Max POV
Srak—darah terciprat kemana-mana. Li Wei, menatap sosok yang sedang memasukkan tangannya ke dalam mulut lelaki paruh baya yang kini hampir kehilangan nyawanya. Tidak ada yang menghentikan aksi pemuda itu, mereka hanya menonton sembari memakan snack yang viral saat ini.
“Dia terlalu menikmati perannya saat ini!” Max, menatap Li Wei, tangannya terulur dan mengambil makanan itu.
“Dia tidak menikmati, hanya saja dia itu teliti!” Jawab Li Wie, membuatku memberinya senyuman ejekan. Tentu saja salah satu percobaan di depan itu tidak teliti. Dia hanya terlalu menikmati mencabik-cabik tubuh tua itu. Dia masih tidak sempurna, dan masih beberapa hari lalu—tepatnya 2 hari lalu—dilepas dari pemeriksaan laboratorium dan langsung dilakukan uji coba. Tidak memiliki pengalaman, hanya memiliki insting binatang—membunuh dan bertahan.
“Hentikan dia, percobaan ini sepertinya lagi-lagi gagal. Aku yakin Toby pasti sudah pergi sejak melihat percobaannya tidak ada yang berhasil lagi!”
Li Wei menatap ke atas, membuatku juga ikut menatap ke arah sana. Sesuai tebakan Li Wei, Toby memang sudah tidak ada di sana semenjak melihat sosok di depan sana masih tidak sesuai dengan harapannya.
“Kenapa bukan kau saja yang menghentikan bájingan itu, Li Wei? Kau lebih unggul daripada aku, untuk mengurus masalah seperti ini, bukan?”
Cengkraman di leherku membuatku kesulitan bernafas. Dengan kekuatan penuh, aku membanting tubuh Li Wei yang tadi berusaha untuk mengendalikanku. Aku berjalan ke arahnya dengan senyuman miring, “Bisa saja kau benar dengan keunggulan yang kau miliki itu, Li Wei. Tapi jangan lupa jika kita ini berada di level yang berbeda. Kau tidak bisa sembarangan padaku, atau aku…”
“Hentikan kebodohan kalian itu, atau tidak, mereka akan membuat peluru itu bersarang di kepala kalian. Dasar bodoh!”
Aku menatap Li Wei, kerah baju aku lepas paksa. Kepalanya terjatuh dan membentur lantai kotor itu. Aku lekas menatap ke arah depan, gerakan cepat gadis berambut lurus sepinggang itu sangat cepat. Saking cepatnya, membuatku tidak sadar kapan dia membunuh sosok tadi.
Dia berjalan mendekat ke arahku, menatap Li Wei dengan tatapan tidak suka, “Hentikan tanganmu itu, bedebàh. Aku tidak menyukaimu sejak dulu, ayo pergi Max. Kau juga bodoh, mau saja kau dibodohi oleh bedebáh sepertinya, Max!”
Karin menuju ke arah mobil, begitu kami masuk. Mobil itu lekas meninggalkan area markas, aku menatap Li Wei dari luar yang menatap kemana kami pergi. “Kapan kau kembali kesini, Karin? Bukannya Toby masih memberimu perintah untuk membunuh si Penjinak singa itu?”
“Aku sudah menyerahkan kepala itu padanya subuh tadi, aku hanya istirahat hari ini. Tapi mereka bilang kau sedang bersama dengan Li Wei. Aku takut jika kau akan membunuhnya, dan sama saja dengan membunuh kita semua!”
Tatapanku tertuju pada wajah Karin yang tegas, aku mengalihkan perhatian saat Ryu menangkapku memperhatikan gadis berwajah tegas itu. Tidak lama, mobil yang dikemudikan oleh Ryu berhenti di sebuah gedung terbengkalai. Seorang penjaga keluar ketika kami hendak masuk, Karin memberikan kode. Membuat lelaki berkepala licin itu lekas membuka pintu pada kami.
“Kalian sudah tiba?”
Alan menyapa kami, menyerahkan masing-masing satu botol soda dingin. Minuman itu lekas habis dalam sekali teguk padaku. “Kau sepertinya sedang bad mood hari ini, Max. Apa si bájingan itu lagi-lagi membuatmu seperti ini?”
“Tidak usah bertanya Alan, kau jelas tahu bájingan itu memang menyebalkan!” aku mengambil satu botol kaleng minuman lagi, “Untung aku tidak membunuhnya tadi!”
“Untung seperti apa? Jika kau membunuhnya, itu sama saja dengan membunuh kita semua!” kesal Ryu yang merebut kaleng minumanku dan meneguknya hingga kandas. Lelaki berkacamata dan sedikit pendiam itu lekas duduk di depan komputer dan menatap ke monitor itu. Tidak lagi menghiraukan kami yang masih berbicara.
“Bagaimana Texas, Karin? Apa di sana masih dingin seperti biasa?”
“Tidak ada yang berbeda, semuanya sama saja. Kecuali kasus yang aku hadapi, aku akui sosok lelaki itu memiliki kemampuan. Dia bahkan hampir membunuhku, tapi beruntung aku sedikit lebih cepat daripadanya!”
“Suatu keberuntungan!” ujarku pelan, lalu ikut duduk disebelah Ryu. “Apa yang sedang kau lihat? Apa kau mendapatkan informasi mengenai perkembangan Emilio? Aku yakin lelaki itu mengingat semuanya, tidak mungkin dia melupakan saat itu!”
Ryu menggeleng, lalu menatapku “Bisa saja dia memang terluka saat kabur dari sini. Dia tidak ingat siapa dirinya, dan menganggap dirinya adalah manusia biasa. Lelaki bájingan itu membuat kita seperti ini, sebenarnya aku masih penasaran sehebat apa dia. Apa yang Toby unggulkan daripada kau dan juga Karin? Kau hebat dan hampir unggul di setiap bidang yang kau punya, Karin adalah pembunuh handal, Alan juga begitu. Tapi kenapa dia masih mencari lelaki itu? Lagipula, jika dia adalah hasil ciptaan Toby, aku yakin dia tidak akan bertahan lama lagi. Dia butuh cairan itu untuk tetap hidup!”
Senyuman miring terbit dari wajahku, benar, aku memang yang terdahulu dibuat percobaan daripada mereka bertiga. Aku bersama dengan Emilio, dan dua orang yang sudah dibunuh oleh Li Wei dan juga Toby. Mereka memang tidak akan tahu sehebat apa kemampuan yang dimiliki oleh Emilio jika tidak melihat seperti apa monster yang ada di dalamnya.
“Kau akan tahu jika berhadapan dengannya, sekarang kita harus melacak dimana keberadaannya dan membawanya ke hadapan Toby, atau jika tidak, maka dia akan membunuh kita semua!”
“Aku sudah berusaha untuk membuat lelaki itu untuk masuk ke dalam ilusiku sendiri, aku hampir berhasil, namun di dalam ilusi pun, dia sangat kuat. Bahkan berhasil menghancurkanku, dia bukan lawan yang seimbang!” Alan ikut angkat bicara. “Jika kita tidak menyusun rencana, maka aku rasa semuanya sia-sia saja, dia terlalu hebat untuk kita hadapi!”
“Mendengar kalian, sedikit membuatku bersemangat untuk mencari siapa lelaki itu. Aku masih sempat mendengar dia kabur dari laboratorium saat itu, tapi wajahnya tidak sempat terlihat olehku. Karena saat itu, aku sedang berada di bawah pemeriksaan.” Seru Karin, dia menggerakkan tangannya dan mengambil minuman yang ada di meja.
Kekuatan Karin rupanya semakin meningkat, pantas saja Toby berani untuk mengirim Karin untuk membunuh penghianat itu seorang diri. Dia berhasil membuat Karin, dan Karin juga mulai berbeda. Jika kekuatan itu semakin sempurna di dalam tubuhnya, maka sifat alami manusianya akan menghilang. Dia akan menjadi budàk Toby untuk selamanya. Sama seperti Kyle dan juga Tong Wei. Beruntung bukan aku yang menghadapi mereka, tapi Toby sendiri.
“Lalu, jika berhasil menemukan Emilio, apa kau benar-benar akan menyerahkannya pada Toby, Max? Aku curiga, jika Toby sudah mendapatkannya, maka dia tidak akan membutuhkan kita dan akan memusnahkan kita!”
Pertanyaan Ryu barusan membuatku kembali menengadah dan menyandarkan tubuhku di atas kursi, menatap langit-langit markas yang kami buat secara sembunyi-bunyi. Toby, maupun Li Wei tidak tahu mengenai tempat ini. Aku memang sengaja membuat tempat ini, untuk menghindarinya.
“Tidak tahu, aku ingin pergi ke club malam ini. Apa kalian ikut denganku atau tetap di sini?”
Tanpa banyak tanya, Alan lekas bangkit dari duduknya. Mengambil jaket tipisnya dan juga topinya. Dia terlihat bersemangat jika aku sudah mengajaknya menuju club. Sifat lelakinya memang tidak bisa dihindari. Aku bersyukur dengan hal itu, karena dia masih memiliki jiwa manusianya.
“Berjanjilah untuk tidak membuat onar di sana, Max!” Karin menahan tanganku, “Dan berjanjilah untuk kembali sebelum Toby sadar kita tidak berada di markas mereka.”
Tanganku menepis tangan Karin, “Aku tahu, Karin. Tidak usah mengkhawatirkanku, kembalilah lebih dulu bersama dengan Ryu. Jangan sering menggunakan kemampuanmu itu, jika tidak, maka sisi kemanusiaanmu itu akan hilang dan sepenuhnya percobaan Toby akan berhasil. Kau tidak bisa menyamai Emilio, dia bisa menjadi versi manusianya dan juga menjadi versi yang tidak diketahui orang lain. Itulah sebabnya Toby sangat mencari keberadaannya!”
Alan lebih dulu keluar, aku lekas menyusulnya. “Ingin mengemudi, Max?”
“Kau saja!”
***
Mobil kami menempati salah satu tempat parkir di klub, ini sudah malam dan klub juga sudah mulai ramai. Penjaga mengijinkan kami masuk, tapi sebelum masuk, aku melihat seorang gadis dengan rambut pirang setengah dan lainnya hitam berdiri di depan pintu dengan terlihat kesal. Dia menatapku dengan mata bulatnya.
“Apa lihat-lihat?”
Aku menaikkan bahuku dan memasuki club lebih dulu, “Apa kau mengenalnya?” tanya Alan begitu kami duduk di salah satu meja.
“Dia adalah calon percobaan Toby lagi, dia tidak beruntung. Hanya saja dia masih sedikit muda, aku jadi teringat ketika Toby mengambil kami dan membuat kami sebagai bahan percobaannya!”
“A Glass of Wine, please!” ujar Alan, memesan pada pelayan.
Tempat yang kami pilih cukup privasi, pelayan itu pergi setelah mengantar minuman kami. Aku menatap ke sekeliling, sesekali tatapanku melesat pada wanita-wanita penghibur yang ada di atas panggung. Sembari memperhatikan mereka, aku meneguk beberapa gelas Wine.
“Apa kau sengaja tidak menjadi sempurna, Max? Jika aku perhatikan, kau selalu menyuruh kami untuk tidak terlalu sempurna dalam menggunakan kemampuan kami. Apa jangan-jangan kau juga sama? Jika kau perhatikan, Karin menjadi terlihat berbeda dan lebih unggul darimu!”
“Kau benar, itu alasan utamaku untuk melarang kalian menjadi sempurna seperti keinginan Toby. Jika kalian menjadi sempurna, maka itu artinya dia berhasil dan akan membuat lebih banyak lagi. Kita tidak bisa menghentikannya, aku berharap Emilio bisa. Meskipun aku tidak menyukai bájingan satu itu, tapi untuk menghentikan perbuatan Toby, kita harus mendapatkannya. Aku yakin dia masih seperti manusia biasa, sekalipun kekuatan besar itu ada di dalam tubuhnya!”
“Lalu bagaimana dengan Karin? Aku takut jika membocorkan rahasia yang selama ini kita simpan dari Toby, dia terlihat memiliki ambisi untuk menjadi yang terbaik. Dia bahkan sudah menyelesaikan misi keduanya dengan cepat, itu artinya kemampuannya meningkat dengan pesat!”
Mengisi gelas lagi dan meneguk wine itu dengan sekali tegukan. “Aku juga mengkhawatirkan hal itu, sejak awal dia dikeluarkan dari laboratorium. Aku sudah melihat itu dalam maniknya, dia juga beruntung karena Toby langsung membawanya pada sesuatu yang dia pikir adalah hal besar!”
“Kau benar, aku juga merasakan hal yang sama ketika pertama kali melihat gadis itu. Sejujurnya, aku juga mulai merasakan hal itu, Max. Sesekali, aku mulai kehilangan rasa manusiaku saat melakukan tugas dari Toby. Sesaat, aku tersadar dengan apa yang aku lakukan dan menyesali perbuatanku!”
“Jika kau masih punya rasa penyesalan, maka itu bagus untukmu! Kau bisa terus merasa menyesal agar tidak kehilangan sifat manusiamu! Percayalah padaku, sekali kau kehilangan rasa penyesalan saat membunuh. Maka kau bisa tahu jika kau sudah menjadi budàk Toby sepenuhnya, percobaanya sudah berhasil padamu!”
Beberapa menit kami terdiam tanpa ada percakapan, aku juga sibuk melihat kemolekan wanita-wanita itu.
“Tapi, apa maksudmu dengan gadis muda yang tadi ada di depan club, apa kau kenal dengannya?”
“Beberapa hari lalu, aku tidak sengaja melihat sebuah gambar di komputer Li Wei. Gambar itu persis seperti gambar gadis yang tadi kita lewati, aku yakin itu adalah target Toby selanjutnya. Dia tidak beruntung, karena sepertinya dia memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh Toby!”
“Kenapa kau tidak menghentikannya?”
Aku tertawa mendengar pertanyaan Alan, lelaki ini tahu atau pura-pura tidak tahu? “Gadis itu sudah diberi semua yang dia mau, termasuk kebebasan untuk memasuki klub ini. Dia seperti remaja pada umumnya, bisa aku tebak jika dia adalah remaja miskin yang ingin terlihat kaya demi teman-temannya yang tidak nyata. Dia tidak tahu apa motif Toby memberikan semua itu. Dia bodoh dan layak untuk mendapatkan hal itu!”
“Mendengar cara bicaramu, bukanlah kau yang kehilangan sifat kemanusiaan itu, Max? Semua yang kau katakan itu hanya omong kosong saja, seharusnya kau memberitahunya dan mengingatkannya agar pergi sejauh yang dia inginkan!”
Hampir saja kau tersedak mendengar ucapan Alan yang benar-benar terlihat munafik. “Itu bukan sifat manusia namanya, Alan. Manusia juga punya otak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, sementara gadis muda itu terlalu mencintai uang dan menerima apapun pekerjaan yang diberikan asal diberi bayaran yang banyak. Dia yang menentukan hal itu, dan itu bukan tugas kita. Cukup duduk dan lihat saja, lagipula, apa kau ingin lehermu yang jadi korban karena sudah menjadi pahlawan baginya?”
“Jelas itu bukan aku, jikapun aku masih seutuhnya memiliki sifat manusia, tidak akan ada hal itu.”
“Kau memahami maksudku rupanya, sekarang lihatlah gadis itu. Dia bisa masuk karena menyuap para penjaga itu, teman-temannya itu pasti sekarang sedang memuji kehebatannya itu. Padahal, jika dia kesusahan, aku yakin satupun dari mereka tidak akan ada yang mengulurkan tangannya. Mereka hanya anak muda yang harus akan harta duniawi!”
Setelah percakapan singkat itu, Alan terdiam dan hanya meneguk Wine itu dengan mata yang tertuju pada gadis tadi itu. Sebuah pesan masuk dari ponselku, dan nama Karin tertera di ponsel. Aku ingin mengabaikan pesan itu, sebelum dia mengirimiku pesan darurat. Aku lekas mengambil jaketku.
“Kenapa?” Tanya Alan yang masih menuang wine itu ke dalam gelasnya
“Ada yang menabrak mobil mereka saat kembali ke markas, mereka sedang butuh bantuan. Cepatlah, kita harus segera kembali. Atau jika tidak, Toby akan mengetahui jika kita tidak bersama dengan mereka!”
“Sial, aku belum puas minum!”