doni. Kali ini sangatlah terdengar serius.
Selly langsung terdiam mendengar itu. "Kok bisa? Terus Kak Varo ke mana?" Hanya itulah yang dia pertanyakan setelah lama terdiam.
"Gue nggak mau cerita selebihnya, pokoknya ceritanya panjang. Nanti kapan-kapan gue cerita sama lo."
"Jadi ... lo benar-benar nggak mau dekat-dekat sama gue lagi?" tanya Doni kembali.
"Iya," balas Selly cepat.
"Gue masih punya otak untuk nggak cinta sama suami orang," lirih Selly.
Doni merasa permasalahan ini sudah berakhir, Selly hanya kecewa dengan dirinya dan gadis itu tidak terlalu marah lagi dengannya. Malah Selly ingin menjauh darinya, cukup sedih Doni mendengar fakta itu. Akan tetapi, melihat niat baik Selly yang ingin melupakan perasaannya, maka Doni harus menerima permintaan gadis itu. Dia akan menjauh untuk sementara waktu, sehingga Selly benar-benar tidak memendam rasa lagi dengannya atau lebih baiknya, gadis itu mendapatkan pengganti dirinya.
"Gue balik ke fakultas lagi, masih ada satu mata kuliah yang belum kelar. Gue ke sini cuman mau jelasin itu, dan sekarang gue merasa cukup karena lo udah nggak marah lagi sama gue," ungkap Doni semgan senyuman tipis yang terdekat di wajahnya.
"Iya." Hanya itulah jawaban yang keluar dari mulut Selly.
Doni langsung keluar dari ruangan itu.
Berbeda dengan Selly yang menatap langit-langit ruangan tersebut dengan tatapan nelangsanya. Cintanya sudah bertepuk tangan pula, belum lagi mereka beda agama. Miris banget bukan, kisah percintaannya ini.
Selly kemudian menunduk, menatap lantai marmer dengan nanar. Ingatan terputar ketika masa di mana dia dan Doni di SMA dulu.
Dari dulu sampai sekarang tempat favorit Selly adalah ruang musik, dia senang berdiam diri di dalam sana sambil bermain biola hingga suasana hatinya semakin membaik karena sejujurnya dia tidak memikirkan teman di sekolah yang besar ini. Pasalnya, Selly sering di bully karena dia orang-orang yang lemah.
Pintu ruang musik sekolah terbuka dari luar. Selly menatap ke arah sana dan mendapati Kakak seniornya berjalan lesu dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa lagi lo? Hampir tiap hari ke sini datang-datang dengan wajah masan kayak gitu," ujar Selly.
Kakak kelasnya, satu-satunya laki-laki atau lebih tepatnya teman bagi Selly di sekolah ini. Mereka sudah berkenalan sejak berapa bulan yang lalu, atas insiden tabrakan bahu yang tidak disengaja itu akhirnya mereka makin lama semakin dekat.
"Gue makin jauh sama dua sahabat gue itu," kata Doni, dengan lesu duduk di dekat jendela sehingga angin sepoi-sepoi mengenai wajahnya.
Selly tahu cerita itu. Doni sering curhat dengannya, sebelumnya dia juga pernah mendapati Doni diam-diam masuk ke dalam ruangan ini hanya untuk bermain biola dan itu merupakan pertemuan kedua mereka, dan lihatlah hungga sekarang mereka semakin dekat saja.
"Ujian persahabatan." Selly hanya mengatakan itu, tidak tahu ingin mengatakan apa lagi karena dia tidak memilih sahabat satu pun di dunia ini.
"Ini semua gara-gara si berengsek Varo. Kalo aja dia nggak nyuruh Keisha buat jauhi gue, pasti nggak bakal kayak gini." Doni terlihat mendengkus kasar. "Dasar dia aja yang cemburu karena pacarnya lebih dekat dengan gue," sambing Doni lagi.
Selly hanya tersenyum tipis. Menatap ke arah luar jendela sana. Dari atas sini mereka bisa melihat keadaan lapangan sekolahnya yang lagi ramai dipenuhi oleh siswa-siswi. Karena ini merupakan jam istirahat.
Hubungan Doni dengan sahabat laki-laki itu semakin merenggang. Hingga Selly tidak sadar kalau hubungan mereka semakin dekat dan lama-lama rasa kagum Selly dulu berubah jadi cinta. Hingga Selly memutuskan untuk memendam perasaannya sendiri, meski tahu mereka berbeda. Sekaligus Doni yang mencintai sepupunya sendiri.
Cinta ternyata memang serumit itu.