Pernikahan Arkan

1137 Words
Elena baru saja pulang dari tempat kerjanya dan langsung merebahkan diri sambil mengelus perutnya yang masih rata,tidak terasa sudah satu minggu sejak gita menawarinya pekerjaan, dan sekarang dia tidak terlalu khawatir dengan pemasukannya, karena gaji menjadi pelayan di restoran itu tidaklah sedikit, lagi pula pemiliknya juga sangat baik mau mempekerjakan wanita hamil, tugas nya juga tidak terlalu berat, karena dia di tempatkan di lantai tiga khusus untuk orang-orang kelas A sampai jet pribadi, Karena merasa badannya lengket semua, Elena memutuskan mandi, saat sedang mengambil baju ganti di lemari, tidak sengaja matanya menangkap sebuah kertas undangan, dia baru ingat sekarang bahwa lusa adalah hari pernikahan Arkan dan Adisty, mengingat hal itu dadanya jadi berdenyut nyeri, Elena menatap nanar pada kertas undangan yang sekarang ada di tangannya, jujur dia sangat merindukan Arkan dan masih tidak percaya bahwa Arkan menolak bayinya, dia pikir selama ini Arkan adalah pria yang baik dan bertanggung jawab,tapi kenyataannya tidak sama seperti apa yang di pikirkan, Sejak saat itu Elena bertekat akan membuktikan pada mereka yang telah menolak kehadiran bayinya terutama pada Arkan bahwa anaknya kelak pasti bisa menjadi orang yang sukses, Elena sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi Elena akan mempertahankan bayinya dan tanpa terasa matanya memanas memikirkan masa lalunya itu, "Lo harus kuat Len, jangan nangis buktikan sama dia bahwa lo bisa dan gak butuh b******n kayak Arkan," ucapnya pada diri sendiri "gue pasti datang Arkan, tunggu aja!" ***** Taksi yang ditumpangi Elena berhenti di depan gedung mewah tempat pernikahan Arkan dan Adisty di selenggarakan. Elena menarik nafas dalam-dalam sebelum memasuki bangunan mewah yang ada di depannya itu, wanita itu bedecak kagum saat memasuki aula besar dan luas yang sudah di rancang sedemikian rupa, bukanya Elena norak tapi memang baru kali ini dia menghadiri acara pernikahan di tempat semewah ini, Elena menatap nanar pada sepasang kekasih yang sedang bersalaman dengan para tamu undangan, matanya memanas melihat Arkan yang tengah tersenyum di atas panggung ja lihat dikamar Arkan waktu itu juga wanita yang dia yakini bernama Adisty, Tanpa terasa air matanya turun, dengan gerakan cepat Elena menghapusnya agar tidak ada yang melihatnya menangis, niatnya untuk menghampiri Arkan dan istrinya kemudian segera pergi dari tempat itu menguap begitu saja saat matanya tidak sengaja menangkap makanan yang akhir-akhir ini digandrungi oleh bayinya, bakso. Elena berjalan menuju meja yang menyediakan bakso itu,perutnya semakin lapar saat sudah sampai di depan meja yang menyediakan bakso dengan salah satu pelayan yang berjaga di sana, melihat asap yang mengepul dari dalam wadah saat pelayan itu mengambilkan kuah membutnya lupa bahwa saat ini dia sedang berada di acara pernikahan mantannya, "Baksonya satu mangkuk tapi tiga porsi ya!" "Baik nyonya," "Makasih," ucapnya dan duduk di salah satu kursi yang ada di dekatnya Elena memakan baksonya dengan nikmat sampai tidak sadar bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya "Elena, apa kabar?" Elena terkejut saat ada seseorang yang menegurnya, nafsu makannya hilang seketika saat melihat siapa orang yang menegurnya tadi Arkan, pria itu masih sama, tampan, satu kata itu yang bisa menggambarkan Arkan sekarang, tatapan matanya yang hangat menghipnotis Elena untuk tidak mengalihkan tatapannya untuk beberapa detik, setelah tersadar Elena langsung membalas pertanyaan Arkan, "Baik, oh ya selamat ya Arkan atas pernikahan nya,"ucapnya, tanpa sadar tangannya sudah mengelus ke perutnya Sabar ya nak ,masih ada mama "Iya sama-sama, oh ya kenalin ini Adisty istriku." deg Elena baru sadar bahwa arkan tidak sendiri "Hai, aku Adisty. Yang waktu itu kita belum kenalan." ucap Adisti sambil mengulurkan tanganya dan tidak lupa tersenyum miring juga untuk menambah kesan jahatnya "Elena." balas Elena menyambut uluran tangan Adisty "Eh udah mau larut nih aku pulang dulu ya, sekali lagi selamat,semoga kalian bahagia."ucap Elena sambil menekankan kata bahagia "Kenapa buru-buru banget, kamu gak mau makan hidangan yang lain Len?"cegah Arkan yang sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan Elena Wanita itu tersenyum canggung ternyata sedari tadi Arkan memperhatikannya "Gak udah kenyang, gue permisi!" "Tunggu!" Elena menghentikan langkah kakinya dan berbalik melihat pada Arkan "Maaf buat yang waktu itu," seandainya kamu ngerti posisiku Len lanjutnya dalam hati Wanita itu tidak menjawab, hanya mengangguk sambil tersenyum tipis kemudian segera berlalu dari sana. Elena menghembuskan nafas lega saat sudah keluar dari gedung itu,dia memutuskan untuk berjalan kaki saja,niatnya datang ke pernikahan Arkan untuk menghina sepasang kekasih itu Sirna begitu saja saat melihat senyumnya,Elena masih mencintainya Memang sulit melupakan orang yang dari masa sekolah sudah menemanimu, Seharusnya saat ini dia yang berada di samping Arkan, menemaninya menyapa tamu, berfoto dengan keluarga besar keduanya, hey kenapa dia jadi marah seperti ini, seharusnya dia bersyukur, karena dengan terjadinya semua peristiwa ini, dia jadi tau Arkan yang sebenarnya. Tapi tetap saja rasanya sakit, air matanya turun begitu saja tanpa seizinnya, dadanya semakin sesak karena tangisannya semakin keras,hatinya menjadi sensitif saat hamil dan kenapa tubuh manusia itu aneh sekali Disaat mata yang melihat, telinga yang mendengar, tapi kenapa hati yang merasakan sakit. Matanya merasakan silau karena cahaya mobil yang saat ini melaju ke arahnya, tidak ada niatan sedikitpun bagi Elena hanya untuk sekedar berjalan selangkah saja seakan sudah pasrah, Elena memejamkan mata menunggu mobil itu menubruk nya Lama dia menunggu bukannya mobil itu yang menubruknya, melainkan tubuh seseorang sambil menangis terisak "Jangan lakuin ini Len!"ucap orang yang memeluknya Elena merasa familiar dengan suara nya perlahan Elena membuka matanya dan benar saja orang dihadapannya ini adalah sahabat terbaiknya Winola Elena balik memeluk Wino erat, dia sangat merindukan sahabatnya itu, saat Elena pergi dari rumah orang tuanya Wino memang berada di bandung karena salah satu perusahaan Sean, suaminya yang ada di sana sedang mengalami masalah dan tidak tahu sampai kapan, "Kalian habis dari mana?"tanyanya melihat penampilan Sean dan Wino yang sangat rapi "Lo mau kemana? Kita anterin aja ayo masuk mobil!"Bukannya menjawab, Wino malah balik bertanya dan menyeret Elena memasuki mobilnya Wino menyeret Elena ke kursi penumpang dan duduk di samping Elena "Aku bukan supir."protes Sean "Diam!"balas wino dengan tatapan tajamnya, Sean hanya bisa menghela nafas pasrah, "Gue mau pulang, kalian dari mana?" "Kita dari acara pernikahan Arkan,"itu suara Sean Elena diam, Wino mengamati Elena dari ujung kepala sampai kaki, dia tau Lena pasti juga baru pulang dari sana, Keras kepala "Kenapa lo datang?"tanya Wino datar Lena hanya menoleh sekilas dan setelahnya langsung memalingkan wajah ke arah lain, Wino yang melihat tingkah laku Elena hanya bisa membuang nafas kasar "Lo bodoh, lo tahu lo bakal sakit kalo datang, tapi lo tetep maksain diri, kalo emang ga kuat harusnya lo ga usah datang,"omel Wino "Gue cuma pengen lihat dia_" "Bahagia sama orang lain?" potong Wino cepat Elena menghela napas lelah "Gue kangen dia Win, sebrengsek apapun Arkan dia tetep ayah biologis bayi yang gue kandung ini." "Udahlah ma jangan marah-marah ingat umur kasian Lena, dan juga rumah lo yang sekarang dimana Len?" sahut Sean yang sedari tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan kaum betina itu Elena menepuk keningnya pelan, dia lupa jika sudah tidak tinggal di rumah orang tuanya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD