"YAAMPUN LENNNN lo beneran tinggal di sini!" teriak Winola histeris saat melihat rumah kecil Elena
"Yaa biasa aja kali gak usah pake teriak-teriak segala, gak malu apa kedengaran tetangga."jawab Elena santai sambil mengusap telinga kanannya yang masih terasa berdengung karena teriakan dari sahabatnya itu, Winola menatap Elena tajam dia benar benar tidak tahu Elena tinggal di rumah seperti ini, Wino pikir Lena akan tinggal di apartemen walaupun lebih kecil dari sebelumnya tapi ternyata? dugaannya salah besar
"Lo hebat Len!" ucap Sean tiba tiba
Elena mengerutkan dahinya
"Hebat kenapa?"
"Lo hebat bisa bertahan hidup di lingkungan kaya gini." Elena berdecak malas,
Suami istri sama aja
"Duduk, gak capek dari tadi berdiri?"
Sean dan Wino akhirnya duduk menuruti ucapan lena
"Kalian mau minum apa?"
"Apa aja!" jawab Sean
"Tunggu bentar."
"Nih cuma ada teh anget," kata Lena sambil meletakkan dua gelas teh hangat ke atas meja
Winola mengambil satu gelas teh itu kemudian menegaknya sampai habis, benar benar mirip sapi saat kehausan lalu mendapat seember air,batin Lena
Tak
"Ahh, gue gak mau tau,pokoknya lo harus pindah Len, haruss," Rempong Wino
"Pindah pala lu botak, lo pikir pindah kesana kesini itu gampang apa? uang gu_"
"Soal biaya pindahan lo tenang aja, gue yang bayarin pokoknya lo harus pindah, titik."sela Wino, Elena hanya bisa menghembuskan nafas gusar
"Nanti gue bantu beres beres deh!" sambungnya
"Huh bukan gitu, masalah nya gue udah terlanjur nyaman di sini Win."
"WHAT? Gue gak salah dengerkan, lo nyaman tinggal di lingkungan kaya gini, di sini gak aman loh Len, nanti kalo ada orang mabuk nyasar ke rumah lo gimana? atau maling c***l mau rampok sempak lo gimana? ngga ngga gue ga mau lo kenapa-napa apalagi lo kan lagi hamil!!"
"Sebelum tidur gue selalu kunci rumah gue Win, lagi pula kan disini jarak rumahnya kan deket deket, kalo gue teriak tetangga pasti keluar," jelas lena
Wino menggelengkan kepalanya tidak setuju "Gak pokoknya lo tetep harus pindah, pintu rumah lo itu kan dari triplek gak sekuat pintu kayu, jadi sekali dobrak pasti udah hancur walaupun udah lo kunci sekalipun, pa tolong bantu mama ngomong sama Lena dong."
"Udahlah ma, Lena nya kan gak mau kasian dia kalo kamu paksa terus, takutnya jadi beban pikiran," jelas Sean, hmm tumben bijak pak
"Kok kamu jadi ikut ikutan bela Elena sih pa?" Wino memprotes
"Bukannya aku bela Elena ma,tapi mau kamu paksa gimana pun kalo dia gak mau ya tetep gak mau."
Wino diam, benar kata suami nya,Elena itu sangat keras kepala jadi tidak ada gunanya memaksa nya,
"Yaudah deh kalo gak mau pindah tapi kalo butuh apa apa jangan sungkan ya."
Elena memutar bola matanya malas, sejak hamil anak kedua Wino jadi lebih rempong dan lebay "Terserah lo deh."
Biar cepet lanjutnya dalam hati
*****
"Uluh uluh anak siapa sih ini lucu banget," ucap Elena pada seorang bayi yang ada di gendongannya, bukan itu bukan bayi Elena tapi itu bayi Gita yang baru berumur satu bulanan,
"Udah sini biar aku aja yang gendong,kamu kan lagi hamil, nanti takutnya perut kamu ke tendang sama kakinya Sam," ucap Gita yang baru saja kembali dari kamar mandi
"Ihh kenapa sih mbak, padahal aku kan cuma mau main sama Sam sekalian buat latian gendong bayiku sendiri," ujar Elena mengerucutkan bibirnya
"Bukannya aku gak ngebolehin Len, tapi perut kamu itu udah besar dan Samta itu anaknya aktif banget takutnya nanti perut kamu ketendang kakinya Sam."
Elena mengerucutkan bibirnya, lalu mengembalikan Samta pada ibunya
"Mbak?"panggil Lena yang dijawab dengan gumaman
"Hmm!"
"Kenapa dia dikasih nama Samta?"tanya Lena sambil menunjuk ke bayi di gendongan Gita
Gita diam sejenak sebelum akhirnya menjawab
"Karena nama ayahnya Samudra."
Elena bisa melihat kesedihan di raut wajah Gita saat menyebut nama Samudra
"Ohh, berarti Samta itu gabungan dari Samudra dan Gita ya mbak?"
"Iya."
Elena jadi berpikir untuk memberi nama anaknya dari gabungan namanya dan Arkan, jadi......
Kanna=Arkan Lena (perempuan)
Karel =Arkan Elena (laki laki)
Elena menggelengkan kepalanya pelan menepis semua pemikiran
itu, ini bayinya tidak boleh ada unsur nama Arkan didalamnya nanti, terserah kalian mau menyebutnya egois atau apa, tapi Elena benar benar ingin membangun kehidupan barunya hanya dengan bayinya saja bukan orang lain, termasuk Arkan.
"OH IYA!" teriak Elena tiba tiba mengagetkan Gita
"Kenapa Len?" tanya Gita sambil mengelus dadanya yang masih terkejut
"Aku kan ada janji sama Wino mbak."
"Mau cek?"
Lena hanya mengangguk
"Yaudah sana siap-siap!"
"Aku pulang dulu ya mbak!"
Setelah mendapat jawaban "ya" dari Gita, Elena langsung pulang dan siap siap setelah sebelumnya menyempatkan diri mencium pipi Samta
"Dadah Sam," gemas Elena sambil mencubit pipi gembul bayi mungil itu membuat Sam menangis seketika. Elena hanya menyengir lebar saat mendapatkan pelototan mata dari Gita. Wanita itu jadi semakin tidak sabar menunggu kelahiran bayinya
*****
"Jadi?"
"Jadi?Jadi apa?"
"Jadi lo mau kasih nama anak lo siapa Elena Emerald?" geram Wino
"Mm, Gue mau kasih nama_"
"Akhh, aduhh ssshhh ahhkk."
"Eh eh lo kenapa Win?" bingung Lena
"P perut gu e sa kitt,"
"JANGAN JANGAN LO MAU LAHIRAN." Elena kalang kabut saat melihat ada cairan bening yang keluar dari s**********n Wino
"Aduuh ss sakit sa kitt Lenn, hahh!"
"Gue harus gimana nih?"bingung Elena
"Kita kerumah sakit sekarang, gue pesenin taksi online dulu,"lanjutnya
Elena memapah Wino berjalan menuju taksi online yang telah dipesannya tadi, Wino sama sekali tidak bisa diam selama perjalanan tapi bukan itu yang menjadi masalahnya, masalahnya yaitu Wino terus-terusan menarik rambutnya dan Elena yakin sebentar lagi kepalanya pasti botak,
"Pak bisa lebih cepet lagi gak, temen saya kesakitan banget nih tambahin dong pak kecepatannya nanti kalo bayinya lahir di sini gimana? terus kalo ada apa apa sama mereka berdua gimana?bapak mau tanggung jawab?" cerocos Elena
"Ini juga udah cepet neng, nanti kalo kecepatannya di tambah bisa bahaya,jalanannya kan lagi rame neng!"
"Akhh SAKIT, sakit banget Len."
Elena tidak bisa membayangkan seperti apa rasa sakit saat melahirkan,pasti rasanya sakit sekali.
"STOP, berhentiin taksinya!"
Ckiiit
Elena keluar dari taksi itu
"Bapak keluar!"
"Loh kenapa neng? Kok saya disuruh keluar?" tanya sopir taksi bingung
"Udah keluar aja, bapak temenin temen saya dibelakang biar saya yang nyetir taksinya." ucap Lena sambil menarik keluar supir taksi itu yang hanya bisa pasrah menghadapi kelakuan penumpangnya itu
Elena segera masuk ke kursi pengemudi setelah supir taksi itu keluar,
"Akhhh aduhh sakit sakit!"itu bukan suara Wino,tapi itu suara supir taksi tadi yang rambutnya di jambak Wino
"AKHHHH NENG BAWA TAKSINYA JANGAN CEPET CEPET NENG BAHAYA!!!" teriak supir taksi itu saat Elena mengemudikan taksinya seperti orang kesetanan
"Bapak diam aja deh, ini saya lagi fokus!"
Supir taksi itu langsung diam saat mendengar bentakan Elena,
The power of ibu hamil
Sial sekali nasibnya hari ini bisa mendapat penumpang seperti mereka berdua ,yang satu menjambak rambutnya sampai rasanya kulit kepalanya akan tercabut dan yang satu lagi mengemudikan mobil sama persis seperti orang kesetanan
Diam diam dia bersumpah pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan mau membawa penumpang hamil lagi, karena rasanya sangat menyiksa,bukan hanya fisik saja karena jambakan dari Wino tapi juga mental karena Elena benar benar menyalip semua kendaraan di depannya bahkan sampai menerobos lampu merah
Sedangkan Elena, dia tidak peduli dengan suara klakson bahkan sumpah serapah dari pengemudi yang lain saat dia melewati mereka ralat bukan melewati, tapi menyalip,
Karena baginya yang penting sekarang adalah Wino, sialnya Elena sampai menabrak tong sampah rumah sakit saat baru memasuki wilayah itu, tapi dia sama sekali tidak menghiraukan teriakan satpam penjaganya,dia bahkan tidak membayar uang taksi tadi, dan meninggalkan supirnya yang pingsan di kursi penumpang
"SUSTER TOLONG, TOLONG TEMAN SAYA SUS DIA MAU LAHIRAN!!"
"NENG TUNGGU. ONGKOSNYA MANA, WOII!"
"NANTI TUNGGU AJA SUAMINYA DATENG. NANTI BAPAK MINTA SENDIRI, ORANG KAYA INI." teriak Lena tak kalah keras sampai membuat orang-orang yang ada disana berjengit kaget