BAGIAN 27 | KEMATIÁN FRED

1953 Words
“Kenapa kau berubah pikiran?” “Bawakan kunci mobil, isi senjatamu dan jangan lupa bawa pisaumu yang lain. Aku butuh memastikan sesuatu, jika tidak, aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak!” Mengambil mantel yang baru, aku lekas keluar dari pintu. Yuwen berlari dan arah pintu, tidak lupa setelah mengunci pintu tadi. Aku salah, benar-benar salah karena kehilangan sebuah jejak. Begitu Yuwen masuk ke dalam mobil, aku lekas mengarahkannya menuju peron kereta bawah tanah. Aku yakin, lelaki bermata hijau itu masih berada di sana. “Kenapa, Lio? Kenapa kau begitu panik dan dari raut wajahmu, aku bisa menyimpulkan telah terjadi sesuatu. Atau kau melewatkan sesuatu?” “Berapa lama lagi kita tiba di peron?” “Sekitar 20 menit lagi” Pertanyaan Yuwen aku abaikan, begitu tiba di Peron bawah tanah I, aku lekas turun dari mobil dan berlari menyusuri anak tangga. Terus berlari, perhatianku tertuju ke arah peron yang masih ramai. Satu persatu aku menatap orang di sana. Yuwen ikut memperhatikan dan aku berharap sosok itu masih ada di sini. Kereta sudah tiba, orang-orang yang menunggu di peron mulai antri untuk masuk ke dalam kereta. Sialan, sepertinya aku salah menebak. “Tidak ada orang itu, Lio. Apa mungkin dia masih berada di rumah Fred?” *** Aku terbiasa dengan kegagalan, kesulitan dan semua lika-liku saat melakukan pekerjaanku ini. Dan, setiap kali menemui masalah itu, aku tidak pernah merasa bersalah. Sejak dulu, aku selalu menganut prinsip bahwa manusia juga memiliki keterbatasan. Termasuk aku sendiri dan begitu juga mengenai pekerjaan. Tapi kali ini, aku benar-benar merutuki kebodohanku. Anthony mengiriku email beberapa menit lalu, sebelum aku memutuskan untuk ke peron. Rupanya dia salah menangkap pelaku pembunuhan di gereja itu, dan meminta bantuanku. Alfred adalah salah satu petunjuk yang kami punya, sekarang kami kehilangannya. Perhatianku tertuju pada tubuh tidak bertanya Alfred. Matanya menatap lurus ke depan, tangannya menunjuk ke arah pintu. Itu artinya dia dibunuh tepat saat pintu terbuka. Jejak darah terciprat dari lehernya. Dia dibunuh dengan tiga kali tusukan di belakang kepala, leher dan juga daerah jantungnya. Tiga titik yang paling fatal dan akan menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Beberapa menit lalu, setelah aku menerima pesan dari Antony. Sebuah pesan masuk ke dalam emailku, membuat seluruh adrenalinku terpacu. Petugas yang sudah datang, lekas memeriksa ke semua ruangan. Mereka tidak menyentuh apartemen Alfred sebelum aku tiba. Pendengaranku sama-sekali tidak berfungsi sekalipun aku sudah mencobanya berulang-ulang. Pembunuhan itu terjadi begitu cepat, pelakunya melarikan diri ke arah peron sesuai dengan dugaanku sebelum mencari tahunya. Tapi, tidak banyak informasi yang aku dapat karena Alfred terbunuh tanpa sempat mengeluarkan suara, bahkan suara teriakan sekalipun. Seolah pelaku itu mengetahui sesuatu mengenaiku. “Kami menemukan pintu rahasia di lantai 2, sir Yuwen!” Seorang petugas dengan wajah ditutupi oleh penutup wajah turun dari lantai 2. Aku menatap tubuh Alfred sekali lagi. “Periksa semuanya, tapi jangan biarkan wartawan mengetahui kabar ini sampai kami memberikan kepastian. Antony juga akan datang sebentar lagi!” Begitu jawaban dari Yuwen, aku lekas keluar setelah melihat tidak ada jejak lain kecuali pembunuhan itu. Sekarang yang aku butuhkan adalah informasi mengenai si mata hijau itu. Aku yakin dialah pembunuhnya. Ini benar-benar buntu dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jika dia ada hubungannya dengan pembunuhan di gereja, berarti misi kami belum selesai. “Sekarang apa yang akan kau lakukan, Lio?” “Kita tunggu Antony lebih dulu, bajingàn itu terlalu banyak bicara.” Sebuah  mobil keluaran terbaru berhenti tepat di depan kami. Cahaya dari mobil itu menerangi jalan yang gelap. Antony lekas keluar dari dalam mobil itu, dengan seorang yang cukup asing bagiku. “Emilio, apa kau mendapatkan petunjuk dari sini?” Pertanyaan itu sedikit menyebalkan untuk aku dengar saat ini, Antony pura-pura tahu atau sengaja menjadi bodoh? Aku menghembuskan kepulan asap di dalam mulutku, lalu kembali menghisap pipaku. Antony terdiam sebentar, lalu memilih untuk masuk ke dalam dengan sosok asing itu. “Sepertinya dia membawa seorang detektif lagi!” “Pemuda Scotland itu sepertinya cukup bisa di percaya!” “Bagaimana Anda tahu saya dari Scotland?” Aku tidak tahu jika sosok itu hanya berdiri di ambang pintu dan mendengar percakapanku dengan Yuwen. Tatapanku tertuju padanya, dia masih terlihat tertegun ketika aku menebak darimana asalnya. “Mudah saja, kau jelas bukan orang asli keturunan tionghoa dengan mata biru itu menunjukkan kau juga bukan berasal dari negara tetangga. Mata biru itu ciri khas dari United Kingdom. Kau juga mengenakan Klit, aku melihatnya saat kau keluar dari mobil, meskipun sekarang itu sudah ditutupi oleh mantel tebalmu. Perawakan dan juga warna rambutmu yang cukup berbeda membuatku menyimpulkan jika kau berasal dari scotland!” “Luar biasa, aku tidak pernah menemui detektif yang memperhatikan hal sekecil dan sepele seperti itu. Perkenalkan, aku David Hume. Sesuai perkataanmu tadi, aku berasal dari Scotland dan sepertinya kau tahu banyak mengenai budaya di sana!” “Tidak!” jawabku dengan wajah datar, “Aku hanya mengira-ngira saja, tapi itu benar.” “Aku Yuwen!” kawanku itu memperkenalkan diri dengan ramah. Entah kenapa, melihat wajahnya aku sedikit tidak menyukainya. Entah karena dia mirip dengan seseorang atau dia memang hanya lelaki yang aku benci? Yang pasti, aku tidak terlalu menyukainya. Antony keluar dari dalam ruangan dengan wajah kecewa, sudah aku duga mengenai hal itu sebelumnya. “Apa kau juga tidak mendapatkan apa-apa dari rumah itu, Lio? Aku benar-benar kecewa dengan hal ini, detektif yang aku pekerjakan salah dalam menyurusi petunjuk yang sudah kau berikan sebelumnya. Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa, karena dia sudah menyelesaikan kontraknya denganku dan kembali ke negaranya. Ini jelas adalah kesalahanku, aku terlalu percaya padanya!” “Kau jelas sedikit ceroboh, bahkan kau sudah melakukan beberapa wawancara mengenai kehebatanmu. Padahal, aku sendiri tidak yakin sosok yang kau tangkap itu adalah pelakunya. Sebelumnya, Alfred…” “Maaf jika menyelamu, Emilio. Sebaiknya kita tidak bicara di sini, mobilku bisa muat untuk 4 orang, atau kita bisa berbicara di salah satu restoran dekat sini. Jika kau tidak keberatan tentunya!” Beberapa menit berlalu, akhirnya kami memutuskan untuk berbicara di salah satu restoran yang tidak jauh dari lokasi kejadian. Tidak ada lagi yang perlu untuk diperiksa dari sana, kecuali pintu yang sempat dibicarakan oleh Alfred padaku dan Yuwen. Para petugas mengatakan jika tidak ada sebuah pintu dengan lambang X berwarna merah di sana. Itu cukup menarik perhatianku, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak campur tangan terlalu jauh untuk hal itu. Mengenai kasus yang aku sebut sebagai misteri anjing neraka, aku akan memutus masalah itu sampai disini. Aku tidak akan berniat untuk mencari tahu mengenai hal itu lagi. “Aku dengar, kalian mengunjunginya malam tadi!” Setelah pesananku di letakkan di atas meja oleh seorang pelayan tua, kini aku menatap David. Si lelaki Scotland itu sepertinya sudah mencari tahu lebih dulu mengenai kami. Atau jangan-jangan dia tahu sesuatu, tapi berpura-pura untuk bodoh? “Jadi, siapa lelaki bodoh yang kau beri upah untuk menyelidiki kasus itu?” tanyaku, “Apa lelaki yang sekarang duduk di sebelahmu ini? Rasanya dia tidak termasuk orang pintar, aku tidak pernah melihatmu mempekerjakan orang seperti ini sebelumnya!” “Jangan memperkeruh suasana, Lio.” peringat Yuwen, “Dia tidak seburuk yang kau pikirkan!” “Aku tidak memperkeruh suasana, hanya bertanya saja. Apa itu salah menurutmu?” “Tapi…sudahlah, maafkan atas ketidaknyamanan suasana ini Sir!” “Aku jelas mengecewakanmu atas kejadian ini, Emilio. Tapi tolong jangan bawa David dalam masalah ini. Dia baru saja tiba disini beberapa hari lalu, dan seharusnya dia juga tidak membantuku. Tapi kejaksaan tinggi Scotland memberinya perintah untuk membantuku. Jadilah dia berada di sini sekarang, aku mohon jangan sangkut pautkan masa lalumu dengan dia. Kau kurang objektif dalam menangani pekerjaan, dan itu…” “Aku selesai, dan mengenai kasus ini, aku lepas tangan. Maafkan aku, ku tahu kau akan kecewa dengan alasan konyolku ini. Tapi, aku benar-benar tidak yakin bisa bekerja dengannya atau tidak!” “Emilio!” teriak Yuwen dari arah meja makan. Tapi aku benar-benar menghiraukannya dan berjalan menuju ke arah rumah Alfred untuk memastikan sesuatu yang sedang aku pikirkan sejak makan tadi. Begitu tiba di depan apartemen Alfred, aku mengambil beberapa sampel darah, polisi mengikutiku memasuki ruangan rahasia itu. Turun ke bawah, dan apa yang mereka katakan memang benar. Tidak ada lagi pintu itu di sana. Aku meraba ke arah tembok, tadi malam aku dengan jelas melihat pintu itu. Bahkan menyentuh dan mendengar ada suara aneh yang berasal dari sana. “Apa kalian sudah memeriksa tembok ini? Tadi malam, sebelum hari berganti. Kami sempat mendatangi rumah ini, Alfred bahkan masih menunjukkan ruangan ini pada kami. Ada sebuah pintu di sini, apa kalian benar-benar tidak melihatnya sama-sekali?” “Tidak, sir. Tidak ada ruangan di sini, bahkan jejak darah yang Anda katakan sama-sekali tidak ada disini. Kami sudah melakukan pemeriksaan sebanyak 3 kali dan sama-sekali tidak ada apa-apa di sini!” Aku mengangguk, lalu lekas berjalan kembali. Ternyata Antony, Yuwen dan si lelaki itu juga berada di sini. Tatapan David terlihat bersahabat, sekalipun aku sudah berusaha untuk memusuhinya. “Aku ragu dengan perkataan angkat tanganmu itu, Lio karena nyatanya kau masih datang ke sini. Aku pikir kau sudah kembali lebih dulu ke rumahmu!” “Hanya ingin memastikan sesuatu!” jawabku dengan datar, “Apa kau ikut denganku menuju peron sekarang, Yuwen? Aku ingin pulang dan istirahat!” “Kita membawa mobil, Lio. Jika kau lupa!” Seketika aku terdiam, apa mungkin aku telah melewatkan sesuatu? Tanpa banyak bertanya, Yuwen lekas mengikutiku dan menghilang dari sana. *** Yuwen POV Setibanya kami di rumah Emilio, temanku itu kebanyakan diam dan termenung. Sesekali dia akan mengumpati berita yang dia temukan. Dia bukannya tidak tertarik dan tidak ingin bekerja sama dengan Anthony, karena kasus ini masih berhubungan dengan kasus pembunuhan di gereja. Tapi, sepertinya dia memiliki masalah dengan orang-orang amerika itu sehingga hal itu memicu ketidak sukaan padanya saat menatap David. Hal yang sedikit aneh menurutku, Lio melupakan jika kami datang kerumah Fred dengan menggunakan mobil. Aku yakin ada sesuatu yang mengacaukan pikirannya dan menghilangkan konsentrasinya. Begitu tiba di rumah, aku dan Lio lekas menuju kamar masing-masing. Kegiatan siang sampai subuh begitu cukup membuat tubuhku kelelahan. Aku butuh tidur untuk mengembalikan tenagaku dan untuk menghadapi besok. Aku tidak tahu kapan Lio akan berubah pikiran, sebagai rekannya, aku harus siap sedia untuk ikut padanya dan melakukan apapun yang sudah menjadi tugasku. Lio memasuki kamarnya tanpa mengatakan apapun mengenai hal tadi. Sepertinya dia tidak ingin bicara, aku tidak akan memaksanya. Beberapa jam tidur, aku terbangun dan melihat jika ini sudah memasuki pukul 8 pagi. Badanku masih terasa lelah. Aku keluar dari kamar dan menemui Lio sedang sarapan di meja makan, sebelah tangannya sibuk menandai koran yang sedang dia baca. Aku tidak tahu apa yang menarik dari koran itu, aku terlalu bosan untuk membaca berita-berita tidak jelas itu. Mengambil sarapan dari dapur, aku ikut makan bersama dengan Lio yang masih tidak berbicara. “Apa yang kau lakukan dengan menandai koran itu, Lio? Hal apa yang membuatmu terlihat begitu fokus?” “Kasus pembunuhan di gereja, kasus Fred, Anjing neraka dan juga pintu itu. Aku menemukan tulisan yang membawaku pada sesuatu yang sepertinya akan memecahkan kasus itu!” Sambil mengunyah, aku menatap Lio dengan jengkel. Dia yang mengatakan angkat tangan mengenai masalah ini. Tapi dia sendiri yang mencari tahu mengenai masalah ini. Seharusnya aku tidak harus heran lagi, tapi Lio selalu memiliki pemikiran yang tidak masuk akal. Perubahan keputusannya terjadi dalam waktu dekat, dan aku cukup hafal dengan hal itu. “Aku berubah pikiran, sebentar lagi anak-anak itu akan tiba. Aku keluar dulu!” Lio keluar begitu mendengar bunyi bel. Suara ribut-ribut tertangkap olehku, sekilas aku menatap jika ada sekitar 6 anak di luar yang tengah berbicara serius pada Lio. Aku terkekeh, apa mungkin dia sedang memperkerjakan anak-anak dalam misi ini? Begitu dia kembali dengan wajah sedikit cerahnya, membuatku menarik kesimpulan jika dia mendapatkan apa yang dia cari. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD